Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Sudah Putus?


__ADS_3

Sudah puas bermain


dipantai, baju yang dikenakan pun sudah basah karena keringat dan air pantai.


Andry dan Fani memutuskan untuk pulang, meskipun sebenarnya Fani ingin sekali


melihat senja dipantai, tapi kali ini benar-benar harus dia lewatkan. Tubuhnya


sudah menggigil kedinginan, pasir-pasir pantai juga tak sedikit yang menempel


dikaki jenjangnya.


“ Kemana lagi?.” Tanya


Andry sembari menggesek-gesekan kedua telapak tangannya, berusaha menghangatkan


tubuhnya.


“ Hem gak kemana-mana,


pulang aja.” Sahut Fani dengan bibir bergetar.


Andry mengemudi dengan


santai, sebenarnya ada sesuatu yang masih mengganjal dihatinya. Padahal tujuan


dia mengajak Fani keluar hari ini adalah untuk membicarakan masalah dirinya


yang akan pergi ke Chicago dalam beberapa hari lagi. Namun Andry masih bingung,


bagaimana dia mengatakan pada Fani, bagaimana cara dia meyakinkan Fani agar


tetap setia selama dirinya tidak ada.


Bahkan


aku yang tidak kemana-mana saja kau sanggup meninggalkan aku begitu saja,


apalagi ini aku yang akan pergi dalam waktu yang lama. Bisa jadi ini adalah


alasan paling tak terbantahkan ketika kau melakukan sesuatu yang salah


nantinya.


“ Hemm,,” Andry


berdehem, menggigit bibir bawahnya pelan. Masih ragu untuk mengatakan sesuatu


yang mungkin akan membuat Fani kaget atau bahkan ilfee. Ya walaupun kemarin


Andry sudah pernah mengatakan sekilas bahwa dirinya berniat untuk melanjutkan


study di Chicago.


Baru


beberapa hari yang lalu aku mendapatkan hatinya lagi, gak mau ah. Nanti malah


dia jadi ilfeel, malah balik sama tu cowok perebut terus ninggalin gue. Gak,


gak boleh terjadi.


“ Kenapa kak?.” Dahi


Fani mengkerut, menatap Andry yang tampak sedang kalang kabut.


“ Ada masalah apa? Ada


sesuatu yang mau kak Andry bilang? Yaudah bilang aja, aku siap dengerin kok.”


Lanjut Fani yang sudah bisa menangkap sinyal dari wajah Andry.


“ Hem, Fan. Sebenarnya


memang ada sesuatu yang mau aku bilang sama kamu.” Ucap Andry lirih, bibirnya


tampak pucat dan begetar takut.


“ Tapi kamu jangan


marah ya.” Lanjutnya. Mengantisipasi kemarahan Fani nantinya adalah sesuatu


yang harus dia lakukan saat ini.


“ Hem.” Fani yang


keheranan hanya menjawab dengan deheman dan sedikit anggukan.


“ Janji ya.”


“ Janji?.” Andry terus


memaksa Fani untuk berjanji, jangan marah, jangan marah.


“ Ada apa sih? Iya iya


aku janji gak bakal marah.” Ucapnya sembari menatap Andry dengan dahi yang


mengkerut sempurna.


“ Sayangku, maaf ya. 4


hari lagi aku bakal berangkat buat lanjutin study ke Chicago. Maafin aku yang


harus merentangkan jarak sejauh itu. Tapi aku gak ada pilihan lain, aku gak


bisa batalin. Aku harap kamu masih tetap bersamaku setelah keputusanku ini.”


Wajah Andry pias, sedih dan pucat. Entah ekspresi apa yang coba dia tunjukkan,


tapi bisa disebut ekspresi kesedihan.


“ Maafin aku ya.” Andry


menatap Fani yang tidak bergeming. Entah kaget atau sedih, gadis itu hanya


merunduk sembari memilin jari jemarinya.


“ Kamu marah ya?


Gapapa, kamu marahin aku aja. Kamu tampar atau pukul aja aku, gapapa. Asal kamu


enggak berubah pikiran buat ninggalin aku lagi.” Mata Andry tampak berkaca-kaca,


kakinya lemah seolah tidak sanggup lagi menginjak pedal gas. Mobilnya bergerak


pelan, pelan sekali.


Andry memutar setir,


menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Dari pada tidak konsentari mengemudi,


lebih baik Andry berhenti dan membicarakan ini dari hati ke hati.


“ Huffffhh..” Andry


menghela nafas panjang, mobilnya sudah terparkir dipinggir jalan.


“ Kamu marah ya?.” Ucap


Andry sembari menatap Fani dengan wajah sendu.


“ Please jangan marah,


jangan tinggalin aku ya.” Andry meraih tangan Fani, menghentikan gadis itu


memilin jari jemari.


Fani mencoba


menghentikan kecamuk-kecamuk hatinya. Bukan karena sedih mendengar ucapan Andry


barusan, tapi bingung apa yang harus dia katakan. Kalau masalah Andry akan


melanjutkan studi ke Chicago adalah sesuatu yang membuatnya bahagia. Bahagia

__ADS_1


karena dia bisa pasang dua, tidak perlu lagi berseteru dengan batinnya untuk


menentukan pilihan yang paling diinginkannya.


“ Hem, aku gak


marah  kok kak. Cuma sedih aja, belum


lama kita memutuskan untuk kembali tapi kak Andry malah ingin pergi.” Shit!


Fani malah makin mahir berdusta, bukan hanya menipu Andry bahkan yang paling


buruk adalah dia menipu dirinya sendiri.


Gila! Mulut kurang ajar ini malah sudah makin lihai berdusta. Tanpa aba-aba, tanpa perintah. Beraninya dia mengatakan sesuatu yang tidak aku pikirkan sebelumnya. Aaahhh tuhan kenapa mulutku jadi kurang ajar.


“ Maafin aku ya Fan.


Aku janji setiap libur semester aku bakal pulang untuk ketemu kamu, aku janji.”


Andry mencium punggung tangan Fani berkali-kali, memohon agar gadis yang


dicintainya ini tidak lagi meninggalkan dirinya hanya karena terpisah jarak.


“ Kak, jangan gini


dong. Aku gapapa kok, aku Cuma sedih aja. Tapi aku juga gak bisa marah, karena


ini semua keputusan kak Andry, ini yang terbaik untuk kak Andry, demi masa


depan kak Andry.” Fani mencoba menenangkan Andry. Mengelus kepala Andry


perlahan. Bukan dengan penuh kasih sayang, melainkan penuh beban pikiran.


“ Janji ya kamu gak


marah. Kalau memungkinkan aku harap kamu yang datang menyusul aku, melanjutkan


study ditempat yang sama dengan aku.” Andry mencetuskan sebuah ide, ide bagus


bagi Andry namun ide buruk bagi Fani.


“ Oh iya, aku janji


tahun depan bakal balik dan bawa orang tuaku buat ngelamar kamu. Sesuai janji


aku, tahun depan aku bakal nikahin kamu.” Ucapnya penuh semangat, wajah


sendunya bercampur dengan bahagia.


Duarr! Hati Fani seolah


dibombardir berulang-ulang. Ide Andry yang meminta dirinya untuk menyusul ke


Chicago saja sudah membuatnya geleng kepala. Bagaimana mungkin dirinya, Andry


dan Endi akan tinggal ditempat yang sama. Yang ada kedatangannya hanya akan


menjadi suatu masalah,  masalah besar.


Belum hilang kaget yang satu, Andry malah membombardir Fani sekali lagi. Apa?


Akan melamar dan menikahi dirinya tahun depan? Bukankah kemarin itu hanya


candaan? Ternyata Andry benar-benar.


Ya tuhan. Kenapa hidupku dirundung banyak masalah. Perkara menetapkan pilihan antara mereka berdua saja aku belum bisa, sekarang Andry malah mengatakan ingin berumah tangga. Bahkan aku belum sempat mengiyakan, aku belum mengatakan sebenarnya apa yang aku inginkan. Kenapa banyak sekali masalah.


“ Ha? Menikah tahun


depan? ini serius kak Andry? Jangan becanda dong.” Ucap Fani gelagapan. Masih


berharap semua yang diucapkan oleh Andry hanyalah candaan.


“ Iya, tahun depan. Kenapa?


Kamu gak mau ya? kamu gak suka ya?.” Sahut Andry. Wajahnya kembali berubah


menjadi sendu.


“ Eh bukan gitu


menolak, Cuma kaget aja kenapa Andry terburu-buru ingin menikahinya.


“ Kamu gak mau ya? Maaf


ya mungkin akunya aja yang maksa, akunya aja yang berharap. Aku memutuskan


sendiri, bahkan tanpa bertanya dengan kamu yang akan aku nikahi. Padahal aku


belum tau kamu bersedia hidup denganku atau tidak, eh aku malah udah ngebet


ingin nikah.” Ucapnya lirih, semakin membuat Fani merasa tidak enak hati.


“ Eh bukan kak, bukan


gitu maksudnya.” Fani masih menggeleng-gelengkan kepala, bukan begitu maksudku


hei.


“ Huffhh maaf ya.


Harusnya kan aku tanya dulu, Fan kamu mau gak aku seriusin? Kamu bersedia gak


hidup denganku, kamu bersedia gak jadi ibu dari anak-anakku.” Andry tersenyum,


ya meskipun terpaksa. Dibalik senyumnnya ada sedih yang sedang dia sembunyikan.


“ Maaf kak, bukan gitu


maksudnya.” Fani semakin merasa bersalah.


“ Gapapa kok Fan,


sebenarnya aku yang salah. Kita kan baru menjalin hubungan, masih banyak


kekurangan, masih harus mengenal lebih dalam. Tapi aku malah ngebet mikirin


masa depan, ya mungkin karena perasaan.” Andry kembali memegang setir kemudi.


Sudah siap melanjutkan perjalanan.


Andry kembali melajukan


mobilnya dijalanan, sejak mobilnya melaju Andry tidak lagi berbicara sepatah


katapun. Hanya sesekali terdengar suara dia menarik nafas panjang, mungkin


sedang mencoba memendam sedih dan kesalnya. Sementara dikursi sebelah, Fani


hanya bisa terdiam menatap jalanan. Padahal dalam hatinya bercampur rasa


bersalah, sedih dan kesal. Entah kenapa beberapa hari ini menjadi hari yang


berat bagi dirinya. Terlalu banyak masalah yang menumpuk dikepalanya. Apalagi


mendengar ucapan Andry tadi, Fani merasa bersalah setengah mati.


Bukan maksudku menolak, sebenarnya aku juga sangat ingin. Berarti kau benar-benar mencintaiku, bukan hanya sekedar cinta-cintaan, main-main doang. Aku Cuma merasa belum pantas, apalagi sekarang aku sudah berencana ingin memacari dua lelaki sekaligus. Lihatlah, betapa buruknya aku. Bahkan aku tidak bisa setia pada satu orang saja, lihatlah betapa buruknya aku. Jika aku hanya punya kau, sudah pasti aku jungkir balik senang karena akan segera melepaskan masa lajang.


“ Hem, kapan kak Andry


akan berangkat?.” Fani memberanikan diri bertanya pada lelaki yang tampak


murung sejak tadi, mencoba memecahkan ketegangan yang ada didalam mobil ini.


“ Sabtu, jam 1 siang.”


Ucap Andry sekenanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.


“ Oh gitu, aku ikut


anterin kak Andry kebandara ya.” Ucap Fani gugup. Berbicara dengan Andry yang


sedang tidak bagus suasana hatinya ternyata cukup menyeramkan juga ya.

__ADS_1


“ Kalau kamu sibuk


mending gak usah deh, lagian gak penting juga kan.” Ketusnya. Bicara dengan


nada tidak biasa ditambah lagi tidak ingin menatap lawan bicara, sudah bisa


ditebak jika Andry saat ini sedang marah.


Fani terkekeh dalam


hatinya, sudah lama dia tidak melihat Andry marah begini. Lucu ya. Fani


memikirkan cara bagaimana agar Andry kembali seperti biasa, tidak lagi ketus


dan sinis.


Hahahaha lelaki lagi ngambek makin ganteng ya. Hei biasanya kau yang menggodaku, apa


saat ini harus aku yang menggodamu? Aha baik laa dengan senang hati akan aku goda dirimu.


“ Aaa sayang, udah dong


jangan ngambek.” Fani bergelayut dan memeluk lengan kiri Andry. Satu-satunya


cara yang menurut dia akan berhasil meluluhkan lelaki yang ada disebelahnya


ini.


“ Aku gak nolak kamu


kok, aku Cuma kaget aja. Kenapa kamu tiba-tiba pengen banget nikah muda. Aku


pikir kemarin kamu Cuma bercanda, bahkan sekarang pun aku masih belum


sepenuhnya percaya.” Lanjut Fani semakin manja, memeluk lengan Andry semakin


erat.


“ Kamu beneran pengen


nikahin aku?.” Tanya Fani untuk meyakinkan dirinya sendiri.


“ Kamu beneran sayang? Beneran


pengen nikahin aku yang gak seberapa ini?.” Tanya Fani sekali lagi, meminta


Andry untuk meyakinkan dirinya.


“ Kenapa ngomong gitu


sih? Aku emang suka becanda masalah lain, tapi kalau masalah ini aku serius.


Sama sekali gak becanda. Dari kemarin aku bilang pengen nikahin kamu, hari ini


aku juga bilang sekali lagi. Tapi kamu masih gak percaya, masih nganggap ini


becandaan aja.” Jawab Andry ketus, tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan


yang cukup ramai.


“ Iya maaf, kan aku


masih gak percaya. Masih berasa mimpi. Masih muda banget buat nikah, belum


sampai 20 tahun malah.” Fani melingkarkan tangannya dileher Andry. Hanya


memeluk lengan ternyata tidak mempan untuk membujuk Andry.


“ Aku mau kok, mau


banget malahan.” Lanjutnya. Lagi-lagi dia berdusta. Padahal dirinya belum


sanggup memikirkan masalah pernikahan.


“ Beneran? Serius kamu


mau?.” Andry seketika menjadi riang, wajahnya kembali merah berdarah. Senyum


manisnya merekah, menatap Fani yang tengah merangkul mesra dirinya.


“ Janji? Beneran ya


kamu mau.” Lanjutnya. Harus bertanya berulangkali untuk meyakinkan dirinya


sendiri dan Fani. Biar jawaban yang diberikan Fani ini benar-benar dari


hatinya, bukan hanya untuk membuat dirinya senang semata.


“ Iya sayang.” Jawab


Fani dengan penuh senyuman.


“ Yaaassshhh.” Teriak


Andry kegirangan, kebahagian terpancar dari wajahnya. Akhirnya Fani menerima


juga niat baiknya.


“ Gapapa kan kalau kita


harus Ldr dulu? Gak lama kok, janji deh. Satu tahun doang, terus nanti abis


nikah aku janji bakal bawa kamu ikut aku.” Ucapnya meyakini Fani.


“ Kamu mau kan


berkomitmen, kamu baik-baik disini, aku baik-baik disana. Kamu setia disini,


aku juga setia disana.” Andry menggenggam erat tangan kanan Fani. Kemudian


membimbin tangan lembut itu menyentuh dadanya, seolah meminta Fani merasakan


detak jantungnya yang tidak beraturan, terlalu senang.


“ Iya kak, aku bakal


setia disini, bakal jaga komitmen kita sampai nanti kak Andry pulang.” Ucap


Fani lugas, semua kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah benar. sekarang


Fani benar-benar lihai dalam bersilat lidah.


“ Oh iya gimana? Kamu


udah putusin tuh cowok kan?.”


Duarrr! Lagi-lagi Fani


dibombardir oleh pertanyaan yang dia belum memiliki jawaban. Seketika jantung


Fani berhenti berdetak, rasa takutnya semakin menjadi-jadi. Siapa sangka jika Andry


masih mengungkit masalah ini. Memang dia telah berjanji akan memutuskan


hubungan dengan Endi, namun kenyataannya dia belum bisa, belum sanggup.


Ya tuhan, rasanya tubuhku ini telah hancur berkeping-keping karena dibombardir berkali-kali. Berapa banyak lagi kebohongan yang harus aku mekarkan? Bisakah aku memutar waktu? Aku ingin menghindar dari masalah-masalah yang aku buat sendiri. Dasar bodoh, aku bodoh, bodoh bodoh. Batin Fani berteriak hebat.


“ Hemm, u..uu..udah


kak.” Ucap Fani terbata-bata, bibirnya digigit kuat. Ingin menangis meraung


rasanya, kenapa semua menjadi kacau begini.


“ Baguslah. Akhirnya


kamu hanya milikku seorang.” Ucap Andry sembari terkekeh geli. Tanpa bertanya


berulang kali, hari ini dia sangat mempercayai Fani. mungkin karena terlalu


bahagia dengan pernyataan Fani yang bersedia dia nikahi.


“ Hehehehe.” Fani ikut


tertawa. Padahal dalam hatinya meringis menangis, menyumpah serapahi

__ADS_1


kebodohannya sendiri.


Mati saja kau Fani, kau sudah tidak layak lagi tinggal dibumi ini.


__ADS_2