
Jam sekolah sudah selesai. Andry bergegas meninggalkan kelas dan menuju parkiran. Saking cepatnya Andry berjalan, dia tak sadar jika Ardi berkali-kali memanggilnya.
" Woi budek amat lo An." Ketus Ardi saat mereka berhenti disebelah mobil berwarna hitam milik Andry.
" Eh ngapain lo ngikutin gue." Andry terperanjak kaget saat mendapati Ardi dibelakangnya.
" Buru-buru banget. Mau kemana lo?." Ardi mengerutkan keningnya.
" Kan gue udah bilang mau kerumah Fani. Gimana sih lo." Jawabnya kesal.
" Hahahaha semangat banget lo ya mau kerumah gebetan. Sampai-sampai gue panggil gak denger." Ardi terkekeh.
" Ah diam lo. Gue khawatir sama Fani, makanya gue buru-buru." Andry masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin.
Gebetan dengkulmu !
" Apa khawatir? Aduh duh gak salah denger nih?." Ardi kembali terkekeh. Tanpa memperdulikan ocehan temannya, Andry dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan Ardi diparkiran.
__ADS_1
*Apa aku gak salah dengar kan? Seorang Andry mengkhawatirkan mangsanya? Seorang lelaki antiwanita yang biasanya dingin dan terlihat keren ini mengkhawatirkan seorang wanita? Belum sempat menerkam mangsanya, macam ini sudah mati duluan. Hahaha karma terbaik yang pernah ada nih. *Ardi.
Andry menghentikan mobil hitamnya disebuah supermarket dekat sekolah. Andry mengambil beberapa kotak salad, buah segar dan beberapa cemilan untuk dibawa kerumah Fani. Sudah seperti akan berkunjung kerumah pacar saja nih hehehe. Andry meraih beberapa permen warna-warni yang berada dimeja kasir. Tertarik dengan warnanya yang lucu, mungkin Fani akan suka pikir Andry.
" Untuk menjerat mangsa, bahkan aku belanja sebanyak ini." Andry melirik keranjang yang penuh dengan makanan.
" Bahkan sudah tertangkap pun belum tentu menguntungkan." Batinnya terkekeh.
Setelah selesai membayar, Andry keluar dengan dua kantong plastik ditangannya. Heran dengan belanjaan yang banyak ini, bahkan menjenguk keluarga pun Andry belum pernah membawa makanan sebanyak ini. Andry meletakkan barang dikursi penumpang dan segera melajukan kendaraannya. Tak lama kemudian Andry teringat ide yang digagaskan oleh Ardi. Andry kembali berbalik dan mencari toko bunga terdekat. Untuk pertama kalinya Andry membeli bunga, penuh dengan rasa bingung.
" Selamat sore, ada yang bisa saya bantu." Tanya seorang karyawan.
" Untuk pacar atau ibu nya mas?." Tanya karyawan itu lagi.
" Untuk teman wanita saya yang sedang sakit." Jawabnya dengan pandangan yang tak beralih dari bunga-bunga dihadapannya.
" Ini sepertinya cocok." Karyawan itu menyodorkan setangkai bunga mawar merah yang masih sangat segar dan wangi.
__ADS_1
" Baiklah, saya ambil yang ini." Andry mengeluarkan selembaran uang berwarna biru dan bergegas meninggalkan toko bunga.
Hehehe aku yang lucu. Sebenarnya aku mau menangkap mangsa atau mau melamarnya.
Andry mengikuti arah maps yang dikirimkan Ardi. Tak lama kemudian Andry berhenti disebuah rumah berwarna kuning kecoklatan. Dengan cepat dikirimnya foto rumah itu kepada Ardi, untuk memastikan jika itu benar rumah Fani. Andry memarkirkan mobilnya dipekarangan rumah berwarna kuning kecoklatan setelah mendapat jawaban iya dari temannya Ardi.
Tookkk...Tokkkk , Andry mengetuk pintu.
" Iya tunggu sebentar." Terdengar sahutan dari dalam rumah. Seorang lelaki sepantaran dengan Andry membuka pintu.
" Mau cari siapa?." Tanya pemilik rumah tersebut.
" Apa benar iini rumahnya Fani?." Andry terseyum tipis.
" Iya, temannya Fani ya? Ayo masuk." Pria itu mengajak Andry masuk. Andry mengikuti langkah pria itu dengan membawa dua kantong plastik berwarna putih ditangannya.
" Duduk dulu, gue panggilin Fani nya bentar ya." Joo meminta Andry untuk duduk diruang tamu. Andry hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Joo melangkah kedapur menemui ibu, mengatakan jika ada teman Fani yang datang. Mungkin ingin menjenguk katanya. Sementara Andry mengedarkan pandnagannya menyapu dinding ruang tamu yang dipenuhi beberapa foto keluarga. Di meja sebelahnya terdapat beberapa album yang berisikan foto Fani sewaktu kecil. Andry tersenyum tipis melihat Fani kecil dengan rambut keriting kecil.
" Hahahaha lucu banget sih kecilnya, rambutnya keriting. Gedenya sih jadi bergelombang." Batin Andry terkekeh. Andry kembali mengedarkan pandangan sambil menunggu kedatangan sosok yang membawanya sampai ketempat ini. Berulang kali Andry terkekeh saat melihat foto-foto Fani sewaktu kecil, mulai dari bayi, merangkak, berjalan, tertawa sampai dengan menangis.