
Sudah beberapa hari sejak gagalnya berangkat menemui Fani. Andry
tampak melakukan aktifitasnya seperti biasa. Terus mengingatkan dirinya jika
dia harus memberi Fani waktu selama satu minggu, baru dia akan mencoba
menghubungi Fani kembali. Namun fikirannya juga tidak bisa ditahan, apalagi
tentang hari spesial sang wanita yang dicintainya. Ya, besok adalah ulang tahun
Fani yang ke 17. Memikirkan tentang bagaimana caranya untuk menemui Fani dan
memperbaiki hubungannya yang retak tanpa sebab. Andry terus memandangi kotak
berwarna pink dan bag berisi hadiah yang dia letakkan diatas meja belajarnya. Hadiah
yang seharusnya sudah dia berikan beberapa hari yang lalu, namun karena
kesalahpahaman dan kelalaiannya dia tidak jadi menyerahkan itu kepada
pemiliknya.
“ Hei gadis tengil, ayolah. Kemana saja kau? Jangankan untuk
menemuimu, hanya sekedar untuk mengucapkan selamat ulang tahun saja aku sangat
kesusahan.” Gumamnya menatap ponsel. Berharap nomor Fani sudah aktif nanti
ketika dia menghubungi.
“ Lihatlah aku sudah menyiapkan hadiah yang manis untukmu.” Lanjutnya
terus menatap hadiah yang sudah dia
siapkan sejak beberapa hari lalu.
Andry sengaja meletakkan hadiah itu diatas meja belajar,
agar ketika dia masuk kedalam kamar langsung mengingat Fani yang harus segera
dia temui bagaimanapun caranya. Tidak mudah menyerah, Andry juga sering
memantau sosial media mencari manusia bernama Irma dan Endrico. Berharap dia
segera menemukan akun salah satu diantara mereka dan segera bisa meluncur
menemui Fani. Bagaimana dengan akun Joo? Semua akun Joo sudah tidak bisa
ditemui, mungkin karena Joo sudah memblokir Andry disemua sosial media. Itupun atas
dasar dan perintah adiknya Fani.
***
Sudah beberapa hari Al menunggu, melewati hari-hari untuk
menemui akhir pekan. Menanti jadwal keberangkatannya menuju kota dimana Joo dan
Fani tinggal. Sangat bersemangat dan penuh semangat. Al tampak sibuk sekali,
menyiapkan beberapa pasang baju dan dimasukkan kedalam tas ransel besar yang
biasa dia pakai jika akan pergi beberapa hari. Memastikan jika dirinya sudah
menyiapkan semua barang-barang yang harus dia bawa saat mengunjungi keluarga
Fani, termasuk ole-ole dan juga hadiah spesial untuk Fani. Tidak sabar menunggu
besok pagi, tidak sabar ingin menemui Joo dan Fani yang sudah beberapa bulan
tidak pernah dia hubungi.
“ Hufffhh akhirnya semua selesai juga.” Gumamnya sembari
__ADS_1
meletakkan tas dan sepatu didekat lemari. Tidak lupa juga dengan hadiah dan
ole-ole yang akan dibawanya.
“ Ahh tidak sabar menunggu besok pagi. Ayo tidur dan
bangunlah pagi-pagi besok.” Lanjutnya sambil melangkah dan melemparkan tubuhnya
keatas ranjang miliknya. Meraih ponsel dan menyetel alarm agar besok tidak
terlambat dari jadwal penerbangan. Tidak lupa juga menghubungi Joo dan
mengatakan jika dia akan berangkat pagi.
“ Joo, gue besok berangkat pagi. Lo dirumah aja kan?.” Ucapnya
ketika Joo mengangkat telepon.
“ Oke Al gue tunggu kedatangan lo, gue dirumah aja kok.” Jawabnya
dari dalam telepon.
“ Siap. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya termasuk Fani, gue
mau kasih kejutan buat keluarga lo semuanya.” Lanjutnya meminta agar Joo tidak
memberitahu kedatangannya kepada siapa-siapa.
“ Oke aman, gue doang yang tau.” Sahutnya sambil terkekeh.
“ Yaudah deh bye.” Ucap Al memutuskan sambungan telepon.
“ Tidur ah, biar besok bangun dalam keadaan fit dan segar. Kan
mau ketemu Fani dan keluarganya hehehe.” Gumamnya mematikan ponsel dan
meletakkannya disebelah bantal.
Al mematikan lampu kamarnya, memilih untuk memejamkan
pesawat. Padahal masih pukul 8 malam, tapi karena semangat ingin bertemu Al
tetap saja memaksa matanya untuk terpejam dan tidur. Meskipun cukup lama namun
akhirnya Al berhasil membawa dirinya kedalam alam mimpi.
**
Keesokan harinya.
Al bergegas bangun dan segera berlari menuju kamar mandi
setelah mendengar alarmnya berbunyi. Berlari dan kalang kabut tidak menentu,
saking takutnya terlambat. Bahkan mandi pun bergegas, mungkin mandi hanya
sekedar basah. Al mengenakan pakaiannya dan bergegas membawa barang-barang
bawaannya menuju bandara. Kali ini dia naik taxi online untuk mempermudah
dirinya.
“ Hufffhh untung saja aku datang tepat waktu.” Ucapnya sembari
bergegas masuk kedalam bandara. Melihat jam tangan yang melingkar ditangannya,
sudah hampir pukul 7 pagi. Semakin mempercepat langkahnya agar tidak semakin
terlambat.
“ Padahal udah tidur cepat, udah setel alarm masih juga
telat. Ini gara-gara macet ni.” Lanjutnya menggerutu sambil melangkah.
__ADS_1
Setelah memastikan semua selesai, sekarang Al tinggal
menunggu sambil melihat-lihat dimana tempat yang menjual kue ulang tahun, yang
terdekat dari rumah Fani dan yang terpenting dengan mudah bisa dia cari. Hari ini
adalah hari ulang tahun Fani yang ke 17, masih kecil atau udah dewasa ni
pemirsa?.
“ Hei selamat ulang tahun cantik.” Gumamnya sembari membuka
kenangan lama. Membuka foto selfienya dengan Fani sewaktu sering bermain
bersama. Tampak mereka sedang memainkan Ps dan kemudian menyempatkan berselfie
dengan gaya duck face dan stick Ps ditangan.
“ Lucu juga ya. Jadi rindu kita yang dulu.” Lanjutnya tersenyum
bahagia dan terus menatap foto itu.
“ Andai saja kau menerima cintaku, pasti kita sudah menjadi
pasangan kekasih saat ini. Lalu aku bisa mengunggah fotomu beserta ucapan
selamat ulang tahun yang aku bubuhi banyak sekali emoji hati.” Sambungnya mulai
ngelantur, mulai berandai-andai yang tidak akan terjadi. Al terus mengkhayal
yang indah-indah bersama Fani dikemudian hari. Namun tiba-tiba khayalannya
buyar ketika seorang bapak-bapak menepuk bahunya pelan.
“ Hei nak, apakah itu pesawatmu? Jangan melamun nanti kau
ketinggalan.” Ucap lelaki itu mengagetkan Andry.
“ Eih iya terimakasih pak.” Jawbanya tersentak dan kemudian
menyadari jika pesawat yang ditumpanginya akan segera berangkat.
Andry segera berlari menuju pesawat, hampir saja
ketinggalan. Berlari dengan tangan membawa bag berisi hadiah dan sebelahnya
lagi plastik berisi ole-ole untuk keluarga Fani. Al masuk kedalam pesawat dan
kemudian duduk dikursi yang tertera ditiketnya. Nafasnya tersengal-sengal
karena berlari, detak jantungnya tidak beraturan dan keringat bercucuran
memenuhi bagian dahinya.
“ Hampir saja aku ketinggalan.” Gumamnya dengan nafas yang
tersengal-sengal. Menyalahi dirinya yang ceroboh.
“ kenapa bisa sih aku melamun, padahal kan Cuma ngelihat
foto doang. Eh malah keenakan melamunnya sampai keanak cucu.” Lanjutnya menyalahi
dirinya yang bisa-bisanya melamun disaat yang tidak tepat.
“ Coba aja tu bapak gak ngagetin gue udah pasti gue
ketinggalan pesawat. Makan deh tu sama gue lamunan yang udah sampai keanak
cucu. Gak lucu dong kalau nanti gue viral dengan judul ‘ Seorang penumpang ketinggalan
pesawat dikarenakan asyi melamun masa depan’. Ah yang benar aja.” Sambungnya menggerutu
dalam hati. Mengatur nafasnya agar kembali normal dan menikmati pemandangan
__ADS_1
sepanjang perjalanan.