
“ Gapapa kok.” Fani meniup bagian yang berdarah.
Mawar merah yang semula digenggamnya sudah terjatuh ketanah.
“ Maaf ya. Soalnya kamu bikin aku kesal.” Andry
mengatupkan kedua tangannya, memohon ampunan karena hari ini sudah berkali-kali
membuat Fani meringis kesakitan.
Fani hanya mengangguk mengiyakan tanpa mengalihkan
pandangan dari luka ditangannya. Kemudian berputar-putar mencari mawar merah
miliknya, mengambil dan menggenggamnya kembali erat-erat. Menatap Andry yang
masih sibuk dengan kepanikannya, Fani menyeka air mata dan tiba-tiba mengatakan
“ Mungkin aku akan..”
Drrtttt…. Drttttt….
Belum sempat Fani menyelesaikan ucapannya, ponselnya
berdering. Sebuah panggilan video dari kekasihnya Endi. Sudah lama sekali,
mungkin terakhir kali sekitar seminggu yang lalu Endrico melakukan panggilan
video dengan Fani. Dan tiba-tiba hari ini dia melakukan panggilan video, tepat
saat Fani sedang bersama Andry. Entah apa sebutan yang tepat, Endrico datang
diwaktu yang tepat atau datang diwaktu yang salah.
“ Bentar ya kak,” Fani meredam dering ponselnya.
Kemudian tergesa-gesa pergi menjauh untuk menjawab telepon kekasihnya.
“ Hallo sayang.” Sahut Endrico ketika panggilan
video tersambung. Senyumnya mekar seolah sedang bahagia sekali.
“ Hallo.” Jawab Fani terbata-bata. Yang disana
bahagia, yang disini gugup setengah mati.
“ Lagi dimana? Cantik banget sih pacar aku.” Ujar
Endrico menggoda sang kekasih.
Fani tersenyum cengengesan, sesekali dia membalikkan
badan dan melihat Andry yang duduk cukup jauh darinya. Memastikan jika Andry
tidak akan mendengarkan pembicaraannya dengan Endrico. Takut jika nanti dia
akan menyakiti hati Andry. Sekarang Fani sedang berusaha menjaga dua hati
lelaki sekaligus. Salahnya juga, kenapa tidak memilih salah satunya. Kalau
ingin kedua-duanya ya rakus namanya.
“ Ini aku lagi dipantai, lagi pengen banget
refreshing.” Dari pada panjang masalahnya, lebih baik Fani mengatakan yang
sebenarnya, dimana dia berada. Tapi jika ditanya dengan siapa dia mungkin akan
merahasiakan identitasnya.
“ Lah bukannya kerumah sakit malah main-main
dipantai. Siang-siang pula.” Sahut Endrico yang tampak mulai curiga.
“ Hem, lagi capek banget. Kalau dirumah sakit aku
Cuma duduk diam dan cemas. Jadi aku pikir sebaiknya nenangin diri dulu dialam
terbuka.” Fani berdalih. Pandai sekali dia berkilah sekarang.
“ Oh gitu ya. Coba lihat dong siapa aja yang ada
disana.” Tiba-tiba Endrico ingin melihat keadaan sekitar. Mungkin curiga Fani
pergi dengan seseorang yang disembunyikannya.
Astaga.
Dia malah minta aku putar-putar kamera pula. Aaaa dibelakang kan ada kak Andry.
Mati aku. Tapi kalau aku menolak pasti dia semakin curiga.
Fani mengedarkan kameranya, berputar putar 360
derajat. Perlahan Fani mengedarkan kamera tepat dimana Andry berada. Namun
ketakutannya seketika berubah menjadi kaget. Tiba-tiba Andry sudah tidak ada
lagi disana, entah dimana dia berada. Fani sangat lega, menarik nafas panjang
dan menghembuskannya perlahan. Akhrinya semesta masih melindunginya, katanya.
Ahh
aku hampir saja ketahuan. Beruntunglah semesta masih melindungiku.
Fani mengelus dadanya, merasa keberuntungan masih
berpihak padanya. Padahal sebenarnya bukan karena keberuntungan yang berpihak
kepadanya, tapi karena Andry yang melindunginya. Saat Fani melihat Andry dengan
raut wajah yang ketakutan, Andry sudah menduga jika orang yang sedang menelepon
adalah kekasihnya. Hingga Andry nekat untuk diam-diam mendengarkan obrolan
mereka. Setelah mendengar bahwa Endrico ingin Fani mempelihatkan sekelilingnya,
dengan cepat Andry berlari dan bersembunyi dibalik pohon yang rindang.
“ Ternyata sesakit ini ya.” Gumam Andry sembari
memukul batang pohon yang rindang.
“ Jadi untuk apalagi aku memaksa yang tidak ingin
kembali. Sudah jelas-jelas dia bahagia dengan lelaki barunya. Tu buktinya
sekarang, dia mengangkat telepon dan ketakutan jika ketahuan dengan siapa dia
datang ketempat ini.” Lanjutnya. Andry mengepal tangannya dan memukul kuat
batang pohon besar yang ada dihadapannya. Andry melusuh duduk dan bersandar
dibatang pohon, tangannya mengepal pasir pantai.
“ Jadi kenapa emangnya kalau kau sebut kau pergi
bersamaku. Apa yang kau takutkan? Takut dia memutuskan hubungan atau takut aku
juga akan meninggalkanmu.” Andry sudah tidak bisa menyaring pikirannya lagi. Pikirannya
sudah tidak pada tempatnya, overthinking.
“ Wanita yang selama ini aku pikir polos ternyata
banyak belangnya ya. Tidak tanggung-tanggung kau ingin sekali dua.” Andry
menghela nafas panjang. Beberapa kali mengulang hingga merasa sedikit tenang.
Fani berjalan sembari mengedarkan pandangan, mencari
kemana sosok Andry menghilang. Tadi ada dibawah pohon, namun sekarang pergi
__ADS_1
entah kemana. Berulang kali Fani berteriak memanggil, namun Andry tidak
menyahut sama sekali. Padahal tidak jauh, Andry hanya bersembunyi dibalik
pohon.
“ Kak Andry..” Teriak Fani.
“ Kak Andry..”
“ Kak Andry..”
Entah berapa kali Fani berteriak memanggil Andry,
tidak ada jawaban sama sekali. Terik panas yang membakar tubuhnya, berkeringat
dan lelah. Hingga membuat Fani tidak ingin lagi memanggil nama Andry. Namun
tiba-tiba Fani sudah muncul dihadapan Andry dengan setangkai bunga, kotak pink
dan kotak kecil yang belum sempat dia buka.
“ Nah ini dia orangnya.” Ucap Fani sembari
tersenyum. Duduk dan meletakkan semua barang-barang bawaannya. Mereka sudah
berpindah tempat, dari sisi satu kesisi lain pohon.
“ Hem. Kak Andry kenapa? Ada masalah?.” Tanya Fani
sembari menatap Andry dalam, mendekatkan wajahnya dan memastikan jika lelaki
itu tidak apa-apa. Andry hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“ Kita pulang yuk, udah hampir sore juga. Kamu mau
kerumah sakit kan?.” Tiba-tiba Andry berdiri dan mengajak Fani untuk pulang.
Melihat Fani yang masih sangat senang berhubungan dengan lelaki barunya membuat
mood Andry rusak parah, kalau wanita mungkin dia sudah berteriak menangis
sekencang-kencangnya.
“ Loh kok buru-buru sih.” Tanya Fani heran. Kemudian
berjalan setengah berlari mengikuti langkah Andry yang terburu-buru.
“ Kak, kenapa tiba-tiba pulang sih.” Tanya Fani
lagi. Heran kenapa tiba-tiba Andry ingin pulang, padahal tadi masih baik-baik
saja.
Fani dan Andry sudah duduk didalam mobil. Fani masih
dengan kebingungannya, sementara Andry masih dengan rasa kesalnya. Fani masih
menanti jawaban sementara Andry masih memilih untuk diam.
“ Kak Andry kenapa sih? Tadi perasaan masih
baik-baik aja deh.” Fani memberanikan diri bertanya lagi pada Andry, meskipun
lelaki itu tampak marah dan enggan menatapnya.
“ Aku ada
salah apa sama kak Andry?.” Tanya Fani lagi. Masih tidak ada jawaban apapun
dari Andry, dia memilih untuk diam seribu bahasa.
“ Kak jawab dong. Kalau emang pergi Cuma buat
marah-marahan begini sebaiknya gak usah pergi deh tadi.” Ucap Fani ketus. Sudah
cukup sabar menghadapi mood Andry yang berubah-ubah hari ini, sejak pagi tadi.
“ Yaudah kalau emang gitu kita pulang aja. Aku aja
dengan lelaki barumu. Kalau begitu untuk apa lagi kan, lebih baik kita perjelas
aja gimana sekarang. Dari pada aku yang terus berharap, tersakiti berulang
kali. Ah bodoh banget sih lo Andry.” Ucap Andry dengan penuh emosi. Sudah sejak
tadi dia ingin mengatakan hal ini, hatinya semakin sakit ketika Fani diam-diam
dan menjauhkan diri saat menerima telepon Endrico.
“ Apasih kak.” Fani mengerutkan keningnya.
“ Udah deh jangan sok-sok gak tau gitu.” Ucap Andry
masih penuh emosi.
“ Kalau emang lebih nyaman sama lelaki barumu
yasudah aku yang mundur. Yang penting semua udah jelas sekarang, gak ada lagi
yang harus aku perjuangkan.” Lanjutnya. Andry menginjak pedal gas kuat,
mobilnya melaju dijalanan sepi dekat pantai.
Fani hanya terdiam dan mencoba mencerna maksud
Andry, mencari titik kesalahannya hingga membuat Andry semarah dan sekesal ini.
Apa
karena aku menjawab telepon Endi? Masa sih karena itu doang dia sampai marah
begini. Atau masih karena mungkin.. yang belum aku selesaikan tadi. Atau karena
aku belum memilih antara dia atau Endi. Hei kau marah karena sebab yang mana
satu?
“ Kak Andry.” Fani mencoba menenangkan Andry. Bergelayut
manja dipundak Andry, menyandarkan habis kepalanya disana.
“ Kenapa? Apa karena masalah mungkin yang belum
sempat aku selesaikan tadi?.” Tanya Fani. Tangannya memeluk erat lengan Andry
hingga menyebabkan siempunya sulit bergerak.
“ Atau karena aku mengangkat telepon tadi? Atau
karena aku belum menjawab tentang mau kah kita kembali bersama, mengulang
semua?.” Fani memberikan opsi-opsi yang kemungkinan menjadi sebab kemarahan
Andry.
“ Sebenarnya sekarang kamu anggap aku apa sih Fan?
Mainan kamu doang?.” Diam-diam, sekali bicara langsung menusuk ke dada. Andry
menanyakan sesuatu seolah-olah Fani sangatlah kejam.
“ Kak,” Fani memeluk lengan Andry semakin erat.
“ Jangan gitu dong.” Lanjut Fani dengan manja.
“ Yasudah. Aku tau kok kamu lebih nyaman dengan
lelaki barumu, mungkin dia lebih baik dariku.” Sahutnya tanpa mengalihkan
pandangan dari jalanan, membiarkan gadis itu menggelayut manja ditubuhnya,
tidak masalah baginya. Meskipun kesal hingga ubun-ubun, Andry juga senang
__ADS_1
karena Fani masih ingin bermanja-manja dengannya.
“ Kak, dengerin dulu.” Ucap Fani semakin manja,
suaranya lirih menggoda.
“ Gak.” Ketus Andry menolak.
“ Semoga kamu senang dengan pilihanmu ya. Oh iya
mungkin 2 minggu lagi aku bakal berangkat ke Chicago buat lanjutin study. Kamu
baik-baik ya disini.” Andry mengeluarkan jurus terakhir. Mungkin mengatakan
bahwa dia akan pergi membuat Fani memohon-mohon mengatakan jangan, menerima
kembali mereka menjadi pasangan.
“ Hah? Chicago?.” Fani terbelalak kaget. Kenapa dua
lelaki yang disukainya harus berada ditempat yang sama dengan tujuan yang sama.
Andry hanya terdiam, bahkan tidak ingin menatap wajah Fani yang penasaran,
jelek sekali.
“ Kak Andry mau ke Chicago?.” Fani mengulang
pertanyaannya. Dikepalanya langsung muncul wajah Endrico. Bahkan dia sempat
membayangkan bagaimana kalau mereka berdua bertemu disana, atau jangan-jangan
mereka akan melanjutkan study ditempat yang sama.
Apa-apaan
ini? Sebagus dan semenarik apa sih Chicago sampai-sampai membawa kedua lelaki
yang dekat denganku kesana.
Fani menenangkan pikirannya, lebih tepatnya
memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Sebenarnya dia telah menentukan
pilihannya, hanya tinggal memantapkan saja. Fani meraih kembali bunga mawar
merah yang ada dihadapannya, melamun menatap jalanan sembari menempelkan mawar
didekat hidungnya. Aroma wangi dari mawar membuatnya lebih tenang. Hatinya
berkecamuk menyalahkan, seharusnya sudah dari tadi dia bisa menentukan pilihan,
menegaskannya agar tidak menjadi susah.
Siapa
yang harus aku pilih? Endi? Aku suka tapi tidak terlalu nyaman dengan sikapnya.
Andry? Jangan tanya lagi, sudah pasti aku menyukainya kuadrat, tapi aku masih
ragu untuk kembali. Memang aku rakus ya, kalau bisa aku ingin mereka berdua.
Andry menghentikan mobilnya disebuah taman dekat pantai.
Marah dan kesal, tapi sebenarnya belum ingin pulang.
“ Loh.” Fani mengangkat keningnya.
“ Tadi ngajak pulang sekarang malah mampir ditaman.
Gak jelas.” Lanjutnya. Fani keluar dan duduk disebelah Andry.
“ Kak Andry, kenapa lagi sih?.” Fani sudah tidak
sanggup lagi menerka-nerka apa yang Andry inginkan sebenarnya.
“ Fan duduk dulu.” Andry mengatakan dengan lirih,
wajahnya tampak sedih. Entah sejak kapan dia menjadi tempramen begini, sehari
bisa ratusan kali moody.
“ Fan,” Andry menyandarkan habis kepalanya dipundak
Fani. Seolah dia ingin Fani merasakan beban berat yang dirasakan olehnya. Fani
hanya diam, ling lung dengan keadaan. Tadi bukan main marahnya, sekarang malah
bermanja-manja.
“ Bisakah kau mengakhiri deritaku? Sampai kapan aku
harus terus menampar batinku agar diam dan tidak lagi mengharapkanmu?.” Andry
memeluk erat lengan Fani. Ternyata masih tentang dia yang menginginkan agar
Fani kembali.
“ Apakah beberapa bulan membuatmu benar-benar
mengusirku pergi dari hatimu?.” Lanjutnya semakin lirih. Tidak ada lagi wibawa
dirinya, menangis karena wanita dan dihadapan wanita pula.
“ Apa kak Andry ingin tau jawabannya? Meskipun aku
belum tuntas habis memikirkannya, tapi aku bisa menarik kesimpulan dengan siapa
aku akan meneruskan hubungan.” Fani mendorong tubuh Andry, meminta lelaki itu
untuk menatap wajahnya. Sendu.
“ Kalau kak Andry tanya masalah perasaan, sudah
pasti aku lebih cinta kak Andry. Kalau kak Andry tanya masalah nyaman, sudah
pasti aku nyaman dengan kak Andry.” Fani tersenyum.
“ Jadi?.” Andry menggenggam tangan Fani,
aroma-aromanya Fani akan memilih dia.
“ Jadi aku memutuskan untuk kembali lagi sama kak
Andry.” Fani tersenyum. Andry tercengang, senang. Wajahnya sudah tidak bisa
dikondisikan, bahagianya kelewatan. Tangannya semakin erat menggenggam.
“ Tapi, kasih aku waktu satu minggu untuk mutusin
Endi dulu.” Lanjut Fani. Bagian ini membuat Andry terdiam kembali, satu minggu
hanya untuk memutuskan?
“ Kenapa harus satu minggu sih? 1 menit doang udah
selesai.” Protes Andry. Bisa-bisanya Fani membuatnya terbang melayang kemudian
dihempaskan.
“ Kalau satu minggu sih itu berarti kamunya aja yang
masih pengen nikmati romansa sama tu laki.” Andry masih protes.
“ Kak, aku kan harus cari alasan yang tepat buat
putusin dia. Gak mungkin aku putusin tanpa ada alasan yang jelas.” Fani
berusaha menjelaskan maksudnya.
“ Dulu kamu juga putusin aku tanpa alasan yang
jelas, tanpa alasan malah.” Jlebb. Kat-kata Andry memang pedas, beberapa kali
__ADS_1
dia sudah berhasil menyudutkan Fani, membuatnya benar-benar merasa bersalah.
“ ….. “ Fani hanya terdiam.