
Andry melajukan mobil kesayangannya itu. Melintasi jalanan yang mulai sepi karena sudah hampir gelap. Beberapa kali mereka beradu pandang, tersenyum dan tersipu malu. Ditambah suara alunan musik yang menambah romansa diantara pasangan dadakan ini.
" Kok bengong sih." Andry menatap Fani dan menggenggam dengan sebelah tangannya.
" Gapapa kok." Fani menjawab lirih. Ingin mengibaskan tangan Andry yang menggenggam tangannya itu. Benar-benar muak karena sejak tadi Andry seenaknya menyentuh tangan dan rambutnya.
" Pasti kamu capek ya. Sabar ya bentar lagi sampai kok." Andry menatap dingin Fani. Seolah benar-benar mencintai dan menyayangi gadis yang ada disebelahnya ini. Andry menambah kecepatan mobilnya agar lebih cepat sampai ketujuannya.
******
Sudah hampir satu jam sejak Al mengirim pesan kepada Fani. Namun tak kunjung ada balasan dari Fani. Al juga beberapa kali mencoba menghubungi Fani, tapi tak diangkat. Hatinya bekecambuk menunggu, bukan hanya sekedar balasan pesan tapi juga balasan perasaan cintanya. Al yang tak sabar menunggu jawaban cinta dari Fani itu pun memutuskan untuk pergi kerumah Fani. Mendengar jawaban langsung dari Fani mungkin akan lebih baik pikirnya. Al meraih kunci dan segera melajukan kuda besi berwarna merah miliknya itu. Membelah jalanan yang mulai gelap dan sunyi. Al sudah mengirim pesan pada Joo, mengatakan jika dirinya akan datang kesana.
" Woi Joo. Ngapain lo?." Al setengah berteriak saat motornya berhenti didepan rumah Fani.
" Sibuk lo ya Joo." Sambungnya saat melihat Joo sibuk menatap layar ponselnya itu. Lalu mendekat dengan Joo yang nampak sibuk.
" Masih hidup lo ternyata. Kirain udah ko'it." Joo terkekeh. " Ngapain sore-sore gini. Tumben lo kesini, perasaan udah lama ga nongol." Sambungnya.
" Banyak amat tanya lo Joo." Al menggerutu.
" Gak senang lo gue kesini?." Sambungnya.
" Hahaha canda men. Yok masuk, kita main PS dulu." Joo beranjak dan melangkah kedalam rumah. Al mengikuti langkahnya.
Mereka duduk didepan layar televisi dengan stick ditangan masing-masing. Joo memulai permainan dan Al mengikuti. Sejak Al datang dia belum melihat siapapun dirumah berukuran cukup besar itu. Hanya ada dirinya dan Joo. Sesekali Al menyapu pandangannya menyusuri isi rumah, mencari sosook yang membawa dirinya hingga datang sore-sore begini. Namun ia tak menemukan sosok itu.
__ADS_1
" Eh Joo, kok sepi sih rumah lo. Yang lain pada kemana?." Al membuka suara dan bertanya.
" Iya nih cuma ada kita berdua disini. Beruntung lo datang, kalau engga kan gue sendiri hehehe." Joo menjawab dengan tawa kecil. Padangannya tak beralih dari layar 32 inci didepannya.
" Lah emangnya bokap nyokap lo kemana? Fani kemana?." Al bertanya lagi.
" Yang lain pada kerumah nenek gue. Baru pulang besok mungkin. Nah kalau Fani belum pulang dari sekolah." Jawab Joo tetap tak mengalihkan pandangan.
" Ha? Belum pulang sekolah?" Al menganngkat alisnya bingung. Sudah sore sekali, tapi Fani masih belum pulang. Apa jangan-jangann terjadi sesuatu padanya?. Batin Al cemas memikirkan.
" Iya belum. Paling juga ntar lagi pulang. Ada eskul mungkin." Jawab Joo santai.
" Wah gila lo. Jangan-jangan adek lo nunggu disekolah sendirian." Al terdengar cemas.
" Hem." Joo hanya berdehem.
Al melangkah menuju teras rumah, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Fani berteriak didepan rumah. Al bergegas menyusul Fani dan memastikan dia baik-baik saja.
" Eh Fan, kok baru pulang sih?." Al berhenti disebelah Fani.
" Iya tadi ada urusan. Gue masuk dulu ya." Fani kaget kenapa tiba-tiba ada Al dirumahnya, Fani bergegas meninggalkan Al dan terus melangkah menuju kamarnya.
" Lo pulang bareng siapa? Abis dari mana lo?." Al terlihat posesif. Kakinya terus melangkah mengikuti Fani. Melihat Fani tak menjawab pertanyaannya, Al menarik lengan Fani hingga langahnya terhenti.
" Lo kenapa sih? Kenapa lo diam gini." Al menggenggamm kuat tangan Fani.
__ADS_1
" Gue capek mau istirahat." Fani meringis kesakitan dan mencoba mengibaskan tangan Al. lalu bergegas menuju kamarnya.
" Tu kan gue juga apa. Paling ntar lagi pulang deh anak gadis ibu." Sahut Joo saat Fani melewati dirinya yang tengah asyik bermain game.
" Diam lo." Fani memandang sinis, kesal karena Joo tak mengangkat telfonnya tadi. Tapi dalam hatinya juga ingin berterima kasih karena dia bisa berkencan dengan Andry dan mendapatkan cara untuk menolak Al.
Al masih mengikuti Fani dan menagih jawaban. Fani tak bergeming dan tetap melanjutkan langkah kakinya. Al kembali menarik tangan Fani dan menyandarkan Fani kedinding yang tak jauh dari kamar Fani.
" Lo kenapa sih gue tanya diam aja." Al menggenggam kuat tangan Fani.
" Gue bahkan kesini karena gue khawatir sama lo." Al menggeram karena kesal.
" Gue kirim pesan lo gak balas. Gue telfon lo gak jawab. Sebenernya lo kenapa sih? Lo mau nyiksa gue dengan cara lo kayak gini? Gue bahkan gak bisa nunggu lebih lama. Gue butuh jawaban lo skearang juga." Al yang tersulut emosi karena Fani sejak tadi mengabaikannya itu pun menggeram kesal. Giginya bergetar dan wajahnya memerah. Fani hanya terdiam ketakutan melihat Al yang sebegitu marah dengan dirinya. Mata Fani berkaca-kaca karena dibentak oleh Al, sekuat tenaga dia melepaskan geggaman tangan Al dan mencoba melarikan diri. Al masih menggeram dan merapatkan giginya. Berkali-kali mencoba akhirnya Fani berhasil melepaskan genggaman Al dan berlari dengan cepat keadalam kamarnya. Meninggalkan Al yang kesal dan marah.
" Kenapa dia tiba-tiba berubah jadi kasar sih." Fani menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.
Pikirannya menjalar entah kemana-mana. Matanya bekaca-kaca membayangkan perlakuan Al barusan. Sesekali Fani menyeka ujung matanya, benar-benar tak disangka jika Al bisa bersikap kasar padanya. Memikirkan perihal cinta rumitnya. Dia harus menolak pria yang dicintainya dan menerima cinta pria yang sama sekali tak dicintainya.
Benar-benar gila. Sungguh diluar nalar. Aku membuat kekacauan yang aku sendiri tak bisa selesaikan ! Cihh , bahkan angan tak selalu menjadi akan.
Fani sebenarnya ingin mengatakan jika dirinya sudah punya pacar lain. Namun, Fani takut terlalu menyakiti hati Al. Tapi jika tidak dia katakan maka Al akan selalu mengejar dan menagih jawaban darinya. Selain akan menyakiti Al, Fani akan menyakiti Andry dan Sophia sekaligus. Apa yang lebih kejam dari ini? Menghancurkan tiga hati sekaligus.
Arrghhhh ...
Bahkan aku tak terfikir tentang Sophia yang menggilai Andry. Jika dia tau habislah aku! Bukan lagi tentang kemenangan taruhan tapi ini bisa jadi peperangan. Lalu setiap hari aku harus menghadapi tatapan kebencian. Ahh akal ! Kenapa kau tak bisa menembus kebodohan. Dasar, pendek akal !
__ADS_1