
“ Dan lo kenapa? Lo jatuh cinta pandangan pertama sama tu cowo?.” Irma semakin tidak sabar menunggu jawaban dari Fani. “ Dan gue gak sengaja nabrak cowok tampan, dan itu ternyata Andry, lelaki yang gue hindari waktu dirumah sakit. Eh malah ketemu di tempat makan.” Fani menghembuskan nafas kasar. Seolah dia kesal dengan kejadian yang menimpanya.
“ Terus? Terus?.” Tanya Irma. Suaranya tampak senang dan tidak sabar menantikan kelanjutan cerita sahabatnya.
“ Terus gue sih maunya menghindar, eh tapi gue gak bisa. Kaki gue terkilir dan gue dipaksa Andry buat makan. Dia nemenin gue sambil cerita-cerita bertukar kabar. Huffhhhh.” Fani menarik nafas panjang, wajahnya ditekuk sedih ketika mengingat Andry yang menceritakan perjuangannya.
“ Dari situ juga gue tau kebenaran yang sesungguhnya. Ternyata gue salah selama ini Ir, gue gegabah dalam mengambil keputusan. Gue kekanak-kanakan. Lo benar, harusnya gue cari tau dulu kebenaran, minta penjelasan dari Andry, bukan malah diam-diam memutuskan hubungan sepihak. Awalnya gue gak percaya sama Andry, gue ngerasa itu Cuma omong kosong aja buat balikin fakta. Alasan dia untuk menghindari kesalahannya, tapi ternyata semua benar. Dia benar-benar nyamperin gue ke Pontianak, sampai seminggu. Tapi sayang dia sama sekali gak ketemu gue.” Fani berhenti bicara, sudah terlalu banyak dia bicara. Nafasnya sesak bak orang yang baru saja berlari berkilo-kilo meter.
“ Huffhhh Fan, kan waktu itu gue udah bilang sama lo. Sebaiknya lo minta penjelasan Andry, tapi lo malah terlena sama Endi yang ada disamping lo. Sebenarnya wajar aja sih, posisinya lo kan lagi patah hati sementara Endi selalu ada buat lo. Dia juga gak perhitungan soal perhatian dan kepedulian, wajar juga kalau lo tertarik sama Endi, wajar aja kalau lo nyamansama Endi. Itu manusiawi.” Irma menarik nafas panjang, ada sedikit rasa kesal dalam hatinya. Sebelumnya dia sudah pernah menasehati Fani, namun Fani enggan mendengarkan.
“ Iya Ir, gue nyesal gak dengerin saran dari lo.” Ucapnya penuh rasa bersalah.
“ Terus gimana kelanjutannya? Dia marah sama lo? Atau lo yang marah sama dia?.” Tanya Irma yang masih penasaran dengan kisah cinta bersekat-sekat ini.
“ Dia masih sama Ir, masih tetap sama kayak Andry yang dulu gue kenal. Sumpah dalam hati gue ngerasa bersalah banget udah bikin dia tersiksa hanya demi mencari sebuah kepastian.” Suara Fani mulai tidak normal, lirih seperti hendak menangis.
“ Dan dia masih sama, masih cinta sama gue.” Akhirnya tangis Fani pecah, setelah cukup lama menahan namun sudah tidak terbendung lagi.
“ Hei Fan, kenapa nangis sih? Tenang dulu, gue gak ngerti apa yang bikin lo nangis. Lo tenang dulu dong.” Irma mencoba menenangkan Fani, berharap sahabatnya masih meneruskan cerita yang gantung ini.
“ Beberapa kali gue sempat keluar jalan-jalan bareng Andry. Kita datang ketempat-tempat yang bersejarah, tempat yang penuh kenangan bagi kita berdua. Seolah Andry sengaja ingin mengulang kisah lama, dia semakin menumpuk cintanya sedangkan aku berusaha menggali cinta yang aku timbun dengan uraian air mata.” Ucap Fani tersedu-sedu.
“ Jujur gue masih cinta sama Andry, bahkan tanpa perlu dia melakukan sesuatu. Hanya saja karena marah aku mengatakan berulang-ulang disurat itu jika aku tidak lagi mencintainya. Ir lo tau gak kesalahan terbesar gue saat ini? Gue terima lagi ajakan Andry untuk balikan. Gue udah gak bisa lagi menahan diri, gue cinta dia Ir.” Fani semakin kencang menangis, histeris. Tangisannya memenuhi seisi rumah yang sunyi tak berpenghuni ini.
“ Fan, kenapa lo nangis sih. Ini bukan kesalahan, ini namanya wajar. Apa yang salah dari kedua manusia yang terpisah kemudian memutuskan untuk kembali bercinta?.” Ucap Irma dengan bijak, tanpa mengingat ada satu cenangkik yang menyebabkan masalah.
“ Tapi Ir, lo kan tau gue baru aja jadian sama Endi. Baru berapa bulan. Gue harus bilang apa sama Endi? Gue gak tega. Apa gue harus mengulang kesalahan yang sama? Memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas, lalu kemudian menumpuk sesal.”
“ Ya tuhan. Fan, gue baru ingat. Bener ini masalah terbesar dalam hidup lo. Sebenarnya kalau gue boleh jujur ni ya, kedua laki-laki itu adalah korban dari lo yang gak punya pendirian. Lo tarik dua lelaki diantara lo, awalnya lo merasa adalah korban dari percintaan yang kejam, padahal sebenarnya mereka berdua korban yang sesungguhnya.” Irma tidak sungkan-sungkan langsung menyalahkan Fani ketika diingatkan tentang Endi. Rasa kasiannya seketika berubah menjadi geram, salah siapa tidak ingin mendengarkan waktu itu.
“ Lo sendiri yang menjebak diri lo dalam masalah, seharusnya lo dengerin gue waktu itu. Kalau lo berhasil menahan diri dari rayuan maut Endrico waktu itu, setidaknya lo gak perlu menghadapi situasi seperti ini. Lo pasti jauh lebih bahagia ketika menemukan kembali cinta lo yang udah jauh menghilang. Tapi liat sekarang, bahkan semesta pun enggan membantu, ini murni kesalahan lo sendiri.” Irma semakin tidak bisa menahan diri. Semua kesal yang selama ini dia pendam dengan lugas dia luahkan, tanpa dia sadar bahwa dia membuat Fani semakin tersudutkan.
“ Gue gak bisa bantu apa-apa Fan. Sebaiknya mulai sekarang lo pikirin baik-baik apa yang bakal lo lakuin selanjutnya. Jangan sampai ada korban ketiga keempat dan seterusnya. Gue harap lo bisa mengambil keputusan yang lebih bijak tanpa merugikan diri lo dan siapapun.” Irma menarik nafas panjang, sudah tidak tau lagi harus mengatakan apa. Bahkan stok kemarahannya saja sudah ludes dihempaskan.
__ADS_1
“ Ir, kenapa lo malah ikutan marah sih. Please bantu gue dong, gue harus gimana?.” Fani memohon agar Irma membantunya untuk menyelesaikan permasalahan yang rumit ini.
“ Fan, gue gak bisa bantu lo. Bukan karena gue gak mau, Cuma karena gue gak tau harus bantu apa. Ini masalah hati lo, ini masalah percintaan lo.” Irma berusaha menolak. Tidak ada salahnya yang dia katakan, memang dirinya tidak memiliki peran dalam hubungan Fani selama ini. Bahkan sekalipun Irma adalah sahabat sejatinya, Irma tetap tidak bisa mencampuri masalah hatinya.
Seketika suasana berubah menjadi hening, tidak ada satupun yang berbicara. Sebelumnya masih terdengar suara Fani yang tersedu-sedu, namun sekarang sama sekali tidak ada. Hening bagai kuburan. Seolah-olah keduanya sedang berfikir. Cukup lama tidak ada pembicaraan, mungkin hampir 5 menitan. Hingga tiba-tiba Fani buka suara, mengatakan sesuatu yang membuat Irma mendidih kemarahannya.
“ Ir, bagaimana jika aku pakai kedua-duanya. Tetap berhubungan seperti biasa.” Ucap Fani dengan penuh semangat.
“ Ha? Maksud lo pasang dua?.” Sahut Irma berteriak kaget.
“ Iya, gue pakai kedua-duanya.” Ucap Fani dengan santai tanpa memikirkan ucapannya.
“ GILA YA LO! MAU PASANG DUA? TU BADAN MAU LO BAGI DUA? BISA-BISANYA YA GUE PUNYA TEMEN GILA KAYAK LO. ARRGGHHH.” Irma berteriak penuh kemarahan kemudian tanpa aba-aba langsung memutuskan sambungan telepon. Volume suaranya sudah kandas. Ucapan Fani yang gila itu benar-benar membuat darahnya mendidih. Ingin rasanya memukul kepala Fani berkali-kali agar dia sadar dengan kebodohan dirinya. Niatnya ingin
menyelesaikan masalah, alih-alih menyelesaikan masalah, yang ada malah menambah masalah.
**
“ Apa aku teruskan saja ya? Aku pacaran sama keduanya, lagian gak ada yang tau selain Irma. Gak mungkin juga dia sengaja ngehubungi Andry atau Endi hanya untuk mengadu hal yang seperti ini.” Batin Fani sudah mulai tidak tahu diri.
“ Endi kan di Chicago sekarang, si Andry juga dalam waktu dekat bakal terbang ke Chicago. Jarang ketemu, dan bahkan susah nantinya. Jadi gak ada waktu buat mereka posesifin aku, gak ada waktu buat check and recheck ponsel aku kan. Aman dong yaa.” Lanjutnya semakin tidak tahu diri. Seperti sudah tidak ada jalan lain selain harus menjalin hubungan dengan kedua lelaki ini, Fani benar-benar berubah menjadi manusia yang serakah akan kasih sayang dan cinta dari pria.
“ Eh enggak, gak boleh. Ini gak boleh terjadi. Aku gak boleh jadi wanita yang gila seperti ini. Tidak, tidak.” Fani tersadar dari pikiran gilanya, kepalanya menggeleng cepat menolak pemikiran gilanya itu.
“ Argghhh.” Gerutunya menggeram, kemudian bergegas melangkah menuju kamar mandi.
“ Bisa-bisanya aku berpikiran gila seperti ini.” ucapnya sembari mencuci wajahnya.
“ Pantas saja Irma memakiku tadi. Ternyata pikiranku memang gila, layak untuk dicaci maki.” Fani menarik nafas panjang, mengelus wajahnya hingga rasanya cukup tenang.
“ Pokoknya aku harus memilih salah satu diantara mereka, tidak ada yang namanya pasang dua. Bagaimanapun caranya aku harus mencari jalan keluar dari masalah yang telah aku buat sendiri ini.” Fani mengepalkan tangan, menyemangati diri sendiri agar segera menemukan solusi untuk masalah yang rumit ini.
Fani berjalan tergopoh-gopoh menuju kamar pasien, wajah lesu dan murungnya sudah tidak bisa dipungkiri lagi. setiap orang yang melihatnya pasti sudah tau jika dia sedang sedih dan galau. Fani meraih ponselnya, ingin mengajak Andry keluar dan menghilangkan gundah gulana dirinya.
__ADS_1
“ Mending keluar aja deh sama Andry, hitung-hitung nenangin pikiran.” Batinnya. Fani mencari kontak Andry, menatap layar ponselnya lama sekali. Ingin menenangkan hati dan pikiran, tapi Fani lupa jika orang yang akan dia ajak keluar adalah salah satu penyebab kacaunya pikiran Fani.
“ Argghhh kenapa bodoh begini sih. Kalau aku ajak Andry keluar, yang ada bukannya tenang nih pikiran, malah makin banyak beban, makin mumet, sumpek.” Gerutunya pada diri sendiri.
“ Belum lagi jika nanti dia menanyakan perihal Endi. Aku kan udah janji bakal putusin Endi secepatnya, demi dia. Ahhhh mending aku mati saja daripada harus menghadapi kebodohan diri ini.” Fani memukul-mukul kepalanya kesal. Menyesali pikirannya yang sudah tidak jernih lagi.
**
“ Haaaaaahhh ingin rasanya menikahi Fani saat ini, lalu dengan bebas dan penuh kekuasaan aku bisa membawanya pergi bersama. Mengejar cita-cita bersama dengan cinta. Pasti aku semangat kuliahnya setiap hari. Pergi bawa rindu, pulangnya ketemu penawar rindu. Tinggal satu atap, bebas berpacaran, tidak ada larangan. Ah indahnya menghayal.” Andry telentang diatas ranjang dengan kedua tangan yang merentang. Matanya terpejam membayangkan semua yang dia ucapkan.
“ Hahahahah menghayal aja dulu.” Ucapnya kemudian terkekeh geli setelah menyadari kekonyolannya sendiri.
“ Andai aja Fani seumuranku, pasti aku memohon membujuk rayu agar dia ikut bersama denganku. Mengambil bidang yang sama di universitas yang sama. Jadi bisa ketemu tiap hari, gak perlu kangen-kangenan lagi. Lagi, lagi, indahnya menghayal.” Andry masih terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Entah kenapa hari ini menghayal adalah sesuatu yang paling menyenangkan baginya. Selain mendapatkan kebahagiaan secara fiksi, dia juga bisa mengobati kekacauan hatinya sejak kemarin.
“ Menghayal lebih menyenangkan daripada menghadapi kenyataan saat ini. kalau didunia khayalan gak ada yang namanya perpisahan, tapi didunia nyata? Ah bahkan perpisahan sudah ada didepan mata. Hufffhhhh.” Andry mendengus dan bangkit dari tidurnya. Meraih ponsel yang sejak tadi belum dia sentuh. Teringat kekasihnya yang belum dia hubungi sejak kemarin malam.
“ Telepon atau ajak ketemu ya? Kangen juga sih. Tapi kalau ketemu terus pasti Fani bakal ngerasa kehilangan dan sedih banget waktu aku tinggal nanti. Hmm tapi kalau enggak ketemu ya rindu.” Batinnya berkecamuk.
“ Haih kenapa sih maju salah mundur salah.” Gumamnya kesal.
Sudah cukup lama Andry berjibaku dengan pikirannya sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk menelepon dan mengajak Fani bermain ke pantai. Pantai lagi? ahh sudah seperti tidak ada tempat lain saja didunia ini. Andry meraih ponselnya, bergegas menelepon kekasih hati yang sudah sangat dirindukannya ini.
“ Hallo sayang, dimana?.” Tanya Andry ketika telepon tersambung, tidak basa basi lagi. Padahal bisa jadi Fani sedang menunggu penjelasan dan alasan kenapa Andry baru menghubunginya siang ini.
“ Kamu dimana? Lagi sibuk gak?.” Tanya Andry lagi, bahkan Fani belum sempat menjawab pertanyaannya yang pertama.
“ Ini lagi dirumah sakit, engga kok. Kenapa kak?.” Sahut Fani dari seberang sana.
“ Hem oke aku jemput kamu ya. Kita makan siang sekalian aku mau ajak kamu main-main bentar.” ucap Andry tanpa menunggu persetujuan Fani, bergegas menutup telepon dan pergi menjemput sang kekasih hati.
“ Eh kak,” Fani memanggil berulang kali, niatnya ingin menolak tapi belum sempat menyanggah telepon sudah dimatikan oleh Andry.
Huffhh, bener-bener ya tu orang. Baru aja gue mikirin dia, eh dia langsung nelfon. Ini kontak batin apa emang niat semesta biar gue makin ketakutan karena bersalah ya.
__ADS_1