
Fani bangun dari tidurnya, matanya tampak masih sembab karena menangis semalaman. Setelah dua kali melihat betapa mesranya Sophia dan Andry diunggahan Sophia, sekarang Fani akan lebih rajin memantau apa saja yang mereka lakukan melalui unggahan Sophia. Meskipun Fani tau jika Sophia sengaja melakukan ini, namun tetap saja
dia merasa kesal. Siapa yang terima jika kekasih hatinya bermesra frame yang sama? .
“ Hah lakukan apa saja yang kalian mau.” Gumamnya mengucek mata pelan. Tangannya langsung meraih ponsel yang dilemparnya disudut ranjang. Memeriksa apakah ada Sophia mengunggah status terbaru atau tidak. Dinyalakan layar ponselnya, terpampang fotonya dan Andry mesra. Seketika amarahnya memuncak dikepala, dengan cepat jari-jarinya mengganti wallpaper menjadi gelap gulita. Jari-jemarinya menekan kuat layar ponselnya. Geram dan kesal.
“ Hah mati saja!.” Ucapnya terus menekan-nekan layar ponselnya. Setelah puas menyalurkan kekesalan dengan menekan layar ponselnya hingga timbul bintik putih, Fani beralih ke sosial media dimana biasanya dia mendapati informasi terkini tentang kekasihnya yang sudah berhari-hari tidak mengabari. Mendapatkan informasi dari mantan sahabat yang sekarang bukan lagi menjadi musuh sepihak, namun sudah saling bermusuhan. Fani melihat satu persatu status yang ada disana, benar saja tampak ada nama Sophia.
“ Kan sudah kuduga, pantas saja mataku memaksa untuk bangun. Ternyata ada yang baru yang harus kulihat, masih hangat, baru 13 menit yang lalu.” Ucapnya tersenyum sumringah. Menggeleng tidak menyangka jika Sophia akan melakukan hal ini kepadanya.
“ Aku buka sekarang? Eh jangan deh nanti kelihatan dong kalau aku pengikut setianya.” Sambungnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“ Eh tapi kalau aku tidak lihat sekarang mana tenang, atau kemungkinan terburuknya dia bisa saja menghapus postingan ini dalam beberapa menit kedepan.” Lanjutnya tampak ragu. Masih mempertimbangkan apakah harus melihat sekarang atau nanti saja, namun tetap masih memantau keberadaan status Sophia disana.
Perkara lihat atau tidak saja aku harus mempertimbangkan sangat lama. Aku harus bingung dulu, ini nih definisi mempersulit diri sendiri.
__ADS_1
Akhirnya dia memutuskan untuk melihat saja, daripada nanti mati penasaran katanya. Fani menutup matanya, kemudian perlahan-lahan membukanya kembali. Melihat apa yang diunggah oleh Sophia. Yap, benar saja, lagi-lagi gadis itu mengunggah kebersamaannya dengan Andry. Kali ini lebih mesra, tampak jika Andry juga bahagia dan tidak terpaksa. Senyumnya merekah didepan kamera, entah karena Sophia yang bergelayut manja dipundaknya.
“ Eh sialan! Ternyata benar-benar ya dua manusia gila ini. Berani-beraninya mengumbar scandal kesosial media. Gak punya malu! Dasar manusia gila!.” Gerutunya tak henti-henti. Mencaci maki kedua manusia yang merusak suasana hatinya. Saking kesalnya Fani sampai memblokir kontak Sophia, agar kedepannya dia tak lagi melihat kemesraan dua manusia gila itu.
“ Heh enyah lah kalian berdua!.” Sambungnya. Kali ini Fani langsung menghambur berdiri, mengambil semua foto-foto polaroidnya dengan Andry yang memenuhi dinding kamarnya. Tanganya dengan liar mencabut dan merusak gantungan foto bersama dengan lampu kerlap-kerlipnya.
“ Ini juga! Kau tak berguna lagi disini, enyah lah. Aku tidak akan merusak suasana kamarku dengan semua yang berhubungan dengan lelaki sialan itu.” Semakin tidak terkendali, Fani mengambil semua barang-barang yang berhubungan dengan Andry, mulai dari foto, heels, gaun bahkan bunga mawar yang sudah kering. Semua dia masukkan kedalam kotak berukuran cukup besar. Setelah itu ditutup rapat dan akan segera dia buang jauh-jauh.
Tidak boleh ada yang tersisa sedikitpun. Semua harus kembali kepada tuannya.
“ Beruntunglah sekarang kita sudah beda kota, jika tidak habislah kalian berdua. Setidaknya satu-satu mendapat jatah tamparan dariku.” Gumamnya sembari berdiri dibawah shower yang membasahi ujung tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“ Huffhh lumayan, cukup membantuku meredam emosi.” Ujarnya keluar dari kamar mandi. Bibirnya menggigil dingin, tubuhnya mendadak sembuh dari sakit. Handuk berwarna putih melilit ditubuh mungilnya, rambutnya yang basah meneteskan air dan jatuh kelantai.
Mengambil sepasang baju dan berdiri didepan meja rias. Tiba-tiba pandangannya terhenti dengan sebuah benda yang melingkar dilehernya, pantas saja sejak tadi dirinya merasa ada yang kurang, ada yang masih mengganjal.
__ADS_1
“ Wah pantas saja sejak tadi hatiku tidak tenang, rasanya ada yang mengganjal, ada yang kurang.” Ucapnya sembari memegang kalung dengan liontin berbentuk hati yang melingkar dilehernya. Kalung yang diberikan oleh Andry saat kencan dadakan mereka, kalung yang diberikan Andry sebagai tanda cintanya diterima, diberikan tepat saat dia menyatakan cinta dan perasaannya. Tangannya mengelus pelan liontin berbentuk hati itu, rasanya enggan melepaskan tapi bagaimanapun dia tetap harus membuang semua benda yang berhubungan dengan Andry.
“ Ingin kulepas tapi aku sayang.” Ucapnya bersedih hati. Matanya berkaca-kaca sembari mengelus kalung yang sudah beberapa bulan ini mellingkar dilehernya. Bukan hanya kalung, namun cincin juga masih melingkar dijari manisnya. Amat sangat berat melepaskan kedua benda yang melingkar ditubuhnya itu. enggan, namun harus.
“ Aku tidak mau melepaskannya, tapi aku harus. Mau tidak mau tetap harus.” Sambungnya. Tangannya menyeka ujung matanya, menyapu buliran air yang ada disudut matanya. Perlahan tangannya melepas cincin dan kalung yang melingkar dilehernya. Dimasukkan kembali kedalam kotak kecil dan kemudian dimasukkan kedalam kotak berukuran sedang bersama dengan foto-foto, gaun dan barang-barang lainnya.
“ Mau ku apakan ini? Aku buang?.” Tanyanya bingung, sudah mengumpulkan semua barang pemberian Andry namun tidak tau harus melakukan apa dengan barang-barang tersebut.
“ Sayang sekali kalau harus ku buang.” Ucapnya lirih. Menatap kotak dan tumpukan barang-barang yang ada didalamnya. Matanya tak henti berkaca-kaca, terpaksa mengubur semua kenangan yang pernah ada dalam sebuah kotak berwarna merah muda.
“ Sebaiknya aku simpan saja jauh-jauh.” Ucapnya lagi. Menutup rapat kotak berwarna merah muda itu, meletakkan disudut kamar diatas tumpukan-tumpukan kotak sepatu.
Kembali menghamburkan tubuhnya diatas ranjang, merasa kamarnya banyak bagian yang rumpang. Menatap dinding yang tak lagi dipenuhi gantungan-gantungan foto kebersamaan, langit-langit kamar tidak ada lagi gantungan-gantungan kerinduang. Semua sudah dilepas dan disimpan rapat-rapat bersama kenangan. Mengihklaskan semua yang telah terjadi, menjadikan sebuah pengalaman dan pengajaran. Setidaknya tentang bagaimana hukum alam bekerja pada kasus pengkhianatan.
“ Huffh tapi aku tidak ingin barang apapun yang berhubungan dengannya ada disini.” Ucapnya bangkit dan melangkah mendekati kembali kotak yang sudah terbungkus dengan rapi itu.
__ADS_1
“ Ah sebaiknya aku kembalikan saja kepadanya.” Bergegas mengambil ponselnya, menghubungi sebuah ekspedisi dan meminta untuk mengambil barang dirumahnya. Hahahaha terlalu kekanak-kanakan hingga mengembalikan semua barang-barang yang sudah pernah diberi oleh mantan kekasih yang dia putuskan secara sepihak tanpa mendiskusikan perkara kesalahan, solusi dan keputusan akhirnya. Mengambil selembaran kertas dan menulis menggunkan spidol. Alamat lengkap rumah Andry, sangat detail. Kemudian ditempel kuat dengan lakban hingga beberapa lapis. Tak lupa dia juga menyelipkan sebuah kertas kecil yang bertuliskan bahwa ini adalah pengembalian barang secara ikhlas, mengatakan jika sebaiknya dia tidak menyimpan benda apapun yang pernah diberikan Andry. Diakhir juga ada sebuah ucapan manis yang dia berikan sebagai salam perpisahan.