
Andry menatap Fani yang bengong sejak tadi. Fani terus saja melamun sejak mobil bergerak. Seperti ada banyak beban yang memenuhi pikirannya. Berulang kali Andry memperhatikan dan Fani masih tetap saja melamun. Andry memilih untuk memecahkan keheningan antara mereka berdua, takut jika terus-terusan membiarkan Fani melamun nanti jadi kesambet setan lagi.
“ Kok bengong ajas sih?.” Andry membuyarkan lamunan Fani. Fani yang kaget sontak memegang dada dan menatap Andry.
“ Aaa ngagetin aja deh.” Protesnya menatap Andry.
“ Lagian kamu juga sih bengong aja.” Andry terkekeh melihat Fani yang memandangnya dengan sinis.
“ Hehehe maaf ya.” Meraih tangan Fani dan menggenggamnya.
“ Mau kemana sih?.” Tanya Fani saat sadar mereka sudah jauh dari sekolahan.
“ Ada deh. Sabar ya, aku mau ajak kamu sesuatu tempat.” Andry mengelus rambut Fani dan tersenyum manis.
“ Hem.” Fani hanya berdehem dan kembali menatap jalanan.
“ Oh iya kak, aku numpang charger dong ya.” Meraih ponsel dari tasnya.
“ Gak boleh.” Andry menahan tangan Fani yang menggenggam ponsel dan mengejeknya berulang kali. Lalu terkekeh melihat Fani yang kesal dan menekuk wajahnya.
Ahahaha menggemaskan sekali kau gadis tengil.
Fani menepiskan tangan Andry yang menahan tangannya, lalu mencharger ponsel dan berbalik mengejek Andry. Sepanjang perjalanan mereka besenda gurau dan saling mengejek. Sesekali beradu pandang dan tersipu malu. Kembali menatap jalanan, lalu kembali bercanda lagi. Melakukan hal ini berulang-ulang. Memudarkan kecemasan dalam hati Fani. Sejenak Fani melupakan kemarahan Sophia yang akan dihadapinya nanti.
“ Kita udah sampai nih. Yuk turun.” Andry memarkirkan mobilnya disebuah toko baju.
“ Loh mau ngapain kak?.” Tanya Fani.
“ Ada deh. Yuk turun.” Andry membuka pintu dan Fani mengikuti langkah Andry.
Andry mengedarkan pandangannya mencari gaun yang cocok untuk kekasih dadakannya ini. Sebentar lagi Andry akan berulang tahun dan membuat pesta dirumahnya. Andry ingin menyelaraskan warna baju Fani dengan Jas yang akan dipakainya besok.
“ Mbak saya mau lihat yang itu.” Andry menunjuk sebuah gaun berwarna kuning keemasan.
“ Oh sebentar ya mas.” Seorang karyawan wanita mengambil dan menyerahkan gaun itu kepada Andry.
“ Nih kamu coba dulu gaunnya.” Menyerahkan gaun mewah itu kepada Fani. Mendorong pelan agar Fani yang bingung agar segera beranjak ke ruang ganti.
“ Buat apaan.” Tanya Fani bingung.
“ Udah coba aja dulu.” Andry mendorong Fani hingga sampai didepan ruang ganti. Menunggu Fani untuk mencoba gaun yang dipiihnya. Beberapa saat kemudian Fani keluar dengan mengenakan gaun panjang tanpa lengan dengan belahan hingga ke paha.
“ Gila cantik juga ni cewe tengil. Gak salah pilih deh gue.” Gumam Andry dalam hati. Memuji kecantikan dari kekasih dadakannya itu.
__ADS_1
“ Gimana?.” Fani benar-benar tak pede mengenakan gaun tanpa lengan itu.
“ Bagus kok. Yaudah kamu ganti lagi ya.” Ucap Andry.
“ Iya kak.” Fani segera masuk keruang ganti dan menggerutu dalam hati. Apa yang akan dilakukan pria itu dengan gaun ini. Fani terus berfikir selama diruang ganti.
“ Buat
apasih? Pake nyuruh gue cobain ni gaun lagi.” Gerutunya. Lalu keluar dari ruang
ganti.
“ Mbak saya mau yang ini ya.” Andry menyerahkan gaun itu kepada karyawan toko.
“ Sebentar ya mas.” Mengambil gaun dan membungkusnya.
Setelah menyelesaikan pembayaran Andry dan Fani segera menuju mobil dan memutuskan untuk langsung pulang. Fani masih bertanya-tanya dalam hati untuk apa Andry membeli gaun ini. Hatinya ingin bertanya tapi mulutnya masih kaku untuk berbicara. Akhirnya Fani hanya diam menatap jalanan yang ramai. Enggan menerka-nerka untuk apa dan untuk siapa Andry membeli gaun ini.
“ Kita makan dulu ya.” Ucap Andry memecahkan keheningan.
“ Engga usah deh kak. Kita langsung pulang aja, udah sore soalnya.” Jawab Fani menolak.
“ Yaudah kita mampir sebentar ya.” Andry membelokkan mobilnya dan berhenti disebuah minimarket.
“ Nih buat kamu.” Andry menyerahkan kantong itu dan segera melajukan mobilnya.
“ Ngapain sih repot-repot.” Ucap Fani saat melihat isi dalam plastic itu adalah salad dan beberapa bungkus roti.
“ Gak usah sungkan. Lagian aku kan pacar kamu.” Andry terkekeh. Sementara Fani membulatkan matanya kaget, sudah berulang kali Andry mengatakan ini. Setiap mendengarkan kata-kata itu Fani merasa jika Andry memaksanya untuk mengingat dan mengakui kesalahan terbesarnya.
“ Hehehe makasih ya kak.” Fani tersenyum paksa.
“ Oh iya gaunnya kamu pakai waktu pesta ulang tahun aku ya.” Andry menyodorkan bungkusan yang berisikan gaun pilihannya tadi.
“ Loh ini buat aku?.” Tanya Fani bingung.
“ Ya iyalah, terus buat siapa lagi.” Andry terkekeh dan Fai hanya menyeringai.
Sophia sudah cukup lama menunggu dirumah Fani. Rasa penasarannya menyebabkan ia berada dirumah Fani sejak satu jam lalu. Sophia menunggu diteras rumah, karena tak ada orang dirumah saat ini. Sophia menyimpulkan beberapa pertanyaan penting yag harus dia tanyakan pada Fani. Demi sebuah jawaban Sophia sanggup menunggu dengan waktu yang cukup lama. Sophia sibuk bermain game diponselnya, dari kejauhan terdengar suara mobil dan ternyata itu adalah mobil Andry yang melaju memasuki pekarangan rumah Fani.
“ Akhirnya pulang juga ni orang.” Gumamnya menggeram.
“ Hufhh Sophia, kau harus tetap tenang. Jangan gegabah.” Sophia menarik nafas panjang dan mencoba menenangkan dirinya. Pandangannya masih tetap teruju pada mobil yang berhenti didepan rumah Fani itu.
__ADS_1
Kemudian keluar sosok Fani dari pintu sebelah kemudi dengan beberapa barang ditangannya. Dengan cepat Fani melangkah mendekati Sophia dan melambaikan tangan menghantarkan kepergian Andry. Suasana terasa mencekam, atmosfer disekeliling terasa berubah. Jantung Fani berdetak sangat kencang, dengan berani dia bertanya kenapa Sophia ada disini.
“ Eh Sop, kok lo ada disini?.” Fani bertanya dengan gugup.
“ Gue nungguin lo dari tadi. Gue juga nungguin penjelasan dari lo.” Ketus Sophia sambil kedua tangannya dilipat didada.
“ Ayok masuk dulu.” Fani membuka pintu dan mempersilahkan Sophia untuk masuk.
“ Abis dari mana lo sama Andry?.” Sophia sudah tak dapat membendung tanya.
“ Masuk dulu nanti gue jelasin.” Fani menghindar karena belum mampu memberi penjelasan.
Fani melemparkan barang bawaanya keatas ranjang, diikuti dengan melemparkan tubuhnya. Sementara Sophia yang tak sabar menunggu jawaban itu hanya duduk ditepi ranjang sambil menatap Fani dengan tatapan tajam.
“ Sekarang jawab ! Habis dari mana lo sama Andry?.” Sophia mengulangi tanya dengan nada yang agak keras.
“ Habis nemenin dia doing kok Sop, jangan salah paham.” Fani berdalih.
“ Ada hubungan apa lo sama Andry ha?.” Sophia semakin tak bisa membendung tanya.
“ Gak ada hubungan apa-apa kok Sop.” Fani menjawab gugup.
“ Mana mungkin dia ngajak lo pulang bareng kalau kalian gak ada hubungan apa-apa.” Sophia meninggikan suaranya. Sementara Fani hanya tertunduk diam.
“ Gak bisa jawab kan lo.” Sambungnya membentak.
“ Gue bisa jelasin kok Sop, lo sabar dulu jangan nyerang gue gini.” Fani menjawab dengan lirih. Ketakukannya benar-benar terjadi hari ini. Mau tidak mau dia harus menghadapi kekacauan yang dia buat sendiri.
“ Alah gak ada lagi yang harus lo jelasin. Semua juga udah jelas, lo ada hubungan apa sama Andry ha?.” Sophia mulai tak bisa mengontrol emosi, jarinya liar menunjuk-nunjuk wajah Fani.
“ Ini apa ha?.” Sophia mengambil bungkusan yang dilemparkan Fani kesudut ranjang itu. Membuka kantong pertama dan hanya menemukan beberapa makanan. Tapi emosinya semakin memuncak saat dia melihat isi dari bungkusan yang kedua. Sebuah gaun mewah dibawa Fani setelah pergi bersama Andry. Sudah tentu Andry dan Fani memiliki hubungan lebih.
“ Lalu ini apa ha?.” Sophia menggenggam dan mengangkat gaun yang ditemukannya itu.
“ Ini dari Andry kan? Mana mungkin kalian gak punya hubungan tapi dia beliin lo gaun gini.” Sophia melemparkan gaun itu ke sisi lain ranjang. Fani hanya terdiam membisu, menunduk dan matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Sophia yang berulang kali membentaknya.
“ Maafin gue Sop, gue emang salah. Gue udah nyakitin lo, padahal gue jelas-jelas tau kalau lo suka sama Andry.” Fani menyeka ujung matanya.
“ Ah emang ban*sat lo Fan. Gue kira lo temen terbaik gue, ternyata gue salah.” Sophia membentak lebih keras.
“ Gue gak nyangka kalau lo yang katanya gak suka sama Andry malah punya hubungan lebih saat ini. Lo sengaja mengaku kalah demi rahasia lo gak terbongkar. Sayangnya bangkai yang lo simpan udah kecium sama gue.” Sambungnya menangis.
“ Maafin gue Sop, ini emang salah gue.” Fani mendekat dan menyentuh bahu Sophia yang sesenggukan menangis. Namun dengan cepat Sophia menggidikan bahunya melepas pegangan Fani.
__ADS_1
“ Diam lo. Gak usah pegang-pegang gue. Pengkhianat lo.” Sophia berteriak dengan beruraian air mata. Sementara Fani hanya bisa mundur menjauhi Sophia. Mereka saling diam membisu, hanya terdengar isak tangis dari Sophia. Fani tertunduk dengan kepala yang bertumpu dikedua kakinya, menyesali semua perbuatan dan kesalahan terbesarnya ini. Apakah ini benar-benar akan jadi akhir pertemanan mereka?