
Andry semakin mendekati
Fani, deru nafasnya semakin terdengar jelas. Hangat nafasnya sudah mulai terasa
dibagian wajah, Andry meniup lembut telinga Fani hingga membuat Fani merinding.
Sangat dekat seolah Andry siap menghabisinya, mencium wajahnya. Fani terdiam,
nafasnya satu persatu. Menerka-nerka apa yang akan dilakukan Andry padanya.
Padahal dia hanya tinggal membuka mata dan dia bisa melihat apa yang dilakukan
Andry padanya.
“ Ahmmmmm.” Teriak Fani tidak jelas karena mulutnya
dibekap oleh tangan Andry.
“ Shuuttt.” Desis Andry pelan ditelinga Fani, makin
membuat bulu roma berdiri.
Fani berusaha melepaskan diri, menepis tangan Andry
yang membekap mulutnya dengan sikunya. Kedua tangannya tetap menyilang
melindungi asset miliknya. Pikirannya
sudah sampai entah kemana-mana, membayangkan Andry akan melecehkan dirinya.
Sudah tidak bisa lagi menahan pikiran buruknya, Fani terus saja menyumpah
serapahi Andry.
Awas
saja kau lelaki mesum. Aku akan memukulmu hingga babak belur. Berani-beraninya
kau ingin melecehkan ku disini, didalam mobil ini. Ah mati saja kau, aku akan
menghabisimu.
Suasana semakin mencekam, atmosfer berubah menjadi
panas. Nafas Fani semakin sesak, ingin berteriak tapi tidak bisa. Dalam
kepalanya hanya ada kemarahan, ingin menampar, memukul, menunjang hingga dengan
meludahi wajah Andry. Fani benar-benar marah.
Berani-beraninya
kau melakukan ini padaku. Dasar lelaki mesum, dasar kau lelaki kurang ajar. Tunggu
saja pembalasanku, aku pastikan wajahmu tidak bisa dikenali lagi oleh
keluargamu. Sudah aku berikan kembali cintaku, tapi kau malah memperlakukanku
seperti ini. Ya tuhan tolong lindungi aku.
“ Shutttt. Jangan teriak lagi.” Ucap Andry
memecahkan ketegangan antara mereka berdua. Sudah tidak terasa lagii hangatnya
nafas Andry, ternyata dia sudah menarik tubuhnya menjauh dari Fani.
Perlahan Fani membuka matanya, pelan pelan, membuka
sebelah hingga matanya terbuka sempurna. Terlihat Andry kembali duduk bersandar
dibelakang kemudi. Memainkan ponselnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Dasar
lelaki mesum! Pasti karena aku teriak makanya dia gak lagi gangguin aku. Huh
awas saja kau.
“ Makanya
lain kali jangan menggoda.” Ucap Andry tanpa mengalihkan pandangannya.
“ Pas digoda balik malah teriak-teriak ketakutan.” Lanjut
Andry sambil tersenyum geli.
“ He’hm.” Fani berdehem. Wajahnya ditekuk sempurna,
sorot matanya tajam seolah-olah ingin mencabik Andry yang selalu saja
mengganggunya.
“ Kenapa sih suka banget gangguin aku.” Ketus Fani. Tangannya
dilipat didada sombong, membuang pandang menatap jalanan, ya sedang menggunakan
jurus andalannya. Merajuk.
“ Lagian siapa suruh goda-goda. Kan aku tergoda,
jadi ya aku terima dong.” Ketus Andry pula. Tidak ingin disalahkan dalam hal
ini, sudah jelas-jelas Fani yang menggodanya duluan.
“ Ih kan aku Cuma becanda.” Ucap Fani sembari
menghentakkan kakinya kesal. Berusaha mengatakan jika godaannya tadi hanya
sebatas candaan, sama sekali tidak serius.
“ Salah sendiri siapa suruh becanda. Untungnya aku
gak benar-benar tergoda. Kalau benaran tergoda, ah sudah pasti kamu habis aku
cabik-cabik.” Andry menatap Fani dengan sinis, jari jemarinya mencekam seolah
ingin menerkam mangsanya.
“ Aaaaa apaan sih.” Lirihh Fani ketakutan, apalagi
melihat wajah Andry yang serius. Bagaimana jika Andry melecehkannya ditempat
ini, bahkan besar kemungkinan tidak ada yang akan menolongnya, tidak akan ada
yang mendengar teriakannya.
“ Udah ah, pulang aja yuk.” Pinta Fani saking
takutnya. Benar sih Andry mencintainya, tapi bukan berarti Andry tidak mampu
berniat jahat padanya. Sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, sebaiknya
Fani memaksa Andry untuk mengantarkannya pulang saja.
Fani bergidik geli, kedua tangannya semakin kuat
menyilang tubuhnya, menjaga asset yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya. Andry
yang melihat tingkah Fani hanya bisa tertawa geli, Fani berfikir terlalu jauh.
“ Udah gak perlu gitu, aku juga gak bakal nikmati asset
milikku saat ini kok.” Andry terkekeh geli.
“ Tapi nanti, setahun lagi, setelah menikah.” Lanjutnya
membisikkan dikuping Fani. Bukan deru nafasnya lagi yang membuat geli, tapi
kata-kata yang baru saja meluncur indah dari mulutnya.
“ Ih apaan sih.” Fani menyanggah, geli mendengar
ucapan Andry yang sok iya iya.
“ Bahkan aku belum menjawab, aku belum menerima
lamaranmu. Itu masih lama, satu tahun masih sangat lama.” Lanjut Fani mencoba
menyudutkan Andry, membalikkan keadaan agar Andry yang menjadi kesal.
__ADS_1
“ Kalau kamu gak mau terima ya gak masalah. Berarti aku
gak bisa menikmati asset ku setahun lagi, yasudah aku akan menikmatinya saat
ini.” Andry kembali menggoda Fani, perlahan mendekat seolah ingin menggayangi
tubuh Fani.
“ Aaaaaaaaaaa.” Fani berteriak. Kakinya dan
tangannya mendorong Andry kuat hingga terdorong kebelakang.
“ Sana jauh sanaaa. Aaaa aku pulang jalan kaki saja.”
Fani sudah tidak tahan lagi, menangis sejadi-jadinya, ingin pulang secepatnya. Lebih
baik jalan kaki dari pada harus semobil dengan lelaki mesum ini.
“ Gak nyangka ya kalau kamu bisa setega ini, katanya
kamu cinta. Tapi kenapa kamu sanggup melakukan ini semua, ingin melecehkanku
ditempat ini. kamu tau aku gak berdaya, haaa kamu tega.” Fani menangis,
tersedu-sedu. Membukup wajahnya dengan kedua tangannya.
Kalau sudah bermain air mata, Andry sudah pasti
kalah. Ini adalah kelemahannya sejak awal mereka saling bercinta. Andry perlahan
mendekat, hari ini dia banyak sekali tertawa, banyak pula menyesal karena
kesalahannya. Andry mendekati Fani, perlahan-lahan menyentuh tangannya. Ingin menarik
Fani dalam pelukannya, namun Fani dengan cepat menepisnya.
“ Jangan sentuh aku lagi lelaki mesum.” Ucap Fani
tersedu-sedu. Makeup yang menempel diwajahnya sudah mulai luntur karena air
mata.
Andry kembali menyentuh Fani, menariknya kedalam
pelukan. Meski beberapa kali gagal akhirnya dia berhasil menenangkan Fani. Dia sadar
candaanya kali ini sudah kelewatan, bisa jadi karena candaannya hari ini, Fani
tidak akan lagi mempercayainya.
“ Maafin aku ya, aku Cuma becanda.” Sesal Andry
mengudara.
“ Maafin aku.” Ulang Andry. Sementara Fani masih
terisak-isak didalam pelukannya.
“ Aku gak bakal ngelakuin hal yang segitu buruk sama
kamu kok Fan, percayalah. Maafin aku ya.”
Fani sudah mulai tenang, tapi masih ada ketakutan
dalam hatinya. Apalagi banyak anakk seusia mereka sudah melakukan sesuatu
melewati batas wajar.
“ Maafin aku yaa. Aku gak bakal gini lagi, aku gak
akan bikin kamu ketakutan seperti ini lagi.” Andry memeluk Fani erat,
berkali-kali mengecup keningnya. Kecupan yang penuh kasih sayang dan cinta.
“ Janji ya, jangan bikin aku takut lagi.” Pinta Fani
tersedu-sedu. Meskipun Andry dan dirinya saling mencintai, tetap ada rasa takut
dalam dirinya. Apalagi usianya masih belia.
“ Oh iya aku masih ada sesuatu buat kamu.” Andry meraih
kotak dari kursi belakang, seolah-olah hadiah untuk Fani tiada habisnya.
“ Udah ambil aja. Karena terlalu bahagia aku sampai
tidak ingin berhenti memberimu hadiah.” Andry tersenyum dan meminta Fani
menerima hadiah terakhirnya hari ini.
“ Sebenarnya beberapa hadiah udah aku siapin dari
pertama kali aku berencana untuk pergi menemuimu, hanya saja gagal. Kemudian kemarin
berkelana aku juga tetap membelikan hadiah untukmu. Mungkin karena terlalu
cinta sampai-sampai aku tidak ingin berhenti memberi hadiah untukmu,
membahagiakanmu.” Lanjut Andry, matanya berhaa-kaca. Fani menghambur memeluk
Andry, saling berpelukan menghangatkan tubuh. Fani benar-benar terharu,
sebelumnya dia tidak pernah merasa dicintai seperti ini.
**
Sudah beberapa hari Fani menghabiskan waktunya di
Jakarta. Bolak balik rumah- rumah sakit- ketemu Andry. Itu yang dilakukannya
setiap hari. Libur sekolah yang tidak terlalu lama membuat Fani dan Andry harus
memanfaatkan waktu yang ada untuk mengekspresikan cinta. Sebelum nanti Fani
kembali kerumahnya dan Andry melanjutkan studynya ke luar Negeri.
“ Besok adalah hari terakhir, tapi aku masih belum
punya alasan untuk melepaskan Endi. Apa yang harus aku lakukan?.” Fani mondar
mandir dikamar dengan handuk yang masih melekat ditubuhnya.
“ Memang sih aku gak terlalu suka dia, apalagi dia
oranganya cukup kasar. Tapi gak mungkin juga aku tiba-tiba mutusin dia tanpa
alasan. Sudah cukup sekali aku melakukan keslaahan, kali ini jangan.” Lanjutnya.
Wajahnya benar-benar kebingungan, khawatir memikirkan apa yang harus dia
lakukan.
“ Ya tuhan, maafkan aku yang rakus ini. Kalau bisa
memilih aku ingin mereka berdua.” Fani mendekati foto-foto yang menggantung
didindingnya. Foto-foto dengan Andry yang sempat dikembalikannya, hari ini
digantung dikamar ini.
“ Maafin aku Andry, tapi aku juga masih belum rela
ngelepasin Endi.” Batinnya menangis. Menyadari jika dirinya salah, rakus akan
cinta. Namun dia tetap ingin memiliki, tidak ingin menghindari masalah-masalah
yang akan terjadi suatu hari nanti karena ulahnya.
“ Endi. Maafin aku yaa. Dari awal aku emang gak
terlalu suka, aku Cuma jadiin kamu pelampiasan. Sebenarnya aku memulai kisah
cinta dengan kalian berdua dengan kondisi yang sama, sama-sama menjadikan
pelampuasan untuk melupakan cinta yang sebelumnya.” Fani terduduk dipinggir
ranjang, kedua tangannya mencekam rambutnya yang berantakan.
“ Maafin aku. Aku memang wanita rakus yang
__ADS_1
menginginkan cinta kalian berdua.” Teriaknya menggema memenuhi seisi kamarnya. Tidak
ada yang akan protes karena Fani hanya sendirian dirumah.
“ Aaaaaaaa apakah aku haus sekali akan cinta? Ya tuhan
bantu aku memilih salah satu dari mereka.” Fani mendongak keatas, kedua
tangannya merentang memohon bantuan yang kuasa.
“ Sudah berapa umurmu?.” Tanya Andry mengalihkan
pembicaraan.
“ 16.”
“ Nanti diumur 17 aku akan menikahimu.” Ucap Andry
tiba-tiba tanpa tawa tanpa canda.
Fani terbelalak, seolah tidak percaya dengan apa
yang baru saja didengarnya. Andry akan menikahinya? Ha? Yang benar saja.
“ Ha?.” Fani mengerutkan keningnya, tangannya
menggelayut dan memeriksa suhu tubuh Andry, barang kali dia sakit atau kesamet
setan toilet.
“ Iya, nanti setahun lagi waktu umur 17 aku bakal
lamar dan nikahin kamu.” Ucap Andry dengan santai tanpa ragu-ragu.
Tiba-tiba Fani teringat dengan kata-kata Andry
sewaktu mereka makan berdua. Lamaran yang tidak resmi itu cukup mengganggu
pikirannya. Bukan karena tidak suka, hanya saja dia merasa bahwa Andry sedang
mempermainkannya. Bagaimana mereka akan menikah diusia yang masih sangat muda. Ya
anggap saja Andry berumur 18 tahun sedangkan dirinya masih 17 tahun. Akan jadi
seperti apa biduk rumah tangga mereka berdua jika yang membangunnya sama-sama
manusia keras kepala.
“ Menikah? Umur 17? Ha gimana? Gimana? Ini lagi
mimpi kan?.” Fani meluncurkan banyak pertanyaan untuk dirinya sendiri. Apa ini?
Maksudnya Andry sudah meng-keep dirinya dari sekarang?.
“ Iya Fani Almaera. Aku akan menikahimu nanti kalau
umurmu sudah 17 tahun. Tepatnya setelah kamu menyelesaikan sekolah menengah
atas. Apa kamu paham sampai disini?.” Andry berbicara perlahan-lahan,
menjelaskan dengan sangat jelas maksud dari perkatannya.
Terus saja terngiang, Fani tidak bisa memejamkan
matanya dengan tenang. Setiap kali memejamkan mata, kejadian itu selalu
membayanginya. Bahkan dia masih ingat dengan persis bagaimana ekspresi wajah
Andry saat mengatakan ingin menikahi dirinya. Sangat santai sekali, bahkan bisa
disebut hanya seperti candaan.
“ Sudah berapa umurmu?.” Tanya Andry mengalihkan
pembicaraan.
“ 16.”
“ Nanti diumur 17 aku akan menikahimu.” Ucap Andry
tiba-tiba tanpa tawa tanpa canda.
Fani terbelalak, seolah tidak percaya dengan apa
yang baru saja didengarnya. Andry akan menikahinya? Ha? Yang benar saja.
“ Ha?.” Fani mengerutkan keningnya, tangannya
menggelayut dan memeriksa suhu tubuh Andry, barang kali dia sakit atau kesamet
setan toilet.
“ Iya, nanti setahun lagi waktu umur 17 aku bakal
lamar dan nikahin kamu.” Ucap Andry dengan santai tanpa ragu-ragu.
“ Menikah? Umur 17? Ha gimana? Gimana? Ini lagi
mimpi kan?.” Fani meluncurkan banyak pertanyaan untuk dirinya sendiri. Apa ini?
Maksudnya Andry sudah meng-keep dirinya dari sekarang?.
“ Iya Fani Almaera. Aku akan menikahimu nanti kalau
umurmu sudah 17 tahun. Tepatnya setelah kamu menyelesaikan sekolah menengah
atas. Apa kamu paham sampai disini?.” Andry berbicara perlahan-lahan,
menjelaskan dengan sangat jelas maksud dari perkatannya.
Fani tersentak terduduk. Tidur siangnya tidak nyaman
karena masalah yang menghampirinya. Fani pikir tidur akan membantunya menemukan
alasan yang tepat untuk menyudahi hubungannya dengan Endrico. Alih-alih
mendapatkan ide, Fani malah terus-terusan terbayang lamaran yang dianggapnya
candaan. Apa dia harus menanyakan kebenaran lamaran itu pada Andry atau dia
harus terus memikirkan sendiri kebenarannya.
“ Aaaaaaa kenapa banyak sekali masalah.” Fani meringis,
memukul-mukul ranjang dan bantal yang ada didekatnya.
“ Yang satu belum selesai udah datang lagi yang
baru. Kenapa sih masalah jadi serumit ini.” teriak Fani frustasi.
“ Apa aku harus pilih Endrico biar tidak nikah muda?
Tapi bagaimana jika dia hanya main-main saja, dan meninggalkan aku suatu saat
nanti dengan cara yang lebih sadis?.” Gumamnya. Tangannya terus menjambak
rambutnya, berharap itu akan membantu mengurangi sakit kepalanya yang
berdenyut-denyut.
“ Atau aku pilih Andry. Dari cerita sejauh ini
memang bisa disimpulkan bahwa dia benar-benar mencintaiku dengan sepenuh hati. Bahkan
aku belum pernah merasa dicintai seperti ini.” Tanya Fani pada batinnya. Tidak punya
pacar masalah, punya pacar juga masalah.
“ Tapi aku gak mau nikah muda.” Gumamnya. Fani
menangis meringis. Pasalanya dia bercita-cita ingin menjadi penulis terkenal
dan pembisnis handal. Takutnya status pernikahan akan menjadi hambatannya dalam
mengejar cita-cita.
“ Ibuuu tolong aku.” Fani menangis sejadi-jadinya. Terus
menangis dan bersembunyi dibawah bantal. Hingga tanpa sadar akhirnya dia sudah
__ADS_1
terlelap dalam tidurnya, tenggelam dalam mimpinya. Semoga setelah bangun nanti
dia sudah punya solusi atas masalah yang tengah dihadapinya.