
Dengan tubuh tergopoh-gopoh Andry menyusuri jalanan. Dedaunan pinggir jalan menyapa lelaki yang gontai tidak beremangat ini. Matahari baru naik, masih ada waktu belasan jam lagi untuk dirinya berputar dan mengitari kota, barangkali bertemu Fani secara tidak sengaja. Semoga pencarian ini segera berakhir, harap-harap yang bernaung dikepalanya.
“ Biar kecewa karena mencari, dari pada hilang harga diri karena ego yang tinggi. Hi tidak tidak, aku lelaki mahal tidak bisa ditukar seperti barang.” Andry berjalan sembari mulutnya berkomat kamit masih menyumpahh serapahi Sophia dan segala keinginan mustahilnya.
“ Sebenarnya letak masalahnya hanya karena aku tidak cinta kau saja, jangan kan cinta rasa suka pun tidak ada. Mungkin jika aku juga menyukaimu, semua pasti menyenangkan bagi kita berdua. Anggap saja aku punya secuil rasa suka, setidaknya ada benih yang akan berkembang. Tapi ini tidak, sama sekali tidak.” Andry terus menggerutu dalam hatinya. Rasa kecewa juga menyelimuti isi kepalanya.
“ Awal bicara dengamu aku merasa bahwa kebahagiaanku akan tiba, sudah didepan mata. Namun akhir bicaramu ternyata ada isinya, malapetaka.” Batinnya kemudian bahunya bergetar bergidik.
Andry menatap sekeliling, hanya tampak kalang kabut kendaraan dijalanan, beberapa pedagang kaki lima juga menghiasi bahu jalanan. Disini pencari cinta, disana pencari rupiah. Andry menendang botol-botol yang berbaring di trotoar, ulah-ulah manusia dengan tangan-tangan yang tidak mengerti aturan, membuang sampah sembarangan. Andry mengambil beberapa sampah dan kemudian memasukkan kedalam tong sampah yang telah disediakan, meskipun ikhlas melakukan namun bibir-bibirnya tetap menggerutu tidak karuan. Sejak bangun hingga saat ini mulutnya hanya digunakan untuk menggerutu kesal.
“ Ini ni manusia-manusia gak ada akal. Disekolahin sampai bertahun-tahun baca yang sepanjang hidung pinokio doang gak bisa. ‘ Buanglah sampah pada tempatnya’, masa tulisan segitu doang gak bisa baca sih, heran.” Andry mengambil sampah kemudian memasukkan kedalam tong yang disediakan.
“ Huffhhh sabar-sabar.” Andry mengelus dadanya dan menarik nafas panjang. Entah apa yang membuatnya
benar-benar jadi penggerutu handal hari ini, apakah karena kesal dengan kejadian tadi pagi atau karena ada hal lain.
“ Duh panas-panas begini jadi ingat Fani. Ah jadi pengen main kepantai sambil makan ice cream. Oh tuhan sampai kapan aku harus jadi penelusur jejak. Udah kayak pencari tuhan aja.” Batin Andry. Panas yang menyengat tubuhnya seolah membuka memori lama, membongkar memori-memori bahagia.
Membuka memori lama ditengah susah seumpama menabur asam dibagian luka. Yang ada hanya perih, sedih. Huh. Kalau tau keadaan begini rumit pasti dulu aku tidak akan menabung memori, lebih baik melupakan setiap kali terjadi. Ini salahku sendiri, memahat memori agar bisa aku kenang sepanjang lini masa, eh pas aku kenang sekarang yang ada hanya menambah luka.
Perasaan Andry semakin tidak karuan, sedih, kecewa dan sakit hatinya bercampur menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Entah rasa mana yang harus dia betulkan, semua berkesinambungan. Andry berhenti disebuah minimarket, membeli beberapa ice cream sembari menikmati dibawah bangku taman kota. Sejuk udara dan panas mentari pagi menambah nikmat ice cream yang meluruh dimulutnya. Tak tanggung-tanggung Andry membeli 5 ice cream dengan rasa berbeda, semua ice cream yang sering Fani beli.
“ Pantas saja wanita menyukai ice cream, ternyata begini rasanya. Aku belum pernah makan sebanyak ini, biasanya nyomot-nyomot punya sepupuku doang.” Andry terus menjilat ice cream cokelat yang ada ditangannya.
“ Aku jadi tau kenapa wanita kalau lagi marah dan kesal suka minta ice cream. Karena selain rasanya yang enak ternyata rasa dinginnya juga mampu menghilangkan rasa yang bukan sepatutnya. Seperti aku contohnya.” Andry menggigit habis ice cream yang tampak tipis dan menempel pada batang stik. Kemudian membuka yang lainnya, terus makan hingga tak bersisa.
Andry kembali meneruskan perjalanan yang sebenarnya tanpa tujuan. Hanya ada tujuan besar, yaitu menemukan alamat tempat tinggal Fani, atau anggap saja bertemu Fani dijalanan. Lelaki tanpa rentetan-rentetan rencana yang pasti ini terus menyusuri jalanan, hari ini benar-benar berjalan tanpa tujuan. Berjalan menyusuri bahu jalan, berhenti jajan, lanjut jalan, duduk dibangku jalanan, ah begitu saja hingga sore, benar-benar manusia tanpa tujuan.
“ Dari pagi sampai sore aku jalan, tapi gak jelas mau kemana. Memang benar ya aku human nomen lep.” Andry meneguk air dari botol yang ada ditangannya. Menatap jalanan yang sangat ramai, sudah berapa hari terakhir dia tidak bergelut dengan macetnya kota. Rindu menggerutu, mencaci maki pengendara lainnya.
“ Ternyata kaki yang berjalan tanpa henti tidak seberapa daripada hati yang terus mencari, berharap yang tidak pasti.” Andry menunduk. Kedua tangannya dipakai untuk menjambak rambutnya yang sudah kusut masai.
“ Oh tuhan apa ini yang namanya karma? Aku mendekatinya dengan niat yang gila, lalu dia meninggalkan bak manusia tanpa dosa.” Kedua tangan Andry semakin mencekam rambut-rambut yang mulai memanjang.
“ Maafin aku Fan. Maafkan aku tuhan.” Sesalnya semakin menguap diatas kepala, ingin mengutuk dirinya.
**
Perkemahan sudah selesai, semua bersiap-siap untuk pulang. Tujuan acara ini sudah tercapai, kesenangan, pembelajaran hingga sikap sosial sudah mereka dapatkan meski dalam waktu yang singkat ini.
__ADS_1
“ Fan, tau gak kalau kating kita bakal bikin pesta besar-besaran. Mereka bakal bikin pesta buat merayakan kelulusan dan katanya sih syukuran untuk beberapa siswa hits yang diterima diperguruan tinggi bergengsi.” Irma menarik-narik lengan baju Fani.
“ Hem.” Fani hanya menjawab dengan deheman tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan-tumpukan barang yang sedang berusaha dia susun serapi mungkin.
“ Dih. Seriusan ini Fan. Dan tau gak sih kalau sponsor utama pesta ini adalah kak Endrico, pesta juga bakal diadaian dirumahnya.” Irma masih berusaha merebut perhatian Fani dari tumpukan-tumpukan barang yang tidak seberapa.
“ Terus kenapa sih? Yaudah biarin aja mereka senang-senang, kumpul-kumpul dipesta. Mungkin ini bentuk syukuran mereka, beda orang beda karakter, beda daerah beda cara hidupnya.” Ketus Fani kepada Irma. Baginya informasi ini sama sekali tidak penting baginya, tidak menguntungkan dan tidak merugikan.
“ Lo tau gak,,” Belum sempat Irma menyelesaikan ucapannya, Fani sudah menyela. Membuat Irma berhenti bicara.
“ Gak tau dan gak mau tau. Ini kan urusan mereka, jadi ya biar saja. Kalau kamu juga ingin nanti pas kelulusan kita juga bikin pesta perayaan.” Ucap Fani menyela Irma. Tidak ingin lagi mendengar apapun yang tidak penting baginya.
“ Lain kali kamu Cuma boleh kasih tau informasi yang penting bagi aku, yang menguntungkan, jangan yang merugikan.” Lanjutnya sembari memasukkan barang-barang kedalam tas dengan sedikit kasar. Pertanda dia benar-benar enggan mendengar kelanjutan dari berita tidak penting ini.
“ Tapi Fan,,” Irma terus berusaha menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan. Namun lagi-lagi Fani menyela, mengulang kalimat yang sama dan tetap masih tidak ingin mendengar kelanjutannya.
“ Gak ada tapi-tapian lagi Ir. Udah deh mending beresin aja semua barang-barang kamu, sebentar lagi kita akan pulang dan aku tidak sabar ingin menyapa ranjang empukku dan bersetubuh dengannya. Ah aku bisa merasakan bagaimana dinginnya kasur setelah beberapa lama tidak disentuh.” Fani meregangkan otot-otot tubuhnya, kedua tangannya ditarik keatas dan matanya tertutup sayu. Membayangkan betapa nyamanya ranjang yang sudah beberapa hari tidak disentuhnya.
“ Fan, kamu gak mau denger ni?.” Irma berbicara dengan suara datar. Bukan hanya suara, namun mimic wajahnya juga ikut datar, seperti kesal dan tidak senang.
“ Enggak Ir. Kita bahas yang lain aja ya. Misalnya nanti setelah pulang kita mau kemana? Atau apakah nanti akhir pekan kita main-main kepantai? Ini lebih menyenangkan dibanding membahas pesta milik orang lain Ir.” Fani tersenyum cengengesan. Pandangannya sejak tadi menatap mimic wajah Irma yang tampak kurang senang, bahkan tidak senang dengan ucapannya.
Irma tak menjawab apapun. Hanya menatap Fani dan kemudian menghela nafas panjang. Meraih ransel yang berisi barang-barang miliknya dan segera meninggalkan Fani didalam tenda.
“ Eh Ir, Fani mana?.” Tanya Endrico ketika melihat Irma dengan wajah muram dan ransel yang disandang geram.
“ Tuh didalam.” Ketusnya kemudian berlalu meninggalkan Endrico yang kebingungan dengan sikap acuh Irma.
Perasaan gue gak ngapa-ngapain deh. Kenapa dia judes gitu, udah kayak maknya gue goda aja .
“ Fan, Fani.” Teriak Endrico dari luar tenda milik Fani dan Irma. Walaupun mesum begini masih ada tata krama, enggak sepenuhnya semena-mena.
“ Iya.” Sahut Fani dari dalam tenda, beberapa saat kemudian muncul sosok yang bersuara.
“ Kamu udah siap? Buruan. Tendanya mau diberesin sama anak-anak lain, sini barangnya aku bantu bawain.” Endrico meraih ransel pink milik Fani. Berbeda dari sebelumnya, ransel itu tampak lebih berisi, penuh. Entah apa yang dibawa Fani didalamnya, menjadi lebih besar dan berat.
“ Eh gak usah kak, aku bawa sendiri aja.” Fani merebut kembali ransel yang sudah disandang Endrico, namun tidak bisa Endrico tetap membawa.
“ Gak. Kamu gak boleh bawa barang yang berat, biar aku aja kamu cukup diam dan ikut saja.” Ucapnya kemudian mempercepat langkah menuju bus yang mereka tumpangi.
__ADS_1
Kalau kau suka sekali mengangkat barang kenapa tidak bawa sekalian barang-barang milik yang lainnya. Atau kenapa kau tidak jadi kuli saja?.
Semua sudah siap, tenda-tenda sudah dibereskan dan beberapa peserta juga sudah berleha-leha santai ditempat duduknya. Matahari sudah hampir setinggi kepala, mereka harus segera berangkat dan sampai tepat pada waktu yang telah direncanakan. Perjalanan memakan waktu hampir 3 jam, cukup lama namun tidak membosankan. Sejak roda bus berputar, Irma dan Fani tidak berbicara sepatah katapun. Hanya saling diam dan menatap sisi samping walaupun mereka duduk berdampingan.
“ Fan, nanti malam aku jemput ya.” Endrico menepuk pundak Fani hingga membuyarkan lamunannya yang entah sudah sampai mana.
“ Eh. Kenapa kak? Mau kemana?.” Fani kaget dan berbalik menatap Endrico yang duduk tepat dibelakangnya.
“ Ada deh. Aku mau ajak kamu kesuatu tempat sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu.” Endrico menarik garis bibirnya. Tersenyum menatap gadis yang ada dihadapannya.
Fani terdiam sejenak. Otaknya berputar sedemikian rupa, seperti biasa dia sedang menerka-nerka apa yang akan dikatakan lawan bicaranya. Deg. Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan kala sebuah kemungkinan melintasi pikirannya.
Apa mungkin dia bakal ngungkapin perasaan sama gue? Eh ini gue beneran target dia? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku perbuat. Ternyata aku berlari belum sampai keujung dunia ya, ini buktinya ditinjak sama dia.
“ Fan? Gimana? Bisa kan?.” Endrico kembali membuyarkan lamunan Fani.
“ Eh, iya kak. Nanti aku kabari ya gimana-gimananya. Kalau gak capek ya kak.” Fani berdalih, menolak secara halus ajakan lelaki yang dicapnya sebagai playboy ini.
“ Oke.” Jawab Endrico singkat.
**
Andry masih belum beranjak, masih duduk dibangku minimarket tengah kota. Menatap sinar sang surya yang menyengat saja sudah meluruhkan semangatnya. Tidak konsisten, tidak punya tujuan, langkah-langkahnya tidak jelas. Itulah yang berusaha author gambarkan dari sosok Andry. Kadangkala semangatnya membara, kadang harapannya menghilang jauh nun sana.
“ Huh panas, pulang ajadeh. Mau libur dulu hari ini, udah capek gak ketulungan.” Andry melempar botol minuman bekas tepat kedalam tong sampah. Kemudian melanjutkan perjalanan, bukan mengejar tujuan tapi kembali pulang kepenginapan dan meneruskan mimpi yang sempat gantung tadi pagi.
“ Kalau besok masih belum ketemu juga sama Fani, mending gue balik ajadeh. Mungkin emang bukan takdir, ikhlas aja kali.” Andry menyunggingkan bibirnya pelan. Merasa sudah kehilangan harapan seutuhnya, jalan satu-satunya hanya berhenti dan meneruskan kehidupan yang selayaknya.
“ Huffhh maaf Fan gue harus nyerah. Mungkin takdir kita beda arah, kau timur aku barat, sampai kapanpun juga gak bakal berbalik arah dan berujung temu.” Andry semakin tak kuasa menahan sedihnya. Beberapa detik menahan nafas dan menghembuskannya perlahan, jangan sampai menangis ditengah jalan.
Sosok yang datang dengan semangat juang, percaya diri dan membara saat ini menjadi lemah tak berdaya, kalah dan menyerah. Namun belum tentu, masih ada besok untuk menentukan keputusannya. Menyerah dan kalah atau lanjut meskipun waktunya terenggut.
“ Refreshing dulu deh. Main-main kemall biar gak bosan. Dari pada menyatu dengan ranjang, ujung-ujungnya mellow dan galau. Ah lelaki apa aku ini.” Andry berbalik dan mengganti rute perjalanannya. Sekarang menuju mall terdekat. Memilih untuk tetap berjalan ditengah terik matahari daripada naik ojek yang beberapa kali sudah menawarkan.
“ Beli oleh-oleh buat bunda dan yang lainnya deh. Sekalipun aku pulang dengan rasa kecewa tapi orang-orang dirumah harus tetap melihatku sebagai Andry yang bahagia.” Batinnya. Dirinya yang terjebak dalam kefanatican cinta perlahan-lahan sudah bisa menemukan titik terang, pikirnya sudah mulai lapang.
“ Ternyata menyatu dengan Fani hanya secerca kebahagiaan, yang tak terhingga ada pada keluarga. Sekalipun kadang aku bosan dan kesal.” Ucapnya mengaku salah, khilaf karena buta oleh cinta.
Yang kau suguhkan hanya secerca kebahagiaan, namun untuk mendapatkan kau timpa aku dengan bongkahan kesulitan. Aku kalap, gelap tak dapat melihat. Ternyata ada kebahagiaan lain yang jauh lebih menjanjikan, tanpa kesulitan tanpa kepedihan.
__ADS_1