Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Sudah Gila!


__ADS_3

Fani masih terdiam dan enggan bergeming. Membalas lekatnya pandangan Endrico, saling menatap, saling


merasa, kemudian tanpa sadar Fani sudah tenggelam dalam pelukan Endrico. Berulang kali kepala dan keningnya dikecup bergantian. Fani hanya bisa memeluk Endrico erat, merasa nyaman, merasa mendapatkan kasih sayang yang sudah beberapa bulan ini tidak pernah dia rasakan.


“ Sayang, tetaplah begini untuk beberapa saat. Aku benar-benar nyaman.” Endrico memeluk erat tubuh Fani sembari mengecup rambutnya lagi dan lagi. Fani tidak mengatakan apapun, hanya membalas dengan pelukan yang semakin erat. Benar-benar sudah gila, dia tenggelam dalam cumbu rayu yang Endrico berikan. Bahkan Endrico sudah berani memanggilnya dengan sebutan sayang, mungkin melihat sinyal positif yang diberikan Fani.


“ Ah aku mencintaimu.” Endrico tak henti-hentinya membuat Fani terbang melayang dengan bujuk rayunya.


“ Kak Endi, jangan paksa aku mengatakan iya.” Tiba-tiba Fani bersuara. Apa yang dia katakan benar-benar menjadi sinyal bagi Endi, bau-bau jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


“ Kamu mau kan jadi pacar aku?.” Ucapnya tersenyum lebar. Tangannya yang melingkar ditubuh Fani terasa bergetar karena kegirangan.


Fani tidak mengatakan apapun, hanya mengangguk mengiyakan sembari tersenyum senang. Kali ini dia menerima seseorang memang berdasarkan rasa cinta dan sayang yang dimiliknya. Berbeda dulu sewaktu menerima cinta Andry, penuh dengan drama dan keterpaksaan. Walaupun akhirnya dia jatuh cinta dan saling mencinta. Tapi akhirnya Andry tetap sama saja, menjadi baj*ngan, menyia-nyiakan cinta tulusnya. Itu sih katanya, asumsinya saja. Padahal kenyataan berbeda, sangat berbeda dari semua yang dipikirnya.


“ Serius?.” Endrico mendorong tubuh Fani pelan, menatap dengan penuh rasa senang. Mereka saling menatap, saling tersenyum, saling bahagia dan saling dimabuk cinta.


“ Iya kak,” Fani tersenyum meyakinkan Endrico jika dia benar-benar menerima cinta lelaki yang ada dihadapannya itu, dan sekarang mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.


“ Aaaa terimakasih sayang.” Endrico kembali merengkuh Fani kedalam pelukannya, memeluk dengan sangat erat, penuh cinta dan kasih sayang. Kemudian Endrico mendorong kembali tubuh Fani, menatap sang gadis yang sudah resmi menjadi kekasihnya dan menghujaninya dengan ciuman, berkali-kali, berulang kali dan banyak kali.


“ Aku sangat bahagia.” Lanjutnya sembari terus menghujani Fani dengan ciuman dibagian kening dan pipi.  Hubungan gila, baru diterima menjadi pacar saja sudah ikhlas digayang-gayangi seperti ini.


Hei kenapa kau nafsu sekali, aih aku sudah gila ya?.


Endrico terus memeluk Fani, mencium kening, rambut, pipi kiri dan kanan. Bahkan Endrico juga tidak segan-segan mencium bibir gadis yang kini sepenuhnya jadi miliknya ini. Lagi-lagi tidak ada penolakan dari Fani, dia hanya diam tersenyum dan menikmati apa yang dilakukan Endrico.


“ Maaf ya sayang aku sampai acak-acakin rambut kamu. Habisnya aku seneng banget nih.” Endrico melepaskan pelukannya sembari terkekeh, kemudian memberikan satu kecupan lagi dikening Fani.


“ Kita jalan ya kak, udah malam nanti ibu khawatir.” Fani menggenggam tangan Endrico.


Endrico mengangguk dan kemudian melajukan mobilnya dijalanan. Duduk dibelakang kemudi dan mengemudi dengan tenang, dalam hatinya sudah tidak karuan, jingkrak-jingkrak kesenangan. Akhirnya dia bisa mendapatkan Fani, wanita yang diincarnya sejak 2 bulan lalu. Dengan susah payah dan penuh kesabaran Endrico menabung cinta, menabung berani hingga akhirnya mala mini dia berani mengungkapkan perasaanya didetik-detik sebelum keberangkatannya.


Akhirnya aku mendapatkamu. Betapa bahagianya aku. Jadilah gadis baik, biar aku cinta selalu.


Sementara dikursi sebelah Fani sibuk berkecamuk dengan hatinya. Setelah menerima cinta Endrico malah ada rasa penyesalan pula. Diterima salah, ditolak juga salah. Pikirannya memaksa terima, apalagi perlakuan Endrico yang membuat hatinya kembang kempis. Tapi apalah, menyesal pun tiada artinya. Dia sudah resmi menjadi kekasihnya. Tidak mungkin diputuskan sekarang juga, bahkan hubungannya belum sampai hitungan jam.


Maafkan aku hati, kali ini akulah yang berkhianat. Padahal biasanya kau yang selalu kurang ajar, biasanya kau yang berkhianat. Maaf, maafkan aku. kali ini aku termakan omongan, kali ini aku termakan bujuk rayuan. Ah maafkan aku, semoga lain kali kita tidak pernah saling berkhianat lagi, semoga lain kali kita saling sejalan. Kali ini biar lah aku jalani, entah bagaimana nanti, bahagia atau tidak biarlah jadi rahasia semesta. Semoga pengkhianatan seperti sebelumnya tidak kembali berulang.


**


Fani bersandar diranjang, tertegun diam memikirkan. Pikirannya tertuju pada hubungan yang baru saja dia resmikan. Tiba-tiba teringat tentang siapa Endrico yang sebenarnya, bagaimana Endrico yang dia tau dari orang-orang. Seperti apa perlakuannya pada wanita, bagaimana dia merayu wanita. Risau mulai menggeliak dihatinya, takut dia yang akan dijadikan target permainan selanjutnya.


“ Kenapa aku semacam tersihir sih? Tiba-tiba aku langsung mengiyakan, menerima cintanya.” Batin Fani. Merasa aneh dengan dirinya yang tadi, seolah tersihir dan tidak bisa menolak apapun yang Endrico lakukan.

__ADS_1


“ Aaaa sekarang aku udah resmi jadi kekasihnya. Aaaa apa yang harus aku lakukan, aku udah jadi pacarnya. Aaa aku udah jadi sayangnya, cintanya kasihnya.” Fani meraung-raung dibalik bantalnya. Menyesali semua yang terlah terjadi, padahal tidak ada gunanya.


Ah matilah, biar saja semua berjalan semestinya. Mudah-mudahan aku benar-benar dicintainya, benar-benar disayanginya.


**


Andry terperanjak kaget ketika alarm dari ponselnya berbunyi nyaring. Dengan sangat terpaksa Andry harus meninggalkan mimpi indahnya, mimpi bertemu dengan Fani dan kembali bahagia seperti sebelumnya. Nafasnya memburu kencang bagaikan habis lari belasan kilo meter. Andry menatap layar ponselnya, pukul 6 pagi.


“ Hufffhh untung gak ngebo, biasanya hari mau berangkat selalu aja telat. Ucapnya sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


“ Hah ayo lawan kantukmu Andry, kita akan kembali kerumah dan bertemu orang-orang terkasih.” Lanjutnya kemudian meraih handuk untuk segera mandi dan membersihkan diri.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja, Andry sudah siap dan menggunakan pakaian lengkap. Andry bergegas memasukkan barang kedalam ransel, kemudian bergegas check out dan menuju bandara. Sudah tidak sabar ingin menemui bunda yang sedang terbaring lemah diranjang rumah sakit. Andry memesan taxi online untuk mengantarkannya kebandara.


“ Bye. Semoga lain waktu ada umur, waktu dan uang yang cukup untuk aku datang berkunjung kembali. Meskipun nanti tujuannya sudah berganti, bukan lagi mencari yang telah hilang.” Batinnya sembari merunduk memelintir jari-jari tangannya.


Beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti tepat didepan Andry, taxi online yang dia pesan sudah sampai. Andry bergegas memasukkan barang-barang, ransel dan kotak berisi hadiah yang dengan sangat terpaksa harus dia bawa pulang.


“ Aku demi kau rela meninggalkan keluarga, tapi kau demikian. Makin aku cari makin kau sembunyi, makin ku kejar makin jauh kau menghilang. Ya sudah, kau yang jual mahal. Aku yang murahan.” Batinnya sembari menatap jalanan kota yang indah dan menyejukkan. Dalam hatinya berkecamuk, ada sesal yang terselip ketika dia memutuskan untuk pulang. Tapi ini adalah masalah yang lebih penting, cinta pertamanya sedang tidak sehat sekarang. Walau bagaimana pun dia harus tetap pulang.


“ Kira-kira gue durhaka gak ya. Gara-gara yang sementara aja gue sampai ninggalin keluarga.” Batinnya bertanya. Jari-jemarinya masih berlum berubah, masih tetap menggelintir sesama. Pandangannya hanya tertuju pada jalanan dan gedung-gedung menjulang yang dia lalui.


“ Maafin aku bunda. Gara-gara wanita lain aku mengenyampingkan wanita yang pertama kali menuahkan cinta padaku.” Lanjutnya. Matanya berkaca-kaca, sedih, kesal dan sesal menyeruak dalam hatinya.


Andry sudah  tiba dibandara. Langkah kakinya tampak berat dan enggan. Perlahan-lahan melangkah masuk sembari menatap pemandangan kota yang dalam hitungan jam akan dia tinggalkan. Entah kapan dia akan kembali kesini, entah dengan tujuan apalagi, entahlah. Yang jelas berpisah dengan kota yang berberapa hari ini dia kencahi membuatnya cukup teriris, sedih.


“ Ah gue kenapa sih? Dari kemaren gak selesai-selesai mellow nya. kan gue tampan, masih banyak wanita yang lebih setia, lebih serius cinta sama gue. Ngapain juga mengharapkan satu wanita yang ternyata didalam hatinya gue benar-benar gak ada dan gak pernah ada.” Andry tersenyum tipis menatap layar ponselnya yang masih


terpampang nyata potret mesranya bersama Fani, kemudian Andry mempercepat langkahnya agar bisa bersantai diruang tunggu sembari  menunggu penerbangannya.


Drrtttt… Drrrttttt….


Ponsel Andry berdering, sebuah panggilan masuk dari Devi. Belum menjawab panggilannya saja sudah membuat Andry menjadi gugup dan gelisah, takut sesuatu terjadi pada bunda. Pikiran buruknya tidak bisa dikendalikan, hanya membuatnya menjadi ketakutan.


“ Hallo kak, ada apa?.” Andry menjawab panggilan dengan suara gemetar. Langkah kakinya semakin dipercepat dengan wajahnya yang pucat.


“ Hallo.” Suara Devi terdengar putus-putus.


“ Hallo kak, hallo.” Andry semakin khawatir, bukan lagi mempercepat langkah, namun Andry sudah setengah berlari. Sudah tidak sabar ingin cepat-cepat pulang dan menemui bunda.


Tittttttt……..Tiitttttttt….


Tiba-tiba panggilan terputus, Andry semakin kalang kabut. Berulang kali menelepon Devi, tapi tidak bisa dihubungi. Mendadak nomor Devi berada diluar jangkauan. Andry terus mencoba menelepon sembari berjalan setengah berlari. Nafasnya memburu tidak karuan. Cemas dan lelah bercampur menjadi satu kesatuan.

__ADS_1


Bunda? Bunda gapapa kan? Kenapa kak Devi gak bisa dihubungi sih? Aku makin khawtir, ayolah kak jawab teleponnya.


Braakkkkkkkkkkk….


Andry menabrak seseorang hingga tubuhnya jatuh terpental. Ini adalah salahnya, karena terlalu fokus dengan ponsel tanpa memperhatikan jalan. Andry meringis kesakitan, kotak yang dibawanya terpental dan berkecai. Semua isinya terbuncah keluar, barang-barang yang pernah dan akan dia berikan seketika membuka kembali memori


lama. Tabrakan maut ini membuatnya semakin tidak karuan, ingin berteriak kesal dan menyesal.


“ Sial! Lagi buru-buru begini bisa-bisanya nabrak orang.” Gumamnya kemudian berusaha berdiri tanpa melihat siapa orang yang tidak sengaja ditabraknya ini.


“ Eh maaf mas, saya gak sadar kalau mas ada dibelakang saya.” Lelaki itu mengulurkan tangan hendak membantu Andry berdiri.


“ Saya yang salah mas, gak lihat-lihat jalan. Malah nabrak mas yang ada didepan saya.” Andry tidak menghiraukan uluran tangan lelaki yang sedang berusaha membantunya berdiri. Andry malah sibuk dengan barang-barang yang terbuncah dan berkecai dilantai. Mulai mengutip satu persatu dan kembali memasukkan kedalam kotak.


“ Saya bantu ya mas.” Ucap lelaki itu dan dengan sigap berjongkok sembari mengutip barang-barang yang berserakan dilantai.


“ Eh gapapa, biar saya aja. Lagian ini kan salah saya, saya yang nabrak.” Andry mencoba menghentikan, namun lelaki itu sudah terlanjur memegang dan mengumpulkan barang-barang.


“ Duh makasih banget ya mas, saya jadi gak enak. Saya buru-buru, makanya saya gak lihat jalan sampai-sampai nabrak mas yang ada didepan." Andry memasukkan semua barang dan menutup kembali kotak kenangan itu rapat-rapat.


Saat hendak berdiri, Andry menatap lelaki yang sejak tadi belum dilihatnya. Keningnya mendadak berkerut seolah sedang mencoba mengingat sesuatu. Perlahan berdiri sembari terus menatap lekat lelaki yang ada dihadapannya ini.


“ Kok wajahnya gak asing ya, aku kayaknya pernah lihat deh ni orang, tapi dimana ya.” Batin Andry dengan dahinya yang masih mengkerut kebingungan. Andry terus berusaha mengingat siapa lelaki yang ada dihadapannya ini.


“ Oh iya saya duluan ya mas, soalnya saya lagi nunggu seseorang nih.” Ucap lelaki itu sembari tersenyum dan berlalu pergi. Melambaikan tangan kepada Andry yang masih terdiam penuh kebingungan.


“ Eh mas tunggu, tunggu,,” Andry mencoba menghentikan. Namun sayang lelaki itu berlari kencang, seperti mengejar seseorang.


“ Yah dia malah lari. Duh kenapa sih daya ingat gue lemah banget, perasaan gue pernah lihat wajah tu orang. Tapi dimana ya, dia siapa ya.” Andry masih berdiam diri dengan kepalanya yang masih sibuk mengacak-acak berkas memori, mencoba mencari tau siapa sosok yang barusan dia temui ini.


“ Ah sial! Aku tidak bisa mengingatnya. Aahhhhhh.” Andry bergumam kesal, kemudian meraih barang-barangnya dan mempercepat langkahnya.


“ Nanti saja aku coba ingat-ingat saat diperjalanan. Berkas memoriku sedang tidak ingin bekerja sama pula, malah memilih lenyap.” Lanjutnya dengan hati yang setengah kesal.


Namun saat hendak naik kelantai atas, mendadak memori Andry tentang pria tadi kembali pulang pada tumpukan. Matanya tiba-tiba terbelalak ketika sudah berhasil mengingat siapa sosok lelaki yang tadi ditabraknya. Andry bergegas mencari lelaki itu, mengeliling penjuru bandara. Kali ini dia tidak boleh kehilangan sumber informasinya, bagaimanapun dia harus bertemu kembali dengan lelaki tersebut.


“ Kemarin aku sudah kehilangan Joo, hari ini aku tidak boleh kehilangan Endrico. Bagaimanapun aku harus menemukannya dan bertanya tentang Fani padanya, dia pasti tau.” Andry berjalan setengah berlari mengitari lantai bawah. Mencari sosok Endrico yang sudah hilang entah kemana.


Sudah 15 menit Andry berkeliling mencari Endrico, tapi masih belum kelihatan juga batang hidungnya. Andry menatap jam tangan yang melingkar ditangannya, sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Penerbangannya satu jam lagi, mungkin masih sempat untuk mencari Endrico beberapa saat lagi.


“ Huffhh masih bisa keliling nih cari tu laki sekitar berapa menit lagi.” Andry terus berjalan sembari menatap satu persatu orang yang ada disekitarnya. Bulir keringat memenuhi keningnya, tapi Andry tetap bersemangat.


Andry berjalan menuju pintu keluar, barangkali Endrico keluar untuk mencari seseorang. Andry melangkah pelan sembari mengedarkan pandangan, hingga pandangannya berhenti pada sosok yang dia cari. Langkahnya seketika berhenti, nafasnya menjadi tidak beraturan. Keringat lelahnya berganti menjadi keringat dingin, matanya terbelalak menatap manusia yang ada dihadapannya. Hatinya semakin memberontak bergejolak, ingin teriak namun masih mengingat kodrat dirinya. Akhirnya Andry hanya bungkan, sembari berjalan perlahan-lahan mendekati sosok yang sedang dia cari.

__ADS_1


__ADS_2