
Sophia masih menggerutu dalam hati sambil menerka siapa wanita yang bersama Andry itu sebenarnya. Tidak mungkin itu hanya sebatas teman. Sejak kapan Andry berkencan dengan teman wanitanya? Yang dia tahu selama ini Andry hanya berkencan dengan kekasihnya Fani. Satu-satunya wanita yang dikencani Andry. Sophia merasa jika ada yang tidak beres, ada rahasia dan ada sesuatu yang harus dia ketahui.
“ Siapa kau sebenarnya? Tidak mungkin kau hanya teman Andry. Seumur-umur Andry tidak pernah kencan dengan temannya. Pasti ada kebenaran yang kalian sembunyikan dariku. Aku akan segera mencari tahu.” Gumamnya sembari berjalan pelan.
Sophia memilih untuk berhenti dan duduk disebuah tempat makan, memesan ice cream untuk meredam hatinya yang sedang panas. Kemudian meraih ponselnya dan melihat foto-foto Andry bersama wanita yang dia sebut Alea itu. Foto yang sempat Sophia ambil beberapa saat sebelum dia memanggil nama Andry, tentu saja dia tidak mau melewatkan momen langka ini. Akan dijadikan pelengkap misinya jika nanti foto-foto dan video yang diunggahnya tidak mampu membuat Fani tersulut emosi dan memutuskan hubungan dengan Andry.
“ Hehehehe tercyduk deh.” Gumamnya sambil tertawa melihat foto-foto Andry dan Alea.
“ Nanti ini bakal jadi foto terakhir yang akan aku unggah, nampaknya dari ketiga postingan yang kuunggah kemarin tidak memberi efek apapun kepada Fani.” Lanjutnya sedikit kesal karena Fani tidak memberi respon apapun. Berarti Fani sama sekali tidak cemburu dan marah dong ya.
Tidak ada efek kepalamu ! Sudah jelas-jelas hubungan mereka kacau dan tidak jelas itu semua karena ulahmu, karena postinganmu.
Sophia terus menggeser foto-foto yang diambilnya, sembari menikmati sebuah ice cream ditangannya. Menenangkan hatinya yang panas karena terbakar rasa cemburu, kemudian mencoba menyusun rencana untuk misi selanjutnya. Padahal dia tidak tahu jika Andry dan Fani sudah putus karena ulahnya. Sophia malah mengunggah foto memgang setangkai bunga mawar dan diberi tulisan ‘ Terimakasih ‘. Tidak lupa juga menyertakan emoji berbentuk hati. Seketika Sophia melupakan tujuannya datang ketempat ini, datang kemall ini. Malah asyik melancarkan misinya, hingga lupa jika ada teman-teman yang sudah sejak tadi menunggu kedatangannya.
“ Huh semoga hatimu perlahan-lahan rapuh seiring seringnya kau melihat unggahanku.” Gumamnya tersenyum senang. Membayangkan betapa sakitnya hati Fani melihat status yang diunggahnya beberapa hari terakhir ini. Terlebih lagi tiga postingannya kemarin semua berhubungan dengan Andry, pasti secara tidak langsung dia sudah tau maksud dan tujuan postingan dia yang baru ini.
“ Ya tuhan. Gue udah telat hampir satu jam. Ah ****** gue. Malah nangkring disini lagi.” Lanjutnya tiba-tiba teringat jika dirinya datang kesini untuk menemui teman-temannya ditime zone.
“ Ini semua karena ketemu kak Andry dan cewe centil itu, kan gue jadi telat dan lupa sama tujuan utama gue kesini.” Sambungnya kemudian bergegas menuju lantai atas, menuju tempat yang sudah mereka janjikan.
“ Matilah gue diterkam sama anak singa.” Terus menggumam menyalahkan dirinya dan kemudian berlari sekuat tenaga mencari teman-temannya.
__ADS_1
****
Ditempat lain.
Sudah lama tidak terdengar kabar Al. Terlebih lagi semenjak cintanya ditolak oleh Fani. Al menghilang entah kemana, bahkan dia tidak tahu jika Fani dan Joo sudah pindah keluar kota. Sudah hampir setahun dia tidak bertemu dengan Joo dan Fani. Tidak pernah menelepon atau mengirim pesan hanya untuk sekedar bertanya kabar. Al benar-benar menghilang sejak saat itu, kemudian sekarang kembali lagi mencari-cari Joo dan keluarganya, terlebih mencari Fani yang sudah sejak lama tidak dia dengar kabarnya.
“ Udah lama banget ya gak dengar kabar tentang Fani dan Joo.” Gumamnya sembari menatap layar ponselnya, terpampang kontak Joo yang sudah sangat lama tidak pernah dia hubungi.
“ Gue telepon atau engga ya.” Lanjutnya bertanya dalam hati. Sudah mulai canggung untuk menelepon Joo yang dulu adalah sahabatnya. Meskipun ragu, Al tetap mencoba menghubungi. Memperbaiki kembali tali sialturahmi yang sudah lama tidak dia perbaiki. Sekali mencoba, tidak ada jawaban dari Joo sahabatnya. Kemudian mencoba berkali-kali hingga panggilan tersambung.
“ Hallo.” Ucapnya bersemangat ketika telepon terhubung.
“ Iya ini siapa?.” Sahut Joo dari telepon.
“ Ini gue woi Al temen lo, ah masa lupa sih.” Protesnya. Bisa-bisanya Joo tidak mengenali suaranya. Meskipun tidak mengenali nomornya tapi harusnya Joo mengenali dari suaranya.
“ Oh Al, ternyata lo masih hidup ya. Gue kira udah ko’it lo.” Sahutnya sambil tertawa.
“ Hahahaha sorry bro kemaren gue sibuk. Lagian gue juga udah pindah rumah.” Sambungnya memberi alasan.
“ Pindah kemana lo?.” Tanya Joo dari dalam telepon.
__ADS_1
“ Gue pindah kerumah nenek yang diperbatasan kota.” Jawabnya menjelaskan.
“ Gue mau main kerumah lo ni, udah lama juga kan, kangen.” Sambungnya. Mengatakan jika dirinya ingin datang berkunjung kerumah Joo sahabatnya. Selama hampir satu tahun dia tidak pernah berkunjung, alasannya karena dia pindah rumah dan kedua adalah waktu yang cukup lama itu dia pakai untuk move on dan melupakan perasaannya kepada Fani, adik dari sahabatnya sendiri.
“ Iya main kerumah baru gue dong bro. Udah lama banget lo gak main bareng gue.” Ucapnya anstusias ketika mendengar jika Al akan berkunjung kerumahnya.
“ Iya nanti gue kerumah lo ya.” Lanjutnya. Masih mengira jika Joo tinggal dirumah yang lama.
“ Gue udah pindah rumah bro.” Ucap Joo.
“ Lo pindah dijalan mana Joo?.” Tanya Al masih mengira jika mereka tinggal disatu kota.
“ Gue udah pindah keluar kota Al, udah hampir 4 bulan gue disini.” Ujarnya menjelaskan jika dirinya sudah pindah keluar kota sejak beberapa bulan lalu.
“ Sumpah lo. Kok gue baru tau sih?.” Jawabnya kaget, nada suaranya terdengar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya barusan.
“ Iya serius. Lagian gimana gue mau kasih tau lo, nomor lo aja gak aktif sejak beberapa bulan kemarin.” Tidak mau disalahkan dan berbalik menyalahkan Al yang tidak jelas tiba-tiba mengganti nomor teleponnya.
“ Yasudah kirim alamat lo, akhir pekan gue berkunjung kesana.” Ucapnya mengalah, sebagai gantinnya dia akan berkunjung kerumah baru sahabatnya. Sekalian ingin bertemu gadis yang dulu amat sangat dicintainya, siapa lagi jika bukann Fani si manis manja.
Hari ini adalah hari pertama setelah sekian purnama Al tidak menghubungi Joo. Sekalinya menghubungi langsung mendapat kabar jika Joo dan sekeluarga telah pindah keluar kota. Tidak pernah menyangka jika dia yang selama ini bersusah payah berusaha melupakan dan mengkarantina hatinya untuk tidak lagi berambisi memiliki Fani, namun tiba-tiba mulut lantamnya berani menyebut jika dia akan datang dan menemui Joo sekeluarga. Sudah bersusah payah melupakan lalu merusak kembali usaha yang sudah dia lakukan selama ini. Entah dia akan kembali berambisi memiliki Fani atau dia akan biasa saja nantinya ketika bertemu dengan Fani yang dulu sangat dia cintai.
__ADS_1