
Mobil berwarna putih milik Fani berhenti dipekarangan rumah Andry yang luas. Tampak tamu-tamu sudah datang memenuhi undangan. Fani kembali berkaca dan memastikan wajah dan riasannya masih baik-baik saja. Kemudian bergegas keluar dan membawa hadiah yang dibelinya tadi siang. Fani masuk kedalam rumah dan menuju halaman belakang, tempat yang dijadikan lokasi pesta ulang tahun Andry. Fani meletakkan hadiah yang dibawanya ketempat yang sudah disediakan.
“ Hai,” Fani melambaikan tangan saat beberapa teman menyapanya. Berjalan dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Andry.
Fani yang biasanya tampil sederhana malam ini menjadi sorotan beberapa pasang mata. Sangat cantik dan elegan saat mengenakan gaun berwarna kuning keemasan, dipadu dengan heels sewarna dengan gaunnya. Rambutnya yang ikal dibuat lebih ikal dibagian bawah, riasan wajah yang natural juga menambah kecantikannya. Berjalan dengan anggun dan sangat hati-hati. Sebelah tangannya memegang dompet beling-beling yang dilipat didepan perut menambah keanggunan Fani malam ini. Tak sedikit yang memuji kecantikan dari gadis ini.
“ Fani, sini.” Sebuah panggilan membuat Fani terhenti dan mencari sumber suara. Terlihat Andry dari kejauhan melambaikan tangan dan meminta Fai untuk mendekat. Fani hanya tersenyum dan berjalan pelan mendekati Andry dan beberapa temannya.
“ Hai.” Fani melambaikan tangan menyapa semua orang yang ada disekitar Andry.
“ Eh cantik banget sih Fan.” Sahut seorang lelaki yang berada disamping Andry.
“ Hem,” Andry hanya berdehem mendengar ucapan temannya itu. Sedangkan Fani hanya membalas pujian itu dengan senyuman.
“ Iya nih. Cantik banget lo, sexy lagi.” Sahut yang lain dan memandang kaki jenjang Fani.
“ Eh enak aja lo, gue colok mata lo baru tau rasa.” Protesnya mengudara saat temannya menatap kaki jenjang kekasihnya itu.
“ Eh kok lo malah marah sih.” Orang yang ada disekeliling menertawakan kemarahan Andry yang tak beralasan itu.
“ Gak ada laki-laki yang boleh muji cewe gue selain gue. Apalagi sampai menatap mesum dan berfikiran yang engga-engga. Gak ada yang boleh natap pacar gue lebih dari 3 detik.” Tegasnya membuat beberapa dari mereka terbelalak kaget. Andry mengakui Fani adalah kekasihnya dan bahkan melarang lelaki untuk menatap Fani lebih dari 3 detik.
“ Ha? Gue gak salah denger ni?.” Tanya teman Andry.
“ Engga dong. Fani emang pacar gue.” Andry meraih tangan Fani dan menggenggamnya dihadapan teman-temannya. Fani hanya tersenyum malu.
Apa ini? Kenapa dia posesif sekali? Dia juga mengumumkan aku adalah kekasihnya dihadapan teman-temannya. Kenapa aku jadi gugup dan malu sih. Andry berhentilah melakukan hal seperti ini atau kau akan melihat nafasku terhenti.
“ Gak percaya gue.” Protes mereka tak percaya. “ Beneran Fan kalian pacaran?.” Tanya salah satu dari mereka memastikan.
“ Heheeh iya kak.” Fani mengangguk dan tersenyum malu.
__ADS_1
“ Wah ternyata beneran pacaran.” Ucap salah satu diikuti tawa beberapa orang.
“ Akhirnya kutukan lelaki antiwanitanya dicabut juga ya. Selamat ya buat kalian berdua.” Sambungnya sambil mengulurkan tangan memberi selamat.
“ Yaudah kita tinggal dulu ya, selamat bersenang-senang.” Mereka meninggalkan Andry dan Fani berdua.
“ Kamu cantik banget sih malam ini. Sangat cantik.” Andry menatap Fani penuh ketulusan. Lagi-lagi Fani menjadi gugup dan salah tingkah. Andry meraih tangan Fani dan mencium punggung tangan gadis itu.
“ Eh jangan dong, malu sama yang lain.” Fani menepis pelan tangannya agar terlepas dari genggaman Andry.
“ Kenapa harus malu? Aku bahkan mau umumin kalau kamu pacar aku sekarang. Biar gak ada lagi lelaki yang berani mendekati kamu.” Andry tersenyum dan kembali mencium punggung tangan Fani.
“ Udah dong, malu ih.” Fani terdengar memohon manja. Andry hanya terkekeh melihat wajah panic Fani yang takut jika dilihat tamu lain.
“ Iya nih engga lagi.” Andry melepaskan tangan Fani.
“ Oh iya selamat ulang tahun ya.” Ucap Fani berbalik menggenggam tangan Andry.
Seketika wajah Fani berubah menjadi merah karena malu. Andry membelai pelan rambut yang bergulung itu. Hembusan nafas Andry yang hangat terasa menyentuh kulit leher Fani.
" Ayok aku kenalin sama ayah dan bunda.” Andry menarik tangan Fani agar mengikuti langkahnya. Fani hanya mengikuti langkah Andry, masih sibuk mengatur nafasnya dan mencoba menghilangkan rasa gugup. Wajahnya benar-benar merah merona, tak pernah menyangka jika Andry akan begitu tulus padanya.
“ Ayah bunda.” Andry memanggil sepasang manusia yang ada diruang tamu. Berjalan mendekat sambil tangannya tetap menggenggam tangan Fani.
“ Ini kenalin pacar aku.” Andry duduk dihadapan orang tuanya diikuti oleh Fani.
“ Wah cantiknya pacar anak bunda.” Puji wanita paruh baya itu sembari berjalan mendekati Fani. Fani langsung berdiri dan menyalami wanita itu.
“ Anak bunda pintar ya cari pacar.” Sambung wanita itu sambil mengelus rambut Fani.
“ Hai tante aku Fani.” Ucap Fani sambil tersenyum sopan. Beralih menyalami lelaki tua dihadapannya.
__ADS_1
“ Hallo om, aku Fani.” Sambungnya.
“ Hallo cantik, salam kenal ya.” Sahutnya membalas senyum.
" Kita keluar dulu ya bunda, mau nyapa tamu-tamu yang lain." Andry menarik tangan Fani dan mengajaknya keluar untuk menyapa tamu-tamu yang sudah mulai ramai.
“ Kita sapa tamu-tamu ya.” Andry tersenyum menatap Fani.
“ Tapi aku malu kak,” Jawabnya menghentikan langkahnya.
“ Kok malah malu sih. Oh iya jangan panggil kak kak lagi. Panggil aku sayang.” Ucapnya menegaskan agar Fani tak lagi memanggilnya dengan sebutan kak.
“ Iya kak. Eh sayang.” Fani cengengesan.
Andry dan Fani berjalan bergandengan tangan menuju halaman belakang. Tampak banyak tamu yang berkumpul sesama teman. Berjalan mendekat sambil tersenyum pada beberapa teman yang dilewatinya. Berhenti disekumpulan teman yang juga ada Ardi disana.
“ Hei selamat ulang tahun bre.” Ardi menyalami Andry dan memeluknya.
“ Thanks bre. Ambil minum sendiri ya bre.” Andry menunjuk dengan pandangannya.
“ Aman bre. Eh ngomong-ngomong makin nempel aja nih.” Ardi mengejek Andry dan tertawa diikuti semua orang yang ada disana.
“ Iya dong. Kenalin pacar pertama gue.” Andry menggenggam erat tangan Fani dan meletakkan didadanya menyombong.
“ Idih sombong amat yang lagi kasmaran.” Ardi tak henti-hentinya mengejek Andry. Fani hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Lagi-lagi Andry membuat nafasnya berhenti karena gugup dan malu. Fani hanya menunduk dan menggigit bibirnya malu.
Tolong lah Andry. Jangan lakukan ini lagi, aku bisa mati karena gugup malam ini.
“ Gue tinggal dulu ya.” Andry melangkah dan tetap menggenggam tangan Fani. Seolah tak ingin jauh dari kekasihnya.
Fani menghentikan langkahnya dan diikuti oleh Andry. Fani meminta izin untuk ketoilet dan mengatakan akan segera kembali. Andry mengangguk dan menunjuk dimana letak toilet rumahnya. Fani bergegas dan mempercepat langkahnya menjauhi Andry. Jantungnya masih berdegup kencang saat Andry tanpa ragu mengatakan hubungan mereka dihadapan tamu yang datang.
__ADS_1