
Sudah berminggu-minggu
semenjak kepergian Andry, sudah berbulan-bulan pula semenjak kepergian Endrico.
Namun Fani masih nyaman dengan posisi tubuh yang berbelit, masih nyaman dengan
dua lelaki. Kemarin sempat bertekad akan memutuskan Endi, lalu entah kenapa
makin kesini Fani seolah lupa dengan tekadnya. Sekarang malah nyaman, bahkan
dia sudah bisa membagi waktu untuk kedua kekasihnya, serakah. Masalah ini hanya
Fani yang tahu, bahkan pada sahabatnya Irma pun Fani sudah tidak lagi berterus
terang. Mengatakan pada Irma bahwa dia
telah memutuskan hubungan dengan Endi dan setia pada Andry. Membohongi diri
sendiri dan orang lain, tapi itu kebahagiaan bagi diri Fani.
“ Heh, bengong aja.”
Irma menepuk pundak Fani, mengagetkan sang gadis yang tengah melamun sembari
menyantap ciki-ciki.
“ Hei.” Sahut Fani
seadanya, bahkan pandangannya tidak beralih dari jendela kamarnya.
“ Masa gue panggil
berkali-kali lo gak nyahut sih. Ah parah, ternyata lagi bengong cantik sambil
makan ciki-ciki hahahaha.” Irma terkekeh geli, kemudian merampas bungkus ciki
dari tangan Fani.
“ Lagi bengongin apa
sih lo.” Irma menghamburkan tubuhnya diatas ranjang, sudah tidak lagi mengenal
kata sungkan, sudah seperti rumah sendiri.
“ Woi! Bengongin apa sih lo. Berani-beraninya
lo kacangin gue yaaa.” Irma melempar Fani dengan bantal, kesal karena sejak
tadi diabaikan.
“ Ah pulang aja gue
kalau begini ceritanya.” Irma beranjak, ingin pulang saja.
“ Eh apasih, baru aja
datang masa udah mau pulang sih.” Fani beranjak, melompat keatas ranjang dan
menahan kaki Irma agar tidak bergerak.
“ Ngapa lo? Mending
pulang aja daripada disini Cuma dikacangin doang.” Ketus Irma kesal.
“ Iye, iye gue minta
maaf.” Fani bergelayut manja dipundak Irma.
“ Kenapa sih? Ada
masalah apa?.” Irma menatap Fani penuh curiga, tangannya diletakkan dikening
Fani, memastikan jika suhu tubuh sahabatnya normal atau tidak.
“ Hem, gapapa sih. Cuma
lagi kangen Andry aja.” Jawab Fani berbohong. Semenjak dia mulai berbohong,
sampai hari ini Fani sering sekali berbohong. Bahkan hampir semua yang
berhubungan dengan kekasihnya dan hubungan percintaannya dia pelintirkan
kebenarannya dari Irma.
“ Ya telepon dong.
Kangen ya tinggal telepon, tinggal video call. Apa susahnya sih.”
“ Hem, udah beda
server. Lo kan tau, disini siang disana malam. Gue mau telepon doi udah tidur,
pas doi bangun eh guenya yang tidur.” Ucap Fani memasang wajah sedih, seolah-olah
dia memang sedang merindukan Andry.
“ Beda server tu kalau
lo dibumi, doi di mars. Atau doi di dunia lo diakhirat, baru deh tu beda server
hahahaha.” Irma meledek Fani, tawanya menggema memenuhi seisi ruangan.
“ Anj*r lo. Gak ada
ahlak.” Ketus Fani kesal, kemudian melempar Irma dengan bantal.
“ Wkwkwkwk becanda
doang, piece.” Ucap Irma sembari mengangkat dua jari, kemudian diikuti tawa
cekikan yang menyebalkan.
“ Yaudah, jangan sedih
dong. Gue do’ain deh tu mas Andry secepatnya menghubungi lo. Meskipun beda
server gue harap lo bedua tetap langgeng dan saling setia, gak ada yang jadi
pengkhianat antara kalian berdua.” Irma mengatakan semuanya penuh harap.
Mendengar harapan Irma
seketika membuat Fani merasa tertampar, apalagi dibagian “ semoga gak ada yang
jadi pengkhianat antara kalian berdua”. Kata-kata yang benar-benar menusuk
jiwa, seolah Irma tau jika dirinya sedang mempermainkan hati orang, sedang
melakukan pengkhianatan.
Atau
jangan-jangan sebenarnya Irma tau kalau gue berbohong, apa dia tau kalau
sebenarnya gue belum mutusin salah satu diantara Andry dan Endi. Apa sebenarnya
dia tau tapi pura-pura gak tau.
“ Woi kenapa bengong
lo. Bener-bener hobi bengong ya lo Fan, awas aja jangan sampai kesambet setan.”
Irma menepis kaki Fani dengan kasar hingga membuat siempunya terperanjak kaget.
__ADS_1
“ Aww sakit.” Fani
meringis, kemudian membalas pukulan kasar dikaki Irma.
“ Berat amat beban
hdiup lo. Ada apa sih? Cerita dong sama gue. Kali aja gue bisa bantu.” Irma
selalu mengatakan hal yang sama ketika Fani tampak sedang dalam masalah,
menawarkan diri dengan sukarela untuk membantu Fani menebas masalah yang
dihadapinya.
“ Hem, gapapa kok. Gue
Cuma mikirin Andry doang. Gimana ya kehidupannya disana, apa dia bahagia? Apa
disana dia punya temen deket wanita, atau dia punya wanita lain disana?.” Tanya
Fani beruntun pada diri sendiri, padahal awalnya dia memikirkan tentang dirinya
yang tidak berperasaan. Tapi kenapa dia malah membalikkan fakta, seolah
mencurigai Andry melakukan pengkhianatan.
“ Hussshhh. Jangan
mikir yang macem-macem, nanti tuhan kabulin ****** lo. Ingat, dia udah komitmen
sama lo, dia pengen nikahin lo tahun depan. Cemburu dan curiga boleh, tapi lo
juga harus percaya sama pacar lo.” Ucap Irma dengan bijak, sudah seperti
pakarnya cinta. Padahal dia saja sudah lama menjomblo.
“ Nah, lo juga. Kalau
lo cinta dia, lo jangan macem-macem. Lo gak boleh ngelirik lelaki lain, ingat
lo juga udah bersedia dinikahi. Lo harus pegang teguh komitmen yang udah lo
bikin. Jangan ulangi kesalahan lo yang kemarin, serakah, haus kasih sayang.” Lanjut
Irma, ucapannya makin lama makin kejam, makin membuat Fani merasa tertampar.
*****
ni anak ya, makin banyak bicara makin teriris-iris hati gue dengernya. Ibarat
musuh ya, lo nyerang tepat banget ni didada. Mati gue rasanya.
“ Iya Ir, makasih ya.
Meskipun jomblo, lo emang paling bijak deh kalau soal cinta.” Fani berbalik
mengganggu Irma, gantian dia yang menertawai sahabatnya.
“ Eh enak aja,
gini-gini banyak yang naksir. Gue aja yang gak mau, kalau gue mau pasang dua
pasang tiga juga bisa.” Ketusnya tidak mau kalah, tidak akan membiarkan Fani menghina kejombloan dirinya.
“ Hahahaha, yaudah cari
dong. Pengen lihat deh lo kalau pacaran gimana? Bucin gak?.” Lanjut Fani
menantang Irma. Seolah saling perang ejek, mereka berusaha menjatuhkan teman.
“ Oke, lo lihat aja
nanti ya. Gue kasih lihat lo pacar gue, sampai ngences deh lo saking
kalah, Irma dengan penuh semangat membanggakan dirinya. Memang tidak bisa
dipungkiri, wajahnya yang cantik manis seringkali membuatnya dikelilingi banyak
lelaki. Hanya saja Irma yang belum tertarik, lebih suka dengan kesendirian yang
membuatnya nyaman.
“ Wkwkwkwk kalau cowok
lo lebih tampan dari Andry, gue traktir lo sepuasnya deh.” Fani tersenyum
jahat, seolah dia sedang meremehkan gadis cantik yang ada dihadapannya ini.
“ Hem.” Irma hanya
berdehem, masih bingung harus menjawab apa.
“ Tapi kalau cowok lo
gak lebih tampan dari Andry, siap-siap aja lo gue bully. Terlebih lagi awas aja
kalau sampai lo gak punya cowok hahahaha.” Fani tertawa terbaha-bahak. Dirinya
telah keluar dari dunia lamunan, sekarang malah berada didunia candaan.
Irma terdiam seketika,
ingin menyombongkan diri lagi tapi takut jika nanti dia tidak bisa menemukan
tambatan hati. Apalagi selama ini sangat sulit baginya untuk menemukan
seseorang yang cocok bagi dirinya, ini lah salah satu alasan kenapa dia masih
menjomblo hingga sekarang. Irma menimbang-nimbang, apakah dia harus memaksa
diri menerima orang yang sebenarnya tidak sesuai dengan tipenya. Apakah harus,
hanya demi tantangan yang diberikan oleh Fani. Namun dia juga tidak ingin
menyerah begitu saja, bisa-bisa disisa hidupnya dia selalu diejek dan
diremehkan oleh Fani.
“ Oke gue terima
tantangan lo. Tapi gue ganti hadiahnya, gue gak mau kalau hanya sekedar
traktiran.” Jawab Irma sembari menurun naikkan alisanya, membalas Fani dengan
senyum jahat.
“ Terus lo maunya
apa?.” Tanya Fani sedikit bingung, terlebih melihat Irma yang begitu semangat
menerima tantangannya.
“ Kalau gue menang, gue
mau lo tolak ajakan Andry buat menikah tahun depan.” Ucap Irma masih dengan
senyuman jahat.
“ Ha? Serius lo?.” Fani
terbelalak, tidak menyangka jika Irma malah meminta hal yang gila. Meskipun dia
masih ragu untuk menikah dengan Andry, namun dia juga tidak akan tega menolak
__ADS_1
Andry secara tiba-tiba, apalagi hanya karena sebuah tantangan sederhana.
“ Ahh enggak, enggak.
Gak mau gue. Itu sih namanya jebakan batman. Lo sengaja kan mau menarik gue
kelubang kejombloan lo, biar lo ada teman.” Lanjut Fani menggeleng-gelengkan
kepalanya berulang, menolak mentah-mentah permintaan gila sahabatnya ini.
“ Atau sebenarnya lo
iri ya gue udah dikeep dari sekarang, sedangkan lo belum ketemu yang pas. Ya
walaupun hanya sekedar untuk cinta-cintaan biasa, main-main doang.” Fani
terkekeh geli. Masih bisa membalikkan keadaan dan mengejek Irma dari sisi lain.
“ Takut lo?.” Ketus
Irma seadanya, sudah tidak mempan lagi dengan ejekan sahabatnya ini.
“ Hah? Takut? Ya engga
lah, Cuma gue malas aja taruhan-taruhan lelaki begini.” Fani melempar Irma
dengan bantal, kemudian meraih handuk
dan bergegas menuju kamar mandi.
“ Dah ah males gue
bahas beginian, mending mandi aja.” Lanjutnya sembari melambai-lambaikan
tangan. Meninggalkan Irma dengan wajah sombongnya.
“ Huuuh takut kan lo? Dasar
penge*ut.” Teriaknya sembari menatap Fani yang bergegas menuju kamar mandi.
Drrttttt….Drttttt….
Ponsel Fani berdering,
sebuah panggilan video dari Andry. Irma meraih ponsel milik Fani, kemudian
dengan penuh semangat menjawab panggilan tanpa izin pada pemiliknya terlebih
dahulu.
“ Hallo kak Andry.”
Sahut Irma dengan penuh semangat, tangannya melambai-lambai kekamera. Senyumnya
merekah, ini pertama kalinya dia melihat langsung wajah lelaki yang sering
diceritakan oleh sahabatnya.
“ Eh hai.” Andry membalas lambaian tangan, wajahnya tampak
kebingungan. Kenapa ponsel Fani ada pada orang lain.
“ Heheheh maaf ya kak
aku angkat telepon nya, soalnya Fani baru aja pergi.” Irma tersenyum
cengengesan, sadar bahwa yang dilakukannya ini kurang ajar. Tapi demi menghilangkan
rasa penasaran dengan wajah Andry, dia rela melakukan sesuatu yang melewati
batas.
“ Fani pergi kemana?.”
Tanya Andry semakin bingung.
“ Kekamar mandi
hahahahaa.” Tawa Irma menggema, memenuhi seisi ruang kamar. Ini pertama kalinya
dia bertatap muka langsung dengan Andry, tapi dia sudah berani mengganggunya,
sudah berani bercanda.
“ Oh hehehehe.” Andry
ikut terkekeh geli.
“ Ini pasti Irma ya.”
lanjut Andry memastikan.
“ Iya, kenalin gue
Irma, bestienya Fani.” Irma mengulurkan tangannya, seolah ingin mengajak Andry
bersalaman.
“ Hai, salam kenal. Gue
titip Fani ya, kalau dia nakal lo bilang ya sama gue. Tapi kalau lo yang ngajak
Fani banyak tingkah, habis lo.” Ucap Andry mengancam Irma, kemudian dia tertawa
puas melihat wajah gadis yang tadi mengajaknya becanda lalu tiba-tiba terdiam
mati kutu.
“ Siapa tu?.” Tiba-tiba
Fani muncul dengan handuk yang melingkar ditubuhnya.
“ Eh ini pacar lo,
sorry gue angkat teleponnya. Nih gue balikin sama lo.” Irma bergegas mendekati
Fani, menyerahkan ponsel yang masih menyala.
“ Eh kenapa lo angkat
sih, dasar lo ya gak ada ahlak.” Gerutu Fani, tangannya menjauh-jauhkan ponsel
agar tidak menyorot tubuhnya yang hanya mengenakan handuk saja.
“ Aaaa Irmaaaaaaa!.”
Fani meneriaki Irma yang sudah hilang entah kemana.
“ Aduh aku matiin dulu
ya kak Andry, soalnya aku Cuma handukan doang. Nanti aku telepon balik ya bye.”
Fani bergegas memutuskan sambungan telepon, kemudian mengejar Irma yang kurang
ajar itu.
“ Woi awas lo ya, gue
potong bebek angsa lo.” Teriak Fani menggema memenuhi rumahnya, mungkin
terdengar oleh seluruh penghuni rumah.
Bersambung...
__ADS_1