
Sebuah mobil berwarna merah melaju didalam pekarangan sekolah dan berhenti didepan UKS. Rupanya itu adalah ayah dan ibu Fani. Sudah dari pagi Fani berada di UKS, wajahnya sangat pucat. Badan nya demam tinggi, kaki tangan dingin dan terlihat lemah sekali. Takut kondisi Fani semakin buruk, akhirnya ibu dan ayah menjemput Fani ke sekolah. Ibu Fani bergegas keluar dari mobil dan melihat kondisi Fani didalam ruang UKS.
" Nak kamu kenapa sayang?." Ibu meraba-raba dahi Fani.
" Pasti maag mu kambuh lagi kan? Makanya ibu sering marah kalau kamu telat makan. Kalau udah begini kan jadi ribet." Ibu memijat kepala Fani yang pusing.
" Badan kamu panas, kita kerumah sakit ya." Pinta ibu. Fani hanya menjawab dengan anggukan beberapa kali. Wajahnya benar-benar pucat tak berdarah. Sudah beberapa kali Fani muntah hari ini, hingga perutnya tak ada isi lagi.
Dengan cepat ayah menggedong anak gadisnya yang terkulai lemah itu. Pelan-pelan menggendong Fani masuk kedalam mobil dan berpamitan dengan beberapa guru yang ada disekitar ruang UKS.
" Nak Sophia, terimakasih ya udah jaga Fani dari tadi." Ibu mengelus kepala Sophia.
" Iya tante sama-sama. Hati-hati dijalan ya tante." Sophia melambaikan tangan sambil melihat mobil merah itu menghilang dari pandangannya.
Dimobil ibu tak henti-hrntinya memijat kepala Fani, badan Fani terasa sangat panas. Ibu jadi cemas dan meminta ayah untuk menambah lagi kecepatan mobilnya.
" Ayah cepetan dong, Fani demam tinggi ni." Pinta ibu cemas. Ayah pun mengangguk dan melajukan mobil nya. Beberapa saat kemudian mobil merah itu sudah sampai disebuah rumah sakit dikota XX. Fani dengan cepat disabut beberapa perawat untuk diberikan pertolongan.
Fani sudah mendapat penanganan dari pihak rumah sakit. Tak perlu dirawat, kini Fani sudah boleh dibawa pulang. Dengan beberapa kantong plastik obat yang menjadi syarat kepulangannya. Mereka segera pulang kerumah agar Fani bisa istirahat dengan baik.
__ADS_1
" Ganti dulu bajumu dengan kaos longgar." Ibu menuntun Fani masuk kedalam kamar.
" Ibu mau buatin bubur dulu biar kamu bisa minum obat." Ibu beranjak menuju dapur untuk membuatkan bubur.
Fani merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan bernanung dibawah selimut tebalnya. Badannya terus menggigil kedinginan, suhu tubuhnya panas. 15 menit kemudian ibu kembali kekamar dengan semangkuk bubur dan segelas air ditangan.
" Fan bangunlah nak. Makan dulu buburmu, ibu suapi ya." Ibu membantu menyandarkan Fani ke ranjangnya.
" Bu aku gak mau makan. Perutku sakit , kalau aku makan pasti akan muntah nantinya. " Lirih suara Fani.
" Gapapa nak, coba dulu. Kalau kamu gak makan perutmu pasti makin sakit." Ibu meniup bubur dan menyuapkan ke mulut Fani. Benar saja, belum sampai tenggorokan Fani kembali mengelurkan bubur yang baru saja disuapi ibu. Langsung ibu membantu Fani untuk minum dan memberinya obat maag terlebih dahulu. Kemudian membersihkan lantai yang penuh dengan muntahan Fani.
*****
" Udah pukul 14:00 ni, Fani udah pulang belum ya?." Gumam Al.
Sejak tadi Al sudah mengumpulkan kalimat-kalimat apa saja yang akan dia katakan pada Fani nantinya. Apalagi kalau bukan tentang perasaannya yang semakin menggebu-gebu itu. Sudah berapa waktu belakangan ini Al memendam rasa kepada Fani, diluar terlihat seperti abang angkat tapi didalam hati ingin menjadi pacar. Al melirik jam yang melingar ditangannya. Al meraih ponsel dan mencoba mengirim pesan kepada Fani.
" Fan, lo udah pulang? Hari ini pulang bareng gue ya." Sebuah pesan disampaikan kepada Fani.
__ADS_1
Sudah cukup lama Al menunggu didepan gerbang sekolah. Namun sosok yang dicarinya tak kunjung terlihat, pesan Al pun tidak digubris oleh Fani. Dari kejauhan terlihat Sophia melajukan sepeda motornya, sontak Al memanggil Sophia agar menghentikan sepeda motornya itu.
" Sophia." Al berteriak dan melambaikan tangan kepada Fani.
Sophia pun menghentikan sepeda motornya dan mengedarkan pandangan mencari sumber suara. Akhirnya matanya bertemu dengan sosok yang memanggilnya. Sophia mendekati Al yang berada diseberang sekolah.
" Lah kok ada kak Al disini? Ngapain kak?." Tanya Sophia.
" Lo liat Fani gak? Gue mau ngajak dia pulang bareng hari ini." Al mengedarkan pandangan ke sekeliling sekolah yang sudah mulai sepi.
" Oohh.. Fani udah pulang dari tadi kak." Sophia mengangguk pelan.
" sejak kapan? Gue udah hampir 20 menit yang lalu disini, tapi gak ngeliat Fani keluar dari gerbang sekolah." Al masih mencari cari sosok Fani.
" Fani pulang dari tadi pagi kak. Karna waktu upacara tadi dia pingsan. Ayah dan ibunya menjemput sekitar jam 09:00 tadi pagi "
" Kok bisa? Fani kenapa? " Tanya Al sambil menggoyang-goyangkan bahu Sophia.
" Maag nya kambuh kak." Sophia menjawab dengan lirih.
__ADS_1
Bersambung...