
“ Hehehehehe aku kan bisa manfaatin nama mama. Pasti tu cewek gak bakal nolak deh kalau yang muncul dipermintaannya adalah mama.” Ucapnya terlonjak senang. Merasa jika ide berliannya kali ini akan berhasil satu milyar persen. Mengingat Fani adalah orang yang sangat menghargai dan menghormati orang yang lebih tua. Ini adalah kesempatan emas untuk Sophia bertanya semua yang ingin dia tanya dengan mengatasnamakan mamanya.
“ Maaf ya ma, kali ini aku jual nama mama. Tapi ini demi kebahagiaan anak mama juga, semoga mama ikhlas ya hehehe.” Lanjutnya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Dengan cepat Sophia membuat akun baru dengan menggunakan nama ibunya, membuat sebagus mungkin agar
Fani percaya jika itu benar ibunya. Memposting beberapa foto difeed agar Fani tidak curiga.
“ Hem semoga Fani gak curiga ya kalau ini bukan mamaku.” Ucapnya setelah selesai membuat akun baru dengan mengatasnamakan mamanya.
“ Sekarang tinggal jalani misi deh. Hei Sophia selamat datang kembali dipermainanku yang sempat tertunda.” Lanjutnya sembari menunggu diacc oleh Fani.
Flashback off
**
Sudah empat hari berlalu, ini adalah hari terakhir Andry mengikuti Ujian Nasional. Dengan demikian maka telah berakhir pula masa-masa SMA nya. Tidak ada lagi seragam dan upacara bendera. Kesedihan tampak pada sebagian siswa-siswa lainnya, namun berbeda dengan Andry. Rasa senang menghampirinya, sebab besok dia akan berangkat dan memulai petualangan dalam mencari cintanya. Berkelana keseluruh penjuru kota yang tidak pernah dia tempuh sebelumnya.
“ Huh akhirnya sudah selesai. Aku akan segera pulang dan mengemas barang-barang yang akan aku bawa besok.” Ucapnya sembari berjalan setengah lari menuju parkiran. Tidak memperdulikan teman-teman yang tampak masih berkumpul-kumpul didepan kelas.
__ADS_1
“ Eh An mau kemana lo? Buru-buru banget.” Teriak salah seorang teman yang membuat Andry menghentikan langkah kakinya dan berbalik kebelakang.
“ Gue buru-buru nih ada urusan mendadak.” Jawabnya memberi alasan.
“ Urusan apa sih? Ini terakhir kita pakai seragam sekolah, eh lo malah mau cabut duluan. Sini dong kita foto bareng dulu.” Lanjut Ardi sembari berjalan mendekati Andry yang sudah berdiri disebelah mobil.
“ Duh gue buru-buru banget serius deh.” Jawabnya meyakinkan Ardi jika dia memang ada urusan yang harus diselesaikan, mimic wajahnya pun dibuat semeyakinkan mungkin jika dia memang ada urusan yang sangat penting.
“ Ah gimana sih lo. Foto doang gak akan lama, paling Cuma berapa menitan.” Kali ini Ardi menarik lengan Andry agar mengikutinya kembali mendekati kelas dan kumpulan teman-teman.
“ Tapi jangan lama ya. Gue Cuma bisa ikutan foto doang, tapi kalau kumpul-kumpul dan makan bareng gue gak bisa Di. Ini emang urusan penting banget, gak bisa ditunda sama sekali.” Ucapnya terdengar memohon agar Ardi melepaskannya setelah sesi foto bersama.
Setelah cukup lama mengatur posisi dan segala macamnya. Akhirnya kerempongan dan kehebohan ini berakhir juga. Lebih dari setegah jam juga waktu yang mereka perlukan hanya untuk sekedar berfoto bersama. Mungkin karena terlalu ramai dan ada beberapa oknum yang sangat sulit diatur hingga membuat mereka memakan waktu cukup lama. Andry bergegas kembali menuju mobilnya, melanjutkan rencana yang tadinya sempat tertunda. Diam-diam pergi meninggalkan segerombolan orang yang masih berkumpul dan merencanakan ide selanjutnya.
“ Di gue cabut duluan ya. Bilang sama anak-anak yang lain kalau gue gak bisa gabung karena ada urusan penting.” Ujarnya berbisik ditelinga Ardi.
“ Oke, hati-hati bro.” jawab Ardi sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Melambaikan tangan kepada Andry yang tampak berjalan menjauhinya.
Andry terus berjalan dan segera masuk kedalam mobilnya. Mempercepat langkahnya agar tidak ada lagi yang menahan langkahnya. Andry dengan cepat menyalakan mesin dan melajukan mobil kesayangannya meninggalkan pekarangan sekolah dan sekumpulan teman-teman yang masih bercanda tawa menikmati kebersamaan mereka.
__ADS_1
“ Hufh akhirnya aku bisa lolos juga dari mereka.” Batinnya menghela nafas panjang. Merasa senang akhirnya dia bisa segera pulang dan berkemas-kemas barang.
Sepanjang jalan Andry hanya berkhayal jika dirinya bisa dengan mudah menemukan Fani dikota tujuan, tidak ada hambatan dan tidak ada rintangan. Semua berjalan dengan sangat mulus, tanpa sengaja bertemu dijalanan. Ah khayalan yang penuh dengan racun menyakitkan. Senyum malu berkali-kali terpancar dari wajahnya yang putih. Bibir merahnya tersungging keatas hingga menampakkan giginya yang tersusun rapi. Hanya berimajinasi saja mampu membuatnya sebahagia ini.
“ Oh iya aku melupakan sesuatu.” Ucapnya tiba-tiba dan keluar dari dunia imajinasinya. Tersadar jika dia tidak seharusnya langsung pulang, harusnya menuju pusat perbelanjaan dan membeli sesuatu untuk yang tersayang.
“ Aku harus membelikan sesuatu untuknya. Masa aku pergi menemuinya tanpa membawa apa-apa.” Lanjutnya sembari memutar kemudi dan berbalik menuju pusat kota. Padahal sudah ada hadiah ulang tahun yang belum sempat dia berikan kepada kekasihnya, ada pula kotak berukuran sedang yang berisi barang-barang yang pernah dia berikan kepada Fani sebelumnya. Namun beberapa saat sebelum keberangkatannya Fani mengirimkan barang-barang tersebut kembali padanya.
Andry berhenti disebuah toko accessoris, ingin membeli sebuah benda yang berkesan dan juga tidak banyak makan tempat. Andry bergegas masuk kedalam toko, melihat-lihat semua benda yang ada disana. Memilih sesuatu yang menurutnya sangat cocok untuk diberikan kepada kekasihnya, sebuah benda yang belum pernah dia berikan sebelumnya.
“ Sepertinya yang ini cocok.” Batinnya sembari menatap dalam sebuah gelang berwarna putih keabu-abuan. Gelang yang seluruh bagiannya dipenuhi dengan mainan berbentuk hati. Lagi-lagi berbentuk hati.
Setelah lama menimbang-nimbang akhirnya Andry membeli gelang yang menurutnya sangat cocok bila dilingkarkan dipergelangan tangan kekasihnya. Gelang yang akan dia berikan bersamaan dengan hadiah ulang tahun Fani yang belum diberikannya. Entah karena terlalu rindu sebab sudah lama tidak bertemu, Andry ingin memberi banyak hadiah kepada Fani nantinya. Namun beruntun memikirkan beratnya barang bawaan, belum lagi barang miliknya juga banyak. Kalau semua ingin dibeli bisa-bisa yang lain ditinggal karena tidak ada tempat lagi. Andry bergegas keluar dan kembali mengemudi menuju rumahnya. Menyiapkan semua yang belum dia siapkan, mulai dari pakaian, barang-barang yang diperlukan dan sebagainya, termasuk juga hadiah-hadiah yang diperuntukkan untuk kekasih yang dicintainya.
“ Sampai bertemu besok. Aku akan segera menemukan dirimu. Setelah aku berhasil menangkapmu, setelahnya kau tidak lagi bisa lari dari genggamanku.” Ucapnya menggeram sembari menggenggan erat kemudi. Bibirnya menyungging keatas dan pandangannya menatap jalanan. Kepercayaan dirinya semakin meningkat, dia bisa mudah menemukan Fani dikota tujuan.
“ Hukuman terbaik untukmu nantinya adalah harus menemuiku setiap harinya setelah pulang sekolah.” Lanjutnya tertawa pelan. Sejak beberapa waktu lalu Andry sudah memantapkan niat untuk melanjutkan sekolah diPerguruan Tinggi dikota Pontianak. Alasan yang pertama dan paling utama adalah agar dia bisa dengan mudah menemui kekasih hatinya. Tidak ingin lagi berjarak, sudah cukup ratusan hari mereka terpisah.
“ Setidaknya ini adalah langkah yang paling baik. Selain aku bisa melanjutkan sekolah, aku juga melanjutkan kisah cinta kita yang terhenti tiba-tiba.” Ucapnya tersenyum tipis. Meski ada rasa kecewa karena ulah Fani yang mendadak memutuskan hubungan mereka, namun Andry juga sangat bahagia karena sebentar lagi akan tinggal dikota yang sama dengan sang kekasih hati. Bisa bertemu setiap hari seperti sebelumnya ketika mereka masih tinggal dikota yang sama dan bersekolah disekolah yang sama. Selain akan mengejar cita-cita, Andry juga akan mengejar cintanya.
__ADS_1
Cita-citaku terpaksa aku selaraskan dengan cintaku. Tidak peduli di Universitas mana, yang penting cita-citaku tercapai dan cintaku tergapai.