
Andry memasuki area mall dan segera menuju parkiran. Devi bergegas keluar dari mobil ketika Andry sudah menghentikan mobil. Berjalan melenggang masuk kedalam mall dan diikuti oleh Andry. Seolah seperti pengawal
yang sedang mengikuti majikannya yang shopaholic. Ya, Devi berjalan layaknya wanita sosialita. Mengenakan jeans ketat dan kemeje tipis dilengkapi dengan aksesoriess scarf dan kacamata. Tangannya menenteng tas mini dan berjalan melenggang seperti gadis-gadis feminine.
“ Hey cepat. Kenapa kau berjalan lamban.” Ucapnya berhenti dan berbalik menatap Andry yang berjalan pelan dan santai dibelakangnya.
“ Hem.” Hanya menjawab dengan deheman dan segera mendekati sang kakak yang tampak sudah ingin murka.
“ Hem, lo punya budget berapa sih mau beliin hadiah pacar lo?.” Tanya Devi seketika. Menanyakan budget seolah meremehkan sang Adik yang hanya seorang pelajar.
“ Remeh banget lo ya, lo pilih aja yang mana nanti gue tinggal bayar.” Menjawab dengan penuh kesombongan. Merasa tidak terima diremehkan oleh sang kakak. Meskipun pelajar namun uangnya juga lumayan banyak hehehehe.
“ Yaelah belagu banget dah ni anak. Kan gue nanya doang sih lo punya budget berapa, ntar gue gampang cari sesuai budget aja.” Ucapnya ikutan kesal. Ingin memudahkan langkah kakinya tapi sang adik malah salah paham dengan ucapannya.
Devi memilih untuk meninggalkan Andry yang sensitive, berjalan pelan sembari melihat-lihat barang yang ada dimall. Menimbang-nimbang apa yang cocok untuk calon adik iparnya ini. Devi sibuk mencoba dan memutar-mutar baju yang tergantung dipajangan, tiba-tiba suara Andry dari belakang mengagetkannya. Sontak Devi langsung berbalik dan menatap kearah sumber suara.
“ Kak, ini bagus gak?.” Teriak Andry dari jarak yang cukup jauh. Wajahnya tersenyum dan tampak sedang memegang sebuah baju kemeja berwarna biru pekat.
“ Astaga, jelek banget selera lo ya. Pantas selama ini lo gak laku-laku, ternyata selera lo jelek ya.” Sahut Devi terdengar mengejek dan menghina. Menggeleng-gelengkan kepala tidak menyangka jika sang adik punya selera yang buruk dalam hal pakaian wanita. Meskipun bukan ranahnya, setidaknya kan bisa menilai dari kecocokan dan bagusnya.
__ADS_1
“ Ih jadi menurut lo cewek gue jelek ya? Wah parah lo ya, cewe gue cantik ya. Lebih cantik dari pada lo malahan.” Protesnya tidak terima diejek dan diihina oleh sang kakak. Apalagi kali ini menyangkut tentang kekasihnya, rela bertaruh nyawa membela sang kekasih dan menegaskan jika Fani adalah wanita yang cantik.
“ Iya cewek lo cantik, tapi selera lo jelek.” Sahutnya lagi. menggeleng-geleng melihat sang adik yang sangat sensitive dan mudah salah paham.
“ Gak ada! Lo ngejek cewek gue kan? Lo ngehina cewek gue kan? Wah parah lo ya, masa wanita menghina wanita sih. Wah parah pokoknya.” Ucapnya lebay. Benar-benar tidak terima jika kekasihknya dikatakan jelek oleh sang kakak.
“ Ah terserah lo deh.” Sahutnya kesal. Membuag muka dan memilih untuk mengabaikan Andry yang sejak tadi hanya bisa menyulutkan emosi. Berjalan sambil mengedarkan pandangan, memilih baju yang kira-kira cocok untuk diberikan kepada Fani sebagai hadiah ulang tahun. Mencari sesuatu yang sederhana namun terkesan mewah dan bisa diingat selama-lamanya.
Setelah puas berjalan mengeliling tempat pakaian dan celana, Devi beralih menuju tempat tas-tas yang mewah dengan harga yang terjangkau. Melihat dan mencoba-coba tas yang ada disana, mengira-ngira apakah cocok dipakai Fani atau tidak. Tampak Andry juga mengikutinya, memilih-milih tas yang ada disana. Mencoba mengekspresikan dirinya dan seleranya. Pandangannya terhenti pada sebuah tas berwarna kuning kunyit polos dan sedikit hiasan dibagian depannya. Benar-benar simple dan elegan.
“ Kak, ini bagus gak?.” Lagi-lagi menanyakan pendapat dengan sang kakak. Tersenyum lebar dan menyodorkan tas pilihannya itu dari kejauhan.
“ Bagus aja nih jawabnya?.” Ucapnya tidak terima. Merasa pilihannya ini sudah sangat dan paling bagus diantara yang bagus.
“ Terus lo mau gue jawab apa?.” Ucapnya ketus. Padahal didalam hatinya tertawa terbahak-bahak melihat antusias sang adik dalam mencari hadiah untuk kekasih hatinya.
Beruntung banget deh ya pacar lo. Gue juga mau deh punya pacar yang baik dan tulus kayak lo dek.
“ Ih terserah lo deh.” Ketusnya kesal. Wajah tampannya langsung ditekuk dan memilih duduk ditempat yang disediakan. Tidak mau lagi ikut campur dalam misi pencarian hadiah ulang tahun ini, sepenuhnya diserahkan kepada sang kakak yang katanya seleranya sangat baik ini.
__ADS_1
“ Hahahahaha.” Tiba-tiba terdengar suara tawa, ternyata Devi sudah mendekat dan sempat memotret wajah Andry yang sedang bermuram durja. Hahahahah jelek sekali, dahinya mengkerut dan bibirnya maju beberapa centi.
Ternyata bukan hanya Fani yang lucu jika sedang marah, ternyata Andry tidakk kalah lucu.
“ Apa-apaan sih lo kak. Hapus!.” Protesnya kesal. Tidak terima sang kakak memotret wajah jeleknya, apalagi ditengah keramaian yang membuat perhatian orang-orang tertuju kepada mereka berdua.
“ Malu dilihatin orang, ah lo apa-apaan sih.” Protesnya lagi. Mencoba merampas ponsel sang kakak yang sudah diselipkan diketiaknya.
“ Ih jorok banget sih lo kak.” Sambungnya sembari menggidikkan bahu jijik karena melihat tingkah sang kakak. Kemudian dengan segera beranjak dan meninggalkan Devi yang masih tertawa terbahak-bahak.
“ Lo bukan kakak gue.” Ucap Andry sambil berlalu pergi dan menjauh. Memilih untuk bermain game diponselnya dan membiarkan sang kakak menyalurkan selera yang katanya sangat baik itu.
Devi mengelus perutnya yang keram karena terlalu banyak tertawa. Benar-benar sangat puas mengerjai sang adik yang selama ini terus bersikap cuek dan sok cool. Merasa senang karena memiliki aib sang adik didalam ponselnya.
Hahahahaah ternyata gak sia-sia ya gue pergi bareng lo hari ini. Seenggaknya ada hiburan, lo bisa gue jadiin mainan. Ih gemesnya adikku yang tampan ini. Ah kenapa kau cepat sekali tumbuh dan berkembang.
Devi menatap sang adik yang duduk cukup jauh darinya, dengan cepat tangannya meraih tas berwarna kuning kunyit yang sempat ditunjuk sang adiknya tadi. Sebenarnya pilihan Andry kali ini sangat baik, hanya saja tadi dia sengaja ingin menjahili sang Adik yang sangat sensitive dan mudah merajuk. Dirumah mereka sudah jarang sekali bersenda gurau karena kesibukan masing-masing, jadi sekalinya dapat kesempatan Devi sama sekali tidak ingin melewatkan moment yang sudah langka dan sangat jarang ini.
“ Bagus sekali pilihanmu ya. Baru beberapa menit saja ikut berkeliling denganku selera mu langsung berubah drastis ya, langsung berubah menjadi seperti seleraku.” Gumamnya dalam hati. Membawa tas yang dipilih Andry dan mendekati salah satu karyawan, meminta untuk dibuatkan nota untuk segera dibayarkan kekasir.
__ADS_1