
Andry meninggalkan area perbelanjaan, kembali melajukan mobilnya dijalanan yang cukup ramai. Entah kemana lagi sang kakak akan membawanya pergi, tapi demi hadiah untuk sang kekasih dia haya diam dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Devi, sekalipun dia usil dan menyebalkan. Andry hanya fokus menatap jalanan, mengabaikan Devi yang begerak seperti cacing kepanasan, menyalakan music dengan volume keras kemudian berjoget-joget seperti orang kurang waras. Andry hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang kakak, tidak bersuara dan protes sama sekali. Memilih untuk bungkam dan menghindari perdebatan yang tidak berguna.
“ Mau kemana lagi?.” Tanya Andry memastikan kemana arah tujuan mereka selanjutnya.
“ Hem kita ke toko tante Ira saja, mungkin ada barang-barang bagus yang bisa dibeli untuk Fani.” Jawabnya sambil badannya terus bergoyang kekiri dan kekanan. Andry tidak menjawab apapun lagi, hanya berdehem dan mengangguk tanda mengerti. Segera melajukan mobilnya melipir dari pusat kota menuju tempat tante Ira, sepupu sang bunda yang juga memiliki toko khusus pakaian wanita.
Hanya butuh waktu 15 menit saja, mobil Andry sudah berhenti tepat didepan toko yang cukup besar dan mewah itu. Tempat biasanya bunda dan Devi membeli pakaian serta keperluan wanita yang lainnya. Devi bergegas turun menyapa tante Ira, berlari masuk kedalam toko dan menghambur duduk diruang kerja sang tante. Seperti dirumahnya sendiri.
“ Hei, sejak kapan kamu ada disini.” Sapa wanita yang tampak lebih muda dari ibu Devi dan Andry.
“ Hei tante, baru banget.” Ucapnya merebahkan tubuh disofa panjang nan empuk itu.
Dari kejauhan tampak Andry masuk kedalam toko, berjalan pelan sembari mengedarkan pandangan mencari sang kakak yang dengan cepat menghilang. Sebelumnya Andry tidak pernah masuk kedalam toko milik Ira, biasanya hanya mengantarkan sang bunda itupun hanya sampai didepan saja. Kebingungan mencari keberadaan Devi yang kelincahannya mengalahkan siluman.
Memang si Devi siluman ya, cepet banget deh ngilangnya.
“ Hei sini.” Teriak Devi saat melihat Andry yang tampak kebingungan dan mengedarkan pandangan keseluruh isi toko.
“ Hei Andry sini, ngapain lo disana.” Teriaknya lagi. Menjentik-jentikan tangannya meminta Andry untuk mendekat dengannya. Andry mencari sumber suara dan mengangguk pelan ketika menemukan keberadaan sang kakak, melangkah setengah berlari dan mendekati Devi.
__ADS_1
“ Nah ini dia ternyata, siluman Devi.” Ucapnya terengah-engah. Menghambur duduk disofa, kemudian mengatur pernafasannya.
“ Loh ini ada Andry ternyata. Ada apa kesini tumben banget.” Ucap Ira sambil mengedarkan pandangannya, seolah mencari sosok dari arah luar.
“ Bunda mana?.” Sambungnya terus mencari. Ternyata mencari sosok ibunda Andry yang dia pikir ikut bersama kedua anak muda dihadapannya.
“ Bunda dirumah tante, kita Cuma berdua kok kesini.” Sahut Devi cengengesan.
“ Loh tumben bunda gak ikut, ada apa?.” Tanyanya. Biasanya Devi selalu datang ketoko bersama ibundanya, jarang bahkan bisa dihitung berapa kali dia datang sendiri ketoko ini.
“ Iya tante, tadi kita buru-buru kesini. Lagian kita juga belum sempat pulang kerumah kok tante.” Jawabnya lagi, menjelaskan kenapa mereka hanya berdua saja.
“ Iya tante, lihat aku aja masih pakai seragam sekolah hehehe.” Sahut Andry ikut nimbrung ditengah-tengah pembicaraan Devi dan Ira.
Andry berjalan menyusuri seisi ruangan, melihat-lihat benda yang ada disana. Mulai dari baju, celana, tas, sandal hingga sepatu. Mengambil beberapa benda yang menurutnya bagus, kemudian nanti akan meminta saran sang kakak. Andry mengambil sebuah heels berwarna merah dengan dipenuhi gliter-gliter disemua sisinya. Kemudian juga mengambil sebuah mini dress berwarna putih terang, lengannya sebelah panjang dan sebelah rumpang. Tersenyum sambil membayangkan jika Fani sedang mengenakan dress yang dia pegang, ah pasti sangat
cocok dan elegan.
“ Hah pasti kau cantik sekali saat memakai dress pilihanku ini, aaah aku tidak sabar. Baiklah kau akan memakai dress ini saat ulang tahunmu nanti, harus.” Gumamnya tersenyum simpul. Berjalan mendekati Devi yang masih asyik berbincang-bincang dengan pemilik toko ini. Dengan kedua tangan dipenuhi barang-barang pilihannya, Andry mendekat dan duduk disebelah Devi. Tangannya diangkat tepat dihadapan Devi, ya benar meminta saran apakah pilihannya bagus atau tidak.
__ADS_1
“ Bagus gak kak?.” Ucapnya sembari menurun naikkan alisnya. Bibirnya tersenyum lebar dan berharap kali ini sang kakak tidak lagi menghina seleranya.
“ Wah bagus sekali pilihanmu ya.” Sahut tante Ira dari depan. Tersenyum dan bertepuk tangan memuji selera Andry yang cukup bagus dalam hal pakaian.
“ Heheheh makasih tante.” Ucapnya cengengesan. Merasa sangat tersanjung mendengar pujian sang pemilik toko, dadanya tampak membusung sombong.
Kau dengar kan Devi? Tante Ira saja memuji seleraku, huh kau yang sebenarnya payah. Aku pasti tau
memilih yang bagus untuk orang yang spesial bagiku, kecuali kau hahahaha mungkin aku akan memilih sembarangan.
“ Hmm boleh juga, emang lo mau beli dua-duanya? Tapi tadi kan tasnya warna kuning kunyit, mending lo cari heels yang warnanya agak lebih gelap. Biar bisa sekalian dipadu-padankan. Sekaligus deh nanti pacar lo pakai barang pemberian lo.” Ucapnya memberi saran. Menimbang-nimbang dari segi warna tas yang tadi mereka beli.
“ Oh gitu ya? Gue kan gak ngerti caranya padu-padankan warna.” Sahutnya mengangguk-angguk pelan. Mencerna semua yang diucapkan oleh Devi. Benar, kali ini penolakannya masuk akal. Cukup ada kemajuan karena kali ini Devi tidak lagi mengejek dan menghina seleranya dalam memilih pakaian.
“ Yaudah deh gue lihat-lihat lagi. Tapi dressnya bagus kan? Gue pengen dia pakai nanti dihari ulang tahunnya.” Sambungnya sembari mengembangkan dress itu dihadapan Devi.
“ Oke kali ini selera lo cukup bagus. Mending sekarang kita pilih heels yang cocok sama dressnya.” Ucapnya beranjak dan keluar dari ruangan. Melangkah menuju tempat dimana banyak heels yang bisa dia temukan, mencoba menimbang-nimbang apakah bagus atau tidak jika dipadu padankan.
“ Oke ini lebih bagus, lebih cocok.” Ucapnya sembari mendekati Andry dan membawa sepasang heels berwarna coklat tua.
__ADS_1
“ Oke. Yuk buruan nanti bunda cariin karena kemalaman pulangnya.” Ucapnya sambil meraih heels yang diberikan oleh sang kakak.
Andry segera membayar dress dan heels yang dipegangnya, kemudian segera menuju mobil dan melajukannya kembali kerumah. Tampak sudah mulai gelap dan hampir pukul 7 malam, tanpa terasa sudah 3 jam mereka berkeliling mencari hadiah untuk kekasihnya. Mungkin rasa excited yang menyebabkan dirinya lupa waktu dan tidak lelah, padahal Andry adalah orang yang sangat malas berbelanja apalagi menemani wanita berbelanja. Tapi kali ini demi sang makhluk spesial dihatinya dia rela berbelanja berjam-jam hingga mengantri sangat panjang.