Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Apa-apaan Ini?


__ADS_3

 Fani kembali duduk dihadapan Andry, namun kali ini sudah berbeda. Tidak ada lagi tatapan penuh cinta dari Andry. Yang ada hanya kecanggungan antara mereka. Seolah ingin waktu berhenti saja dan kemudian pergi menghilang dari tempat yang mencekam ini. Fani sudah bisa makan dengan tenang, namun dalam hatinya juga merasa ada keganjalan. Beberapa menit yang lalu Andry masih menatapnya dengan penuh senyuman, tapi saat ini semua berbanding terbalik. Andry hanya menunduk dan enggan menatap, seperti orang yang ketakutan.


Kenapa kamu diam? Baru ingat kesalahan? Merasa malu sama orang yang dipermainkan? Jiaahh tadi ajaa baiknya bukan main, kau perlakukan aku bagaikan seorang putri, tapi sekarang kau malah diam tak bergeming. Kenapa? Baru disapa karma ya? Aku pikir aku yang salah, ternyata kau lah yang salah.


“ Gimana kabar keluarga? Baik-baik aja kan?.” Ucap Andry memecahkan keheningan. Butuh waktu sekian menit hanya untuk mengatakan hal sederhana, namun tetap saja dia mengatakan dengan rasa gugup berlebihan. Padahal tadi sangat berani menyentuh wanita yang jelas sudah bukan miliknya.


“ Iyaa kak, baik-baik aja kok.” Jawab Fani sambil menunduk.


“ Pindah kesini lagi Fan?.” Andry berusaha meminimalisir kegugupan yang ada pada dirinya. Mencoba mencairkan suasana, bertanya perihal keluarga mungkian adalah yang paling tepat.


“ Enggak kok kak. Balik kesini karena nenek lagi sakit.” Fani semakin menunduk, seolah menunjukkaan dirinya sedang bersedih hati.


“ Sakit apa? Gimana keadaan nenek sekarang?.” Andry kaget bukan main setelah mendengar kabar buruk yang datang dari keluarga Fani. Walau bagaimanapun Andry dan nenek Fani saling mengenal, beberapa hari juga Andry sempat menginap dirumah nenek Fani. Tentu saja hal ini membuat Andry ikut khawatir, sudah dianggap seperti neneknya sendiri.


“ Aku ikut kamu ya, aku mau ketemu nenek.” Lanjutnya dengan sangat antusias. Tangannya menggenggam tanga Fani, memohon agar diizinkan untuk ikut bersama Fani.


“ Please boleh ya, aku ikut kamu ketemu nenek.” Mata Andry berbinar-binar menatap Fani.


“ Hem,” Fani mengangguk mengiyakan. Namun masih tidak mengerti kenapa Andry harus bersikap seperti ini hanya karena ingin menjenguk nenek. Sama sekali tidak ada rasa keberatan jika dia memang ingin menjenguk nenek, tapi ntah apa yang Andry pikirkan. Mungkin karena sudah tidak ada hubungan Andry mengira Fani akan melarangnya untuk bertemu dengan keluarga.


“ Thanks Fan.” Andry tersenyum puas, menggoyang-goyangkan tangan Fani yang masih berada digenggamannya.


Fani melanjutkan makan, sedangkan Andry kembali terdiam. Masih sibuk dengan perasaannya yang berkecamuk, menyesal telah memanjakan Fani seperti kekasihnya. Takut jika Fani mengira dirinya lelaki mesum yang semena-mena, apalagi membayangkan jika Endrico akan memarahinya. Walau bagaimanapun dia tetap salah karena antara dirinya dan Fani sudah tidak ada hubungan apa-apa.


“ Kak Andry kenapa gak makan?.” Gantian, kali ini Fani yang mulai buka suara.


“ Masih kenyang Fan, aku baru aja selesai makan.” Jawabnya dengan senyuman penuh paksaan.


“ Masa aku makan sendirian sih kak, barengan dong biar cepat selesai.”  Fani memanyunkan bibirnya, kali ini dia yang bermanja-manja.


“ Ya, makan ya.” Lanjutnya terus merungut meminta.


“ Hem, aku masih kenyang Fan. Tadi aku baru selesai makan, eh ketemu kamu makanya aku temenin kamu makan.” Andry bersikukuh menolak, alasannya masih kenyang padahal perasaannya yang sedang tidak senang.


“ Tu kan,.” Fani benar-benar balik seperti sosok beberapa bulan lalu, sosok yang selalu bermanja ria dengan Andry disetiap pertemuan mereka.


“ Hum,” Andry hanya berdehem. Membuang pandang, tidak sanggup menatap wajah Fani yang baginya sangat menggemaskan. Tahan, harus bisa menahan.


“ Aaaaaakk.” Tiba-tiba Fani menyodorkan tangannya yang berisi makanan, meminta Andry untuk membuka mulut dan melahap semua makanan yang ada ditangannya. Apa-apaan ini, kenapa malah dia yang begitu semangat untuk semakin dekat?.


“ Eh gak Fan, aku masih kenyang beneran.” Andry kaget dan sontak mundur menjauhi tangan Fani yang berisi makanan, bukan karena tidak ingin tapi karena takut jika ini akan menimbulkan masalah nantinya. Lagi-lagi yang harus diingatnya adalah Fani sudah milik orang lain, Fani sudah memutuskan hubungan dengannya beberapa bulan yang lalu, tanpa alasan tanpa penjelasan.

__ADS_1


“ Ayo makan, ini sebagai ganti rugi karena kak Andry udah nabrak aku tadi.” Fani tetap memaksa, malah menggunakan kejadian tadi sebagai tawarannya. Padahal Andry adalah korban tabrakan, bukan penabraknya.


“ Ehmmm.” Andry mengerutkan keningnya, menatap Fani yang semakin melebarkan senyumannya, terus menyodorkan tangannya agar Andry segera melahap.


Hei kan itu kesalahanmu. Kau yang menabrakku, lalu aku pula yang harus menebus kesalahannya.


Andry hanya bisa pasrah dan mengikuti semua keinginan Fani, tapi didalam hatinya tetap mewanti-wanti. Tidak akan mengizinkan hatinya berkecamuk menggebu-gebu mencintai Fani lagi, cukup memendam rasa yang pernah tumbuh dari hatinya. Fani seperti kesambet setan, tiba-tiba dia yang sangat kegirangan. Sangat senang menyuapkan beberapa makanan kedalam mulut Andry, gantian kali ini dia yang memanjakan. Entah apa yang terjadi antara dua manusia ini, bahkan semesta pun tidak bisa menerka, entah mereka saling berpura-pura atau mereka tidak bisa menyembunyikan cinta.


**


Andry merangkul Fani dan membawanya menuju mobil milik Fani. Ternyata luka dikakinya cukup serius, mungkin karena terhantuk canding dinding yang tajam. Mereka sudah memutuskan akan naik mobil Fani saja, dan Andry akan pulang naik taksi nantinya. Sudah lama mereka tidak berdua, apalagi dalam mobil yang sama. Keinginan Andry sebelumnya tuhan kabulkan dalam kondisi yang berbeda, meskipun sama-sama berdua tapi statusnya yang tidak sama.


“ Hati-hati ya, jangan banyak gerak.” Andry membantu Fani duduk dan menyelonjorkan  kakinya. Perlakuannya masih tetap sama seperti sebelumnya, menyentuh dengan penuh kasih sayang walaupun tidak ada hubungan lagi sekarang.


“ Oke kita jalan ya.” Ucap Andry sembari tersenyum. Namun bukannya langsung jalan, Andry malah mendekat dengan Fani yang duduk disebelahnya. Dekat, sangat dekat hingga mereka bisa saling merasakan hangatnya hembusan nafas. Andry memasangkan safety belt kepada Fani, masih sama, Andry masih romantic seperti sebelumnya.


Tolong jangan lakukan ini lagi. Kau ingin aku mati karena menahan nafas? Jangan tarik lagi aku kemasa lalu. Jangan, jangan paksa aku membongkar semua perasaan yan sudah aku tanam.


Andry melajukan mobil milik Fani dijalanan kota yang ramai, melajukan mobil menuju tempat dimana nenek Fani dirawat. Sepanjang jalan Andry tidak hanya diam, dia mencoba untuk mengajak Fani berbicara, katanya untuk melatih agar nanti tidak terbata-bata jika berbicara dengan keluarga Fani yang ada disana. Meskipun sewaktu pacaran dia sering tayang dihadapan keluarga Fani, namun beberapa bulan tidak bersua cukup membuatnya deg-degan.


“ Hufffhhh.” Andry menghela nafas panjang, tangannya menggenggam kuat setir kemudi.


“ Kenapa kak?.” Sahut Fani dari kursi sebelah, menatap Andry dengan penuh heran. Ada apa dengan lelaki ini?.


“ Oh iya gimana keadaan om dan tante?.” Tanya Fani dengan penuh semangat, sudah lama tidak mendengar kabar tentang orang tua dan keluarga Andry yang lain.


“ Hem baik kok. Cuma kemarin bunda tiba-tiba jatuh sakit dan aku terpaksa pulang dari Pontianak hari itu juga.” Ucapnya.


“ Ha? Pontianak? Kak Andry kemarin ke Pontianak?.” Tanya Fani penuh heran.


“ Eh,” Andry mengatupkan bibirnya, memaki dirinya sendiri karena sudah keceplosan.


Ah bodoh sekali. Kenapa aku sampai keceplosan sih.


“ Kapan kak Andry ke Pontianak? Ada acara apa kak?.”  Fani terus bertanya. Jiwa-jiwa keingin tahuannya semakin menyeruak, apalagi Andry kemarin datang ke kota tempat tinggalnya. Setahu Fani Andry tidak memiliki keluarga disana.


“ Eh dirumah sakit X kan?.” Andry mengalihkan pembicaraan, enggan menjawab pertanyaan Fani. Tidak mungkin dia mengatakan jika dia kemarin ke Pontianak hanya untuk mencari Fani. Bukan karena gengsi, tapi setelah perjuangannya tidak membuahkan hasil membuat Andry patah hati. Baginya tidak perlu untuk mengumbar seberapa keras perjuangannya dalam mengejar cintanya.


“ Dih kok malah mengalihkan pembicaraan sih? Ngapain kak Andry ke Pontianak?.” Seolah mengetahui siasat Andry yang mencoba mengalihkan pembicaraan, Fani tetap mengajukan pertanyaan yang sama hingga dia mendapatkan jawaban nantinya.


“ Jawab dong, ngapain kak Andry kesana?.” Fani terus memaksa Andry untuk buka suara. Tangannya dengan lincah memukul pelan lengan tangan Andry. Namun Andry sama sekali tidak bergeming, hanya fokus dengan setir kemudi dan jalanan yang macet.

__ADS_1


“ Kak Andry jawab!.” Nada suara Fani makin meninggi, sudah tidak sabar melihat Andry yang seolah tak acuh dengan dirinya, tidak  menghiraukan pertanyaannya.


“ Gak ngapa-ngapain kok, Cuma lihat-lihat Universitas aja.” Jawab Andry berbohong. Padahal itu adalah alasan keduanya, namun dihadapan Fani itu menjadi alasan utamanya.


“ Hem,” Fani berdehem. Ada rasa kecewa dalam hatinya setelah mendengar jawaban dari Andry. Ada jawaban lain yang ingin dia dengar, seperti ingin menemuinya misalnya.


“ Kenapa?.” Andry balik bertanya. Sebab melihat ekspresi Fani yang seolah mengatakan bahwa dia tidak senang, kecewa.


“ Gapapa kok.” Jawabnya singkat. Ternyata Fani merajuk, hahahaha apa yang sebenarnya dia inginkan?.


Setelah itu Fani tidak mengatakan apapun lagi, hanya diam menatap jalanan yang ramai. Meskipun ada rasa kesal, setidaknya dia tidak sendirian sekarang. Lagi-lagi keinginannya dikabulkan tuhan, tadi ketika pergi sendirian dia menginginkan teman. Ya, benar saja sekarang tuhan kirimkan teman untuk menemaninya dikemacetan. Andry hanya bisa tersenyum menatap Fani yang menekuk wajah, memonyongkan bibir dan menatap tajam jalanan. Tangannya diletakkan didagu, benar-benar menggemaskan.


Masih sama. Kau tetap menggemaskan. Jangan terus menerus menciptakan kelucuan, nanti aku menyesal karena tidak bisa mencubit hidung mungilmu. Berhentilah. Kalau kau milikku sudah pasti habis kau ditanganku.


“ Bagaimana sekolahmu? Lancer?.” Andry sudah tidak tahan saling berdiam seperti ini. Sudah seharusnya mereka memanfaatkan temu ini untuk berbicara dari hati ke hati walaupun akhirnya nanti tidak bisa saling mengisi hati lagi. Bukan malah memanfaatkan waktu ini untuk saling berdiam diri, menjulang ego dan bersintik hati.


“ Hem.” Jawab Fani singkat, andalannya jika sedang ngambek. Menjawab singkat dengan tidak menatap lawan bicaranya, umum dilakukan oleh wanita.


“ Heh kenapa sih? Aku salah apa?.” Andry terkekeh geli, benar-benar sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Fani yang membuat jari jemarinya gatal ingin mencubit hidung dan pipi Fani.


“ Hum.” Jawabannya masih sama. Deheman dan wajah datar, meskipun kesannya jelek bagi orang tapi bagi Andry ini sangat menggemaskan.


Ah sudah lama. Sudah sejak kepergianmu aku tidak melihat kegemasan ini. Meskipun pertemuan tidak sengaja ini cukup menyayat hatiku, setidaknya aku masih tetap harus berterima kasih pada tuhan. Terimakasih telah mengizinkanku untuk tetap menikmati indahnya ciptaanmu.


“ Kamu ngambek Fan?.” Andry menatap Fani penuh kelembutan, meskipun pura-pura tidak peduli sebenarnya dia bisa merasakan kalau wanita yang duduk disebelahnya sedang tidak enak hati.


“ ……” Fani hanya menggidikkan bahunya, mengangkat alisnya. Tidak tau. Begitulah kira-kira arti sinyal yang diberikan olehnya.


“ Hem, sampai kapan kamu disini?.” Andry meneruskan pertanyaannya lagi, tidak peduli apakah Fani akan menjawab dengan ucapan atau hanya dengan gerak badan, yang penting ada jawaban yang bisa dimengerti dengan nalar.


“….” Masih mennggidikkan bahu. Hei sadarlah lelaki yang sedang ingin kau ambil perhatiannya ini sudah kau campakkan sejak beberapa bulan lalu. Ini tidak pantas, ini tidak layak kau lakukan.


“ Sampai kapan? Sampai selesai liburan?.” Andry terus menyodorkan pertanyaan sembari menghadapi kemacetan.


“ Hem.” Ada perkembangan. Meskipun hanya menjawab dengan deheman dan anggukan.


“ Kalau ada waktu kabari ya, ada yang mau aku omongin sama kamu.” Ucapnya sembari mengelus pundak Fani pelan.


“ Besok ada kok.” Fani menjawab dengan penuh semangat, seolah mengatakan aku siap untuk kau ajak berbicara kapan saja.


“ Aku juga pengen kerumah kak Andry, udah lama banget gak ketemu tante.” Lanjutnya berdalih. Malu hati karena terlalu semangatnya malah membuat Andry menatapnya dengan penuh keheranan. Fani membuang pandang, malu dengan tingkahnya yang terlalu girang.

__ADS_1


Dih kenapa semangat banget sih. Harusnya kan aku basa basi, bukan langsung mengiyakan, ini menyodorkan diri namanya. Ah begoooo!


__ADS_2