
Fani tertidur disofa dengan tv yang masih menyala. Sebelah tangannya menggenggam ponsel dan sebelahnya lagi dijadikan bantalan kepala. Tidurnya lelap sekali, mungkin pengaruh obat yang diminum nya tadi pagi. Hari ini Fani sendirian dirumah, ibu pergi berbelanja kebutuhan bersama dengan ayah. Fani tak sadar beberapa kali ponselnya berdering sampai ponselnya mati kehabisan batrai. Suara yang keras dari tv membuat Fani terbangun dari tidurnya.
" Aaa bangun pun aku masih sendirian dirumah ini." Fani menggerutu. Mengambil ponselnya yang mati sedari tadi.
" Ah ponsel pun mati." Beranjak dari sofa mendekat tv untuk mengecas ponselnya.
Fani menghidupkan ponsel, melihat beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari pria gila yang akhir-akhir ini mengejarnya.
" Pagi gadis cantik ku, gimana kabarmu? Udah mendingan?."
" Kamu sekolah gak? Udah beberapa hari aku gak liat kamu disekolah."
" Hey, kamu dimana? Kenapa ponsel mu mati?."
" Kamu baik-baik aja kan? Aku jadi khawatir padamu."
Fani mengerutkan dahinya membaca pesan tak terduga dari Andry. Benar-benar menjijikan. Berkali-kali Fani menggidikan bahu nya geli. Memikirkan lelaki pengirim pesan ini. Kenyataan berbanding terbalik dengan yang dikatakan Sophia.
" Ini definisi cool dan jarang merespon wanita?." Menggerutu sabil menekan-nekan layar ponselnya.
__ADS_1
" Eh tunggu, apa dia bilang? Cantikku?." Fani menggidikan bahu dan menjulurkan lidahnya seolaah ingin muntah.
" Bisa-bisanya jari najisnya itu mengetik pesan alay gini." Fani terus bergumam kesal.
" Aaaa kenapa sih dia jadi ngejar-ngejar aku gini. Aku cuma mau kontakmu Andry kenapa kau datang menyerahkan diri sih." Fani berteriak frustasi.
Fani merebahkan tubuhnya dilantai, tak sanggup membayangkan jika Andry benar-benar menyukai dirinya. Bisa-bisa buruk kisah hidupnya. Awalan yang buruk, tentu saja kedepannya ikut menjadi buruk.
Ya Tuhan, bisa buruk kisah hidupku kalau pria itu benar menyukaiku. Aku sebut ini apa tuhan? Nikmat atau bala?.
*******
" Hallo Fan. Sorry ya gue gak bisa nemenin lo hari iini. Soalnya gue ada eskul abis pulang sekolah." Ucap Sophia.
" Yah. Gue bosan banget ni dirumah sendirian." Suara Fani terdengar liriih sedih.
" Maaf ya Fan, tapi nanti abis pulang eskul gue beliin deh pesanan lo." Sophia memberi tawaran.
" Yaudah deh Sop, bye." Dengan suara berat Fani memutuskan sambungan telfon.
__ADS_1
Fani kembali merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk itu. Mukanya kusut masam karena tak ada satupun yang menemaninya menghilangkan rasa bosan.
" Kalau giini ceritanya sih mending tidur aja lagi." Gumamnya menenggelamkan wajah dibantal.
" Pokonya besok harus sekolah. Gak mau tau titik." Teriaknya memenuhi ruangan. Kemudian ia kembali terlelap dalam tidurnya hingga sore hari. Libur Fani dipenuhi dengan tidur dan bermimpi.
Suara ibu terngiang-ngiang ditelinga Fani. Memaksanya untuk bangun dan meninggalkan alam mimpi. Dengan berat matanya perlahan terbuka dan menyapu kesekelilingnya. Fani berkali-kali mengucek mata agar penglihatannya lebih jelas.
" Bangun Fan, udah sore. Anak gadis kok tidurnya sampai sore begini sih." Sahut ibu dari dapur.
" Iya bu." Jawabnya pelan. Fani melangkah menuju dapur dan melihat ada sekotak salad beserta nasi goreng kesukaannya.
" Bu, ini siapa yanng beli?." Tanya Fani sambil tanganya meraih kedua makanan itu.
" Tadi Sophia yang beliin buat kamu. Tapi tidurmu pulas sekali, jadi Sophia hanya mampir sebentar." Sahut ibu.
Fani tak berbicara lagi dan langsung menyantap salad buah yang dia inginkan sejak tadi. Mengucapkan terimakasih pada Sophia didalam hatinya berkali-kali.
" Terimakasih Sophia teman baikku. Kau memang paling bisa diandallkan." Batinnya. Dengan cepat Fani menghabiskan sekotak salad yang lezat itu. Kemudian beranjak mengambil ponsel untuk mengatakan terimakasih pada sahabatnya Sophia. Jari-jari Fani yang llihai mengetik pesan dengat cepat, berisikan ucapan terimakasih versi formal yang jatuhnya malah alay hehehe.
__ADS_1
" Terimakasih saya ucapkan kepada rekan saya Sophia yang telah membantu untuk membelikan makanan yang saya inginkan. Terimakasih tak terkira saya sampaikan kepada saudari yang sangat bisa diandalkan. Mohon kedepannya tetap bisa saya andalkan ya hehehehe." Fani terkekeh geli.