Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Makan Malam


__ADS_3

Sudah beberapa hari semenjak pulang dari perkemahan, Fani masih belum juga bersedia dijemput Endrico. Hampir setiap hari Endrico menanyakan apakah hari ini ada waktu? Nanti malam bisa aku jemput? Besok kita jalan ya dan sebagainya. Fani selalu menolak, belum siap secara batiniah katanya. Pasalanya dia sudah terkontaminasi dugaannya sendiri, ditaksir simesum Endrico. Langsung geplak tanpa ragu mengatakan jika Endrico adalah lelaki mesum, pembuktian hanya berdasarkan beberapa kali Endrico menyentuh bagian tubuhnya, bukan pula pada bagian sensitive. Namun hari ini Fani tidak bisa menolak lagi, sebab Endrico akan berangkat besok. Mengurus semua keperluan untuk melanjutkan kuliahnya diluar Negeri. Takut jika suatu saat nanti terjadi sesuatu yang akan membuatnya menyesal, akhirnya Fani menyetujui ajakan kencan Endrico malam ini. Kemana mereke pergi entahlah, Fani tidak tau. Hanya mengiyakan dan tinggal mengikuti saja, sisanya itu urusan Endrico nantinya.


Piiitttt.. Piittttt..


Terdengar suara klakson dari halaman depan, mungkin itu adalah Endrico. Fani bergegas menyelesaikan dandan, meraih tas mini dan menyemprotkan wewangian diseluruh tubuhnya. Seperti akan kencan dengan pacar, Fani tampil maksimal. Beberapa hari terakhir Fani sulit tidur, pikirannya terpaku pada kejadian-kejadian yang tidak pernah ingin terjadi. Mengingat bagaimana manis dan halus Endrico memperlakukannya. Benar-benar sudah move on dari Andry? 75% ruang pikirnya dipenuhi sosok Endrico, 10% Andry, dan sisanya yang lain-lain. Endrico lebih mendominasi, apa Fani jatuh hati?


“ Maaf kak nunggu lama. Soalnya tadi aku ada tugas yang harus diselesaikan dulu, jadi telat deh siap-siapnya.” Fani melambaikan tangan sembari membuka pintu mobil dan duduk dikursi sebelah kemudi.


“ Iya gapapa kok Fan, santai aja. Lagian aku juga baru sampai kok.” Sahutnya sembari tersenyum dari belakang kemudi. Menatap Fani dalam, anggun dan menawan. Biasanya dia hanya melihat Fani yang muram, marah dan sedikit arogan. Namun malam ini dia terlihat benar-benar seperti wanita idaman.


“ Kita jalan sekarang ya.” Lanjutnya kemudian tanpa menunggu jawaban dari Fani langsung melajukan mobil dijalanan yang cukup lengang.


Sepanjang jalan Fani hanya sibuk dengan batinnya yang berkecamuk, kedua tangannya saling menyimpul menggenggam. Perasaannya seolah-olah membawanya dalam kecemasan. Terkaan demi terkaan menggelayut dikepalanya, tingkat kepercayaan dirinya semakin tidak terkendalikan, berasumsi dan berilusi. Pandangannya hanya fokus menatap jalanan, ini tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Biasanya santai dan frontal jika sedang bersama Endrico, tapi ini berbeda.


Perasaan apa ini? Apa yang akan terjadi? Endrico belum mengatakan apapun tapi sejak tadi aku sudah berkelahi dengan batinku.


“ Fan, kenapa? Kamu baik-baik aja kan?.” Endrico sejak beberapa waktu lalu memperhatikan gerak gerik Fani, wajahnya memucat, tangannya saling menyimpul genggam dan gemetar kedinginan. Endrico mengkhawatirkan Fani, takut jika dia sedang tidak baik-baik saja.


“ Fan.” Endrico menggenggam tangan Fani yang tampak gemetar. Digenggam erat, terasa dingin sekali.


“ Kamu sakit ya? Kita pulang aja yuk.” Endrico menghentikan mobilnya tiba-tiba, menepi dari jalanan yang mulai ramai.


Tangan Endrico sudah tak karuan, meniti setiap inci wajah Fani, merasakan suhu tubuh dan memastikan jika wanita yang ada bersamanya sedang baik-baik saja. Endrico sudah kalang kabut, sementara Fani masih enggan bergeming. Hanya menatap Endrico yang tampak pucat panic, bahkan panic sekali.


“ Fan, jawab aku. Kamu kenapa? Kamu baik-baik aja kan?.” Endrico menggoyang-goyangkan tubuh Fani. Menepuk pelan pipi chubby wanita ini, agar segera sadar diri.


“ Kak Endi, aku gapapa kok. Kenapa kak Endi cemas seperti ini.” Akhirnya Fani buka suara juga. Tatapannya kosong menatap lelaki yang masih menggenggam erat kedua pundaknya.


“ Aku gapapa kok.” Lanjutnya kemudian tersenyum tipis. Berusaha meyakinkan Endrico bahwa dia baik-baik saja. Entah kenapa menjadi rumit, padahal tadi dia hanya berkelahi dengan batinnya, lalu kenapa Endrico yang kalang kabut.


Endrico langsung merengkuh Fani kedalam pelukannya, nafasnya terdengar semakin memburu. Memeluk Fani dengan sangat erat, seolah mengatakan jika dia takut terjadi sesuatu dengan Fani. Fani hanya diam dalam dekapan Endrico, sejak tadi pikirannya kosong, tidak tau apa yang harus dia lakukan.


“ Aku baik-baik saja kok kak, jangan khawatir.” Fani membalas pelukan Endrico. Fani Mengelus punggung lelaki yang nafasnya memburu kencang tepat dipangkal telinganya. Berbalik menenangkan, tanpa penolakan. Pikirannya tentang Endrico mesum dan blablabla hilang seketika. Jangan-jangan Fani benar-benar jatuh cinta dengan lelaki yang memeluknya.


“ Fan, jangan diam-diam begini lagi ya. Aku jadi khawatir.” Endrico melepaskan pelukannya, berganti menatap wajah Fani dari jarak yang sangat dekat. Kemudian tanpa izin dengan sang pemilik wajah, Endrico mengecup keningnya, lama dan penuh cinta.


Fani hanya terbelalak kaget, namun tidak memberikan respon apa-apa. Tidak seperti sebelumnya, bahkan kemarin waktu Endrico menyentuh ujung bibirnya saja dia bergidik geli, kemudian pergi. Namun saat ini tidak, tubuhnya tidak memberi respon apa-apa. Tidak marah, tidak ingin menampar atau sebagainya. Yang menonjol hanya detak jantungnya yang semakin kencang dan tak beraturan, serasa ingin ada yang membludak keluar.


Hei tubuhku tidak memberi respon apa-apa. Bahkan hanya untuk sekedar menarik tubuh menjauh saja tidak. Tubuhku malah menikmati pelukan ini. Aku jadi rindu dipeluk Andry, ah jangan katakan jika ini bentuk kerinduan dan kekurangan kasih sayang. Aaaaa lepaskan aku, lepaskan.


“ Kita pulang aja ya, aku takut kamu kenapa-napa.” Endrico tersenyum tipis, kemudian sekali lagi melayangkan kecupan mesra dikening Fani. Seperti sudah resmi menjadi sepasang kekasih.


“ Eh kak, kok pulang sih. Aku kan gapapa.” Fani menghentikan Endrico yang akan memutar setir mobilnya. Tangannya tanpa sungkan menyentuh tangan Endrico yang menempel dikemudi.

__ADS_1


“ Tapi Fan,” Endrico mencoba menjelaskan, namun Fani menyela pembicaraan. Saat ini menyela pembicaraan orang lain adalah hobinya.


“ Kak Endi, katanya besok berangkat ke Chicago terus pulangnya mungkin setahun lagi. Kak Endi yakin sanggup nunggu setahun lagi Cuma buat kencan yang gak terlalu berarti ini?.” Fani terkekeh geli, terlebih lagi dalam hatinya juga ingin melanjutkan kencan ini. Entah kenapa beberapa hari terakhir dia lebih menyukai nama Endrico beserta sosoknya.


“ Huffhhh. Setahun ya? Yaudah daripada nanti selama setahun ngidam kencan hehehe.” Endrico ikut terkekeh geli, kakinya dengan segera menginjak gas dan mobilnya melaju dijalanan.


“ Kita mau kemana kak?.” Fani terlihat lebih santai dari sebelumnya, tidak lagi berkecamuk dengan batinnya. Menjadi lebih tenang setelah mendapat pelukan dan beberapa kali kecupan dari Endrico.


“ Ada deh, rahasia.” Jawabnya singkat, pandangannya tak beralih dari jalanan.


“ Hem.” Fani hanya merespon dengan deheman, tapi wajahnya berubah menjadi muram, ya seperti kebiasaan.


“ Heheheh kita ke Restaurant milik temanku ya, persis dipusat kota.” Jemarinya sudah semakin lancang berkeliaran, mencubit hidung dan mengelus pipi Fani. Sementara Fani? Lagi-lagi tidak bergeming, hanya menikmati sentuhan-sentuhan dari jari-jemari Endrico.


Perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih 20 menit, mobil Endrico sudah terparkir dihalaman restaurant mewah yang dia sebut milik temannya. Endrico bergegas keluar dan berputar mendekati pintu samping, membukakan pintu dan mempersilahkan Fani untuk turun bak seorang putri kerajaan.


“ Hem apasih kak Endi, jangan berlebihan deh. Jaga wibawanya, rame tuh yang lihatin.” Fani memutar bola matanya, menunjuk kearah beberapa orang yang menatap mereka, kemudian berbisik-bisik menertawakan.


“ Ah bodo amat, yuk masuk yang lain udah nunggu.” Endrico melingkarkan tangan kepinggang ramping Fani, kemudian membawa tubuh itu untuk berjalan mengikutinya.


“ Ha? Yang lain? Jadi ada orang lain yang akan makan bersama kita kak?.” Fani menghentikan langkahnya. Endrico tidak mengatakan ini sebelumnya, tiba-tiba Fani merasa gugup meskipun dia belum tau siapa yang akan duduk melingkar atau berhadapan dengannya.


“ Hem.” Endrico menjawab dengan deheman sembari mengangguk mengiyakan. Ini semua sengaja dia rahasiakan dari Fani, bisa disebut surprise.


“ Aku berantakan kak? Udah rapi belum? Duh aku jadi gak pede nih.” Fani bergegas merapikan rambutnya, kemudian berputar-putar dihadapan Endi, meminta lelaki itu memberi nilai penampilannya.


“ Udah rapi, cantik banget malahan.” Endrico tersenyum melihat tingkah wanita ini, kemudian menutup mulut Fani dengan telunjuknya agar tidak berbicara apapun lagi. Endrico merangkul pinggan Fani dengan romantic, melangkah bersama menuju tempat yang sudah dipesan oleh Endrico sebelumnya.


“ Kak aku jadi gugup,,” Fani masih mengatakan sesuatu yang tidak ingin Endrico dengar, dengan cepat dia menutup kembali mulut Fani dengan jari telunjuknya.


Fani dan Endrico sudah sampai didepan pintu ruang VIP, ruangan yang sudah dipesan oleh Endrico sejak tadi pagi. Fani semakin gugup, padahal dia belum tau siapa yang ada dibalik pintu itu. Sekalipun itu hanya teman, Fani tetap merasa gugup.


“ Yuk masuk, kasian mereka udah nunggu cukup lama.” Endrico menggenggam tangan Fani dan menariknya untuk ikut masuk. Fani hanya mengangguk dan mengikut saja, melangkah pelan sembari curi-curi pandang melihat siapa yang ada didalam.


“ Kak, siapa sih yang ada didalam? Sampai pesan ruang VIP, aku jadi makin gugup nih.” Fani terus saja mengoceh, tangannya yang sudah mengering perlahan-lahan kembali basah karena gugup.


“ Hem, udah masuk dulu. Nanti kamu juga tau mereka siapa.” Endrico mencoba menenangkan Fani, sekali lagi kecupan hangat mendarat dikening Fani. Entah apa yang terjadi dengan Endrico malam ini hingga dia mengecup Fani sampai berkali-kali.


“ Halo semua, kita udah datang.” Sapa Endrico kepada orang-orang yang sudah duduk melingkar dimeja makan. Sementara Fani hanya menunduk belum siap melihat siapa yang ada dihadapannya.


“ Hai sayang, sini duduk.” Sahut seorang wanita yang memanggil Endrico dengan sebutan sayang. Mimic wajah Fani seketika berubah menjadi kebingungan.


Ha sayang? Jangan bilang dia ngajak gue ketemu sama pacarnya. Terus peran gue apa disini? Jadi obat nyamuk? Nemenin mereka dinner romantic diruang private begini, ah gila ya dia. Masa berhari-hari ngajak kencan sekalinya kencan Cuma buat lihatin dia kencan, anjy ini kencan dalam kencan dong.*

__ADS_1


“ Fan, kenalin nih orang tua aku.” Endrico mengangkat pelan dagu Fani, hingga siempunya mendongak menatap orang-orang yang ada dihadapannya.


Ternyata lebih gila. Ini kenapa gue diajak makan malam sama keluarganya, gak gak ini lebih gugup daripada menemani dia kencan dengan kekasihnya.


“ Hai tante.” Sapa Fani gugup sembari melambai-lambaikan tangannya. Berjalan mendekat dan memberi salam kepada kedua orang tua Endrico.


“ Sini duduk disebelah tante.” Wanita paruh baya itu mempersilahkan, Fani yang masih gugup hanya mengangguk mengiyakan.


“ Cantik banget sih kamu.” Lanjutnya kemudian mencubit pelan pipi chubby Fani. Sementara siempunya hanya tersenyum cengengesan, masih mengatur gugupnya.


Makan malam berjalan dengan khidmat, namun tetap ada unsur canda tawa antara mereka. Fani hanya ikut-ikutan saja, tidak fokus dengan apa yang dibicarakan orang-orang sekelilingnya. Fani hanya sibuk berkecamuk dengan batinnya, menepis beberapa terkaan yang otomatis bergelayut dikepalanya. Apa maksud dari semua ini, apa hanya kebetulan saja atau sebaliknya. Fani mencoba menggunakan ilmu ramalan yang dia punya meskipun hanya cetek saja.


“ Oh iya Fan, tante dan om pamit dulu ya. Kita harus pergi kepesta pernikahan anaknya teman tante.” Wanita paruh baya itu membuyarkan lamunan Fani. Entah sampai mana pembicaraan mereka, Fani tidak ingat, lebih tepatnya tidak mendengar.


“ Eh iya tante, hati-hati ya. Makasih juga loh udah diajak makan malam bareng.” Sahut Fani. Wajah ling lung yang melekat pada dirinya tidak dapat dielakkan, membuat Endrico terkekeh dalam hati, karena dia tau alasan dibalik wajah kosong Fani.


“ Oh iya jangan lupa besok pagi Endrico jemput kamu pagi-pagi ya. Kamu harus ikut mengantarkan Endrico kebandara.” Sahut papa Endrico membuat Fani semakin terbelalak. Satu-satunya cara untuk lolos adalah mengangguk mengiyakan, ikut atau tidaknya itu urusan nanti.


“ I..iya om.” Jawab Fani terbata-bata.


**


Fani dan Endrico sudah duduk dikursi masing-masing. Endrico dibelakang kemudi, sementara Fani disebelah Endi. Sejak kepergian orang tua Endrico, Fani belum bicara apapun. Entah apa yang membuatnya mendadak diam dingin, tapi sepertinya ada yang membuatnya harus berfikir.


“ Fani, kamu kenapa lagi?.” Endrico menyentuh kedua pipi Fani, kemudian mengarahkan agar Fani menatap wajahnya.


“ Ada apa? Ada yang bikin kamu gak senang? Maafin aku ya, mungkin kamu kurang nyaman dengan makan malam dadakan ini. Apalagi bersama keluargaku.” Endrico tersenyum tipis, wajahnya bak seorang penjahat yang mengaku bersalah, benar-benar pintar berekspresi.


“ Hem, bukan sih kak. Aku Cuma bingung aja, kenapa kak Endi ajak aku makan malam bersama kedua orang tua kak Endi. Inikan makan malam keluarga.” Akhirnya Fani berbicara. Ternyata semua dugaan Endrico benar, ini hanya masalah kejelasan.


Baiklah kau belum jelas, akan aku jelaskan sekarang juuga.


“ Iya terus kenapa? Anggap saja kamu akan menjadi bagian dari keluarga kita.” Endrico mengelus-elus kedua pipi Fani. Benar-benar tidak ada penolakan dari Fani, senyaman itu disentuh-sentuh Endrico?


“ Ha?.” Fani terbelalak, kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Endrico barusan.


“ Maksudnya kak?.” Lanjutnya meminta penjelasan. Sebenarnya Fani sudah menangkap sinyal yang diberikan Endrico sejak tadi, namun Fani masih berusaha menepiskan dugaan-dugaan yang mengkelibat dipikirannya.


“ Hem. Gini.” Endrico melepas safety belt yang sudah melingkar diperutnya. Kemudian bergerak mendekat dengan kursi Fani, sesuatu penting yang harus dia jelaskan.


“ Fan, ada sesuatu yang mau aku katakanan. Aku pikir ini adalah waktu yang tepat, sebelum aku berangkat dan akan kembali dalam waktu yang lamban.” Lanjutnya terus bermuqadimah. Sementara Fani masih mempertahankan wajahnya yang kaget, matanya yang terbelalak sembari mendengarkan apa yang dikatakan oleh Endrico.


“ Fan,” Endrico meraih kedua tangan Fani, menggenggam mesra hingga membuat siempunya berganti mimic wajah, merinding geli.

__ADS_1


“ Sebenarnya aku udah pengen ungkapin ini dari lama, aku pengen kamu tau apa yang aku rasain. Aku suka kamu Fan, aku cinta kamu. Kamu mau kan jadi pacar aku?.” Endrico mengecup punggung tangan Fani secara bergantian. Kemudian meraih kepala Fani agar mendekat. Cuppp. Sebuah kecupan mendarat kembali dikening Fani. Hari ini Fani benar-benar kenyang menerima kecupan.


__ADS_2