Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Selalu Ditantang


__ADS_3

Sudah berminggu-minggu


semenjak kepergian Andry, sudah berbulan-bulan pula semenjak kepergian Endrico.


Namun Fani masih nyaman dengan posisi tubuh yang berbelit, masih nyaman dengan


dua lelaki. Kemarin sempat bertekad akan memutuskan Endi, lalu entah kenapa


makin kesini Fani seolah lupa dengan tekadnya. Sekarang malah nyaman, bahkan


dia sudah bisa membagi waktu untuk kedua kekasihnya, serakah. Masalah ini hanya


Fani yang tahu, bahkan pada sahabatnya Irma pun Fani sudah tidak lagi berterus


terang. Mengatakan pada Irma bahwa  dia


telah memutuskan hubungan dengan Endi dan setia pada Andry. Membohongi diri


sendiri dan orang lain, tapi itu kebahagiaan bagi diri Fani.


“ Heh, bengong aja.”


Irma menepuk pundak Fani, mengagetkan sang gadis yang tengah melamun sembari


menyantap ciki-ciki.


“ Hei.” Sahut Fani


seadanya, bahkan pandangannya tidak beralih dari jendela kamarnya.


“ Masa gue panggil


berkali-kali lo gak nyahut sih. Ah parah, ternyata lagi bengong cantik sambil


makan ciki-ciki hahahaha.” Irma terkekeh geli, kemudian merampas bungkus ciki


dari tangan Fani.


“ Lagi bengongin apa


sih lo.” Irma menghamburkan tubuhnya diatas ranjang, sudah tidak lagi mengenal


kata sungkan, sudah seperti rumah sendiri.


 “ Woi! Bengongin apa sih lo. Berani-beraninya


lo kacangin gue yaaa.” Irma melempar Fani dengan bantal, kesal karena sejak


tadi diabaikan.


“ Ah pulang aja gue


kalau begini ceritanya.” Irma beranjak, ingin pulang saja.


“ Eh apasih, baru aja


datang masa udah mau pulang sih.” Fani beranjak, melompat keatas ranjang dan


menahan kaki Irma agar tidak bergerak.


“ Ngapa lo? Mending


pulang aja daripada disini Cuma dikacangin doang.” Ketus Irma kesal.


“ Iye, iye gue minta


maaf.” Fani bergelayut manja dipundak Irma.


“ Kenapa sih? Ada


masalah apa?.” Irma menatap Fani penuh curiga, tangannya diletakkan dikening


Fani, memastikan jika suhu tubuh sahabatnya normal atau tidak.


“ Hem, gapapa sih. Cuma


lagi kangen Andry aja.” Jawab Fani berbohong. Semenjak dia mulai berbohong,


sampai hari ini Fani sering sekali berbohong. Bahkan hampir semua yang


berhubungan dengan kekasihnya dan hubungan percintaannya dia pelintirkan


kebenarannya dari Irma.


“ Ya telepon dong.


Kangen ya tinggal telepon, tinggal video call. Apa susahnya sih.”


“ Hem, udah beda


server. Lo kan tau, disini siang disana malam. Gue mau telepon doi udah tidur,


pas doi bangun eh guenya yang tidur.” Ucap Fani memasang wajah sedih, seolah-olah


dia memang sedang merindukan Andry.


“ Beda server tu kalau


lo dibumi, doi di mars. Atau doi di dunia lo diakhirat, baru deh tu beda server


hahahaha.” Irma meledek Fani, tawanya menggema memenuhi seisi ruangan.


“ Anj*r lo. Gak ada


ahlak.” Ketus Fani kesal, kemudian melempar Irma dengan bantal.


“ Wkwkwkwk becanda


doang, piece.” Ucap Irma sembari mengangkat dua jari, kemudian diikuti tawa


cekikan yang menyebalkan.


“ Yaudah, jangan sedih


dong. Gue do’ain deh tu mas Andry secepatnya menghubungi lo. Meskipun beda


server gue harap lo bedua tetap langgeng dan saling setia, gak ada yang jadi


pengkhianat antara kalian berdua.” Irma mengatakan semuanya penuh harap.


Mendengar harapan Irma


seketika membuat Fani merasa tertampar, apalagi dibagian “ semoga gak ada yang


jadi pengkhianat antara kalian berdua”. Kata-kata yang benar-benar menusuk


jiwa, seolah Irma tau jika dirinya sedang mempermainkan hati orang, sedang


melakukan pengkhianatan.


Atau


jangan-jangan sebenarnya Irma tau kalau gue berbohong, apa dia tau kalau


sebenarnya gue belum mutusin salah satu diantara Andry dan Endi. Apa sebenarnya


dia tau tapi pura-pura gak tau.


“ Woi kenapa bengong


lo. Bener-bener hobi bengong ya lo Fan, awas aja jangan sampai kesambet setan.”


Irma menepis kaki Fani dengan kasar hingga membuat siempunya terperanjak kaget.

__ADS_1


“ Aww sakit.” Fani


meringis, kemudian membalas pukulan kasar dikaki Irma.


“ Berat amat beban


hdiup lo. Ada apa sih? Cerita dong sama gue. Kali aja gue bisa bantu.” Irma


selalu mengatakan hal yang sama ketika Fani tampak sedang dalam masalah,


menawarkan diri dengan sukarela untuk membantu Fani menebas masalah yang


dihadapinya.


“ Hem, gapapa kok. Gue


Cuma mikirin Andry doang. Gimana ya kehidupannya disana, apa dia bahagia? Apa


disana dia punya temen deket wanita, atau dia punya wanita lain disana?.” Tanya


Fani beruntun pada diri sendiri, padahal awalnya dia memikirkan tentang dirinya


yang tidak berperasaan. Tapi kenapa dia malah membalikkan fakta, seolah


mencurigai Andry melakukan pengkhianatan.


“ Hussshhh. Jangan


mikir yang macem-macem, nanti tuhan kabulin ****** lo. Ingat, dia udah komitmen


sama lo, dia pengen nikahin lo tahun depan. Cemburu dan curiga boleh, tapi lo


juga harus percaya sama pacar lo.” Ucap Irma dengan bijak, sudah seperti


pakarnya cinta. Padahal dia saja sudah lama menjomblo.


“ Nah, lo juga. Kalau


lo cinta dia, lo jangan macem-macem. Lo gak boleh ngelirik lelaki lain, ingat


lo juga udah bersedia dinikahi. Lo harus pegang teguh komitmen yang udah lo


bikin. Jangan ulangi kesalahan lo yang kemarin, serakah, haus kasih sayang.” Lanjut


Irma, ucapannya makin lama makin kejam, makin membuat Fani merasa tertampar.


*****


ni anak ya, makin banyak bicara makin teriris-iris hati gue dengernya. Ibarat


musuh ya, lo nyerang tepat banget ni didada. Mati gue rasanya.


“ Iya Ir, makasih ya.


Meskipun jomblo, lo emang paling bijak deh kalau soal cinta.” Fani berbalik


mengganggu Irma, gantian dia yang menertawai sahabatnya.


“ Eh enak aja,


gini-gini banyak yang naksir. Gue aja yang gak mau, kalau gue mau pasang dua


pasang tiga juga bisa.” Ketusnya tidak  mau kalah, tidak akan membiarkan Fani menghina kejombloan dirinya.


“ Hahahaha, yaudah cari


dong. Pengen lihat deh lo kalau pacaran gimana? Bucin gak?.” Lanjut Fani


menantang Irma. Seolah saling perang ejek, mereka berusaha menjatuhkan teman.


“ Oke, lo lihat aja


nanti ya. Gue kasih lihat lo pacar gue, sampai ngences deh lo saking


kalah, Irma dengan penuh semangat membanggakan dirinya. Memang tidak bisa


dipungkiri, wajahnya yang cantik manis seringkali membuatnya dikelilingi banyak


lelaki. Hanya saja Irma yang belum tertarik, lebih suka dengan kesendirian yang


membuatnya nyaman.


“ Wkwkwkwk kalau cowok


lo lebih tampan dari Andry, gue traktir lo sepuasnya deh.” Fani tersenyum


jahat, seolah dia sedang meremehkan gadis cantik yang ada dihadapannya ini.


“ Hem.” Irma hanya


berdehem, masih bingung harus menjawab apa.


“ Tapi kalau cowok lo


gak lebih tampan dari Andry, siap-siap aja lo gue bully. Terlebih lagi awas aja


kalau sampai lo gak punya cowok hahahaha.” Fani tertawa terbaha-bahak. Dirinya


telah keluar dari dunia lamunan, sekarang malah berada didunia candaan.


Irma terdiam seketika,


ingin menyombongkan diri lagi tapi takut jika nanti dia tidak bisa menemukan


tambatan hati. Apalagi selama ini sangat sulit baginya untuk menemukan


seseorang yang cocok bagi dirinya, ini lah salah satu alasan kenapa dia masih


menjomblo hingga sekarang. Irma menimbang-nimbang, apakah dia harus memaksa


diri menerima orang yang sebenarnya tidak sesuai dengan tipenya. Apakah harus,


hanya demi tantangan yang diberikan oleh Fani. Namun dia juga tidak ingin


menyerah begitu saja, bisa-bisa disisa hidupnya dia selalu diejek dan


diremehkan oleh Fani.


“ Oke gue terima


tantangan lo. Tapi gue ganti hadiahnya, gue gak mau kalau hanya sekedar


traktiran.” Jawab Irma sembari menurun naikkan alisanya, membalas Fani dengan


senyum jahat.


“ Terus lo maunya


apa?.” Tanya Fani sedikit bingung, terlebih melihat Irma yang begitu semangat


menerima tantangannya.


“ Kalau gue menang, gue


mau lo tolak ajakan Andry buat menikah tahun depan.” Ucap Irma masih dengan


senyuman jahat.


“ Ha? Serius lo?.” Fani


terbelalak, tidak menyangka jika Irma malah meminta hal yang gila. Meskipun dia


masih ragu untuk menikah dengan Andry, namun dia juga tidak akan tega menolak

__ADS_1


Andry secara tiba-tiba, apalagi hanya karena sebuah tantangan sederhana.


“ Ahh enggak, enggak.


Gak mau gue. Itu sih namanya jebakan batman. Lo sengaja kan mau menarik gue


kelubang kejombloan lo, biar lo ada teman.” Lanjut Fani menggeleng-gelengkan


kepalanya berulang, menolak mentah-mentah permintaan gila sahabatnya ini.


“ Atau sebenarnya lo


iri ya gue udah dikeep dari sekarang, sedangkan lo belum ketemu yang pas. Ya


walaupun hanya sekedar untuk cinta-cintaan biasa, main-main doang.” Fani


terkekeh geli. Masih bisa membalikkan keadaan dan mengejek Irma dari sisi lain.


“ Takut lo?.” Ketus


Irma seadanya, sudah tidak mempan lagi dengan ejekan sahabatnya ini.


“ Hah? Takut? Ya engga


lah, Cuma gue malas aja taruhan-taruhan lelaki begini.” Fani melempar Irma


dengan bantal,  kemudian meraih handuk


dan bergegas menuju kamar mandi.


“ Dah ah males gue


bahas beginian, mending mandi aja.” Lanjutnya sembari melambai-lambaikan


tangan. Meninggalkan Irma dengan wajah sombongnya.


“ Huuuh takut kan lo? Dasar


penge*ut.” Teriaknya sembari menatap Fani yang bergegas menuju kamar mandi.


Drrttttt….Drttttt….


Ponsel Fani berdering,


sebuah panggilan video dari Andry. Irma meraih ponsel milik Fani, kemudian


dengan penuh semangat menjawab panggilan tanpa izin pada pemiliknya terlebih


dahulu.


“ Hallo kak Andry.”


Sahut Irma dengan penuh semangat, tangannya melambai-lambai kekamera. Senyumnya


merekah, ini pertama kalinya dia melihat langsung wajah lelaki yang sering


diceritakan oleh sahabatnya.


“ Eh hai.” Andry  membalas lambaian tangan, wajahnya tampak


kebingungan. Kenapa ponsel Fani ada pada orang lain.


“ Heheheh maaf ya kak


aku angkat telepon nya, soalnya Fani baru aja pergi.” Irma tersenyum


cengengesan, sadar bahwa yang dilakukannya ini kurang ajar. Tapi demi menghilangkan


rasa penasaran dengan wajah Andry, dia rela melakukan sesuatu yang melewati


batas.


“ Fani pergi kemana?.”


Tanya Andry semakin bingung.


“ Kekamar mandi


hahahahaa.” Tawa Irma menggema, memenuhi seisi ruang kamar. Ini pertama kalinya


dia bertatap muka langsung dengan Andry, tapi dia sudah berani mengganggunya,


sudah berani bercanda.


“ Oh hehehehe.” Andry


ikut terkekeh geli.


“ Ini pasti Irma ya.”


lanjut Andry memastikan.


“ Iya, kenalin gue


Irma, bestienya Fani.” Irma mengulurkan tangannya, seolah ingin mengajak Andry


bersalaman.


“ Hai, salam kenal. Gue


titip Fani ya, kalau dia nakal lo bilang ya sama gue. Tapi kalau lo yang ngajak


Fani banyak tingkah, habis lo.” Ucap Andry mengancam Irma, kemudian dia tertawa


puas melihat wajah gadis yang tadi mengajaknya becanda lalu tiba-tiba terdiam


mati kutu.


“ Siapa tu?.” Tiba-tiba


Fani muncul dengan handuk yang melingkar ditubuhnya.


“ Eh ini pacar lo,


sorry gue angkat teleponnya. Nih gue balikin sama lo.” Irma bergegas mendekati


Fani, menyerahkan ponsel yang masih menyala.


“ Eh kenapa lo angkat


sih, dasar lo ya gak ada ahlak.” Gerutu Fani, tangannya menjauh-jauhkan ponsel


agar tidak menyorot tubuhnya yang hanya mengenakan handuk saja.


“ Aaaa Irmaaaaaaa!.”


Fani meneriaki Irma yang sudah hilang entah kemana.


“ Aduh aku matiin dulu


ya kak Andry, soalnya aku Cuma handukan doang. Nanti aku telepon balik ya bye.”


Fani bergegas memutuskan sambungan telepon, kemudian mengejar Irma yang kurang


ajar itu.


“ Woi awas lo ya, gue


potong bebek angsa lo.” Teriak Fani menggema memenuhi rumahnya, mungkin


terdengar oleh seluruh penghuni rumah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2