Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Hadiah Untuk Fani (Part3)


__ADS_3

“ Hei kemarilah, sekarang giliran mu.” Sahut Devi saat Andry tengah sibuk bermain game diponselnya. Matanya berputar dan berhenti kearah meja kasir, ya apalagi jika bukan masalah angka dan hitung-hitungan. Masalah yang paling sensitive jika bersangkutan dengan uang dan nominal.


“ Iya.” Ucap Andry seolah mengerti dengan maksud sang kakak. Mematikan ponsel dan menyimpannya kembali kedalam saku celana. Kemudian melangkah mendekati sang kakak menuju kasir untuk membayar.


“ Ni, kalau ini mah bagian lo.” Lanjutnya ketika melihat Andry sudah mendekat. Menyodorkan selembar kertas nota dan tersenyum senang. Seolah ada yang sedang dia rahasiakan, alisnya turun naik menatap Andry yang kebingungan.


“ Ini ambil notanya dan bayarlah kekasir. Sekarang giliran gue yang bersantai.” Ucapnya tertawa senang. Kemudian bola matanya mengarah kepada kasir yang tampak antriannya sangat panjang.


“ Hahahahaha.” Lanjutnya tergelak tawa saat mellihat wajah Andry yang mendadak mengkerut ketika melihat antrian panjang disudut sana.


“ Selamat mengantri hei lelaki baik hati.” Melangkah melenggang meninggalkan Andry yang masih menatap antrian panjang.


“ Hufhh.” Hanya bisa mendengus kesal. Mau tidak mau harus tetap mengantri membayar entah apa yang dipilihkan oleh kakaknya. Demi sang kekasih rela mengantri panjang hingga beberapa jam. Bukan hal yang besar, baginya hanya sedikit pengorbanan.


Andry berjalan gontai menuju kasir. Tampak banyak ibu-ibu dan remaja yang mengantri, hanya dirinya yang laki-laki disana. Menoleh kekiri dan kekanan, merasa risih jika harus mengantri segini panjang. Andry menggoyang-goyangkan kakinya dan menunduk menatap lantai, tidak ingin melihat kesekeliling.


Huffhh bahkan aku rela bergerumul dikumpulan wanita-wanita yang mengantri dikasir. Hei mana ada suami dan pacarnya yang mau mengantri segini panjang. Lihat lah aku tanpa malu dan tanpa ragu berdiri disini demi hadiah untukmu.


Dari arah belakang Devi tak henti-hentinya tergelak tawa menatap adik satu-satunya itu rela mengantri panjang demi hadian sang pacar. Mana ada lelaki yang mau disuruh antri segitu panjang jika bukan membayar barangnya sendiri. Ada sih, tapi cukup langka. Tak ingin melewatkan momen ini, Devi segera mengeluarkan ponselnya. Merekam kejadian langka ini dengan telepon genggamnya, untuk ditunjukkan kepada ayah dan bundanya. Pasti mereka juga akan tergelak tawa melihat video ini.

__ADS_1


Harus aku abadikan momen ini, nanti aku kirimkan kepada Fani ketika dia ulang tahun agar dia tau sebarap besar pengorbanan adik tampan ku ini dalam misi membahagiakan sang kekasih. Ahh adikku, kau sangat menggemaskan. Andai kau masih kecil sudah habis kau ku gigiti.


Cukup lama Andry mengantri dikasir, kurang lebih 30 menit. Waktu yang cukup lama, sudah puas Devi merekam video, mengambil foto bahkan membeli makanan dan minuman untuk menemaninya. Andry berjalan mendekat dengan sebuah kantong plastik ditangannya, menatap sang kakak dengan tatapan kebencian dan seolah ingin menerkam mangsa yang ada dihadapannya. Menatap Devi seolah Devi telah melakukan kesalahan yang paling besar, semacam mencuri atau lebih parah seperti pembunuhan. Langkah kakinya dipercepat dengan wajah ditekuk dan sorot mata yang sangat tajam. Namun Devi sama sekali tidak merasa ketakutan karena tau apa yang akan dipermasalahkan oleh Andry saat ini.


“ Eh lo ya kak.” Ketusnya saat sudah hampir mendekat dengan sang kakak yang tampak senyum-senyum terkulum.


“ Apa lo?.” Sahutnya tak kalah ketus. Berlagak benar-benar berhadapan dengan musuh.


“ Lo ngerjain gue ya. Lo beli tas yang gue pilih tadi, uuuuh tadi aja lo bilang selera gue jelek tapi akhirnya ini juga kan yang lo pilih.” Protesnya  mengudara. Merasa sang kakak harus menarik kata-kata hinaan tentang seleranya yang buruk.


“ Tarik kata-kata lo sekarang juga. Bilang kalau selera gue bagus.” Lanjutnya memaksa. Matanya menatap tajam sang kakak yang sedang mencoba menahan tawa dibalik tangan yang menutupi mulutnya.


“ Eh lo ya, awas aja lo.” Teriaknya pada sang kakak. Berlari pelan mengejar wanita yang sudah menjaili dan membuatnya kesal.


Awas aja lo ya. Berani-beraninya ngerjain gue. Pakai acara caci dan menghina pula lagi, padahal selera gue kan emang bagus huh.


“ Buruan dong lama banget sih lo.” Lagi-lagi Devi mulai menyulut emosi Andry, padahal beberapa saat yang lalu mereka baru saja damai.


“ Gak sabaran banget sih lo. Tau gini sih mending gue pergi sendirian aja tadi, lagian selera gue juga bagus kok gak jelek-jelek banget.” Ketusnya kesal, menyesal telah membawa manusia jahil yang hanya membuatnya membuang-buang tenaga karena marah.

__ADS_1


“ Eleh perasaan banget sih lo.” Tidak ingin menghentikan perdebatan konyol ini, terus-terusan menyanggah apa yang dikatakan Andry.


“ Buktinya lo suka sama pilihan gue, sebenarnya pilihan gue bagus kan? Cuma lo nya aja yang gengsi ngakuin kalau selera gue juga bagus.” Lanjutnya tidak ingin kalah, masih memaksa sang kakak mengakui tentang seleranya dalam memilih.


“ Ah terserah lo deh.” Ketusnya menghentikan perdebatan. Mempercepat langkah menuju parkiran, melenggang seperti wanita-wanita feminine pada umumnya. Dibelakang Andry hanya mengikuti langkahnya, sesekali terdengar menggerutu kesal dan sesal.


Andry sudah duduk dibelakang kemudi, kemudian menatap wanita yang terus saja berkaca disebelahnya. Terus merapikan rambut serta riasannya. Masih tersisa dendam, Andry menyalakan mesin dan segera melajukan mobilnya. Mengintai wanita yang ada disebelahnya, ketika Devi ingin merapikan bibirnya dan menebalkan lipstick, Andry tiba-tiba menginjak rem hingga mobil berhenti mendadak.


“ Ah sial.” Ketus Devi yang ada disebelahnya. Menatap wajahnya yang tercoret lipstick panjang.


“ Hahahahahaha ****** lo.” Ucap Andry tertawa senang, wajahnya hingga memerah karena tertawa. Merasa puas karena telah membalas dendam kepada sang kakak yang duluan menjahilinya.


“ Hahahaha sekarang impas kan, ****** lo muka badut.” Sambungnya terus tertawa, mengelus-elus perutnya yang terasa keram. Ah rasanya puas sekali melihat wajah sang kakak tiba-tiba berubah menjadi berantakan.


“ Sialan lo.” Ketusnya. Menatap Andry dengan tatapan kebencian, sorot matanya tajam seolah ingin mencabik-cabik manusia yang membuatnya menjadi kesal.


“ Huhuhuhu ternyata wajah lo lebih cantik kalau dicoret-coret ya.” Lagi-lagi  menertawakan sang kakak. Kakinya menginjak gas pelan, menunggu antrian keluar dari pusat perbelanjaan.


“ Ah awas aja lo ya, tunggu pembalasan gue yang lebih memalukan.” Ucapnya terdengar mengancam. Sudah tidak tahan melihat lelaki yang ada disebelahnya itu terus-terusan menertawakan wajahnya yang dipenuhi sentuhan lisptik. Tangannya bekerja membersihkan, mulutnya menggerutu kesal, tidak terima dengan yang dilakukan Andry kepadanya.

__ADS_1


Awas aja lo ya, nanti semua aib lo gue bongkar. Lo bakal diketawai ayah bunda bahkan pacar lo sendiri, hhahahaha tunggu saja.


__ADS_2