
Setelah selesai makan Andry beristirahat dikamar sembari menunggu Joo mandi dan bersiap-siap. Dia menatap layar ponselnya, ingin menghubungi kekasih hati yang sejak kemarin dia abaikan. Namun, Andry ingin memberi kejutan untuk kekasihnya itu. Ibu mengatakan jika Fani berkunjung kerumah pamannya, mungkin akan pulang sore hari. Sudah hampir setengah jam Andry merebahkan tubuhnya diatas ranjang, Joo datang dengan rambut basah dan wangi khas orang baru selesai mandi.
“ Ngantuk lo An?.” Tanya Joo saat melihat mata Andry sayu.
“ Iya nih Joo. Tadi gue bangun pagi banget.” Berulang kali mulutnya menganga menguap.
“ Yaudah lo tidur aja dulu. Ntar kalau Fani pulang gue bangunin deh. Tapi biasanya kalau udah main kerumah paman dia pasti lama baliknya.” Sahut Joo sambil mengenakan kaos tipis panjang.
“ Oh gitu ya. Gue tidur dulu deh, ngantuk.” Andry menutup wajahnya dengan bantal dan terlelap.
**********
Fani dan Rafi akan pergi ke sawah milik keluarga yang ada di ujung kampung. Membawa rantang berisi makanan untuk paman yang ada disawah. Fani dan Rafi berjalan dibawah terik matahari. Hanya berpayungkan telapak tangan untuk menutupi matanya yang silau karena cahaya matahari. Hanya butuh waktu 5 menit berjalan kaki, mereka sampai digubuk berukuran cukup besar. Mungkin bisa ditempati 5-6 orang. Mendapati paman yang tengah sibuk membajak sawah, kakinya penuh lumpur dan sekujur tubuhnya dipenuhi keringat.
“ Paman.” Fani berteriak memanggil lelaki yang tengah sibuk bekerja itu.
“ Eh Fani, anak cantik paman.” Lelaki itu berjalan mendekat, meninggalkan lumpur dan pekerjaannya yang belum selesai.
“ Sini makan dulu, udah lama gak makan disini.” Ucapnya sambil membuka rantang-rantang yang berisi makanan.
“ Wah, ini kenapa anak paman udah gede banget ya sekarang.” Ucap lelaki itu sambil membasuh tangan dan kakinya. Duduk disebelah Fani dan mengambil beberapa makanan kedalam piringnya.
“ Abang, kok melamun sih.” Fani menepuk pundah Rafi yang sedang melamun.
“ Masih ngantuk ahhaha.” Rafi terkekeh dan mengambil beberapa makanan dipiring.
Mereka menikmati makanan dengan sesekali disuguhkan pertanyaan oleh paman. Angin yang berhembus sejuk menemani makan siang mereka. Makan digubuk sederhana yang dikelilingi hamparan sawah. Memang ini adalah moment favorite Fani setiap kali pulang kekampung. Gelak tawa juga hadir ditengah-tengah mereka.
“ Akhirnya bisa makan ditengah-tengah sawah. Udah lama banget engga kesini.” Fani mengelus perutnya kenyang dan tersenyum saat angin menerpa rambutnya.
“ Iya, abang juga udha lama gak tidur ditengah-tengah sawah.” Sahut Rafi sambil merebahkan tubuhnya digubuk sederhana itu.
__ADS_1
“ Ih kok malah tidur sih.” Memukul-mukul bahu Rafi agar dia tidak tertidur.
“ Nanti bangunin abang satu jam lagi ya. Habis itu kita jalan-jalan lagi.” Rafi memejamkan matanya. Sementara Fani hanya mendengus kesal melihat sepupunya itu.
“ Paman mau turun lagi, kamu disini aja. Panas soalnya.” Lelaki itu beranjak dan kembali menemui lumpur dan pekerjaannya yang belum selesai.
Fani yang usil tersenyum senang seolah mendapat ide yang cemerlang. Diambilnya arang kayu dibawah gubuk, kemudian melukis diatas wajah Rafi yang tampan dan bersih itu. Membuat lingkaran dan gambar-gambar lainnya. Tak henti-hentinya terkekeh geli melihat wajah Rafi yang dipenuhi hitam arang. Fani mengambil ponsel dan memotret wajah Rafi untuk jadi kenang-kenangan. Tak lupa dia juga berselfie dengan pria yang dijahilinya itu.
“ Hehehehe nangis deh lo nanti bang.” Gumamnya menatap layar ponselnya.
“ Hmmm udara yang segar.” Sambungnya sambil merentangkan tangan dan memejamkan mata menikmati hembusan udara yang menerpa tubuhnya.
“ Bang, bangun dong. Bosen nih.” Menggoyang-goyangkan pelan tubuh Rafi yang sedang tertidur pulas.
“ Ih tidur beneran.” Gumamnya kesal. Fani hanya berdiam diri menatap ponselnya dan sesekali mengajak pamannya yang tengah bekerja itu untuk berbincang-bincang. Menunggu Rafi bangun untuk mengajaknya jalan-jalan keliling kampung.
******
“ Woi Joo, udah hampir jam 4 tapi Fani belum balik juga.” Ujarnya saat melihat Joo membuka mata.
“ Hmmmm.” Joo masih menggeliat dan meregangkan tubuhnya.
“ Iya, bentar lagi gue antar lo kesana.” Sahut Joo dengan pandangan yang belum normal.
Setelah Joo dan Andry mencuci muka, mereka berjalan menyusuri jalanan yang sempit. Melintasi hamparan sawah yang luas. Joo sesekali terlihat menyapa orang-orang yang dia kenal.
“ Joo masih jauh rumah paman lo?.” Tanya Andry saat merasa mereka berjalan sudah cukup jauh.
“ Udah deket kok. Tu disana rumahnya.” Jawab Joo sambil menunjuk dengan tangannya. Andry hanya mengangguk dan tetap melanglah meski merasa kakinya sudah lelah.
“ Ini rumahnya.” Ucap Joo saat mereka mendekati rumah yang berwarna cokelat itu.
__ADS_1
“ Ayok masuk.” Joo mengajak Andry untuk mendekat.
“ Bi, bibi.” Joo memanggil pemilik rumah. Terdengar suara wanita yang menyahut dari dalam, ternyata adalah bibinya Joo.
“ Eh ada Joo, ayo masuk.” Wanita itu mempersilahkan untuk masuk.
“ Fani mana bi?.” Tanya Joo saat tak mendapati sosok lain dirumah itu.
“ Fani tadi kesawah, ada paman disana.”
“ Kenalin bi, ini Andry teman sekolahnya Fani.” Joo mengenalkan Andry kepada bibinya itu.
“ Hallo bi, aku Andry.” Andry menunduk sopan.
“ Hai nak Andry. Tunggu disini ya bibi ambilin minum dulu.” Wanita itu hendak beranjak namun dihentikan oleh Joo.
“ Eh jangan bi, kita langsung kesawah ajadeh. Mau nyusul Fani sekalian mau lihat-lihat kondisi sawah.” Joo tersenyum dan beranjak.
“ Ya udah nanti kesini lagi ya.” Pinta wanita itu.
“ Oke bi.” Joo mengangkat jempolnya diikuti senyum sopan Andry. Mereka beranjak dan melangkah meninggalkan rumah itu.
“ Sawahnya dimana Joo?.” Tanya Andry saat merasa jika dia harus berjalan jauh lagi.
“ Itu disana. Deket kok Cuma 5 menit doang.” Joo melangkah diikuti Andry yang tampak sudah lelah.
Mereka berjalan menuju penghujung kampung. Semakin ujung maka semakin banyak mereka temui hamparan sawah yang luas. Joo menunjuk beberapa orang yang sedang bermain disawah, sosok yang dicari Andry juga ada
disana. Mereka semakin mempercepat langkah mendekati orang-orang itu. Andry mengerutkan keningnya saat terlihat jelas sosok Fani tengah berlari-larian mengejar seorang lelaki ditengah sawah. Mereka juga tampak mesra, saling berperang melempar lumpur dan menyentuh satu sama lain. Inginnya memberi Fani kejutan, namun dia lebih dulu terkejut melihat pemandangan ini. Wajahnya ditekuk kesal, amarahnya memuncak saat melihat lelaki itu mengejar dan memeluk Fani dari belakang. Gelak tawa mereka menambah bara dihati Andry yang melihatnya.
Sial ! Aku ingin memberimu kejutan. Namun kau terlebih dulu mengejutkan ku. Apa ini sosok pacarku yang sesungguhnya?
__ADS_1