
Andry bergegas melangkah menuju kamar, meniti anak tangga sembari kedua tangannya membawa plastik berisi barang-barang yang tadi dibelinya. Masuk kedalam kamar kemudian melemparkan semua barang serta tubuhnya keatas ranjang. Baru terasa lelahnya. Andry meraih ponsel yang sejak tadi tidak disentuhnya, masih bermalas-malasan diatas ranjang dengan seragam sekolah yang masih lengkap. Mencoba menimbang-nimbang apakah dia harus mengatakan sekarang jika dia akan menemui Fani atau besok saja ketika dia sudah dibandara dan akan segera melakukan perjalanan.
“ Telepon sekarang atau besok aja ya? Kalau kasih tau sekarang kagetnya dikit dong.” Gumamnya sambil menatap kontak Fani. Jari-jemarinya sudah tidak tahan ingin segera menekan tombol panggilan, ingin segera mendengarkan suara Fani yang sudah berapa ratus jam tidak dia dengarkan, sudah sangat rindu. Juga rindu bergayang-gayang menekan tombol-tombol huruf saat mengirimkan pesan.
“ Ah besok aja deh, kalau bisa setelah aku sampai dibandara Supadio baru aku kabari. Hehehe pasti dia kaget bukan kepalang.” Lanjutnya terkekeh membayangkan wajah Fani yang shock mendengar kabar jika dirinya sudah sampai dikota tempat tinggal sang pacar.
Andry beranjak untuk membersihkan diri. Meraih handuk dan bermalas-malasan menuju kamar mandi. Badan lelahnya tidak sanggup lagi berjalan, ingin rebahan dan tiduran saja. Hanya 10 menit didalam kamar mandi, Andry keluar dan mengenakan pakaian longgar. Membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian untuk dibawanya besok. Memasukkan kedalam tas sandang yang berukuran sedang, tidak ingin membawa banyak barang. Andry mempersiapkan semua yang harus dia bawa untuk mengunjungi kekasihnya besok, semua sudah lengkap dan siap. Hanya tinggal berangkat saja.
“ Huffhh akhirnya selesai juga.” Gumamnya melangkah mendekati ranjang yang sudah memanggil-manggil sejak tadi.
“ Oke tinggal berangkat saja.” Sambungnya kemudian menghamburkan tubuhnya keatas ranjang dan tersenyum senang. Meraih sebuah foto polaroid yang tergantung disebelah ranjangnya, foto yang diberikan Fani beberapa bulan lalu.
Ah rindunya, rindu sekali.
__ADS_1
Andry segera beranjak untuk mengambil selembar kertas dan sebuah pena, kemudian kembali lagi keatas ranjang. Mulai merenung dan merangkai kata-kata untuk dituangkan kedalam selembar kertas yang dia pegang.
Menguntai kata sederhana namun terkesan romantis dan manis. Kertas yang nantinya kan diselipkan kedalam hadiah untuk Fani. Karena bukan tipe lelaki yang puitis, akhirnya Andry hanya menuliskan ucapan ulang tahun dan harapan-harapan yang menjulang tinggi. Tidak sedikitpun berpuitis, ingin mencontek dari internet tapi malu sama diri sendiri. Akhirnya ya sudah hanya menuliskan apa yang wajib dan ucapan pada umumnya, tidak ada yang special dari tulisannya. Mungkin akan terkesan spesial karena statusnya siapa, status hubungannya.
“ Hehehehe aku gak bisa puitis ya hahaha. Parah banget ya. Gapapa deh ga puitis tapi kan aku serius sayangnya.” Gumamnya memuji diri.
“ Apalagi yang kasih hadiahnya aku, sudah pasti jadi spesial dong ya.” Lanjutnya terkekeh mendengar omongannya sendiri. Tangannya melipat kertas tersebut menjadi bentuk hati.
Andry mengambil bag yang berisi tas dan baju serta heels yang dibelinya tadi. Meletakkannya menjadi satu tempat dan kemudian menyelipkan kertas kecil berbentuk hati itu. menutup rapat dan memastikan jika bag tersebut tidak akan rusak diperjalanan. Setelah selesai dan memastikan barang-barang yang akan dibawanya aman, Andry memilih untuk beristirahat agar besok tidak bangun telat. Kembali keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamar dan memetik satu persatu rindu yang digantungkannya sejak hampir dua bulan lalu. Memetik untuk dibawanya sebagai saksi temu.
“ Iya, apa-apan sih lo kak. Gedor pintu gue sampai hampir jebol gitu.” Ketusnya protes dengan sang kakak yang memang suka sekali mengganggunya. Wajahnya ditekuk kesal, menatap Devi yang berdiri didepan kamarnya dengan wajah polos tidak bersalah.
“ Ini ada paket buat lo. Beli apaan sih lo kotaknya sampai segede ini, warna pink pula hahaha.” Ucapnya selalu membubuhi ejekan dan tawaan. Menyodorkan kotak berukuran cukup besar berwarna pink itu kepada Andry yang tidak lagi bermuka masam, tapi sudah berubah menjadi wajah keheranan.
__ADS_1
“ Ha,” Baru saja akan menjawab dan berbalik tanya tapi sudah kembali disela oleh kakaknya.
“ Oh atau paket ini juga untuk hadiah Fani? Wah beruntung banget ya cewek lo, ulang tahun aja dikasih kado segungung.” Lanjutnya menyela. Teringat dengan perkara hadiah ulang tahun yang membuatnya harus ikut campur tadi sore. Mengingat warna kotak yang diterimanya dari kurir tadi juga berwarna pink, semakin memperkuat asumsinya jika kotak itu berisi hadiah yang ditujukan untuk Fani calon adik iparnya.
“ Ah baiklah, selamat berkemas dan menyusun barang bawaan. Gue ngantuk pengen tidur, capek soalnya nemenin lo beli hadiah buat pacar lo tapi gak beliin gue apapun huh.” Lanjutnya sambil protes karena Andry tidak membelikannya apapun. Semata-mata hanya menemaninya berbelanja dan memilih hadiah yang cocok. Hanya dibayar dengan makan malam dan satu gelas ice cream, huh tidak imbang dengan waktu yang dihabiskannya selama tiga jam
“ Heh tunggu.” Ucap Andry menghentikan langkah kaki Devi, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Devi. Tetap melangkah dan melambai-lambaikan tangan kepada Andry yang masih berdiri dididepan kamar.
“ Punya siapa ini? Perasaan gue gak ada pesan apapun lewat online deh, gak ada juga yang bilanng kalau mau kirimin gue barang. Wah jangan-jangan salah alamat lagi nih.” Gumamnya menerka-nerka itu milik siapa. Masuk kembali kedalam kamar sambil memutar-mutar kotak yang berukuran sedang itu. Mencari suatu petunjuk dikotak itu, ternyata ada dibagian bawah. Ada tulisan yang mengatakan jika paket itu memang ditujukan untuk Andry, dirinya sendiri.
“ Wah ternyata bener untuk gue. Tapi ini dari siapa ya? Perasaan gak ada yang mau kirimin gue barang deh, ah jadi takut. Jangan-jangan isinya bom lagi. Ih.” Lanjutnya bergidik takut dan melempar pelan kotak itu keatas kasur. Berdiri dengan pikiran yang masih bergelayut entah kemana-mana, membayangkan kemungkinan terburuk dirinya jika benar isi kotak itu adalah bom.
“ Tapi masa sih bom dibungkus pakai kotak serapi ini.” Sambungnya lagi. Mulai mencerna pemikirannya yang tidak mungkin ini. Berjalan mendekat dan duduk diatas ranjang, pelan-pelan mengambil kembali kotak yang dilemparnya tadi. Memilih untuk membuka saja daripada dia mati penasaran dan ketakutan. Perlahan-lahan menyentuh kotak tersebut, masih menyangka jika isinya adalah bom.
__ADS_1
Hei pengirim barang misterius. Kau berhutang rasa takut padaku, tidak bisa kah kau menuliskan dari siapa paket ini. Jika kau sebut namamu pasti aku tidak akan setakut ini, ah memang kau tidak ada akal.