
Endrico sudah menjauhi kerumunan wanita yang mendekati Irma.
Beralih mendekati kumpulan lelaki yang disana juga ada beberapa teman
sekolahnya. Sengaja menjauhi Fani dan mencoba mengatur detak jantungnya yang
sejak tadi tidak beraturan. Mencoba menghela nafas panjang dan membuang semua
rasa gugup yang melekat didirinya.
“ Huffh seumur-umur baru kali ini deh gue segugup ini
didekat cewek.” Gumamnya dalam hati, sembari terus melangkah menuju kerumunan
lelaki yang berdiri disudut rumah Irma.
“ Hei En, rapi banget lo malam iini.” Ucap salah seorang
lelaki saat melihat dirinya datang mendekati.
“ Ah bisa aja lo. Lagian ini kan acara formal, masa sih gue
datang pakai pakaian berandalan.” Sahutnya sambil tertawa. Kemudian meraih
segelas air dari atas meja yang dilewatinya.
“ Datang sendirian lo En?.” Tanya temannya yang lain. Sembari
mengedarkan pandangan dan mencari-cari dengan siapa Endrico datang kepesta ini.
Yang dia tahu lelaki bernama Endrico ini adalah playboy cap badak yang suka
gonta ganti wanita. Apalagi jika pergi menghadiri pesta, dia tidak pernah
sendiri dan selalu membawa seorang wanita bersamanya.
“ Gak kok.” Jawabnya singkat sambil meneguk segelas air yang
ada ditangannya.
“ Siapa lagi korban lo kali ini hahahaha.” Sambungnya sembari
tertawa dan mendorong-dorong pelan bahu Andry.
“ Mau tau aja lo week.” Jawabnya sambil menjulurkan lidah,
menambah penasaran teman-teman yang ada dihadapannya itu.
“ Wah gue serius ni, kali ini cewek lo atau Cuma sekedar
gebetan?.” Terus bertanya sampai Andry mau menjawab dengan siapa dia datang
kepesta.
“ Gue bareng cewek
cantik pokoknya hahahaha.” Lagi-lagi menyulut emosi teman-temannya. Tidak ingin
mengatakan dengan siapa dia datang kepesta.
Sudah pukul 8 malam, pesta akan segera dimulai. Semua saling
mendekat dan berkumpul didekat meja utama. Dimana Irma berdiri dengan kue ulang
tahun diatas meja. Kedua orang tuanya juga mendampinginya. Satu persatu
rangkaian acara sudah dilewati, mulai dari kata sambutan, nyanyian ulang tahun
sampai dengan potong kue. Sekarang acara bebas, waktunya untuk bersenang-senang
sambil menikmati makanan yang sudah disediakan.
“ Anak cantik sekali lagi selamat ulang tahun ya.” Lagi-lagi
Fani memberikan ucapan selamat ulang tahun setelah Irma selesai melakukan acara
potong kue.
__ADS_1
“ Ucapin terus hahahaha.” Jawabnya terkekeh. Kemudian menarik
tangan Fani menuju tengah-tengah, meminta musik untuk dinyalakan dan mengajak
Fani berdansa. Tentu saja mereka menjadi sorot utama, semua mendekat dan
menikmati kedua wanita cantik itu berdansa.
“ Ayo Fann kita buat pesta dansa.” Ucapnya tersenyum senang.
Namun Fani tidak menjawab apapun, otaknya langsung bekerja membongkar memori
lamanya saat berdansa dengan Andry. Namun Irma tetap memaksa mengajak Fani
bergerak dan berdansa. Tidak lama, hanya untuk menarik perhatian tamu-tamunya
saja.
“ Jadi apa kalian semua mau kalau kita berdansa?.” Tanya Irma
seketika setelah berhenti berdansa. Menatap semua tamu yang mengelilinginya. Menawarkan
untuk pesta dansa.
“ Mauu.” Jawab mereka serentak, suaranya memenuhi seisi
rumah. Irma tersenyum melihat semua tamu yang antusias ingin mengikuti pesta
dansa.
“ Oke sekarang kalian cari pasangan masing-masing, mari kita
berdansa.” Ucap Irma kemudian berlalu pergi meninggalkan Fani ditengah-tengah
kerumunan. Fani hanya terdiam menatap Irma yang pergi menjauh meninggalkannya.
“ Loh kenapa gue ditinggal disini sendirian.” Batin Fani
sembari menatap sekeliling, sudah banyak orang berpasang-pasangan dan mengambil
bergegas keluar dan menjauh dari kerumunan orang yang sudah berpasangan dan
siap berdansa. Memilih untuk menjadi penonton saja.
“ Hei Fan kenapa lo disini sih.” Ucap Irma tiba-tiba saat
melihat Fani yang duduk menjauh dari kerumunan orang-orang yang akan berdansa.
“ Lagian juga ngapain gue disana sendiri, berdiri bengok
kayak orang ****.” Jawabnya sambil meraih segelas air.
“ Kan gue Cuma pergi sebentar sih, itupun lagi milih music yang
bagus buat dansa.” Ucapnya juga ikut meraih segelas air dari meja didekat
mereka.
Dari arah yang berlawanan tampak Endrico berjalan mendekati
mereka berdua. Berjalan dengan gaya sok tampan, sebelah tangan dimasukkan
kedalam saku celananya dan sebelah lagi membawa gelas berisi air berwarna
merah. Irma menatap gaya lelaki yang sok tampan itu, sembari tertawa seolah
mengejek. Meskipun kenyataannya Endrico memang tampan.
“ Hei kak Endri buruan dong kesini.” Sudah tidak tahan lagi
melihat Endrico yang berjalan bak model ditengah-tengah keramaian. Memintanya untuk
segera datang dan mendekatinya. Tangannya menjentik-jentik memberi kode
segeralah kesini.
“ Sok kegantengan banget deh tu orang.” Lanjutnya sambil terkekeh.
__ADS_1
Fani yang disebelahnya hanya menatap Endrico yang berjalan mendekat.
“ Kan emang ganteng sih. Bukannya tadi lo yang bilang kalau
dia ganteng.” Protesnya saat mendengar Irma yang menyebutkan jika Endrico sok
kegantengan.
“ Ih maksud gue cara jalannya, kalau wajahnya sih emang
ganteng.” Ucapnya terkekeh lagi.
“ Lagi pada ngapain sih?.” Tanya Endrico ketika dia sudah
berdiri didekat dua wanita ini.
“ Yang satunya senyum-senyum, nah yang satunya datar aja.” Lanjutnya
bertanya. Karena sepanjang jalan saat mendekati dua wanita ini dia juga
memperhatikan apa saja yang mereka lakukan dari kejauhan.
“ Gapapa kok kak Endri, biasa lah Fani kan emang datar
banget orangnya hahahha.” Ucapnya tertawa. Membuat Fani hanya bisa berdehem dan
menatapnya dengan penuh kekesalan.
Pesta dansa sudah dimulai, mereka bertiga hanya berdiri dan
menikmati pesta dansa itu sambil menikmati minuman dan makanan yang telah
disediakan. Namun tiba-tiba Irma yang jahil mendorong Endrico dan Fani mendekat
dengan para pasangan yang berdansa. Meminta mereka berdua untuk berdansa
sebagai hadiah ulang tahun untuknya.
“ Eh apaan sih Ir.” Ucap Fani kaget saat Irma mendorong
tubuhnya mendekat dengan orang-orang yang berdansa.
“ Sana lo berdua ikutan dansa.” Jawabnya terus mendorong
dengan sekuat tenaga hingga Endrico dan Fani sudah berada diantara pasangan
yang berdansa.
“ Ih apaan sih gue gak pengen dansa.” Protesnya. Menolak untuk
diminta berdansa dengan Endrico, lelaki tampan yang ada dihadapannya. Wajahnya ditekuk
kesal, seolah sangat tidak suka melihat lelaki yang dipasangkan dengannya.
“ Dansa sekarang juga.” Ucap Irma sambil tertawa dan
memaksa.
“ Anggap aja itu hadiah dari kalian berdua buat gue.” Lanjutnya
terus memaksa.
“ Kan kita udah kasih hadiah sih.” Terus protes tidak suka,
benar-benar menolak dipasangkan dengan Endrico.
Irma tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Fani. Hanya
menutup telinga dan memilih mengabaikan saja. Fani hanya berdiam diri dengan
wajah yang ditekuk, membuat Endrico yang berada didepannya merasa tersinggung. Melihat
penolakan dan bagaimana ekspresi wajah Fani membuat hati Endrico terasa sakit
dan kecewa. Seolah Fani benar-benar tidak menyukainya, jangankan dipasangkan
didunia nyata, hanya dipasangkan dalam pesta dansa saja dia tidak suka.
__ADS_1