Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Pencarian Hari Ketiga


__ADS_3

Dengan tubuh yang masih lemah, Andry tetap meneruskan misinya. Kali ini dia menyewa penuh ojek yang ada disekitar hotel untuk seharian. Untuk menemaninya berkelana mencari sekolah-sekolah yang masih tersisa dalam daftar listnya. Meskipun kehilangan moment menyusuri jalanan, namun Andry bisa lebih cepat menyelesaikan blusukan kesekolah-sekolah tersebut.


“ Ini sekolahnya dik. Silahkan, saya tunggu disini.” Ucap sang ojek.


“ Iya bang. Tunggu sebentar ya.” Andry bergegas turun dan mendekati sekolah.


“ Permisi pak, permisi." Andry menatap kedalam pekarangan, memanggil seorang satpam yang tampak berkeliaran.


“ Pak, saya disini pak.” Andry melambaikan tangan ketika melihat lelaki gagah itu kebingungan mencari sumber suara.


“ Ada apa dik? Ada yang bisa saya bantu?.” Ucapnya mendekat dan membukakan pagar.


“ Pak saya mau tanya. Apa disini ada siswa yang namanya Fani Almaera pak? Barangkali bapak kenal dengan nama itu.” Andry langsung bertanya pada intinya.


“ Wah saya gak tau dik. Soalnya saya baru disini, baru beberapa bulan dik. Maaf saya gak tau dik.” Ucapnya mengatupkan kedua tangan dan meminta maaf, bnar-benar sopan.


“ Kalau begitu saya permisi dulu pak, terimakasih ya.” Andry melambaikan tangan dan bergegas kembali mendekati ojek yang sudah dia sewa untuk seharian.


Andry melanjutkan perjalanannya, menyusuri satu persatu sekolah yang tersisa. Satu persatu pula asanya berjatuhan. Sudah hampir selesai, namun sema jawaban yang dia dengar hampir sama. Tidak ada yang namanya Fani Alamaera disini, saya belum pernah mendengarnya hingga dengan siapa itu Fani?. Hem pencarian yang sebenar-benarnya berat. Bahkan kurir paket yang sudah tertera alamat jelas saja kadang masih  nyinyir bertanya, masih linglung dimana, masih ragu benar atau tidaknya. Apalagi Andry yang datang membawa lembaran kosong, tidak ada sebait kata pun yang jadi petunjuk untuknya. Dia yang harus berusaha mengisi lembaran kosong itu, penuh kebingungan, penuh perjuangan.


Aku hanya bisa berusaha, kemudian hasil akhirnya aku pasrah, aku serahkan pada semesta. Jika nanti sudah sampai 2 minggu, 3 minggu atau sebulan tetap saja aku tidak melihat batang hidungmu, berarti bukan takdir, aku mundur. Semoga saja semesta berbaik hati, memberi izin.


Andry sudah sampai disekolah yang terakhir dalam daftar listnya. Sudah patah hati duluan, membuat Andry berjalan dengan penuh keraguan, rasa akan gagal. Namun Andry harus mendekat, harus menemukan sebuah jawaban. Barangkali sekolah terakhir ini adalah sekolah Fani, masih semoga, masih berharap.


“ Hallo permisi pak.” Andry berteriak dari luar pagar. Sekolah kali ini benar-benar tertutup, bahkan hanya ada sedikit celah untuk bisa mengintip dari pagar yang menjulang tinggi itu.


“ Iya sebentar.” Sebuah suara terdengar dari arah dalam, namun sosoknya tidak terlihat.


“ Maaf pak saya mau tanya.” Andry tersenyum cengengesan ketika melihat sosok yang datang. Seorang lelaki bertubuh ramping dengan celana yang ditarik melebihi pusarnya. Kembarannya jojon kali ya.


“ Ada apa tu? Siswa disini ya? Atau alumni? Atau kamu anaknya tenaga pendidik disini.” Lelaki bertubuh ramping itu menyodorkan beberapa pertanyaan yang semua jawabannya adalah tidak.


“ Tidak pak. Saya orang baru disini, saya mau cari seseorang pak. Barangkali dia sekolah disini dan bapak mengenalinya.” Andry menggeleng kepalanya beberapa kali dan tersenyum.


“ Siap tu? Sebut saja namanya, saya hampir kenal semua siswa yang bersekolah disini.” Lelaki bertubuh ramping itu tersenyum cengengesan. Mengangkat bahunya sombong.


“ Hehehehe semoga bapak kenal ya.” Andry ikut cengengesan dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“ Namanya Fani Almaera pak. Masih tingkat dua. Dan dia mungkin baru pindah beberapa bulan yang lalu.” Ucap Andry pada lelaki bertubuh ramping itu.


“ Hem, aku belum pernah mendengar nama itu. Apa mungkin karena dia siswa baru.” Lelaki itu tampak berfikir dan mengingat-ingat semua siswa yang dikenalinya.


“ Coba ingat-ingat dulu pak. Barang kali bapak mengenalinya.” Lanjut Andry memohon. Berharap lelaki itu mengenali sosok yang dicarinya.


“ Aku tidak kenal. Tidak ada yang namanya Fani Almaera disini.” Lelaki itu menegaskan jika dia tidak mengenali Fani, bahkan tidak pernah mendengar namanya disini.


“ Hem baiklah pak. Terimakasih. Saya permisi dulu.” Andry menghela nafas, kemudian berbalik dan melanglah pergi.


“ Eh tapi tunggu. Apakah ada sesuatu yang bisa membuatku mengenali sosok yang kau cari? Foto misalnya.” Lelaki itu menghentikan langkah kaki Andry yang akan pergi.


“ Oh iya. Kan aku punya fotonya.” Gumam Andry dan kemudian berbalik mendekati lelaki bertubuh ramping itu. Mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mencari foto Fani dan menunjukkan kepada lelaki itu.


“ Hem, benar. Aku belum pernah melihatnya. Mungkin dia tidak bersekolah disini.” Ucap lelaki itu. Matanya menyipit dan membesar menatap layar ponsel yang terpampang foto Fani.

__ADS_1


“ Bapak yakin tidak mengenalinya?.” Andry tetap bersikukuh dan memastikan jika lelaki itu benar-benar tidak mengenali sosok Fani.


“ Iya benar. Aku tidak pernah melihatnya disini. Dia bukan siswa disekolah ini.” Ucap lelaki itu meyakinkan Andry jika dia benar-benar tidak mengenali dan tidak pernah melihat sosok Fani.


“ Baiklah pak. Terimakasih banyak, saya permisi dulu. Maaf sudah merepotkan bapak.” Andry menunduk dan terseyum kepada lelaki itu. Kemudian bergegas pergi.


Andry menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah beberapa jam dia berkelana mencari satu manusia saja. Rasa lelahnya semakin ditumpuk, semangatnya memudar, asanya mulai berjatuhan. Andry meminta untuk diantarkan pulang kembali ke penginapan. Sudah lelah, ingin istirahat. Namun diperjalanan Andry teringat tentang lelaki bertubuh ramping tadi, lelaki yang meminta untuk ditunjukkan foto Fani. Kenapa dia tidak pernah terfikir tentang hal ini sebelumnya. Padahal ini adalah ide yang brilian, jika dari awal dia terfikir ide ini pasti akan dengan mudah udah menemukan Fani.


“ Kenapa idenya ada pas udah kesekolah yang terakhir sih. Kalau dari awal kan gampang. Tinggal bilang nama dan tunjukin foto doang. Tapi masa iya sih aku harus balik lagi kesekolah-sekolah sebelumnya. Ah pasti memakan waktu juga, duh ngebayangin tu satpam sangar aja merinding aku.” Batin Andry sembari menggidikkan bahunya. Merinding membayangkan satpam sangar, apa lagi membayangkan sekolah angker yang membuatnya mendadak mendemam.


“ Hem udah deh. Nanti aku pikirin lagi gimana rencana selanjutnya. Mau ngapain, harus kemana lagi. kalau sekarang yang ada dikepalaku hanya makan dan bantal. Lapar dan mengantuk, ah lelah sekali.” Sambungnya. Andry kembali kepenginapan dan langsung terkapar.


**


“ Fan. Sini.” Endrico  menjentikkan jari dan meminta Fani untuk mendekat dengannya. Fani hanya mengangguk mengiyakan dan melipir dari kerumunan untuk mendekati Endrico.


“ Sini buruan.” Endrico kembali menjentikkan jarinya agar Fani mempercepat langkahnya.


“ Kenapa sih kak? Disana kan lagi sibuk main game, kak Endi malah disemak-semak begini.” Fani menurun naikkan alis matanya sembari memperlambat langkah kakinya. Matanya seketika menyipit dan telunjuknya mencacar kearah Endrico.


“ Wah kak Endi mau jahatin aku ya? Ah aku gak mau, jangan. Kak Endi parah banget sih, berani-beraninya ditengah keramaian begini.” Fani menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Seolah-olah benar Endi akan melakukan pelecehan terhadap dirinya.


“ Heh. Sembarangan aja! Makanya buruan kesini biar gak salah kaprah.” Ketus Endrico kesal dan menatap Fani dengan sinis. Tangannya terus menjentik meminta Fani untuk mendekat.


“ Hem, beneran ya gak diapa-apain.” Fani melangkah mendekat, namun kedua tangannya  tetap menyilang didepan dada. Hanya untuk  berjaga-jaga saja, barang kali Endrico benar-benar ada niatnya.


“ Iye iye beneran gak ada niatan jahat ni. Kan aku baik sih.” Endrico terkekeh geli melihat tingkah Fani terus menatap sinis dengan kedua tangan menyilang menjaga asetnya.


“ Apaan sih kak.” Ucap Fani sembari mengedarkan pandangannya. Berdiri berjarak dengan Endrico agar tetap aman.


“ Bagus banget kan?.” Lanjut Endrico sembari menatap Fani dengan penuh kebahagiaan.


“ Idih. Ini sih banyak dibelakang rumahku. Memang hidupnya diantara ilalang begini kok.” Ketus Fani kesal, pikirnya ada sesuatu yang sangat wah yang akan ditunjukkan Endrico padanya, ternyata hanya sekumpulan bunga yang sudah biasa dilihatnya. Kemudian dengan penuh rasa kesal dan menyesal, Fani bergegas kembali mendekati kerumunan peserta camping yang tengah asyik bermain game.


“ Eh tunggu dulu dong. Kenapa buru-buru sih.” Endrico menarik pergelangan tangan Fani hingga membuat siempunya tangan menghentikan langkah kakinya.


“ Tunggu dulu dong.” Endrico mengulangi perkataannya. Meminta Fani untuk tetap diam dan menunggu sebentar lagi.


“ Apa lagi sih kak? Aku pengen main game sama yang lain. Nanti kalau guru-guru lihat kita berdua disini bisa panjang urusannya.” Fani mencoba menepis tangan Endrico agar melepas tangannya.


Kenapa sih ni orang makin kesini makin seenaknya pegang-pegang gue. Dih, jangan-jangan dia memang penjahat kelamin nih. Bener kata Arif, bisa jadi gue nih target selanjutnya. Ah gak mau. Gue harus bisa menghindari lelaki ini, kalau enggak bisa habis ni tiap-tiap inci tubuh gue disentuhnya.


“ Lepasin ih. Kenapa lagi sih kak?.” Fani menepis kuat tangan Endrico yang tetap melingkar dipergelangan tangannya. Suaranya tinggi dan perlakuannya terlihat sedikit kasar.


“ Kamu kenapa jadi marah gini sih? Aku kan Cuma minta kamu buat tunggu sebentar. Ada hal lain yang ingin aku kasih lihat sama kamu.” Endrico berkata lirih. Tangannya yang mula mencengkam erat pergelangan tangan Fani kemudian perlahan melepaskan.


“ Gak maksud apa-apa kok, aku juga gak sejahat yang kamu kira. Aku Cuma mau kasih tunjuk sesuatu yang ada dibelakang kumpulan bunga-bunga biasa itu.” Lanjutnya lirih. Merasa jika dirinya dipandang rendah oleh wanita yang ada dihadapannya, sekalipun dahulu dia adalah pemain wanita, namun kali ini dia tidak punya niat apa-apa.


“ Tunggu sebentar ya. Jangan kemana-mana.” Endrico tersenyum paksa kepada Fani yang terdiam penuh penyesalan.


Endrico berjalan menuju kumpulan bunga-bunga menjalar yang biasa tumbuh disemak-semak ilalang. Berjalan pelan dan penuh kehati-hatian. Entah apa yang akan ditunjukkan nya. Fani hanya menatap apa yang dilakukan lelaki itu, dengan tumpukan rasa bersalah dan penyesalan yang ada dalam hatinya. Menyesal telah bersikap kasar kepada Endrico yang sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang berlebihan padanya, hanya sebatas menggenggam pergelangan tangan.


Malah ngerasa bersalah. Ah, padahal kan dia yang gak ada ahlaq, pegang-pegang tangan cewe sembarangan. Terus bersikap selah-olah dia adalah korban, terus aku yang menyesal. Ah terkutuklah.

__ADS_1


“ Kenapa melamun? Nih sesuatu yang mau aku tunjukin sama kamu.” Endrico datang dari arah samping. Mengagetkan Fani yang tengah mengutuk kesal dan  sesal.


“ Waw bagus banget.” Fani berdecak kagum. Matanya terbelalak melihat setangkai bunga yang dibawa oleh Endrico. Setangkai bunga berwarna merah dan ungu tua, bunga yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


“ Bagus kan? Ini bunga yang pengen aku tunjukkin sama kamu.” Endrico mencium aroma bunga yang indah itu sembari matanya terpejam, benar-benar penuh penghayatan.


“ Bagus banget kak Endi.” Fani terus berdecak kagum dan kemudian mendekati Endi, mengulurkan tangan seolah meminta Endrico menyerahkan bunga itu kepadanya.


“ Ini buat kamu. Ini khusus aku ambilin buat kamu, semoga kamu suka ya.” Endrico menyerahkan bunga itu kepada Fani, senyum yang terpancar dari wajah tampannya mengatakan jika dia benar-benar tulus kali ini, bukan hanya sekedar modus.


“ Terimakasih kak Endi, aku suka kok.” Fani dengan cepat meraih bunga tersebut, kemudian mencium aroma wangi yang semerbak dari bunga itu.


“ Sini.” Endrico merampas kembali bunga itu dari genggaman Fani, sudah diberi tapi diambil lagi. Fani menatap Endrico dengan penuh keheranan, sudah diberikan tapi diambil lagi. Busuk sikut ni orang, pikirnya.


“ Loh kok diambil lagi sih kak Endi, katanya buat aku.” Ketus Fani kesal. Wajahnya mulai ditekuk maksimal, mulutnya maju kedepan, kesal.


“ Hehehehe.” Endrico terkekeh geli melihat wajah murung gadis yang ada dihadapannya ini. Benar-benar manjanya membuat setengah gila para penggemarnya. Endrico mendekati Fani yang hanya diam tidak bergeming, hanya mulutnya yang meracau menggerutu tanpa mengeluarkan suara. Endrico menyibakkan rambut Fani yang menutupi bagian telinganya, ditarik kebelakang kemudian menyelipkan bunga indah itu ditelinga Fani, ah manis sekali.


“ Duh cantik banget sih udah kayak gadis bali aja hehehe.” Endrico menggoda Fani kemudian tertawa geli.


“ Apasih kak Endi, gak lucu tau gak sih.” Fani tetap menunjukkan kekesalannya, padahal didalam hatinya merasa senang, jantungnya membesar, nafasnya tidak beraturan.


Beginikah permainan lelaki pemain wanita seperti dia ini? Beginikah cara kerjanya? Jangan sering-sering kau begini, bisa-bisa nanti aku cinta. Apalagi aku yang tengah terluka, patah cinta, butuh pria. Hei! Aku gila ya!.


Endrico mengeluarkan ponsel dari saku celananya, membuka layar dan mulai memotret Fani yang sedang tertunduk diam, tampak cantik dan manis. Sementara Fani tidak sadar, masih sibuk berkecamuk dengan batinnya yang meronta-ronta senang, mengatur nafasnya yang memburu kencang, ingin membuldak ingin tumbang.


“ Hei lihat kesini dong.” Endrico memecahkan lamunan Fani. Tersenyum kepada gadis yang tampak tengah kebingungan.


“ Eh eh jangan difoto kak.” Fani menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Malu jika Endrico memotret dirinya.


“ Kenapa jangan? Udah ayok senyum biar aku fotoin.” Endrico mendekat dan meraih kedua tangan Fani yang menutupi wajahnya. Meletakkan tangan itu kedagu Fani, meminta untuk berpose bak gadis manis.


“ Gak mau. Aku malu.” Fani kembali mengangkat tangannya, menutupi wajahnya sembari tersenyum simpul dibaliknya. Meskipun mulutnya mengatakan tidak, namun hatinya tidak bisa menolak rasa bahagia. Perlakuan manis yang sudah lama tidak dia dapati, hari ini kembali, dalam wujud orang lain.


Kau memang pujangga cinta. Kau membuatku kembali merasakan hangatnya dicinta, meski kau dalam wujud lain, meski kau tak sama, kadarmu berbeda.


“ Ayo senyum, jangan ngelamun gitu dong.” Endrico terus mengangetkan Fani yang beberapa kali terjebak dalam lamunan.


“ Satu dua tigaa.” Endrico mulai memotret. Menarik perhatian Fani yang sejak tadi tidak fokus.


“ Malu ih.” Fani tersipu malu, mencoba menutup kembali wajah menggunakan kedua tangannya. Namun belum sempat sudah dicegat oleh Endrico.


“ Eh jangan ditutup lagi wajahnya, nanti cantiknya gak kelihatan.” Endrico terkekeh geli, kemudian meminta Fani untuk berdiri baik-baik, berpose layaknya model, ingin mengambil gambar, ingin mengabadikan kebersamaan, ingin mencetak kenangan.


“ Buruan deh. Makin cepat makin baik, makin cepat balik kesana.” Endrico menunjuk kearah peserta camping yang lumayan ramai.


Fani hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh Endrico. Berpose malu-malu, namun akhirnya berpose bak model professional. Ternyata malu hanya bergantung waktu. Fani terus saja bergaya sesukanya, tersenyum, memonyongkan mulut hingga dengan menjulurkan lidah. Sementara Endrico sibuk tersenyum sembari memotret sang model dadakan, beberapa bahkan puluhan gambar memenuhi memori ponselnya.


“ Ada yang malu-malu tapi akhirnya malah keenakan, malah ngerasa model beneran.” Endrico tertawa terbahak-bahak, pandangannya menatap lekat gadis yang ada dihadapannya, menyindir maksudnya.


“ Ih kan kak Endi yang maksa, yaudah aku ngikut aja.” Ketus Fani. Kesal bercampur malu, Fani tersenyum kulum, menunduk dan memelintirkan kedua tangannya.


“ Idih, tapi ujung-ujungnya ketagihan ya. Duh mana ada yang candid lagi, lucu banget hahahaha.” Endrico menatap layar ponselnya, kemudian beralih menatap Fani yang malu-malu kucing. Menggoda Fani hingga membuatnya semakin tersipu malu.

__ADS_1


“ Apaan sih kak Endi. Udah ah aku mau balik dulu, masih mau happy happy bareng teman yang lain.” Fani bergegas ingin pergi, tidak tahan lagi mendengar ejekan Endrico. Namun dengan cepat Endrico menghentikan langkahnya, menarik pergelangan tangannya hingga Fani berbalik dan terbentur dengan dadanya.


“ Ethhh tunggu dulu, buru-buru banget sih.” Endrico menatap Fani dalam, membuat keduanya tenggelam dalam nuansa romansa. Atmosfer sekitar berubah, semula dingin menjadi panas tidak karuan. Fani hanya bisa tertunduk, semakin tidak bisa mengendalikan detak jantungnya. Beberapa bulir keringat tampak timbul disekitar dahinya. Rasa senang, takut, malu dan kesal bercampur menjadi satu menyeruak dari dalam tubuhnya, padahal hanya dekat dan ditatap.


__ADS_2