Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Al Berkunjung


__ADS_3

Sudah beberapa hari sejak gagalnya berangkat menemui Fani. Andry


tampak melakukan aktifitasnya seperti biasa. Terus mengingatkan dirinya jika


dia harus memberi Fani waktu selama satu minggu, baru dia akan mencoba


menghubungi Fani kembali. Namun fikirannya juga tidak bisa ditahan, apalagi


tentang hari spesial sang wanita yang dicintainya. Ya, besok adalah ulang tahun


Fani yang ke 17. Memikirkan tentang bagaimana caranya untuk menemui Fani dan


memperbaiki hubungannya yang retak tanpa sebab. Andry terus memandangi kotak


berwarna pink dan bag berisi hadiah yang dia letakkan diatas meja belajarnya. Hadiah


yang seharusnya sudah dia berikan beberapa hari yang lalu, namun karena


kesalahpahaman dan kelalaiannya dia tidak jadi menyerahkan itu kepada


pemiliknya.


“ Hei gadis tengil, ayolah. Kemana saja kau? Jangankan untuk


menemuimu, hanya sekedar untuk mengucapkan selamat ulang tahun saja aku sangat


kesusahan.” Gumamnya menatap ponsel. Berharap nomor Fani sudah aktif nanti


ketika dia menghubungi.


“ Lihatlah aku sudah menyiapkan hadiah yang manis untukmu.” Lanjutnya


terus menatap  hadiah yang sudah dia


siapkan sejak beberapa hari lalu.


Andry sengaja meletakkan hadiah itu diatas meja belajar,


agar ketika dia masuk kedalam kamar langsung mengingat Fani yang harus segera


dia temui bagaimanapun caranya. Tidak mudah menyerah, Andry juga sering


memantau sosial media mencari manusia bernama Irma dan Endrico. Berharap dia


segera menemukan akun salah satu diantara mereka dan segera bisa meluncur


menemui Fani. Bagaimana dengan akun Joo? Semua akun Joo sudah tidak bisa


ditemui, mungkin karena Joo sudah memblokir Andry disemua sosial media. Itupun atas


dasar dan perintah adiknya Fani.


***


Sudah beberapa hari Al menunggu, melewati hari-hari untuk


menemui akhir pekan. Menanti jadwal keberangkatannya menuju kota dimana Joo dan


Fani tinggal. Sangat bersemangat dan penuh semangat. Al tampak sibuk sekali,


menyiapkan beberapa pasang baju dan dimasukkan kedalam tas ransel besar yang


biasa dia pakai jika akan pergi beberapa hari. Memastikan jika dirinya sudah


menyiapkan semua barang-barang yang harus dia bawa saat mengunjungi keluarga


Fani, termasuk ole-ole dan juga hadiah spesial untuk Fani. Tidak sabar menunggu


besok pagi, tidak sabar ingin menemui Joo dan Fani yang sudah beberapa bulan


tidak pernah dia hubungi.


“ Hufffhh akhirnya semua selesai juga.” Gumamnya sembari

__ADS_1


meletakkan tas dan sepatu didekat lemari. Tidak lupa juga dengan hadiah dan


ole-ole yang akan dibawanya.


“ Ahh tidak sabar menunggu besok pagi. Ayo tidur dan


bangunlah pagi-pagi besok.” Lanjutnya sambil melangkah dan melemparkan tubuhnya


keatas ranjang miliknya. Meraih ponsel dan menyetel alarm agar besok tidak


terlambat dari jadwal penerbangan. Tidak lupa juga menghubungi Joo dan


mengatakan jika dia akan berangkat pagi.


“ Joo, gue besok berangkat pagi. Lo dirumah aja kan?.” Ucapnya


ketika Joo mengangkat telepon.


“ Oke Al gue tunggu kedatangan lo, gue dirumah aja kok.” Jawabnya


dari dalam telepon.


“ Siap. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya termasuk Fani, gue


mau kasih kejutan buat keluarga lo semuanya.” Lanjutnya meminta agar Joo tidak


memberitahu kedatangannya kepada siapa-siapa.


“ Oke aman, gue doang yang tau.” Sahutnya sambil terkekeh.


“ Yaudah deh bye.” Ucap Al memutuskan sambungan telepon.


“ Tidur ah, biar besok bangun dalam keadaan fit dan segar. Kan


mau ketemu Fani dan keluarganya hehehe.” Gumamnya mematikan ponsel dan


meletakkannya disebelah bantal.


Al mematikan lampu kamarnya, memilih untuk memejamkan


pesawat. Padahal masih pukul 8 malam, tapi karena semangat ingin bertemu Al


tetap saja memaksa matanya untuk terpejam dan tidur. Meskipun cukup lama namun


akhirnya Al berhasil membawa dirinya kedalam alam mimpi.


**


Keesokan harinya.


Al bergegas bangun dan segera berlari menuju kamar mandi


setelah mendengar alarmnya berbunyi. Berlari dan kalang kabut tidak menentu,


saking takutnya terlambat. Bahkan mandi pun bergegas, mungkin mandi hanya


sekedar basah. Al mengenakan pakaiannya dan bergegas membawa barang-barang


bawaannya menuju bandara. Kali ini dia naik taxi online untuk mempermudah


dirinya.


“ Hufffhh untung saja aku datang tepat waktu.” Ucapnya sembari


bergegas masuk kedalam bandara. Melihat jam tangan yang melingkar ditangannya,


sudah hampir pukul 7 pagi. Semakin mempercepat langkahnya agar tidak semakin


terlambat.


“ Padahal udah tidur cepat, udah setel alarm masih juga


telat. Ini gara-gara macet ni.” Lanjutnya menggerutu sambil melangkah.

__ADS_1


Setelah memastikan semua selesai, sekarang Al tinggal


menunggu sambil melihat-lihat dimana tempat yang menjual kue ulang tahun, yang


terdekat dari rumah Fani dan yang terpenting dengan mudah bisa dia cari. Hari ini


adalah hari ulang tahun Fani yang ke 17, masih kecil atau udah dewasa ni


pemirsa?.


“ Hei selamat ulang tahun cantik.” Gumamnya sembari membuka


kenangan lama. Membuka foto selfienya dengan Fani sewaktu sering bermain


bersama. Tampak mereka sedang memainkan Ps dan kemudian menyempatkan berselfie


dengan gaya duck face dan stick Ps ditangan.


“ Lucu juga ya. Jadi rindu kita yang dulu.” Lanjutnya tersenyum


bahagia dan terus menatap foto itu.


“ Andai saja kau menerima cintaku, pasti kita sudah menjadi


pasangan kekasih saat ini. Lalu aku bisa mengunggah fotomu beserta ucapan


selamat ulang tahun yang aku bubuhi banyak sekali emoji hati.” Sambungnya mulai


ngelantur, mulai berandai-andai yang tidak akan terjadi. Al terus mengkhayal


yang indah-indah bersama Fani dikemudian hari. Namun tiba-tiba khayalannya


buyar ketika seorang bapak-bapak menepuk bahunya pelan.


“ Hei nak, apakah itu pesawatmu? Jangan melamun nanti kau


ketinggalan.” Ucap lelaki itu mengagetkan Andry.


“ Eih iya terimakasih pak.” Jawbanya tersentak dan kemudian


menyadari jika pesawat yang ditumpanginya akan segera berangkat.


Andry segera berlari menuju pesawat, hampir saja


ketinggalan. Berlari dengan tangan membawa bag berisi hadiah dan sebelahnya


lagi plastik berisi ole-ole untuk keluarga Fani. Al masuk kedalam pesawat dan


kemudian duduk dikursi yang tertera ditiketnya. Nafasnya tersengal-sengal


karena berlari, detak jantungnya tidak beraturan dan keringat bercucuran


memenuhi bagian dahinya.


“ Hampir saja aku ketinggalan.” Gumamnya dengan nafas yang


tersengal-sengal. Menyalahi dirinya yang ceroboh.


“ kenapa bisa sih aku melamun, padahal kan Cuma ngelihat


foto doang. Eh malah keenakan melamunnya sampai keanak cucu.” Lanjutnya menyalahi


dirinya yang bisa-bisanya melamun disaat yang tidak tepat.


“ Coba aja tu bapak gak ngagetin gue udah pasti gue


ketinggalan pesawat. Makan deh tu sama gue lamunan yang udah sampai keanak


cucu. Gak lucu dong kalau nanti gue viral dengan judul ‘ Seorang penumpang ketinggalan


pesawat dikarenakan asyi melamun masa depan’. Ah yang benar aja.” Sambungnya menggerutu


dalam hati. Mengatur nafasnya agar kembali normal dan menikmati pemandangan

__ADS_1


sepanjang perjalanan.


__ADS_2