Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Chicago?


__ADS_3

“ Gapapa kok.” Fani meniup bagian yang berdarah.


Mawar merah yang semula digenggamnya sudah terjatuh ketanah.


“ Maaf ya. Soalnya kamu bikin aku kesal.” Andry


mengatupkan kedua tangannya, memohon ampunan karena hari ini sudah berkali-kali


membuat Fani meringis kesakitan.


Fani hanya mengangguk mengiyakan tanpa mengalihkan


pandangan dari luka ditangannya. Kemudian berputar-putar mencari mawar merah


miliknya, mengambil dan menggenggamnya kembali erat-erat. Menatap Andry yang


masih sibuk dengan kepanikannya, Fani menyeka air mata dan tiba-tiba mengatakan


“ Mungkin aku akan..”


Drrtttt…. Drttttt….


Belum sempat Fani menyelesaikan ucapannya, ponselnya


berdering. Sebuah panggilan video dari kekasihnya Endi. Sudah lama sekali,


mungkin terakhir kali sekitar seminggu yang lalu Endrico melakukan panggilan


video dengan Fani. Dan tiba-tiba hari ini dia melakukan panggilan video, tepat


saat Fani sedang bersama Andry. Entah apa sebutan yang tepat, Endrico datang


diwaktu yang tepat atau datang diwaktu yang salah.


“ Bentar ya kak,” Fani meredam dering ponselnya.


Kemudian tergesa-gesa pergi menjauh untuk menjawab telepon kekasihnya.


“ Hallo sayang.” Sahut Endrico ketika panggilan


video tersambung. Senyumnya mekar seolah sedang bahagia sekali.


“ Hallo.” Jawab Fani terbata-bata. Yang disana


bahagia, yang disini gugup setengah mati.


“ Lagi dimana? Cantik banget sih pacar aku.” Ujar


Endrico menggoda sang kekasih.


Fani tersenyum cengengesan, sesekali dia membalikkan


badan dan melihat Andry yang duduk cukup jauh darinya. Memastikan jika Andry


tidak akan mendengarkan pembicaraannya dengan Endrico. Takut jika nanti dia


akan menyakiti hati Andry. Sekarang Fani sedang berusaha menjaga dua hati


lelaki sekaligus. Salahnya juga, kenapa tidak memilih salah satunya. Kalau


ingin kedua-duanya ya rakus namanya.


“ Ini aku lagi dipantai, lagi pengen banget


refreshing.” Dari pada panjang masalahnya, lebih baik Fani mengatakan yang


sebenarnya, dimana dia berada. Tapi jika ditanya dengan siapa dia mungkin akan


merahasiakan identitasnya.


“ Lah bukannya kerumah sakit malah main-main


dipantai. Siang-siang pula.” Sahut Endrico yang tampak mulai curiga.


“ Hem, lagi capek banget. Kalau dirumah sakit aku


Cuma duduk diam dan cemas. Jadi aku pikir sebaiknya nenangin diri dulu dialam


terbuka.” Fani berdalih. Pandai sekali dia berkilah sekarang.


“ Oh gitu ya. Coba lihat dong siapa aja yang ada


disana.” Tiba-tiba Endrico ingin melihat keadaan sekitar. Mungkin curiga Fani


pergi dengan seseorang yang disembunyikannya.


Astaga.


Dia malah minta aku putar-putar kamera pula. Aaaa dibelakang kan ada kak Andry.


Mati aku. Tapi kalau aku menolak pasti dia semakin curiga.


Fani mengedarkan kameranya, berputar putar 360


derajat. Perlahan Fani mengedarkan kamera tepat dimana Andry berada. Namun


ketakutannya seketika berubah menjadi kaget. Tiba-tiba Andry sudah tidak ada


lagi disana, entah dimana dia berada. Fani sangat lega, menarik nafas panjang


dan menghembuskannya perlahan. Akhrinya semesta masih melindunginya, katanya.


Ahh


aku hampir saja ketahuan. Beruntunglah semesta masih melindungiku.


Fani mengelus dadanya, merasa keberuntungan masih


berpihak padanya. Padahal sebenarnya bukan karena keberuntungan yang berpihak


kepadanya, tapi karena Andry yang melindunginya. Saat Fani melihat Andry dengan


raut wajah yang ketakutan, Andry sudah menduga jika orang yang sedang menelepon


adalah kekasihnya. Hingga Andry nekat untuk diam-diam mendengarkan obrolan


mereka. Setelah mendengar bahwa Endrico ingin Fani mempelihatkan sekelilingnya,


dengan cepat Andry berlari dan bersembunyi dibalik pohon yang rindang.


“ Ternyata sesakit ini ya.” Gumam Andry sembari


memukul batang pohon yang rindang.


“ Jadi untuk apalagi aku memaksa yang tidak ingin


kembali. Sudah jelas-jelas dia bahagia dengan lelaki barunya. Tu buktinya


sekarang, dia mengangkat telepon dan ketakutan jika ketahuan dengan siapa dia


datang ketempat ini.” Lanjutnya. Andry mengepal tangannya dan memukul kuat


batang pohon besar yang ada dihadapannya. Andry melusuh duduk dan bersandar


dibatang pohon, tangannya mengepal pasir pantai.


“ Jadi kenapa emangnya kalau kau sebut kau pergi


bersamaku. Apa yang kau takutkan? Takut dia memutuskan hubungan atau takut aku


juga akan meninggalkanmu.” Andry sudah tidak bisa menyaring pikirannya lagi. Pikirannya


sudah tidak pada tempatnya, overthinking.


“ Wanita yang selama ini aku pikir polos ternyata


banyak belangnya ya. Tidak tanggung-tanggung kau ingin sekali dua.” Andry


menghela nafas panjang. Beberapa kali mengulang hingga merasa sedikit tenang.


Fani berjalan sembari mengedarkan pandangan, mencari


kemana sosok Andry menghilang. Tadi ada dibawah pohon, namun sekarang pergi

__ADS_1


entah kemana. Berulang kali Fani berteriak memanggil, namun Andry tidak


menyahut sama sekali. Padahal tidak jauh, Andry hanya bersembunyi dibalik


pohon.


“ Kak Andry..” Teriak Fani.


“ Kak Andry..”


“ Kak Andry..”


Entah berapa kali Fani berteriak memanggil Andry,


tidak ada jawaban sama sekali. Terik panas yang membakar tubuhnya, berkeringat


dan lelah. Hingga membuat Fani tidak ingin lagi memanggil nama Andry. Namun


tiba-tiba Fani sudah muncul dihadapan Andry dengan setangkai bunga, kotak pink


dan kotak kecil yang belum sempat dia buka.


“ Nah ini dia orangnya.” Ucap Fani sembari


tersenyum. Duduk dan meletakkan semua barang-barang bawaannya. Mereka sudah


berpindah tempat, dari sisi satu kesisi lain pohon.


“ Hem. Kak Andry kenapa? Ada masalah?.” Tanya Fani


sembari menatap Andry dalam, mendekatkan wajahnya dan memastikan jika lelaki


itu tidak apa-apa. Andry hanya menjawab dengan gelengan kepala.


“ Kita pulang yuk, udah hampir sore juga. Kamu mau


kerumah sakit kan?.” Tiba-tiba Andry berdiri dan mengajak Fani untuk pulang.


Melihat Fani yang masih sangat senang berhubungan dengan lelaki barunya membuat


mood Andry rusak parah, kalau wanita mungkin dia sudah berteriak menangis


sekencang-kencangnya.


“ Loh kok buru-buru sih.” Tanya Fani heran. Kemudian


berjalan setengah berlari mengikuti langkah Andry yang terburu-buru.


“ Kak, kenapa tiba-tiba pulang sih.” Tanya Fani


lagi. Heran kenapa tiba-tiba Andry ingin pulang, padahal tadi masih baik-baik


saja.


Fani dan Andry sudah duduk didalam mobil. Fani masih


dengan kebingungannya, sementara Andry masih dengan rasa kesalnya. Fani masih


menanti jawaban sementara Andry masih memilih untuk diam.


“ Kak Andry kenapa sih? Tadi perasaan masih


baik-baik aja deh.” Fani memberanikan diri bertanya lagi pada Andry, meskipun


lelaki itu tampak marah dan enggan menatapnya.


“  Aku ada


salah apa sama kak Andry?.” Tanya Fani lagi. Masih tidak ada jawaban apapun


dari Andry, dia memilih untuk diam seribu bahasa.


“ Kak jawab dong. Kalau emang pergi Cuma buat


marah-marahan begini sebaiknya gak usah pergi deh tadi.” Ucap Fani ketus. Sudah


cukup sabar menghadapi mood Andry yang berubah-ubah hari ini, sejak pagi tadi.


“ Yaudah kalau emang gitu kita pulang aja. Aku aja


dengan lelaki barumu. Kalau begitu untuk apa lagi kan, lebih baik kita perjelas


aja gimana sekarang. Dari pada aku yang terus berharap, tersakiti berulang


kali. Ah bodoh banget sih lo Andry.” Ucap Andry dengan penuh emosi. Sudah sejak


tadi dia ingin mengatakan hal ini, hatinya semakin sakit ketika Fani diam-diam


dan menjauhkan diri saat menerima telepon Endrico.


“ Apasih kak.” Fani mengerutkan keningnya.


“ Udah deh jangan sok-sok gak tau gitu.” Ucap Andry


masih penuh emosi.


“ Kalau emang lebih nyaman sama lelaki barumu


yasudah aku yang mundur. Yang penting semua udah jelas sekarang, gak ada lagi


yang harus aku perjuangkan.” Lanjutnya. Andry menginjak pedal gas kuat,


mobilnya melaju dijalanan sepi dekat pantai.


Fani hanya terdiam dan mencoba mencerna maksud


Andry, mencari titik kesalahannya hingga membuat Andry semarah dan sekesal ini.


Apa


karena aku menjawab telepon Endi? Masa sih karena itu doang dia sampai marah


begini. Atau masih karena mungkin.. yang belum aku selesaikan tadi. Atau karena


aku belum memilih antara dia atau Endi. Hei kau marah karena sebab yang mana


satu?


“ Kak Andry.” Fani mencoba menenangkan Andry. Bergelayut


manja dipundak Andry, menyandarkan habis kepalanya disana.


“ Kenapa? Apa karena masalah mungkin yang belum


sempat aku selesaikan tadi?.” Tanya Fani. Tangannya memeluk erat lengan Andry


hingga menyebabkan siempunya sulit bergerak.


“ Atau karena aku mengangkat telepon tadi? Atau


karena aku belum menjawab tentang mau kah kita kembali bersama, mengulang


semua?.” Fani memberikan opsi-opsi yang kemungkinan menjadi sebab kemarahan


Andry.


“ Sebenarnya sekarang kamu anggap aku apa sih Fan?


Mainan kamu doang?.” Diam-diam, sekali bicara langsung menusuk ke dada. Andry


menanyakan sesuatu seolah-olah Fani sangatlah kejam.


“ Kak,” Fani memeluk lengan Andry semakin erat.


“ Jangan gitu dong.” Lanjut Fani dengan manja.


“ Yasudah. Aku tau kok kamu lebih nyaman dengan


lelaki barumu, mungkin dia lebih baik dariku.” Sahutnya tanpa mengalihkan


pandangan dari jalanan, membiarkan gadis itu menggelayut manja ditubuhnya,


tidak masalah baginya. Meskipun kesal hingga ubun-ubun, Andry juga senang

__ADS_1


karena Fani masih ingin bermanja-manja dengannya.


“ Kak, dengerin dulu.” Ucap Fani semakin manja,


suaranya lirih menggoda.


“ Gak.” Ketus Andry menolak.


“ Semoga kamu senang dengan pilihanmu ya. Oh iya


mungkin 2 minggu lagi aku bakal berangkat ke Chicago buat lanjutin study. Kamu


baik-baik ya disini.” Andry mengeluarkan jurus terakhir. Mungkin mengatakan


bahwa dia akan pergi membuat Fani memohon-mohon mengatakan jangan, menerima


kembali mereka menjadi pasangan.


“ Hah? Chicago?.” Fani terbelalak kaget. Kenapa dua


lelaki yang disukainya harus berada ditempat yang sama dengan tujuan yang sama.


Andry hanya terdiam, bahkan tidak ingin menatap wajah Fani yang penasaran,


jelek sekali.


“ Kak Andry mau ke Chicago?.” Fani mengulang


pertanyaannya. Dikepalanya langsung muncul wajah Endrico. Bahkan dia sempat


membayangkan bagaimana kalau mereka berdua bertemu disana, atau jangan-jangan


mereka akan melanjutkan study ditempat yang sama.


Apa-apaan


ini? Sebagus dan semenarik apa sih Chicago sampai-sampai membawa kedua lelaki


yang dekat denganku kesana.


Fani menenangkan pikirannya, lebih tepatnya


memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Sebenarnya dia telah menentukan


pilihannya, hanya tinggal memantapkan saja. Fani meraih kembali bunga mawar


merah yang ada dihadapannya, melamun menatap jalanan sembari menempelkan mawar


didekat hidungnya. Aroma wangi dari mawar membuatnya lebih tenang. Hatinya


berkecamuk menyalahkan, seharusnya sudah dari tadi dia bisa menentukan pilihan,


menegaskannya agar tidak menjadi susah.


Siapa


yang harus aku pilih? Endi? Aku suka tapi tidak terlalu nyaman dengan sikapnya.


Andry? Jangan tanya lagi, sudah pasti aku menyukainya kuadrat, tapi aku masih


ragu untuk kembali. Memang aku rakus ya, kalau bisa aku ingin mereka berdua.


Andry menghentikan mobilnya disebuah taman dekat pantai.


Marah dan kesal, tapi sebenarnya belum ingin pulang.


“ Loh.” Fani mengangkat keningnya.


“ Tadi ngajak pulang sekarang malah mampir ditaman.


Gak jelas.” Lanjutnya. Fani keluar dan duduk disebelah Andry.


“ Kak Andry, kenapa lagi sih?.” Fani sudah tidak


sanggup lagi menerka-nerka apa yang Andry inginkan sebenarnya.


“ Fan duduk dulu.” Andry mengatakan dengan lirih,


wajahnya tampak sedih. Entah sejak kapan dia menjadi tempramen begini, sehari


bisa ratusan kali moody.


“ Fan,” Andry menyandarkan habis kepalanya dipundak


Fani. Seolah dia ingin Fani merasakan beban berat yang dirasakan olehnya. Fani


hanya diam, ling lung dengan keadaan. Tadi bukan main marahnya, sekarang malah


bermanja-manja.


“ Bisakah kau mengakhiri deritaku? Sampai kapan aku


harus terus menampar batinku agar diam dan tidak lagi mengharapkanmu?.” Andry


memeluk erat lengan Fani. Ternyata masih tentang dia yang menginginkan agar


Fani kembali.


“ Apakah beberapa bulan membuatmu benar-benar


mengusirku pergi dari hatimu?.” Lanjutnya semakin lirih. Tidak ada lagi wibawa


dirinya, menangis karena wanita dan dihadapan wanita pula.


“ Apa kak Andry ingin tau jawabannya? Meskipun aku


belum tuntas habis memikirkannya, tapi aku bisa menarik kesimpulan dengan siapa


aku akan meneruskan hubungan.” Fani mendorong tubuh Andry, meminta lelaki itu


untuk menatap wajahnya. Sendu.


“ Kalau kak Andry tanya masalah perasaan, sudah


pasti aku lebih cinta kak Andry. Kalau kak Andry tanya masalah nyaman, sudah


pasti aku nyaman dengan kak Andry.” Fani tersenyum.


“ Jadi?.” Andry menggenggam tangan Fani,


aroma-aromanya Fani akan memilih dia.


“ Jadi aku memutuskan untuk kembali lagi sama kak


Andry.” Fani tersenyum. Andry tercengang, senang. Wajahnya sudah tidak bisa


dikondisikan, bahagianya kelewatan. Tangannya semakin erat menggenggam.


“ Tapi, kasih aku waktu satu minggu untuk mutusin


Endi dulu.” Lanjut Fani. Bagian ini membuat Andry terdiam kembali, satu minggu


hanya untuk memutuskan?


“ Kenapa harus satu minggu sih? 1 menit doang udah


selesai.” Protes Andry. Bisa-bisanya Fani membuatnya terbang melayang kemudian


dihempaskan.


“ Kalau satu minggu sih itu berarti kamunya aja yang


masih pengen nikmati romansa sama tu laki.” Andry masih protes.


“ Kak, aku kan harus cari alasan yang tepat buat


putusin dia. Gak mungkin aku putusin tanpa ada alasan yang jelas.” Fani


berusaha menjelaskan maksudnya.


“ Dulu kamu juga putusin aku tanpa alasan yang


jelas, tanpa alasan malah.” Jlebb. Kat-kata Andry memang pedas, beberapa kali

__ADS_1


dia sudah berhasil menyudutkan Fani, membuatnya benar-benar merasa bersalah.


“ ….. “ Fani hanya terdiam.


__ADS_2