
Suasanadikamar itu begitu lengang, udara berubah menjadi panas. Sesekali masih terdengar sesenggukan Sophia. Fani bingung harus melakukan apa. Apakah dirinya harus menceritakan semua kejadian agar Sophia mengerti danmemaafkannya.Berkali-kali Fani menjambak rambutnya frustasi. Buliran air matanya jatuh membasahi kedua pipi, dia tak menyeka lagi. Membiarkan penyesalannya mengalir bersama air matanya.
“ Sop, maafin gue ya.” Fani tersedu-sedu mendekati Sophia.
“ Sana lo. Gue gak bakal maafin pengkhianat kayak lo.” Sophia mendorong Fani menjauh.
“ Gue gak akan pernah maafin lo pengkhianat.” Sophia berdiri dan menunjuk wajah Fani.
“ Mulai sekarang gue gak mau lagi temenan sama lo. Menjauh lo dari gue!.” Sophia meraih tas dan melangkah meninggalkan Fani seorang diri. Berjalan penuh rasa kesal dan sesekali menyengka wajahnya yang dipenuhi air mata.
“ Sop, jangan rusak pertemanan kita cuma karena ini.” Fani beranjak dan setengah berlari mengejar Sophia yang sudah naik diatas motornya.
“ Cuih ! Lo yang ngerusak pertemanan kita. Bukan masalah lelakinya, tapi masalah pengkhianatan lo. Temen makan temen lo.” Sophia menyalakan motornya dan segera melaju meninggalkan rumah Fani. Sore itu, Fani menangis sejadi-jadinya. Menyesali semua kesalahan dan kebodohannya.
__ADS_1
Fani kembali kekamar dan berteriak fruustasi. Meraih gaun yang dibelikan Andry dan melemparkan kelantai. Tak henti-hentinya menangis dan mengutuki dirinya. Rumahyang sepi menjadi bergema karena suara tangisnya. Benar-benar kesalahan yang fatal baginya, membuat masalah menjadi bertumpuk. Tak ada lagi tempatnya untuk bercerita, hanya Sophia saja yang menjadi teman dekatnya selama ini.
Tak lama kemudian terdengar suara motor Joo yang memasuki pekarangan rumah. Joo baru saja pulang dari rumah temannya. Membawa dua kotak makanan yang dia beli tadi dijalan.
“ Fan, Fani?.” Joo membuka pintu rumah dan memanggil adiknya. Mencari sosok Fani dirumah yang sepi itu. “ Pintunya gak dikunci.” Gumamnya bingung.
“ Udah pulang belum ya tu anak?.” Sambung Joo sambil menyusuri seisi rumah.
“ Woi Fan, dimana lo?.” Meletakkan makanan diatas meja dan membuka pintu kamar Fani.
“ Lah ini kenapa sembab gini? Abis nangis ya ni anak?” Joo menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
“ Ah paling juga abis berantem sama pacarnya. Biarin ajadeh dia tidur sampai puas.” Joo terkekeh dan menarik kembali selimut hingga menutupi seluruh tubuh Fani.
__ADS_1
Sophia membanting pintu kamarnya, mukanya ditekuk dan giginya mengatup geram.Melemparkan tas kedinding dan mengacak-acak tempat tidurnya.
“ Aaaa sialan.” Teriaknya.
“ Aku yang suka Andry malah dia yang jadian. Dasar pengkhianat.” Melempar bantal-bantal.
“ Katanya benci. Jangan kan untuk suka atau cinta, lihat tu cowo aja gue malas! Ah dasar perempuan muna*ik. Menjijikkan !” Sambungnya menggeram.
“ Lihat aja lo pengkhianat. Gue bakal bongkar kalau lo cuma main-mainin si Andry.” Sophia tersenyum jahat dan kembali menyeka air matanya.
“ Tapi gue pengen lihat dulu deh sampai dimana lo bertahan sama kebohongan lo Fani.” Sambungnya . Sophia mencoba menyusun beberapa rencana dikepalanya. Rencana untuk membalas pengkhianatan dari sahabatnya itu. Menimbang-nimbang seberapa sakitnya dikhianati, lalu akan membalas dengan setimpal.
“ Lo bakal ngerasain sakit sama kayak gue Fan, lo bakal dapat pembalasan yang setimpal. Gue bakal buat lo menderita, itu belum termasuk karma dari semesta hahaha.” Sophia berulang kali tertawa jahat. Membayangkan sahabat yang sekarang menjadi orang yang sangat dibencinya itu merasakan pengkhianatan yang lebih sakit dari yang diterimanya saat ini.
__ADS_1
Sophia mencoba menenangkan dirinya, mengurangi rasa kesalnya meski beberapa rencana jahat terlintas dipikirannya. Mungkin ini benar-benar akhir dari pertemanan mereka. Entah bagaimana hari-hari mereka nantinya. Apakah mungkin setiap hari pertemuan mereka dipenuhi dengan tatapan kebencian dan hasrat ingin balas dendam. Apakah Fani siap menerima resiko dari keputusannya yang salah ini?. Mungkin hari-harinya disekolah akan suram, setiap hembusan nafasnya dibubuhi dengan rasa bersalah yang mendalam. Menyakiti tiga hati sekaligus, benar-benar terkesan jahat bukan?.