Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Jatuh Sakit


__ADS_3

Dibantu oleh ayah dan ibu, Fani berjalan tertatih menuju kamar. Dengan suhu tubuh yang panas, wajah yang pucat dan kerangka tubuh yang lemas Fani memaksakan diri untuk menginjakkan kaki dilantai yang dingin. Sekuat tenaga berusaha berjalan menuju kamarnya, tidak ingin terlihat lemah didepan kedua orang tuanya.


“ Kamu istirahat dulu ya.” Ucap ibu ketika tangannya sudah membuka pintu kamar. Membantu Fani berjalan menuju ranjang yang berukuran cukup besar.


“ Naik kan kakimu.” Lanjutnya lagi, membantu Fani merebahkan tubuh diatas ranjang kemudian mengangkat kaki Fani keatas.  Menarik selimut hingga setengah leher, lalu mengelus-elus rambut Fani pelan.


“ Tunggu disini ya, ibu ambilkan makan dulu agar kamu makan dan segera minum obat.” Ucapnya lagi, kemudian bergegas melangkah keluar dari kamar menuju dapur. Meletakkan sekantong plastik obat yang dibawanya diatas meja sebelah ranjang Fani.


“ Ayah juga harus berangkat kerja sekarang, sudah terlambat.” Sahut Ayah mendekat. Mengelus-elus rambut Fani dan segera melangkah keluar dari kamar.


Hanya tinggal Fani seorang diri, menatap langit-langit kamar. Matanya sayu, wajahnya pucat tak berdarah. Helaan nafasanya terdengar berat, menggigil kedinginan tapi kenyataan tubuhnya panas membakar ketika disentuh.


“ Bu.” Teriaknya pelan, tangannya mengatup menggigil kedinginan.


“ Ibu.” Panggilnya lagi, matanya terbuka tertutup pelan.


“ Bu.” Terus memanggil dan berharap sang ibu mendengarkan, namun tetap tidak ada jawaban dari luar.


Akhirnya Fani hanya diam, menggigil kedinginan. Kedua tangan dan kakinya saling mengatup menggenggam menahan gigilan. Berbaring kekiri dan kekanan mencekam kuat selimut tebal yang menaungi dirinya. Kepalanya terasa sangat berat, seperti ada beban berat yang diletakkan.


“ Ah sakit sekali.” Gumamnya lirih. Buliran air mata bersarang diujung matanya, tampak wajahnya merah padam.

__ADS_1


Setelah hampir 15 menit berdiam diri dikamar, akhirnya sang ibu kembali kekamar dengan membawa semangkuk bubur dan segelas air ditangannya. Berjalan mendekat dan meletakkan mangkuk serta gelas berisi air diatas meja. Menatap Fani yang sedang menggigil kedinginan dan menutup matanya. Mendekat dan duduk ditepi ranjang, mencoba membangunkan Fani dengan memukul kakinya pelan.


“ Fan,” panggilnya lembut. Tidak ingin membuat Fani terkejut.


“ Fani.” Sambungnya lagi, terus memanggil dengan suara yang lembut.


“ Fan, bangun dulu.” Ucapnya sembari memijat-mijat kaki Fani.


“ Hem.” Jawabnya berdehem sembari membuka matanya pelan. Menatap sosok yang datang, ternyata sosok yang sejak tadi dia panggil-panggil namun tidak ada jawaban.


“ Ayo makan dulu, ibu buatin bubur.” Ucapnya tersenyum. Meraih semangkuk bubur dan mengaduk-aduk mendinginkan. Fani hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh sang ibu.


“ Ayo duduk dulu biar mudah ibu suapin.” Meletakkan kembali mangkuk yang dipegangnya dan membantu Fani duduk bersandar diranjang. Fani benar-benar sangat lemah sekali.


Setelah cukup lama ibu memaksa Fani untuk menghabiskan makanannya, akhirnya dengan sangat terpaksa dan penuh perjuangan bubur yang ada dimangkuk itu habis juga. Ibu mengambilkan beberapa obat dan memberikan kepada Fani. Meminta Fani untuk meminum obat baru kemudian melanjutkan istirahat.


“ Minum obatmu, kemudian istirahat lah agar cepat sembuh.” Ucapnya menyodorkan segelas air dan beberapa butir obat.


“ Hem.” Hanya sanggup menjawab dengan deheman kemudian mengangguk-angguk pelan. Mengambil beberapa butir obat yang ada ditangan sang ibu kemudian menelannya dengan bantuan air.


“ Sekarang istirahatlah, jangan lupa minum yang banyak. Nanti ibu letakkan air dalam botol yang besar.” Lanjutnya beranjak ingin meninggalkan. Lagi-lagi Fani hanya menjawab dengan anggukan dan menatap sang ibu yang melangkah keluar dari kamar.

__ADS_1


Fani kembali menatap langit-langit kamar, menatap langit-langit tempat dia sering menggantungkan harapan, rindu, cinta dan lain-lainnya. Memejam dan membuka mata pelan seiring dengan helaan nafasnya. Menyusuri seisi kamar dengan pandangannya, menatap lama foto-foto dengan Andry yang bergantungan didinding, ditemani kerlap-kerlipnya lampu tumblr. Hingga tak sadar dia sudah terlelap dan tenggelam dalam tidurnya, mungkin efek samping obat yang diminumnya beberapa menit lalu.


**


Setelah bel istirahat berbunyi, Sophia bergegas meraih ponsel yang sejak pagi tadi tidak dia sentuh. Senyumnya mekar ketika membayangkan Fani sudah menonton video yang diunggahnya pagi-pagi tadi. Dengan cepat mengambil ponsel dan mengecek apakah Fani sudah melihat postingannya atau belum.


Hah pasti kau memutar video itu berkali-kali dan memastikan itu benar adalah Andry. Aku suka kau yang penasaran ahahhaha pasti kau akan mengharapkan diakhirnya lelaki itu jelas wajahnya sambil menggerutu kesal. Tapi setelah kau yakin itu adalah Andry, aku pastikan kau nangis jungkir balik memikirkan kenapa bagaimana dan apa yang terjadi. Hay selamat datang dipermainanku level kedua ahahahaha.


Sophia menyalakan ponsel, membuka langsung sosmed dimana dia mengunggah video misterius tadi, berulang kali menonton video itu sambil tertawa girang, sesekali memukul meja pelan. Kemudian melihat siapa saja yang sudah menonton, masih 0. Itu artinya Fani belum melihat video itu sampai saat ini. Padahal dia sudah mengunggahnya sedari pagi-pagi sekali, tidak mungkin Fani belum menyentuh ponsel hingga jam segini. Sophia kembali menekan tombol utama, masuk kembali kesosmednya dan memastikan jika penonton unggahannya masih 0. Seolah tidak percaya jika Fani belum melihat videonya.


“ Hei kau masih belum saja melihat unggahanku? Tidak mungkin kau belum menyentuh ponsel hingga jam segini.” Gumamnya pelan. Dahinya mengkerut keheranan menerka apa dan kenapa Fani belum menonton video unggahannya.


“ Apa sebenarnya kau sengaja tidak mau melihat? Atau kau sudah melihat namun kau sengaja mematikan tanda baca? Wah ternyata kau pintar juga ya.” Sambungnya menggeleng-geleng tidak percaya jika Fani bisa lebih pintar darinya. Meskipun kenyataan Fani memang jauh lebih pintar dari dirinya.


“ Hei Sophia, kau tidak kekantin? Ayok bareng kita semua.” Ucap salah satu teman kelasnya. Sekelompok teman wanitanya menghampiri dan mengajaknya untuk pergi kekantin bersama.


“ Eh iya, kalian duluan saja, aku nanti nyusul saja.” Ucapnya menolak dan kemudian tersenyum sopan. Menatap sekumpulan wanita itu menghilang dari pandangannya.


“ Aku sampai tidak nafsu kekantin karena memikirkan status video yang belum kau tonton ini.” Batinnya menatap kembali video yang diunggahnya itu. Sembari memikirkan apa yang harus dilakukannya agar Fani bisa dengan segera melihat video yang disebutnya sebagai permainan level dua ini.


“ Aku tau caranya ahahahha.” Ucapnya tertawa. Kemudian dengan cepat menghapus video yang diunggahnya itu.

__ADS_1


“ Aku hapus saja, terus aku unggah lagi. Mungkin tadi tertimbun karena aku mempostingnya terlalu pagi, sekarang pasti postinganku sudah berada paling atas. Tak ada lagi alasan kau tidak melihat postingan ini.” Sambungnya tersenyum jahat. Memilih video dan mengunggahnya kembali. Tidak lupa dia juga memastikan jika video tersebut hanya dibagikan kepada Fani, jika ada yang lain yang melihat bisa gawat urusannya hehehe.


“ Meskipun sekarang aku juga harus tetap menunggu, tapi setidaknya aku agak tenang karena postingankku tidak lagi tertimbun.” Lanjutnya menghembuskan nafas kencang. Sophia menyimpan kembali ponselnya dan segera mneuju kantin, meskipun hanya beberapa menit lagi yang tersisa sebelum bel masuk kembali berbunyi.


__ADS_2