
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Sophia dan siswa lainnya bergegas mengemasi barang-barang milik mereka. Fani yang sedari tadi berdiam diri didalam ruang UKS pun segera beranjak untuk mengambil barang-barangnya dikelas. Hari ini siswa kelas X memang pulang lebih lambat dari kelas yang lain, disebabkan karena perbedaan kurikulum. Fani berjalan menyusuri koridor, dari jauh melihat sosok Sophia yang nampak terburu-buru meninggalkan kelas.
" Eh Sophia." Fani berteriak dan berlari mendekati Sophia.
" Iya." Sophia menghentikan langkahnya dan mencari sumber suara.
" Buru-buru amat. Gue pulanng bareng lo hari ini ya." Fani berhenti disebelah Sophia.
" Aduh sorry ya Fan, gue buru-buru nih mau jemput nyokap gue disekolahnya. Mobil lagi dibengkel nih, sorry ya Fan." Sophia tergesa-gesa berbicara.
" Yah, gue pulang sama siapa dong. Yuadah deh lo hati-hati ya." Fani memajukan bibirnya.
" Sorry ya Fan. Gue balik dulu ya. Bye." Sophia bergegas melangkah menjauhi Fani. Mempercepat langkahnya menuju parkiran.
Sementara Fani kembali kedalam kelas untuk mengambil tas dan barang lainnya. Mengedarkan pandangan ke sekelliling, sepi. Hanya tinggal dirinya sendiri didalam kelas. Fani bergegas keluar dan duduk didepan kelas. Meraih ponsel mencoba menghubungi Joo berkali-kali, namun tak ada jawaban. Fani masih menunggu, berharap Joo sedang diperjalanan menjemputnya. Sudah hampir 25 menit Fani menunggu, Joo tak kunjung terlihat. Sekolah terlihat sangat sepi, hanya ada beberapa petugas dan penjaga yang sibuk membersihkan pekarangan.
" Sunyi banget sih. Masa iya nunggu disini sampai malam. Udah sore banget malahan, kenapa belum ada yang jemput." Fani bergumam sedih. Menyalakan kembali ponselnya dan mencoba menghubungi Joo, namun masih sama tak ada jawaban.
" Aaaa batrai ponselku udah sakaratul maut." Meringis saat melihat daya ponselnya tinggal sedikit.
" Matilah aku disini sampai malam." Sambungnya. Fani terus menangis dalam hati, mengedarkan pandangan menyapu semua sudut sekolah.
Dari kejauhan terlihat petugas kebersihan berjalan mendekatinya, membawa sapu dan beberapa peralatan lainnya. Petugas itu menghampiri Fani, mengatakan jika pagar akan segera dikunci.
" Nak, sudah pukul 17:00 WIB kenapa belum pulang?." Tanya wanita parubaya yang duduk disebelah Fani itu.
" Masih nunggu dijemput bu." Fani menunduk sedih.
" Sebentar lagi pagar akan dikunci. Hubungi keluargamu, minta segera menjemput." Wanita itu menyeka keringat yang memenuhi hampir semua wajahnya.
__ADS_1
" Ibu tinggal dulu ya." Sambungnya. Lalu beranjak meninggalkan Fani terduduk sepi.
Fani hanya melirik jam yang melingkar ditangannya berkali-kali. Masih berharap jika Joo akan menjemputnya. Namun sosok yang diharap-harapkan itu tak kunjung datag. Terdengar suara mobil memasuki pekarangan sekolah, berkali-kali membunyikan klakson. Sebuah mobil berwarna hitam melaju kearah Fani yang tertunduk lesu didepan kelas. Fani tak menghiraukan siapa yang datang, pikirannya hanya bagaimana caranya untuk pulang sebelum pagar sekolah dikunci. Mobil hitam tersebut berhenti persisi didepan kelas, dimana Fani terduduk diam menunggu. Terdengar suara lelaki yang membuat Fani kaget dan spontan mendongak kan kepala.
" Hey, udah lama nunggu ya." Berjalan mendekati Fani.
" Eh kok kak Andry ada disini sih?." Jawab Fani pucat pasi.
" Kan aku udah bilang mau jemput kamu hari ini." Andry tersenyum tipis dan menarik tangan Fani agar siempunya segera berdiri. " Yuadah yuk pulang." Andry menarik pelan tangan Fani.
Masa gue harus pulang sama dia sih? Tapi kalau bukan sama dia sama siapa lagi? Ini kenapa moment nya pas banget sih. Jangan bilang semesta bekerjasama dengannya.
" Loh, kok masih bengong sih. Ayok pulang." Andry kembali menarik tangan Fani.
" Yaudah. Terpaksa deh gue pulang bareng dia. Daripada gue nunggu disini sampai malam." Batinnya bergumam. Fani beranjak dan mengikuti langkah Andry menuju mobil berwarna hitam itu.
Andry membuka pintu dan mempersilahkan Fani untuk masuk kedalam mobil hitam miliknya itu.
" Silahkan masuk tuan puteri." Andry mempersilahkan seolah menjadi pengawal Fani. Fani hanya membalas dengan senyuman melihat tingkah Andry, lalu bergegas masuk.
" Idih, najis deh liat gayanya." Gumamnya dalam hati.
Andry sudahh menyalakan mesin dan siap untuk melajukan mobil kesayangannya itu. Andry terlihat keren sore ini,
memakai kaos hitam polos dilengkapi jaket levi's dipadu dengan jeans pendek dan sepatu hitam. Benar-benar tampan. Fani melirik penampilan Andry dari kepala hingga kaki, heran dengan pria yang ada disebelahnya.
" Nih cowok gila abis dari mana. Begini amat gaya nya." Fani bergumam dalam hati melihat gaya Andry sore itu.
__ADS_1
" Maaf ya kamu jadi nunggu lama." Andry menatap Fani dan tersenyum.
" Hampi satu jam pula. Pasti kamu kesal ya? Maaf ya cantikku." Andry memegang tangan Fani pelan. Lalu beradu pandang dan tersenyum pada Fani. Sontak Fani langsung menarik tangannya, mengutuk dalam hati.
Ah bener dugaan gue. Nih cowo mesum ! Sembarangan pegang-pegang tangan gue. Lagian pede banget sih, gue gak nungguin lo. Tapi karena lo muncul diwaktu yang tepat yaudah gue embat aja.
" Eh.. I.iyaa.. Gapapa kok kak." Fani menjawab terbata-bata dan tersenyum paksa.
Mobil Andry melaju membelah jalanan yang ramai sore itu. Namun mobilnya tak melaju menuju rumah Fani, melainkan kesebuah tempat yang sebelumnya sudah dia pesan. Fani menyadari jika jalanan yang mereka tempuh bukanlah jalan menuju rumahnya. Rasa cemas memnyeruak dari dalam hatinya, pikirannya berakar entah kemana-mana. Mungkinkah Andry akan menculiknya, memperkosa atau yang lebih seram membunuhnya. Pikiran kotor itu bergelayut dalam pikiran Fani. Mukanya menjadi pucat, Fani terus menerka-nerka kemana sebenarnya mereka akan pergi.
" Kok diam Fan? Kamu masih sakit ya?." Giliran Andry yang merasa cemas melihat wajah Fani berubah menjadi pucat.
" Kita mau kemana kak? Ini kan bukan jalan kerumah ku?." Fani bertanya dengan suara lirih.
" Kak Andry gak macem-macem kan? Jangan bilang mau culik aku ! Atau kak Andry mau men*daiku ya?." Fani meninggikian suaranya. Tiba-tiba terlintas dipikirannya jika Andry adalah lelaki mesum.
" Apaan sih. Udah kamu diam aja ya gadis kecil, cantik ku. Aku gak bakal macam-macam kok." Andry terkekeh mendengar ucapan Fani. " Aku janji kok." Sambungnya. Mendengar kata-kata Andry, Fani terdiam dan tak berbicara lagi. Meskipun dalam hatinya tetap cemas memikirkan kemana Andry membawanya.
" Kamu takut ya? Aku gak bakal macam-macam kok Fan. Cuma mau ajak kamu kesuatu tempat aja." Andry seolah mengetahui kecemasan Fani.
" Mau kemana?." Dengan cepat Fani menjawab.
" Ada deh. Biar jadi kejutan. Bentar lagi juga sampai kok." Andry kembali terkekeh melihat wajah penasaran Fani.
Tolong jangan sering-sering beri aku kejutan. Hidupmu penuh kejutan.
Tak lama kemudian mobil Andry berhenti disebuah cafe dipinggir kota. Andry mematikan mesin mobil dan tersenyum manis pada gadis disebelahnya. Wajah Fani yang cemas dan ditekuk benar-benar menggemaskan baginya.
" Udah sampai nih, ayo turun." Andry menepuk pelan punndak Fani. Fani hanya menganngkat allisnya dan mengangguk mengiyakan permintaan Andry.
__ADS_1
Sebuah cafe bernuansa alam terbuka menjadi pilihan untuk kencan dadakan mereka. Andry menarik tangan Fani untuk naik kelantai atas. Hanya ada beberapa pasang kursi dilantai itu. Kursi ujung menjadi pilihan Andry untuk menghabiskan sorenya bersama Fani. Pemandangan alam, angin sepoi-sepoi dan langit mendung melengkapi kencan pertama mereka. Fani hanya menatap penuh kebingung dengan apa yang dilakukan Andry padanya. Hatinya tak henti-henti menerka apa yang akan dilakukan pria dihadapannya itu.