
Andry tidak bisa tidur semalaman, hanya menatap langit-langit kamar dan menatap layar ponselnya. Wajahnya murung dan tampak bingung memikirkan apa yang harus dia lakukan besok. Bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan alamat dan bertemu dengan Fani. Sudah mencoba melacak lokasi dari ponsel juga tidak bisa. Sudah mengibrak abrik sosial media mencari yang namanya Irma juga tidak ketemu. Entah siapa nama asli sahabat pacarnya itu, yang dia tau selama ini hanya Irma Irma, begitulah sebutan Fani jika ditanya dengan siapa.
“ Huffhhh aku sangat lelah, aku sangat mengantuk tapi aku tidak bisa tertidur.” Gumamnya dengan posisi tengkurap. Menjuntai-juntaikan tangannya dari sudut ranjang hingga menyentuh lantai, sudah seperti orang sedang mabuk saja.
“ Kemana lagi harus ku cari tau alamatmu hei kekasih hatiku.” Lanjutnya terus meracau. Wajahnya tampak kusam, matanya hampir terpejam total, sangat mengantuk tapi dia tetap menahan-nahan hingga tampak lingkar hitam dibawah matanya.
“ Sudah seisi sosial media ku cari yang namanya Irma, tapi tidak kutemui Irma sahabatmu. Lalu siapa lagi? Apakah aku juga harus mencari-cari manusia yang namanya Endrico?.” Ucapnya terus meracau tidak tentu arah. Namun seketika matanya terbelalak sempurna, teringat nama Endrico yang baru saja disebutkannya. Satu-satunya orang yang tersisa untuk memberinya informasi adalah pria yang bernama Endrico. Tanpa pikir panjang Andry langsung mengibrak abrik seluruh isi sosial media, menemukan manusia-manusia yang bernama Endrico. Melihat satu-persatu yang kemungkinannya adalah Endrico lelaki yang dicemburuinya.
“ Tapi aku lupa seperti apa wajahnya. Ah kenapa aku lupa sih, harusnya aku paling ingat wajah manusia yang aku cemburui.” Lanjutnya terhenti mencari. Sekarang beralih mengingat-ingat wajah lelaki yang bernama Endrico itu. Mencoba mengingat wajah lelaki yang pernah muncul dilayar saat dia melakukan panggilan video dengan Fani beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
“ Ah sial ! Aku bahkan tidak bisa mengingat bagaimana bentuk hidungnya. Aku sama sekali tidak ingat seperti apa bentuk wajahnya, aku tidak tahu wujud lelaki yang selama ini selalu aku cemburui.” Semakin frustasi. Sesekali Andry berteriak kesal, padahal sudah dini hari. Andry menatap jam yang ada dimeja sebelahnya, sudah hampir pukul 5 pagi, itu artinya hanya tersisa 3 jam lagi untuk jadwal penerbangannya.
“ Kalau begini, aku harus pergi atau tidak sih?.” Bertanya dalam hati. Tidak tahu apakah dirinya harus tetap pergi atau tetap berdiam diri disini sambil menanti sebuah penjelasan dari Fani.
“ Andai saja aku tahu alamatmu, sudah ku pastikan kau amat sangat kaget dengan kedatanganku. Lalu kutarik kau pergi dan meminta penjelasan dari semua ini.” Ucapnya kembali kesal. Membayangkan jika dirinya mengetahui alamat Fani dan segera pergi menemui sang kekasih hati yang membuatnya emosi sejak tadi.
Andry beranjak dan masuk kedalam kamar mandi. Memilih untuk berdiri dibawah shower. Membiarkan air yang dingin menyentuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, terlebih disubuh-subuh buta seperti ini. Kepalanya terlalu pusing memikirkan masalah percintaannya yang rumit ini, panas dingin dibuatnya. Merasa jika lebih nyaman ketika dia belum mengenal cinta, meskipun banyak wanita yang tergila-gila padanya namun dia tidak merasakan adanya beban yang menumpuk dikepala. Namun untuk menyesal pun enggan, rasa sayangnya membuatnya tetap berjuang untuk menemukan titik terang dan penyelesaian dari masalah yang tidak berpangkal ini. Andai Fani mengatakan terus terang apa kesalahannya, apa keinginannya dan apa keputusannya, pasti semua tidak akan serumit dan menjadi teka-teki begini. Sudah hampir setengah jam Andry berdiri dibawah rajaman air, sudah sangat dingin dan pucat. Tangannya sudah keriput karena terlalu lama bermain air. Andry keluar dengan handuk yang melilit setengah tubuhnya. Langsung mengenakan pakaian dan kembali merebahkan tubuh diatas ranjang. Masih bingung memikirkan apakah dia tetap terbang kekota tempat kekasihnya itu tinggal, atau membiarkan tiketnya sia sia.
“ Pergi, tidak, pergi, tidak, pergi, tidak, pergi, tidak, pergi, tidak.” Andry mencoba membuat keputusan dengan jari-jarinya. Berhenti dikata tidak, berarti dia tidak boleh pergi. Harus tetap berdiam diri disini meskipun tiket dan uangnya terbuang sia-sia. Seolah tidak terima, Andry kembali membuat keputusan dengan jari-jari tangannya. Keputusan dengan menggunakan 10 jari saja. Namun kali ini dimulai dari kata tidak.
__ADS_1
“ Tidak, pergi, tidak, pergi, tidak, pergi, tidak, pergi, tidak, pergi.” Senyumnya mekar diwajahnya yang lelah. Kali ini berhenti dikata pergi. Berarti dia harus tetap pergi dan berusaha menemui sang kekasih hati. Namun lagi-lagi dia tidak tau harus kemana nantinya, tidak mungkin dia mengobrak-abrik seluruh kota untuk mencari Fani hanya dalam waktu dua hari. Ini cukup termasuk kategori mustahil, apalagi ini adalah kali pertamanya dia kekota tersebut. Tidak kenal siapapun dan tidak tau apapun.
“ Kalau aku pergi, tapi aku tidak kenal siapapun disana. Mau kemana arah tujuanku? Bisa-bisa jadi gelandangan aku disana.” Ucapnya kemudian semangatnya mendadak hilang berganti dengan rasa ketakutan.
“ Tapi jika aku tidak memuinya sekarang kapan lagi? Apalagi dia sudah menutup rapat dan tidak ingin lagi berkomunikasi denganku.” Lanjutnya terus kebingungan. Terus mempertimbangkan resiko dari tiap-tiap keputusan yang akan dia ambil nantinya.
“ Ah gak mau tau. Pokoknya aku harus tetap pergi, sekalipun harus kembali lagi dengan tidak membawa hasil apapun, yang penting aku sudah berjuang dan berusaha untuk menemuinya. Jika ada takdir dan izin dari semesta pasti mudah untuk menemukannya.” Ucapnya kembali penuh semangat, seolah tidak ada apapun yang dia takutkan. Bagaimanapun caranya dia harus tetap pergi dan mencari kekasih hati yang tidak tau dimana lubuknya.
Andry merasa sangat lelah, benar-benar kelelahan. Sejak kemarin dia disibukkan dengan sekolah, mencari hadiah hingga sampai detik ini disibukkan dengan memikirkan pergi atau tidak. Wajahnya sudah sangat tidak normal, Nampak sangat kelelahan. Matanya merah dan tampak lingkar hitam. Andry terus saja meracau tidak jelas, meracau tentang ambisi dan apa yang akan dilakukannya nanti ketika bertemu dengan Fani. Ingin begini, begitu dan masih banyak lagi. Hingga tanpa sadar dia sudah terlelap dan teggelam dalam mimpinya. Mungkin karena sudah tidak sanggup lagi menahan kantuknya. Padahal hanya tersisa waktu dua jam sebelum jadwal penerbangannya. Harusnya ini adalah jam bangunnya dan bersiap-siap untuk pergi kebandara. Namun terbalik, ini adalah waktu tidurnya.
__ADS_1