Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Misi Sophia


__ADS_3

Sudah tiga minggu sejak kepergian Fani, Andry mulai terbiasa dengan situasi. Menjalani hari-hari tanpa kehadiran


sang kekasih, hanya bertatap wajah melalui panggilan video. Cara sederhana untuk meluahkan kerinduan diantara mereka berdua. Akhir pekan kemarin Andry membatalkan janjinya menemui Fani, karena ada sesuatu yang sangat penting yang tidak bisa dia tinggalkan. Rindunya hanya semakin menumpuk, subur bak dipupuk. Andry tampak sudah terbiasa makan dikantin sendirian atau bersama teman-teman, perlahan jiwa-jiwa bucinnya sudah mulai memudar. Namun hatinya masih menggerutu ketika melihat pasangan lain bermesraan dikantin sekolah. Matanya menatap tajam seolah ingin menerkam mangsanya.


Cih. Bisa gak sih pacarannya jangan disini. Bikin rusak selera makan gue aja. 


Andry menggerutu sambil membanting kesal kedua sendok yang dipegangnya, langkah kakinya membawanya keluar dari ruangan yang membombardir emosionalnya. Melangkah dengan cepat dan terus menggerutu kesal dalam hati. Tangannya meraih ponsel dan mencari kontak Fani, segera menghubungkan panggilan untuk meredamkan amarah dan kekesalannya. Duduk dibangku taman sambil nafasnya tersengal-sengal, tatapannya masih menatap ponsel yang digenggamnya erat. Sudah lebih dari tiga kali dia mencoba menghubungi, namun tak ada jawaban sama sekali dari Fani. Kesalnya semakin memenuhi isi hati, tangannya dikepal dan memukul bangku berulang.


Arrghhhh kemana sih ! Akhir-akhir ini susah sekali dihubungi, jangan bilang dia sibuk dengan lelaki lain. Awas saja kalau itu terjadi, bumi dan seisinya pun tak aku biarkan mengampuni. 


" Eh kak Andry, kenapa sendirian disini?." Sahut Sophia sembari melangkah setengah berlari mendekati lelaki yang duduk dibawah pepohonan rindang.


" Gak kekantin kak?." Sambungnya sambil duduk disebelah Andry tanpa bertanya apakah boleh atau tidak. Dekat dan hampir tak berjarak. Sophia tampak menghela nafasnya yang tersengal-sengal dan menatap wajah Andry yang penuh dengan kekesalan.


" Udah barusan." Menjawab seadanya, sebelah tangannya mengepal sempurna dan ditumpu dibangku, sebelah


lagi menggenggam ponsel erat. Pandangannya tak beralih dari layar ponselnya, sama sekali tak menatap sosok gadis yang ada disebelahnya.


" Yah, kirain belum." Ucapnya bersedih. Padahal alasan kenapa dia terlambat kekantin hari ini adalah berdandan sebelum menemui Andry.


" Eh kak, gimana kalau sekarang kita foto berdua dan aku kirimin ke Fani. Pasti dia senang hehehe." Mencoba mencari alasan untuk menjebak Andry dalam misi yang sudah direncanakannya selama seminggu ini. Sophia mengambil ponsel dari saku rok dan mengangkat tepat dihadapan wajah mereka berdua. Awalnya Andry menolak, namun karena bujuk rayu Sophia yang menyeret nama kekasih hatinya, dengan amat sangat terpaksa Andry mengikuti kemauan Sophia.


" Hehehe pasti Fani senang deh aku kirimin foto pangerannya." Tertawa palsu, padahal didalam hatinya menggebu-gebu caci maki dan rasa tak sabar menyaksikan kemarahan Fani.


" Gue cabut dulu ya." Andry beranjak dan meninggalkan Sophia yang senyum-senyum bahagia.

__ADS_1


Dua foto mesra pasti sudah cukup memancing emosimu. 


Sophia beranjak dan kembali keruang kelas, kedua tangannya menatap layar ponsel yang terpampang bibit-bibit


kemarahan Fani. Sesekali pandangannya juga beralih kelayar ponsel sembari mengukir senyum terkulum bahagia. Tak sabar menunggu sepulang sekolah, ingin memulai misi yang sejak beberapa hari ini telah direncanakannya.


*****


Fani melangkah keluar dari ruangan kelas, hari yang melelahkan. Sejak pagi dia sudah disibukkan dengan tugas dan presentase. Fani berjalan menuju parkiran, hari ini dia membawa mobil kesekolah. Sudah duduk dibelakang kemudi dan kemudian menyalakan mesin dan pendingin. Tangannya meraih ponsel yang sejak pagi tak sempat dilihatnya itu. Terbelalak ketika melihat banyak notifikasi dari Andry, baik itu pesan atau panggilan masuk. Dengan cepat Fani menghubungi Andry, lebih baik menjelaskan sebelum Andry menjadi semakin marah dan curiga. Tangannya gemetar ketika membaca pesan Andry yang dibubuhi kemarahan dan kecurigaan. Terus mencoba


menelepon meskipun tidak ada jawaban dari Andry. Jantungnya kembang kempis, rasa cemas menghampiri.


" Ayolah jawab, aku akan jelaskan. Jangan berasumsi apapun, nanti kau yang kesal sendiri." Gumamnya sambil terus mencoba menghubungi Andry.


Kau sengaja ya tak menjawab teleponku. Hiks kau sudah pandai ya berbalas-balasan. 


" Ah terserahlah, aku ingin lihat sampai mana kau mampu menahan diri hei lelaki bucin." Gumamnya terkekeh geli dan menarik selimut. Tertidur dan berharap sang kekasih yang tengah merajuk akan berbalik menelepon dan mengirimkan banyak pesan.


Fani sudah terlelap dan tenggelam dalam tidurnya, namun suara ponsel yang berdering sejak beberapa saat lalu memaksanya bangun dan membuka mata. Sebuah panggilan masuk dari Endrico.


" Hallo Fan." Sahut lelaki itu dari dalam telepon.


" Iya kak, ada apa ya?." Tanyanya sambil mengucek-ucek mata.


" Nanti malam aku jemput ya Fan, temenin aku beli sesuatu." Suara pelannya terdengar seolah memohon ikutlah dengannya nanti malam.

__ADS_1


" Oh aku gak janji ya kak, aku kurang enak badan nih." Mencari alasan untuk menolak ajakan Endrico.


" Yah, aku sendirian dong. Nanti kalau udah enakan kabari aku ya Fan. Cepat sembuh ya manisku." Ucap Endrico mengakhiri obrolan. Sebutan manisku memang sering dia ucapkan seminggu terakhir ini, mungkin karena sudah merasa cukup dekat dengan Fani hingga dia memberikan panggilan spesial.


" Hehehe iya kak." Jawabnya tertawa paksa. Merinding setiap kali mendengar kata manisku yang keluar dari mulut Endrico silelaki jahat itu. Hari demi hari Fani sudah mendengar sedikit banyaknya tentang bagaimana Endrico yang sebenarnya. Akhir-akhir ini dia sering mengabaikan dan sebisa mungkin menghindari Endrico yang nakal.


Manisku? cihh! Bulu kuduk ku selalu merinding setiap kali kau sebutkan itu. Hei kau Endrico jahat ! Endrico si bejt !*


Fani kembali memejamkan matanya dan hendak melanjutkan tidurnya sore itu. Namun lagi-lagi suara ponsel yang berdering membuatnya kembali membuka mata dan mendengus kesal. Mengira jika telepon itu dari Endrico lagi, Fani membekap ponselnya dengan bantal agar suara deringan itu tidak mengganggu tidurnya.


" Apa lagi sih Endrico, kau memang suka kau sumpah serapahi ya !" Gerutunya dan kembali memejamkan mata. Namun tak lama kemudian ponselnya kembali berdering, lagi-lagi dia menggerutu kesal dan menarik ponselnya. Inginnya memarahi Endrico yang terus saja mengganggu tidurnya, namun tiba-tiba matanya terbuka sempurna saat mendapati nama Andry yang muncul dilayar ponsel. Dengan cepat jari jempolnya menggeser layar ponsel dan menjawab panggilan.


" Hallo dengan Fani disini." Sahutnya dengan girang saat panggilan terhubung. Raut wajah yang semula murung seketika berubah menjadi riang gembira.


" Hallo." Sahut Andry singkat. Suaranya terdengar datar dan agak kesal.


" Passwordnya pak." Sambungnya masih tertawa kecil.


" Gak usah becanda deh, lagi gak mood tau gak sih! Gak lucu tau gak!." Membentak. Suaranya terdengar lantang dan tegas.


" Loh kamu kenapa sih sayang?." Tanyanya kaget karena Andry tiba-tiba membentaknya. Sebenarnya dari pesan yang diterima tadi dia sudah mengetahui jika Andry sedang kesal padanya. Namun tak menyangka jika Andry sampai berani membentak seperti ini.


“ Kenapa tiba-tiba ngebentak aku sih?.” Suaranya lirih dan melemah. Ini pertama kalinya Andry membentak dan marah. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan berlinang air mata, dengan cepat dimatikannya telepon. Takut jika Andry mendengar tangisannya, duduk tersandar dan berllinang air mata. Sesekali ditatapnya layar ponsel dan menyeka ujung matanya yang basah.


Aku salah apa sampai kau marah dan membentak. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya, aku kaget. Kau bukan Andry.

__ADS_1


__ADS_2