Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Sudah Move On?


__ADS_3

“ Jangan buru-buru dong.” Endrico tersenyum simpul, menatap Fani yang sedikit lagi berada dalam pelukannya. Kemudian mengangkat sebelah tangannya, ingin mengambil gambar bersama.


“ Kita kan belum punya foto berdua.” Lanjutnya. “ Senyum dong, jangan datar gitu, gak cantik.” Endrico tak henti-hentinya menatap Fani yang masih saja tampak bingung, ling-lung.


“ I.iiyyaa kak Endi.” Ucap Fani terbata-bata. Masih belum bisa mengendalikan rasa yang menyebak didalam dadanya. Mencoba mengikuti semua yang diminta oleh Endrico, menarik garis bibirnya, tersenyum.


Endrico mengambil beberapa gambar kebersamaan mereka, meskipun tampak kaku tapi masih nampak unsur mesra. Endrico tersenyum sepenuh hati, Fani hanya sebagian hati. Bukan karena tidak senang, tapi karena bingung dengan rasa yang membengkak dihatinya.


Hei apa lagi ini?Seperti bau-bau jatuh cinta. Apakah aku jatuh cinta? Ah tidak mungkin, ini bukan perasaan cinta. Mungkin hanya karena terbawa suasana, gak gak aku gak boleh jatuh cinta sama dia.


“ Bagus-bagus ni hasilnya. Akhirnya punya foto berdua juga, bisa dikenang nantinya.” Endrico tersenyum sembari menatap layar ponselnya, menggeser kekiri dan kekanan, melihat kembali hasil gencetan jempolnya.


“ Coba lihat yang ini, lucu kan?.” Endrico mendekat dan kemudian menyodorkan ponselnya kehadapan Fani, meminta gadis itu untuk melihat foto yang menurutnya paling bagus diantara yang lainnya. Fani hanya menatap dan kemudian mengangguk mengiyakan, tanpa mengatakan apapun.


“ Nanti kalau aku udah kuliah dan aku kangen kamu kan aku bisa lihat-lihat foto ini. Seenggaknya kangennya berkurang hehehe.” Ucapnya lirih.


“ Oh iya aku belum bilang kan kalau aku bakal kuliah keluar Negeri, aku berangkat seminggu lagi.” Lanjutnya. Endrico memang menginginkan kuliah diluar Negeri sejak lama, ingin mengikuti jejak papanya, menjadi sarjana disalah satu Universitas Internasional ternama.


“ Eh beneran? Wah selamat ya kak. Enak ya jadi orang kaya, mau kuliah dimana aja bisa.” Fani terkekeh. Dalam tawanya juga ada rasa iba, sebab sudah sejak lama dia menginginkan kuliah diluar Negeri. Tapi tidak tau apakah nantinya bisa tercapai atau tidak, mengingat biaya yang dibutuhkan sangat besar.


“ Hem, iya sih tapi,,” Belum sempat Endrico menyelesaikan omongannya, Irma sudah memanggil dengan suara lantang, membuat Endrico terdiam dan beralih pandang menuju sumber suara yang lantang.


“ Fani, kak Endi..” Suara Irma menggema, membuat siempunya nama langsung menoleh kearahnya.


“ Fani, kak Endi.” Sekali lagi Irma berteriak memanggil kedua manusia yang tersita perhatiannya ini. Kemudian Irma melambai dan menjentikkan tangannya meminta Fani dan Endrico untuk mendekat. Sebab semua peserta kemah tampak berkumpul dan seperti akan bergerak pergi.


Fani dan Endrico bergegas mendekat, takut jika ada sesuatu penting yang akan disampaikan Irma kepada mereka. Pasalnya mereka sudah cukup lama melipir dari perkumpulan, mungkin setengah jam, hingga mereka sudah banyak ketinggalan beberapa informasi dan pembicaraan.


**


Sophia termenung dibangku taman, dengan sebotol minuman ditangan dan beberapa jajanan disebelahnya. Meneguk air lalu kemudian menjebak diri dalam lamunan yang masih belum usai. Pikirannya tertuju pada Fani yang hingga kini tidak membalas pesan berisi bom kemarahan darinya. Entah apa yang ada dalam fikiran Fani saat ini, itulah yang coba ditebak Sophia.


“ Apa dia udah tau ya kalau sebenarnya akun itu adalah milikku.” Sophia meneguk kembali air yang ada ditangannya, sudah hampir habis.


“ Tapi kalau dia tau pasti dia gak bakalan kasih alamat lengkapnya kemarin.” Lanjutnya terus mengulang meneguk air dari botol mineral yang hanya tersisa sedikit lagi.


“ Atau dia baru tau kalau sebenarnya pemilik akun itu aku ketika aku mengirimkan foto-foto dan pura-pura gak tau.” Sophia terbelalak, benih-benih penyesalan mulai timbul dari dirinya, dia salah langkah, salah rencana.


“ Ah bodohnya aku. Kenapa sih aku gak bisa menimbangn-nimbang dulu ide yang muncul dari kepala bodoh ini. Sudah pasti Fani curiga, apalagi aku tiba-tiba mengirimkan foto yang sudah pernah aku unggah disosial media, idih bodoh banget sih lo Sop. Gak ada akal beneran deh.” Sophia menggerutu kesal, menyumpah serapahi kebodohannya.


“ Terus kalau udah gini mau gimana lagi coba? Udah susah dapetin celah, eh sekalinya beraksi bukannya deket malah jadi jauh harapannya.” Sophia membanting botol minuman yang ada ditangannya, wajahnya yang semula bingung seketika berubah menjadi merah padam, tangannya mengepal kesal.

__ADS_1


Sophia beranjak dari bangku taman, berjalan menuju toilet untuk mencuci wajahnya. Namun ketika melewati kelas milik Andry, Sophia tiba-tiba menjadi mellow. Wajah kesalnya berganti menjadi sedih dan haru. Sosok yang dia sukai tidak akan pernah dia lihat lagi disekolah ini, bahkan mungkin akan sangat jarang sekali bisa melihat Andry.


“ Coba aja aku yang jadi pacarmu.” Sophia berhenti dan mengedarkan pandangannya kedalam kelas yang kosong tak berpenghuni itu.


“ Pasti suasana hatiku tak akan kacau begini. Lihatlah betapa malangnya aku, perasaanku jungkir balik tiap hari, sedih, senang, haru, kadang bingung.” Lanjutnya. Matanya tampak berkaca-kaca, wajah yang haru, wajah yang pilu.


“ Apa kau tau betapa kerasnya perjuanganku. Kau adalah lelaki pertama yang aku suka, bahkan jika berbalas kau akan jadi cinta pertamaku. Tapi sayang, kau malah suka temanku, kau tak membalas rasaku.” Sophia memukul kaca jendela. Air matanya sudah tidak terbendung lagi, suasana hatinya benar-benar mudah berubah.


“ Apa? Lihatlah betapa cintanya kau dengan dia, bahkan kau sanggup pergi menemuinya diluar kota.” Sophia tak henti-hentinya bicara, menggerutu.


“ Aku juga rela melakukan apapun demi kau, bahkan sekalipun itu adalah cara yang licik dan jahat, tak mengapa aku tetap melakukannya.” Sophia menyeka kedua matanya, menepis bulir air yang hendak jatuh mengenai pipinya, kemudian melanjutkan langkahnya. Emosionalnya benar-benar terombang-ambing hari ini.


**


Semua peserta camping sudah berkumpul ditengah lapangan. Hari ini mereka akan melakukan kunjungan kesalah satu desa yang dekat dari hutan, katanya disana ada air terjun yang masih jarang didatangi, belum dijamahi seutuhnya. Semua peserta akan pergi kesana dengan menyusuri sisi hutan. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dengan berjalan kaki.


“ Fan, males banget gak sih harus jalan kaki. Kan aku gak pernah jalan kaki apalagi sampai setengah jam begini.” Keluh Irma sembari berjalan pelan mengikuti langkah teman-teman yang lainnya.


“ Makanya sering-sering olahraga biar gak gampang capek. Baru disuruh jalan 30 menit aja udah capek setengah mati, dasar penyakit orang kaya.” Ucapnya sembari terkekeh geli menatap wajah Irma yang tampak sangat kelelahan dan dipenuhi buliran keringat.


“ Diem deh lo gak usah banyak omong, capek nih.” Ketusnya Irma kemudian mendorong kuat bahu Fani hingga siempunya terdorong jauh kesamping.


“ Hahahahaha.” Fani hanya tergelak tawa, bukannya marah  karena didorong oleh sahabatnya.


“ Waw keren banget sih.” Irma berdecak kagum ketika melihat pemandangan air terjun yang ada dihadapannya itu. Seketika rasa lelahnya terbayarkan, gerutu kesalnya berganti menjadi decak kagum melihat keindahan alam yang tidak ada diperkotaan.


“ Eh dasar orang kota ya, gak pernah lihat yang beginian. Makanya sering-sering menyatu dengan alam, biar tau seberapa indah ciptaan tuhan.” Fani menepuk jidat Irma yang berdecak kagum dan terdengar alay. Apalagi dia adalah saksi keluh kesah Irma sepanjang jalan tadi.


“ Kan gue gak punya kampung, makanya belum pernah lihat keindahan alam yang beginian.” Ketusnya membela diri.


“ Lain kali ikut kekampung aku deh, dijamin banyak yang indah-indah disana.” Fani menawarkan, kemudian kembali tertawa seolah-olah mengejek Irma.


“ Pak, sepertinya sekolah harus sering-sering bikin acara yang beginian. Kemah dan jelajah alam, biar orang yang Cuma tau perkotaan juga tau alam dan pedesaan.” Fani mengangkat tangan dan setengah berteriak kepada salah satu guru yang mendampingi mereka.


“ Idih, anak desa sombong banget dah ya.” Sahut beberapa siswa yang  merasa tersindir dengan omongan Fani barusan, meskipun apa yang dia katakan ada benarnya juga tapi masih ada gengsi yang harus dijaga hehehe.


“ Hahahaha.” Fani hanya membalas dengan tawa kemudian diikuti beberapa tawa dari yang lainnya.


Mereka semua melakukan susur sungai, mengenal beberapa jenis pepohonan dan kemudian bermain diair terjun. Ini bukanlah program mereka sejak awal, namun ide ini diusulkan oleh Endrico tadi malam sebagai ketua pelaksana kegiatan. Guru pendamping menyetujui hingga sampailah mereka pada program susur alam ini.


“ Fan, masih terngiang-ngiang nih dikepala ku.” Irma menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal sembari menatap Fani yang sedang asyik menjuntai kaki bermain air.

__ADS_1


“ Apa lagi sih Ir. Udah ditempat sebagus ini masih ada juga yang terngiang-ngiang dikepalamu.” Ucapnya. Pandangan Fani tidak beralih dari kerumunan siswa yang asyik menceburkan diri didalam sungai, ada juga yang berdiri menunggu jatuhnya air terjun.


“ Masalah kamu yang kemaren Fan. Cerita kita yang sempat terpotong karena kedatangan kak Endi itu loh.” Irma menarik daun telinga Fani hingga mereka bertatap muka.


“ Yang mana sih Ir? Jangan bahas masalah itu lagi dong, kan kita lagi senang-senang disini.” Fani mengalihkan pandangannya, tidak ingin lagi membahas masalah yang sudah-sudah.


“ Tapi beneran ini, aku masih penasaran. Itu akun siapa? Kenapa dia ngirimin foto-foto mantan kekasih mu dan sahabatmu Fan? Apa dia itu temenmu?.” Irma meluncurkan beberapa pertanyaan, tidak peduli Fani ingin membahas atau tidak yang penting dia sudah melempar pertanyaan yang sejak kemarin terngiang-ngiang dikepalanya.


“ Fan jawab dong, masa sih tega biarin aku penasaran begini.” Irma menggoyang-goyangkan tubuh Fani yang diam terpaku menatap Kearah lain. Pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan oleh  Irma.


“ Fan, jawab dong. Abis ini gak tanya-tanya lagi deh.” Lanjutnya terus memohon sembari menggoyang-goyangkan tubuh Fani hingga gadis yang ada dihadapannya itu berbalik pandang dan menghela nafas panjang.


“ Hufffhhh. Jadi akun yang kemarin itu adalah akun mamanya Sophia. Aku juga gak tau kenapa dia ngirim lagi foto itu padaku. Entah itu sengaja atau tidak aku tak tau. Tapi yang jelas semua foto-foto itu sudah pernah aku lihat dari unggahan Sophia.” Fani menjawab dengan cepat dan tertunduk diam.


“ Atau sebenarnya itu akun fake gak sih? Bisa aja Sophia sengaja menggunakan akun mamanya untuk bikin kamu makin marah, kesannya ini selingkuh yang diumbar.” Irma tampak berfikir. Semua yang diucapkannya ada benarnya juga, namun pemikiran ini tidak pernah terlintas dikepala Fani sebelumnya.


“ Bener juga ya, bisa jadi itu Sophia yang berusaha merusak suasana hatiku.” Fani membelalakkan matanya. Baru tersadar jika dia sedang berada dalam permainan Sophia, ini adalah sengaja.


“ Nah itu maksudku, bisa jadi dia sengaja memberi minyak untuk membuatmu semakin terbakar api kemarahan.” Irma menjentikkan jarinya dan berlagak seperti orang yang penuh percaya diri bahwa asumsinya benar.


“ Terus lo udah cari kebenaran belum? Apa sih motivasi lo putusin Andry tanpa penjelasan? Tanpa pemaparan kesalahan? Gak ada benang kusut tiba-tiba lo bilang putus, itu pasti gak fair buat dia Fan.” Lanjutnya. Kali ini Irma benar-benar berlagak seperti dokter cinta yang paham akan semua permasalahan dua insan, permasalahan dalam percintaan. Padahal kisah cintanya juga tak kalah buruk dari kisah orang yang dinasehatinya.


“ Tapi aku udah terlanjur kesal lihat unggahan Sophia yang mengumbar kedekatan mereka berdua, aku udah gak tahan lagi Ir. Aku pilih jalan ini juga karena aku gak ma uterus-terusan ngerasa tersakiti begini. Terlepas dari mereka benar ada hubungan atau enggak aku udah gak peduli lagi.” Fani mencoba menahan diri, jangan sampai bersedih dan pecah tangis.


“ Tapi lo salah Fan. Harusnya lo tanya dulu kebenarannya, minta dulu penjelasan dari Andry, lo putusin atau enggak itu tergantung lo nantinya Fan. Gue Cuma ngerasa ada yang janggal ada dari cerita lo kemarin, makanya sampai sekarang masih terngiang-ngiang dikepala gue.” Irma terus mencoba meyakinkan Fani untuk memikirkan kembali keputusan sepihaknya ini. Irma yang baru mendengar ceritanya saja sudah merasa jika Andry pasti adalah orang yang paling buruk posisinya, tidak tau apa-apa namun tiba-tiba harus kandas hubungannya, sepihak pula.


“ Udah deh Ir, lagi gak pengen bahas masalah ini. Lagian udah masa lalu juga.” Ucap Fani lirih. Tidak ingin lagi membahas tentang masalalunya yang menyakitkan baginya ini.


“ Fan coba deh lo berfikir jernih. Dari awal lo tau kalau temen lo siapa itu namanya, dari awal juga dia udah suka sama cowok lo. Terus kalian terpisah jarak antar kota, dia yang ada disana, dia yang sering ketemu. Lo kan gak tau apa yang terjadi sebenarnya. Emang sih lo liat tuh cewek posting foto kebersamaan mereka, tapi lo gak tau kan apa aja pembicaraan antara mereka sampai-sampai foto bersama. Bisa jadi cowo lo juga terpaksa dan dipaksa. Lo harus fikir logis deh, jangan karena emosi lo hancurin cinta lo dan cinta orang lain.” Irma menasehati Fani benar-benar layaknya orang yang berpengalaman dalam cinta. Tapi semua yang dikatakan Irma ada benarnya juga, semua harus diselesaikan dengan kepala dingin, tidak bisa hanya mengandalkan emosi dan kata-kata.


“ Hem, udah deh Ir. Gue juga udah lupain dia kok.” Fani hanya menjawab sekenanya sembari tersenyum paksa, padahal didalam hatinya sudah tumbuh benih-benih rasa bersalah.


“ Kenapa? Lo udah move on dari Andry? Lo udah punya pengganti doi?.” Irma terus menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dia jawab.


“ Hem udah deh kita bahas yang lain aja. Atau kita kesana yuk berenang bareng yang lain.” Fani terus mengalihkan pembicaraan. Kemudian menarik tangan Irma agar mengikutinya menuju tempat yang ramai, dibawah air terjun.


“ Gak, gue belum dapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan gue. Gue gak mau pergi.” Irma menepis tangan Fani.


“ Hei lagi pada ngapain sih? Kenapa kalian suka banget menjauh dari keramaian. Yuk gabung, disana lagi main cari batu.” Tiba-tiba sosok Endrico datang dan menghentikan perdebatan antara kedua sahabat ini. Endrico selalu datang disaat suasana tegang.


“ Eh kak Endi, beneran disana lagi main cari batu? Yaudah yuk kita gabung bareng mereka. Pasti seru, ya gak Ir?.” Fani memang pintar bermain drama. Kemudian menarik tangan Irma agar siempunya segera beranjak dan mengikuti dirinya. Irma hanya terdiam menahan emosi, menghentikan debatnya. Beranjak dan mengikuti kemana arah langkah kaki Fani.

__ADS_1


Baiklah kali ini kau lolos. Tapi tidak dengan nanti atau besok. Isi kepalamu itu apa? Andai bisa aku bongkar seperti apa bentuk dalam kepalamu, apakah bersenabut? Tenang, aku akan meluruskan yang belok, contohnya pemikiran dan cara berpikirmu. Biar lain kali kau lebih pintar dan tidak mudah termakan omongan, tidak mudah  menghakimi apalagi hanya dari gambar. Dasar bukan insan yang propesional dalam percintaan.


__ADS_2