
Setelah selesai membersihkan diri, Andry ikut makan malam bersama dengan keluarga Fani. Ada paman, bibi dan Rafi juga disana. Rumah nenek tampak ramai sekali, suara senyap sunyi dunia malam dilenyapkan dengan gelak
tawa mereka. Andry sama sekali tak dianggap orang asing, keluarga Fani memperlakukannya dengan sangat baik. Tak ada rasa canggung diantara mereka semua. Andry merasa sangat senang, belum pernah dia makan malam dengan orang sebanyak itu. Biasanya hanya ada bunda, ayah dan Devi kakaknya. Kebersamaan ini seolah ingin membuatnya tinggal lebih lama disana.
“ An main catur yuk. Tapi kali ini tunggal ya, gak boleh dibantu Fani lagi.” Ucap ayah Fani saat mereka sudah selesai makan.
“ Baru juga selesai makan yah. Masa langsung diajak main catur sih.” Sahut ibu sambil mengangkat piring-piring kotor.
“ Hehehe ayok om siapa takut” Jawab Andry cengengesan.
“ Ada dua papan catur tuh, ayah lawan Andri. Aku lawan Rafi.” Joo ikut nimbrung ditengah-tengah pembicaraan.
“ Nah boleh juga tu. Ayok kita main diteras depan.” Ayah melangkah diikuti tiga lelaki tampan dibelakangnya.
Sementara Fani dan ibu sibuk membersihkan meja makan dan piring-piring kotor. Sesekali para wanita didapur itu juga tergelak tawa membahas masa kecil Fani yang memalukan. Nenek hanya terduduk sambil menatap anak menantu dan cucunya tengah berkemas dan bersih-bersih.
“ Fan, Andry siapanya kamu?.” Tanya bibi sambil mengayunkan sapu.
“ Temen sekolah bi.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari piring-piring yang tengah dicucinya.
“ Ah yang benar.” Tanya bibi seolah tak percaya.
“ Ya pacarnya dong.” Sahut ibu Fani sambil tertawa.
“ Oalah pacarnya toh.” Bibi terdengar mengejek Fani yang tengah sibuk itu. Saling pandang dengan ibu Fani dan kemudian terkekeh geli. Fani hanya menatap kedua wanita itu dengan sinis dan tidak mengatakan apapun.
*******
Keempat lelaki tampan itu sudah duduk saling berhadapan dengan lawannya masing-masing. Ditengah-tengah mereka ada papan catur lengkap dengan anak catur yang sudah tertata rapi. Saling tersenyum meremehkan lawannya, kemudian saling mengejek.
__ADS_1
“ Udah siap kalah Andry?.” Ucap Ayah sembari menyunggingkan bibirnya remeh.
“ Om yang bakal kalah ni.” Jawabnya tak mau diremehkan. Wajahnya tersenyum seolah mengatakan aku siap menjemput kemenangan.
“ Udah siap kalah lo Raf?.” Sahut Joo dari sebelah mereka.
“ Kita lihat aja siapa yang bakal menang.” Jawabnya santai dengan muka datar.
“ Siapa yang kalah harus siap lari-lari keliling kampung ya.” Tiba-tiba ide buruk muncul dipikiran ayah. Tampak ketiga pria lainnya berfikir dan menimbang-nimbang ide tersebut.
“ Oke setuju.” Jawab Joo tanpa memikirkan lagi. Dengan wajah yang tersenyum senang dia menerima tantangan ayahnya itu.
“ Setuju gak? Atau jangan-jangan lo berdua takut ya.” Sambungnya saat melihat Andry dan Rafi masih tampak belum menyetujui ide ayah.
“ Siapa yang takut. Oke aku setuju.” Jawab Andry tak mau dianggap takut oleh Joo dan ayah.
“ Oke gue juga setuju.” Sahut Rafi juga ikut menyetujui.
“ Ayo jalan An, kok malah diam aja.” Ucap ayah memecahkan ketegangan dalam pertarungan yang sengit ini.
“ Hmm oke lanjut om.” Menggerak kan salah satu anak
caturnya.
“ Boleh juga ya permainan mu.” Gumam ayah sambil berfikir dengan baik. Melihat permainan yang sampai saat ini masih imbang, ayah menjadi ragu ingin mengatakan jika anak muda yang ada dihadapannya itu bisa dikalahkannya.
“ Ayok om jalan, kok malah bengong sih.” Andry berbalik meremehkan.
Sementara disebelah mereka Joo dan Rafi bermain tanpa suara. Senyap dan hening, hanya ada suara papan catur yang berdetak pelan saat menggerakkan anak catur. Mereka tampak bermain dengan serius, sangat fokus. Mungkin takut jika kalah dan harus berlari keliling kampung. Sebelah tangan mereka tampak slaing menopang dagu masing-masing. Kening mengerut saat berfikir. Berbeda dengan Andry dan ayah yang sejak tadi bermain dengan santai. Saling mengejek dan meremehkan lawannya masing-masing.
__ADS_1
“ Ayok jalan An. Mau sampai kapan diam-diam terus.” Ayah Andry yang tampak bingung harus melangkah kemana lagi. Keningnya mengerut memikirkan, kemanapun dia melangkah tetap ada yang jadi korbannya.
“ Udah relain aja deh satu dari pada semuanya.” Sambung ayah mengejek.
“ Hem.” Andry hanya berdehem sambil menggerakkan anak caturnya. Meski harus kehilangan kuda, Andry tetap masih optimis bisa memenangkan permainan ini.
Hanya tinggal beberapa anak catur lagi yang tersisa, mereka saling menyerang satu sama lain. Menyerang titik lemah hingga mencari celah untuk menyebut skak. Begitupun dengan Rafi dan Joo yang tampak sudah hampir
menyelesaikan permainannya. Rafi tampak tersenyum senang saat detik-detik terakhir. Melihat ada celah untuk memenangkan permainan ini. Sementara Joo tampak bingung harus melangkah kemana lagi, dari semua sisi dia sudah dikepung Rafi. Terpaksa dia merelakan satu-persatu anak caturnya untuk ditangkap Rafi.
“ Skak.” Ucap Rafi saat berhasil mengepung Joo.
“ Aaah sial.” Sahutnya saat melihat tak ada lagi celah untuknya melagkah. Dia benar-benar sudah kalah telak. Hukuman yang dengan cepat dia setujui tadi akan segera dia lalui. Dia yang menyetujui dia pula yang mengutuki.
“ Hahahahha selamat berlari-lari Joo.” Ucap Joo mengejek seppupunya yang tampak tak terima dengan kekalahan itu.
Andry dan ayah masih bermain penuh konsentrasi. Hanya tinggal beberapa anak catur lagi, kemudian permainan ini akan segera berakhir. Ayah berulang kali tersenyum saat berhasil membuat Andry lari ketakutan. Kemudian mencari celah untuk bisa mengepung Andry yang berlari ketakutan itu. Menyusun strategi agar bisa menang telak. Perlahan-lahan mendekat dan mengepung. Akhirnya ayah berhasil membuat Andry tak bisa bergerak. Kemanapun Andry melangkah dia pasti akan mati. Wajah Andry tampak berfikir serius, berharap jika dia masih bisa selamat dari kepungan dan hukuman yang menanti.
“ Udah deh An, gak bisa lari lagi deh lo.” Ucap Rafi yang memperhatikan permainan sejak beberapa saat lalu.
“ Iya udah ngaku kalah aja.” Sahut ayah terdengar menyombong. Tersenyum melihat ekspresi wajah Andry yang cemas karena kalah.
“ Hahahaha udah deh. Lo temenin Joo lari-lari keliling kampung tuh.” Lagi-lagi Andry dihujani ejekan dari ayah dan sepupu Fani.
“ Aku pasti masih bisa lolos.” Jawab Andry enggan mengalah. Masih berfikir dan mencari celah agar tak kalah, namun benar-benar sudah tak ada jalan lagi selain mengaku kalah.
“ Aahhh.” Gumamnya frustasi. Andry mengacak-acak rambutnya dan memukul meja kesal. Tak terima dengan kekalahannya, terlebih dengan hukumannya.
“ Udah lari sana. Sesuai perjanjian.” Ayah terkekeh diikuti Rafi. Kedua pemenang ini tampak senang diatas penderitaan Joo dan Andry.
__ADS_1
Akhirnya dengan sangat terpaksa Andry dan Joo berlari keliling kampung malam ini. Andry mempercepat langkah kakinya agar segera sampai kerumah kembali. Namun Joo masih tampak kesal menerima kekalahan dan hukuman ini. Mukanya ditekuk dan berlari sangat pelan, tertinggal jauh dibelakang Andry. Menggerutu kesal karena malam-malam harus berlari dan berkeringat lagi.
Sial. Aku yang bersemangat menyetujui ide gila ini, aku pula yang kesal tak henti.