
Endrico dan Fani hanya berdiam diri ditengah-tengah pasangan
yang berdansa. Fani hanya menatap lantai dan sibuk dengan mukanya yang masam,
sedangkan Endrico terus saja mencoba tenang menatap Fani yang enggan
dipasangkan dengan dirinya. Merasa jika dirinya benar-benar hina sehingga Fani
tidak tertarik pada dirinya walau hanya sekedar berdansa.
Sebegitu tidak suka kah kau padaku? Hingga dipasangkan untuk pesta dansa yang singkat ini saja engkau enggan. Lalu bagaimana jika semesta menjadikan kita pasangan didunia nyata? Apakah setiap saat aku akan menatap kau yang bermasam muka tidak suka?
“ Sebegitu tidak suka kah kamu denganku? Bahkan untuk
sekedar pesta dansa yang hanya beberapa menit saja kamu sanggup memalingkan
muka dan menekuk wajahmu masam.” Ucap Endrico sambil menyentuh dan mengangkat
dagu Fani agar menatapnya. Sudah tidak tahan lagi melihat Fani yang bermasam
muka, membuatnya semakin tersinggung dan kecewa.
Fani hanya menatap wajah Endrico yang tampak sendu, merasa
bersalah karena sejak tadi dia bermasam muka. Padahal bukan karena tidak suka
dengan pasangan dansanya, namun karena dia tidak ingin berdansa. Tidak ingin
membuka kembari lembaran kenangannya yang lalu, waktu dia berdansa bersama
lelaki yang paling dicintainya. Tidak ingin membuatnya bersedih hati jika
mengingat kenangan yang lalu.
Bukan karena aku tidak suka kau menjadi pasangan dansaku. Hanya saja aku tidak ingin mengulangi kenangan dan kisah lamaku yang menyakitkan. Jangan buat wajahku lebih sendu dari wajahmu, kumohon. Bahkan hatiku sudah membengkak, jangan sampai tangisku pecah, aku belum siap.
“ Jika memang tidak berkenan, mari kita keluar dari kerumunan
ini.” Lanjut Endrico tersenyum dan menarik pelan tangan Fani. Merasa jika diam
Fani adalah jawaban dari pertanyaannya, gadis ini tidak suka dengannya.
Fani tidak bergerak ketika Endrico menarik tangannya, masih
menahan dan menumpu tubuhnya. Pandangannya kosong, matanya tampak berkaca-kaca.
Menahan agar Endrico tidak lagi melangkah entah apa maksudnya. Berdansa tidak
mau, pergi dari kerumunan itupun tidak mau. Endrico kembali mendekati Fani,
menatap wajah yang sudah mulai memerah dan mata yang berkaca-kaca itu. Seketika
kecewanya berubah menjadi cemas dengan keadaan gadis yang ada dihadapannya.
“ Hei kamu kenapa? Baik-baik aja kan? Maaf kalau ucapakanku
membuatmu tersinggung.” Ucapnya mengaku bersalah, mengira jika Fani marah dan
sedih karena ucapnnya. Endrico menggenggam erat kedua tangan Fani dan kemudian
berulang kali meminta maaf. Fani hanya menatap dengan tatapan yang sendu,
tangannya sudah bergetar seolah tidak sanggup lagi membendung tangis. Akhirnya Fani
memeluk Endrico dan tangisnya tumpah didada Endrico.
“ Hei jangan menangis, maaf jika kat-kataku sangat menyakiti
hatimu.” Ucapnya terus meminta maaf, merasa jika tangisan Fani adalah karena
__ADS_1
ulahhnya. Terus memeluk Fani erat dan mengelus rambut Fani, meminta gadis itu
untuk berhenti menangis dan terus-terusan menyalahkan dirinya.
“ Maafkan aku, aku yang salah. Berhentilah menangis, kamu
boleh memukulku sesuka hatimu.” Sambungnya semakin cemas.
Akhirnya Fani berhenti menangis dan terus bersandar didada
Endrico, bukannya berdansa tapi malah berpelukan ditengah keramaian. Endrico terus
mencoba menenangkan Fani, wajahnya sangat cemas memikirkan kesalahannya. Padahal
ini sama sekali bukan salahnya dan tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Endrico
terus memeluk Fani dan tubuh mereka bergoyang mengikuti irama music dansa. Jantungnya
semakin berdetak tidak beraturan, pertama karena rasa bersalahnya dan yang
kedua karena rasa bahagianya. Meskipun merasa bersalah namun Endrico juga
merasa senang karena kesalahannya membuat Fani memeluknya sangat erat.
Haruskah aku terus-terusan menyakiti dan membuatmu menangis agar kau memeluk diriku seerat ini? Kau membuatku merasa bersalah sekaligus merasa bahagia. Dalam bahagiaku ada rasa bersalahku.
“ Maaf aku tidak bisa menahan tangis ini.” Ucapnya setelah
cukup lama menangis didada Endrico. Kedua tangannya menyapu air mata yang masih
berjatuhan dipipinya.
“ Maafin aku ya.” Ucap Endrico terus merasa bersalah,
terlebih ketika melihat wajah Fani yang sembab dan dipenuhi air mata.
“ Gapapa kok.” Jawabnya terus menyeka ujung matanya. Kemudian
jika dirinya salah karena telah membuat Endrico bingung dan khawatir melihat
dirinya yang tiba-tiba menangis.
“ Maafin aku ya.” Lanjutnya sembari tersenyum dan menatap
Endrico dengan sangat tulus.
“ Mari berdansa.” Ucapnya tiba-tiba mengajak Endrico
berdansa, padahal tadi dia menangis karena dipaksa berdansa. Menangis karena
mengingat kenangan manisnya saat ulang tahun Andry beberapa bulan yang lalu.
Endrico yang bingung dengan sikap Fani hanya bisa terdiam. Mencoba
menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis ini. Baru saja dia
menangis dan sekarang malah mengajak berdansa. Namun lagi-lagi dalam hatinya
merasa senang sekaligus bingung. Endrico menggenggam kuat tangan Fani dan mulai
berdansa mengikuti alunan music. Saling menatap dan tenggelam dalam suasana. Banyak
yang bersorak sorai menatap mereka berdua yang sangat romantis dan menghayati. Apalagi
mereka yang saling menatap seolah penuh cinta, membuat banyak pasang mata yang
merasa baper dengan mereka.
Terimakasih kau telah membuatku tidak lagi merasa terhina. Kalau bisa aku ingin menghentikan waktu, saat ini. Saat kau menatapku penuh cinta.
__ADS_1
Fani terus tersenyum menatap Endrico, lelaki yang tengah
berdansa dengannya. Berulangkali mengucapkan terimakasih dalam hati karena
sudah membuatnya berani dan tidak lagi takut menghadapi kenangan-kenangan yang
lalu.
Terimakasih kau telah membuatku berani membuka kembali lembaran-lembaran kenangan. Terimakasih sudah
membuatku juga berani menjadi orang jahat, kau yang paling dibencinya lihatlah sekarang aku berdansa seolah pennuh cinta bersamamu. Aku juga bisa melakukan seperti yang dilakukan olehnya.
Pesta dansa telah usai, semua bertepuk tangan dan bersorak
sorai memuji pasangan-pasangan yang berdansa dengan penuh cinta. Tak terkecuali
Irma yang sejak tadi memberi tepuk tangan meriah untuk kedua temannya.
“ Huuuwwwww keren sekali lo berdua.” Ucapnya sambil bertepuk
tangan saat Endrico dan Fani mendekatinya.
“ Heehehehe.” Hanya tawa
yang keluar dari mulut Endrico yang tampak sangat bahagia.
“ Ah biasa aja deh.” Jawab Fani juga tampak malu-malu,
apalagi banyak yang mengejek mereka saat selesai berdansa tadi.
“ Gak nyangka ya lo udah cantik pintar dansa lagi.” lanjutnya
terus memuji Fani.
“ Oh iya, gue juga sempat ngammbil foto kalian berdua. Ya tuhan
mesra sekali.” Lanjutnya terus mengoceh. Kemudian mengeluarkan ponselnya,
mencari foto-foto Endrico dan Fani yang sempat dia ambil tadi. Menunjukkan hasil
jepertannya tersebut kepada pasangan dansa yang berhasil membuat orang-orang
diruangan itu bertepuk tangan meriah.
“ Lihat ni keren-keren kan fotonya.” Ucapnya sambil
menunjukkan kepada Fani.
“ Hem.” Jawabnya hanya berdehem sembari mengembalikan lagi
ponsel itu kepemiliknya.
“ Lihat dong.” Ucap Endrico meraih ponsel, tidak sabar ingin
melihat seberapa mesranya dia saat berdansa tadi.
Hehehehe lucu sekali foto-fotonya. Seperti pasangan yang nyata. Ah semoga saja ya.
Pesta dansa adalah acara penutup pesta ulang tahun ini,
beberapa tamu sudah mulai pulang sejak tadi. Begitu juga dengan yang lainnya
satu persatu mulai pergi tidak terkecuali Endrico dan Fani. Mereka bergegas pulang
karena sudah hampir malam. Endrico kembali mengantar Fani kembali kerumahnya,
sepanjang jalan masih sibuk dengan detak jantungnya yang sejak tadi tidak
berdetak beraturan. Menatap gadis yang membuatnya benar-benar senang malam ini,
__ADS_1
seolah ingi terus begini, ingin terus seperti tadi.