
Sudah beberapa hari Sophia tidak melihat Fani disekolah, meskipun memiliki rasa benci yang mendalam Sophia tetap terus memperhatikan keberadaan lawan. Ingin bertanya dengan siswa lain, namun Sophia masih gengsi.
Tentu saja, semua penghuni kelas mengetahui seberapa dekat dan akrab Sophia dan Fani. Lalu kenapa sekarang malah Sophia yang menanyakan tentang Fani kepada orang lain? Bukankah seharusnya Sophialah yang paling tahu dimana keberadaan dan bagaimana kabar Fani.
Ah, mana mungkin aku tanyakan ini sama yang lain. Bisa-bisa aku diserbu pertanyaan yang menyebalkan. Eh Sophia kenapa malah nanyain Fani ke kita? Bukannya kalian sahabat dekat dan blablablabla. Ih malas.
Sophia masih menatap pintu masuk, berharap sosok yang dia pikirkan sejak tadi akan muncul dan membuyarkan pertanyaan-pertanyaan yang bergerilya dikepalanya sejak tadi. Sudah cukup lama hingga bel masuk telah berbunyi, sosok yang dicarinya masih saja belum muncul. Alih-alih Fani yang mucul, malah siguru garang yang tampak dengan mambawa setumpuk buku ditangan. Wanita parubaya itu berjalan cepat dan seketika mengheningkan suasana kelas.
" Selamat pagi anak-anak." Menatap seluruh penghuni kelas dan meletakkan setumpuk buku diatas meja.
" Pagi buk." Serentak menjawab lalu kemudian kembali kesuasana hening.
Seperti biasa, sebelum memulai proses belajar mengajar guru akan mengabsen semua siswanya. Dimulai dari nama yang berawalan A hingga Z. Satu persatu siswa dipanggil dan mengangkat tangan, hingga tiba saat nama Fani Almaera. Sosok pemilik nama tak tampak diruang kelas, semua mata saling menatap dan mencari sosok tersebut.
" Kemana Fani?." Bertanya sambil mengedarkan pandanganya. Menatap kursi kosong disudut, mungkin itu milik Fani.
" Fani sudah pindah sekolah sejak beberapa hari yang lalu bu." Sahut salah satu penghuni kelas.
" Pindah kemana?." Tanyanya lagi sambil tangannya mencoret panjang nama Fani dikertas absensi.
" Kurang tau bu. Saya cuma lihat kemarin saat dia sibuk menyusun barang-barangnya. Sekilas juga mendengar tentang alasan pindahnya, kalau tidak salah karena ayahnya dimutasi kedaerah lain bu." Sambung gadis itu. usut punya usut ternyata gadis yang mengetahui tentang pindahnya Fani ini adalah tetangga sebelah rumah Fani.
Ha? Pindah? Gak salah denger kan? Padahal dulu aku yang paling tahu tentang dia, sekarang malah aku tidak tau apa-apa.
__ADS_1
Mata Sophia tampak berbinar-binar bahagia, mengetahui sang lawan sudah pindah kedaerah lain. Tentu saja dengan mudah dia akan menghancurkan hubungan yang dibencinya belakangan ini. Otaknya seketika berputar mencari ide cemerlang, bagaimana cara paling ampuh merusak hubungan orang? Ya, Sophia masih memegang dendam, ini adalah saat yang paling tepat untuk merebut kembali sosok Andry dari pelukan Fani.
Ah gak sabar mau rebut sang pangeran. Aku pastikan kau akan menangis tersedu-sedu dirumah barumu, ku rebut kembali lelakiku. Hiks.
Tiba-tiba semangat Sophia membara, jasad yang beberapa waktu terakhir ini terus-terusan nampak murung dan kesal seketika berubah menjadi bahagia berbinar-binar. Entah apa yang berada didalam pikirannya, yang jelas kebahagiaan seolah melanda paginya. Senyumnya mengucapkan terimakasih kepada angin dan burung yang membawa berita menyenangkan hari ini.
" Akhirnya tidak ada lagi yang menghalangi aku untuk memiliki Andry. Semesta memang meletakkan takdir baik digaris tanganku." Gumamnya sambil senyum terkulum. Tidak sabar menunggu jam istirahat dan menemui sang calon kekasih hati. Ya, tentu saja mulai hari ini dia akan menggantikan posisi Fani, begitu pikirnya. Matanya menatap guru yang menjelaskan materi, namun pikirannya sudah sampai diujung negeri. Membayangkan bagaimana caranya dia mencintai dan mengasihi Andry, nanti ketika dia telah sah menjadi sepasang kekasih. Terlampau jauh berfikir hehehe.
*****
Ini adalah hari pertama Fani kesekolahnya yang baru. Langkah kakinya tertahan, seperti enggan menapaki diri ditempat itu. Ayah menggenggam tangan Fani erat, membimbing gadis kecilnya menemui rekan-rekan baru.
" Ayo nak, ayah antar kekelas. Ayah harus segera kekantor." Ucap lelaki itu saat bimbingan tangannya terasa berat. Berbalik dan menatap Fani yang berhenti melangkah.
" Gak apa-apa. Kamu pasti punya banyak teman disini. Ini salah satu sekolah terbaik dikota ini." Mencoba membujuk Fani, menarik kembali tangan yang terhenti. Kemudian tersenyum karena Fani telah melangkah lagi.
Fani dan ayahnya berhenti didepan pintu kelas, tampak seorang wanita parubaya menatap mereka diikuti dengan banyak pasang mata. Wanita itu tersenyum dan berjalan mendekati Fani dan Ayahnya.
" Selamat pagi bu, saya orang tuanya Fani. Saya titip anak saya ya, mohon dibimbing bu." Mendekat dan menyalami sang guru.
" Selamat pagi pak, selamat pagi Fani. Selamat datang disekolah ini, semoga betah ya." Tersenyum manis menyambut tangan Ayah Fani dan kemudian beralih merangkul bahu Fani.
" Ayah tinggal dulu ya, kamu belajar yang baik." Memeluk sang buah hati dan mengecup keningnya. Melambaikan tangan dan melangkah menjauh meninggalkan Fani.
__ADS_1
" Ayok masuk Fan, kamu boleh perkenalkan diri sekarang." Ucapnya membimbing Fani masuk dan memintanya berdiri dan memperkenalkan diri.
" Hallo semuanya, selamat pagi dan salam kenal. Saya Fani Almaera siswi pindahan dari Jakarta." Senyumnya tertarik paksa, menatap banyak pasang mata dihadapannya.
" Sekarang kamu boleh duduk disana." Ucap wanita itu sambil tangannya menunjuk sebuah meja yang kosong. Perlahan Fani melangkah mendekati meja itu, terdengar sayup-sayup ucapan beberapa siswi saat dia melintasi.
" Hai Fani." Ucap seorang lelaki disebelah tempat duduknya. Tersenyum dan melambaikan tangan kepada Fani yang masih berdiri diam.
" Hai." Jawabnya membalas lambaian tangan. Tersenyum dan sembari mengibas-ngibaskan kursi yang tampak berdebu.
" Aku Arif Wibowo. Salam kenal." Mendekat dan mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
" Hallo Arif." Dengan cepat menyambut tangan lelaki yang ada disebelahnya itu. Wajahnya tersenyum manis membalas sapaan Arif.
" Oh iya nanti kita kekantin bareng ya." Mengangkat dan menurunkan alisnya berharap Fani akan mengiyakan permintaannya. Anggap saja dia ingin pamer karena hari ini bersama siswi baru yang cantik. Pasti beberapa temannya akan iri dengan pemandangan ini.
" Oke." Tersenyum dan mengangkat jempolnya. Tentu saja mau, ini adalah orang pertama yang menjadi temannya disekolah baru. Bagaimana mungkin dia bisa menolak ajakan itu, ah dari pada tidak punya teman dan harus kekantin sendirian.
Fani dan semua siswa mendengarkan dengan seksama materi yang disampaikan oleh gurunya. Sesekali mengangguk karena mengerti dengan apa yang diucapkan sang guru. Fani tampak sudah bisa berdaptasi dan menikmati situasi. Meskipun setengah hatinya masih membeku disudut kota jakarta, tapi perlahan dia menarik tali dan memilin untuk diletakkan disini, seluruh dan sepenuhnya. Mencoba beradaptasi dan menjalin pertemanan yang lebih baik dari sebelumnya. Secerca rasa senang juga bergelayut dihatinya, akhirnya dia bisa menikmati pagi tanpa tatapan kebencian dari Sophia. Si wanita yang kemarin membencinya setengah mati. Memudarlah, senang dan tenang. Itulah yang dirasakan Fani.
__ADS_1