
Andry masih terlelap dalam tidurnya, masih tenggelam dalam mimpinya. Merasa jika dirinya sudah sampai dikota tujuan dan sedang sibuk mencari Fani kesana-sini. Padahal dia masih ditempat tidur dan mendengkur hebat. Karena terlalu kelelahan dan tidak bisa lagi menahan kantuknya membuat Andry tertidur didetik-detik jadwal keberangkatannya tadi. Harusnya sekarang Andry sudah berangkat dan malah sudah sampai dikota tujuan.
Hallo, kamu dimana sayang? Aku sudah sampai dikota tepat tinggalmu. Bisa kah kau menjemputku? Aku sudah mencoba menghubungimu sejak kemarin. Tolong jemput aku sekarang, aku sudah cukup lama menunggu dan berkeliaran disekitar sini.
Andry meracau seolah dia sedang menelepon Fani, merasa jika ternyata sangat senang karena Fani akhirnya mengaktifkan ponsel dan menjawab teleon darinya. Merasa hampir saja rugi karena dia mengurungkan niat untuk tetap pergi menemui kekasih hatinya. Andry didalam mimpinya masih saja menunggu sang kekasih hingga datang menjemput. Duduk menunggu dengan tas yang disandang dipunggungnya. Kedua tangan memegang kotak yang dikirimkan oleh Fani kemarin dan satu lagi memegang bag berisis hadiah yang dia beli untuk kekasih hatinya.
“ Hei kenapa kau lama sekali? Apa rumahmu sangat jauh?.” Gumamnya sambil menatap sekeliling. Mencari sosok yang sejak tadi dia nanti-nanti.
“ Apa kau kesusahan mencariku? Ah baiklah akan ku kirimkan lokasi dimana aku diam menunggu seperti orang linglung.” Lanjutnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku. Mengirim lokasi kepada Fani guna mempermudah sang kekasih hati untuk mencari dimana posisinya.
Andry terus menunggu sosok Fani menjemputnya, dengan kedua tangan menggenggam dan pandangan yang menyapu sekeliling. Mengharapkan sosok Fani segera datang menjemputnya, membawanya pergi dari tempat yang panas ini. Keringatnya bercucuran karena kepanasan, sinar matahari menyentuh kulitnya yang berwarna putih. Meskipun duduk didalam halte, tetap saja sinar matahari menjilat tubuhnya. Terus menunggu dan menyampu
__ADS_1
pandangan kesekeliling, mencari sosok yang masih belum terlihat sejak berpuluh-puluh menit yang lalu. Tiba-tiba suara dering ponsel mengegetkannya, membuatnya tersentak dan terbangun dari mimpinya. Awalnya Andry tampak linglung dan bingung sembari menatap sekelilingnya, menatap kamarnya dan menatap tubuhnya.
“ Ah sial ! Ternyata aku masih dirumah, ah sial ternyata hanya mimpi saja.” Andry mengucek-ucek matanya. Memastikan jika dia memang masih dirumah dan belum sampai dikota tempat kekasihnya tinggal. Kemudian Andry menghambur dari atas ranjang, bergegas mengambil semua barang yang sudah dia tumpuk sejak tadi malam. Bergegas ingin pergi tanpa melihat situasi, jam dan bahkan pakaian yang dia kenakan.
Andry sudah membawa semua barang dan sudah sampai mendekati anak tangga, namun seketika dia baru sadar jika dia hanya mengenakan celana boxer dan baju kaos longgar. Terlebih dia tidak membawa dompet, kunci mobil dan yang paling penting adalah tiket pesawat.
“ Argghhh kenapa aku ketiduran sih? Harusnya aku tidak terburu-buru begini.” Gumamnya kesal. Kalang kabut karena dia sudah sangat terlambat. Meletakkan semua barang didepan anak tangga dan kembali berlari menuju kamarnya. Mengambil tiket pesawat dari laci sebelah ranjangnya, dan mengambil dompet dari kantong celana yang dia pakai kemarin. Tidak lupa juga mengambil jam tangan dari atas meja belajar, melingkarkan dipergelangan tangannya sambil berjalan menuju tempat dia meninggalkan barang-barang. Seketika matanya melotot, nafasnya seolah terhenti ketika melihat jam yang baru saja dia lingkarkan dipergelangan tangannya menunjukkan sudah hampir pukul 11 siang. Mendadak badannya tekulai lemah dan menghambur duduk diatas kursi yang ada didekat meja belajarnya.
“ Ah tidak mungkin. Pasti jam ini sudah tidak bagus lagi.” Ucapnya tidak percaya. Mengucek-ucek kedua matanya dan kemudian memukul-mukul keras jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Seolah tidak percaya dan ingin meyakinkan diri, Andry kembali bernjak menuju tempat tidurnya. Mengambil jam yang ada diatas meja sebelah ranjang, menatap dengan seksama dan seketika dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kencang.
“ Lalu apa yang harus aku lakukan? Tadi malam aku berpikir tidak akan pergi karena takut menjadi gelandangan, lihatlah semesta selalu baik padaku. Menggagalkan rencana kepergianku. Padahal aku ingin sekali pergi dan menemui Fani. Meskipun nanti aku tidak bisa menemukannya dalam waktu dua hari, setidaknya aku sudah berusaha dan mencoba untuk mencari. Bukti jika aku masih sangat mencintainya.” Lanjutnya menuduk kesal dan menyesal. Didalam hatinya sudah tersimpan banyak harapan, namun apalah daya mau tidak mau harus dia biarkan gugur bersama untain-untain penyesalan yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Andry berjalan gontai menuju keluar kamar, mendekati tumpukan barang yang dia letakkan didekat anak tangga. Mengangkat dan membawa kembali masuk kedalam kamar, membawa masuk bersama harapan-harapan yang rumpang. Andry menatap tubuhnya yang lemah dan merasa lelah, mengasihani dirinya sendiri. Menyumpah serapahi kebodohannya, sudah jelas-jelas hanya beberapa jam lagi jadwal keberangakatannya, namun dia malah ketiduran.
“ Andry yang bodoh. Lelaki bodoh. Pria bodoh.” Gumamnya sembari memukul-mukul kepalanya kesal. Tidak henti-hentinya menyalahkan kecerobohan dirinya yang tertidur didetik-detik jadwal penerbangan.
“ Lalu untuk apa lagi tiket ini? Ah tidak berguna.” Lanjutnya sembari menatap selembaran kertas yang dia pegang. Kemudian merobek-robek hingga menjadi beberapa bagian. Dilemparkan keatas awing-awang dan berteriak kesal. Suaranya memenuhi seisi ruang kamar, mungkin terdengar hingga keteling-telinga penghuni rumah yang lain.
“ Menyebalkan.” Teriaknya memukul udara. Masih saja kesal dengan kelalaiannya.
“ Kenapa tidak ada yang membangunkanku? Padahal penduduk rumah ini sangat banyak sekali.” Ucapnya semakin kesal, tidak ingin melewatkan menyalahkan penghuni rumah yang lain.
“ Si Devi juga, dia kan tau kalau aku akan berangkat pagi-pagi. Tapi kenapa dia tidak membangunkanku?.” Terus
__ADS_1
bergumam menyalahkan orang lain. Setelah puas menyalahkan dirinya dia juga menyalahkan orang lain.
Andry melempar-lempar bantal dan guling hingga berserakan dilantai. Melempar semua barang-barang yang ada didekatnya termasuk jam tangan dan ponsel. Kemudian bersembunyi dibalik selimut, menggerutu kesal hingga dengan menyalahkan dirinya sendiri. Tanpa sadar Andry kembali terlelap dalam tidurnya, melepas semua beban yang menumpuk dikepalanya. Membuang semua rasa lelahnya, mengistirahatkan dirinya sejenak dan melupakan semua angan-angan dan harapannya. Tidak mau lagi memikirkan ini, tubuhnya terlalu lelah, matanya terlalu mengantuk. Nanti kembali memikirkan setelah tubuhnya bugar dan pikirannya kembali lapang.