Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Pesta Ulang Tahun Irma (Part2)


__ADS_3

Endrico sudah menjauhi kerumunan wanita yang mendekati Irma.


Beralih mendekati kumpulan lelaki yang disana juga ada beberapa teman


sekolahnya. Sengaja menjauhi Fani dan mencoba mengatur detak jantungnya yang


sejak tadi tidak beraturan. Mencoba menghela nafas panjang dan membuang semua


rasa gugup yang melekat didirinya.


“ Huffh seumur-umur baru kali ini deh gue segugup ini


didekat cewek.” Gumamnya dalam hati, sembari terus melangkah menuju kerumunan


lelaki yang berdiri disudut rumah Irma.


“ Hei En, rapi banget lo malam iini.” Ucap salah seorang


lelaki saat melihat dirinya datang mendekati.


“ Ah bisa aja lo. Lagian ini kan acara formal, masa sih gue


datang pakai pakaian berandalan.” Sahutnya sambil tertawa. Kemudian meraih


segelas air dari atas meja yang dilewatinya.


“ Datang sendirian lo En?.” Tanya temannya yang lain. Sembari


mengedarkan pandangan dan mencari-cari dengan siapa Endrico datang kepesta ini.


Yang dia tahu lelaki bernama Endrico ini adalah playboy cap badak yang suka


gonta ganti wanita. Apalagi jika pergi menghadiri pesta, dia tidak pernah


sendiri dan selalu membawa seorang wanita bersamanya.


“ Gak kok.” Jawabnya singkat sambil meneguk segelas air yang


ada ditangannya.


“ Siapa lagi korban lo kali ini hahahaha.” Sambungnya sembari


tertawa dan mendorong-dorong pelan bahu Andry.


“ Mau tau aja lo week.” Jawabnya sambil menjulurkan lidah,


menambah penasaran teman-teman yang ada dihadapannya itu.


“ Wah gue serius ni, kali ini cewek lo atau Cuma sekedar


gebetan?.” Terus bertanya sampai Andry mau menjawab dengan siapa dia datang


kepesta.


“  Gue bareng cewek


cantik pokoknya hahahaha.” Lagi-lagi menyulut emosi teman-temannya. Tidak ingin


mengatakan dengan siapa dia datang kepesta.


Sudah pukul 8 malam, pesta akan segera dimulai. Semua saling


mendekat dan berkumpul didekat meja utama. Dimana Irma berdiri dengan kue ulang


tahun diatas meja. Kedua orang tuanya juga mendampinginya. Satu persatu


rangkaian acara sudah dilewati, mulai dari kata sambutan, nyanyian ulang tahun


sampai dengan potong kue. Sekarang acara bebas, waktunya untuk bersenang-senang


sambil menikmati makanan yang sudah disediakan.


“ Anak cantik sekali lagi selamat ulang tahun ya.” Lagi-lagi


Fani memberikan ucapan selamat ulang tahun setelah Irma selesai melakukan acara


potong kue.

__ADS_1


“ Ucapin terus hahahaha.” Jawabnya terkekeh. Kemudian menarik


tangan Fani menuju tengah-tengah, meminta musik untuk dinyalakan dan mengajak


Fani berdansa. Tentu saja mereka menjadi sorot utama, semua mendekat dan


menikmati kedua wanita cantik itu berdansa.


“ Ayo Fann kita buat pesta dansa.” Ucapnya tersenyum senang.


Namun Fani tidak menjawab apapun, otaknya langsung bekerja membongkar memori


lamanya saat berdansa dengan Andry. Namun Irma tetap memaksa mengajak Fani


bergerak dan berdansa. Tidak lama, hanya untuk menarik perhatian tamu-tamunya


saja.


“ Jadi apa kalian semua mau kalau kita berdansa?.” Tanya Irma


seketika setelah berhenti berdansa. Menatap semua tamu yang mengelilinginya. Menawarkan


untuk pesta dansa.


“ Mauu.” Jawab mereka serentak, suaranya memenuhi seisi


rumah. Irma tersenyum melihat semua tamu yang antusias ingin mengikuti pesta


dansa.


“ Oke sekarang kalian cari pasangan masing-masing, mari kita


berdansa.” Ucap Irma kemudian berlalu pergi meninggalkan Fani ditengah-tengah


kerumunan. Fani hanya terdiam menatap Irma yang pergi menjauh meninggalkannya.


“ Loh kenapa gue ditinggal disini sendirian.” Batin Fani


sembari menatap sekeliling, sudah banyak orang berpasang-pasangan dan mengambil


bergegas keluar dan menjauh dari kerumunan orang yang sudah berpasangan dan


siap berdansa. Memilih untuk menjadi penonton saja.


“ Hei Fan kenapa lo disini sih.” Ucap Irma tiba-tiba saat


melihat Fani yang duduk menjauh dari kerumunan orang-orang yang akan berdansa.


“ Lagian juga ngapain gue disana sendiri, berdiri bengok


kayak orang ****.” Jawabnya sambil meraih segelas air.


“ Kan gue Cuma pergi sebentar sih, itupun lagi milih music yang


bagus buat dansa.” Ucapnya juga ikut meraih segelas air dari meja didekat


mereka.


Dari arah yang berlawanan tampak Endrico berjalan mendekati


mereka berdua. Berjalan dengan gaya sok tampan, sebelah tangan dimasukkan


kedalam saku celananya dan sebelah lagi membawa gelas berisi air berwarna


merah. Irma menatap gaya lelaki yang sok tampan itu, sembari tertawa seolah


mengejek. Meskipun kenyataannya Endrico memang tampan.


“ Hei kak Endri buruan dong kesini.” Sudah tidak tahan lagi


melihat Endrico yang berjalan bak model ditengah-tengah keramaian. Memintanya untuk


segera datang dan mendekatinya. Tangannya menjentik-jentik memberi kode


segeralah kesini.


“ Sok kegantengan banget deh tu orang.” Lanjutnya sambil terkekeh.

__ADS_1


Fani yang disebelahnya hanya menatap Endrico yang berjalan mendekat.


“ Kan emang ganteng sih. Bukannya tadi lo yang bilang kalau


dia ganteng.” Protesnya saat mendengar Irma yang menyebutkan jika Endrico sok


kegantengan.


“ Ih maksud gue cara jalannya, kalau wajahnya sih emang


ganteng.” Ucapnya terkekeh lagi.


“ Lagi pada ngapain sih?.” Tanya Endrico ketika dia sudah


berdiri didekat dua wanita ini.


“ Yang satunya senyum-senyum, nah yang satunya datar aja.” Lanjutnya


bertanya. Karena sepanjang jalan saat mendekati dua wanita ini dia juga


memperhatikan apa saja yang mereka lakukan dari kejauhan.


“ Gapapa kok kak Endri, biasa lah Fani kan emang datar


banget orangnya hahahha.” Ucapnya tertawa. Membuat Fani hanya bisa berdehem dan


menatapnya dengan penuh kekesalan.


Pesta dansa sudah dimulai, mereka bertiga hanya berdiri dan


menikmati pesta dansa itu sambil menikmati minuman dan makanan yang telah


disediakan. Namun tiba-tiba Irma yang jahil mendorong Endrico dan Fani mendekat


dengan para pasangan yang berdansa. Meminta mereka berdua untuk berdansa


sebagai hadiah ulang tahun untuknya.


“ Eh apaan sih Ir.” Ucap Fani kaget saat Irma mendorong


tubuhnya mendekat dengan orang-orang yang berdansa.


“ Sana lo berdua ikutan dansa.” Jawabnya terus mendorong


dengan sekuat tenaga hingga Endrico dan Fani sudah berada diantara pasangan


yang berdansa.


“ Ih apaan sih gue gak pengen dansa.” Protesnya. Menolak untuk


diminta berdansa dengan Endrico, lelaki tampan yang ada dihadapannya. Wajahnya ditekuk


kesal, seolah sangat tidak suka melihat lelaki yang dipasangkan dengannya.


“ Dansa sekarang juga.” Ucap Irma sambil tertawa dan


memaksa.


“ Anggap aja itu hadiah dari kalian berdua buat gue.” Lanjutnya


terus memaksa.


“ Kan kita udah kasih hadiah sih.” Terus protes tidak suka,


benar-benar menolak dipasangkan dengan Endrico.


Irma tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Fani. Hanya


menutup telinga dan memilih mengabaikan saja. Fani hanya berdiam diri dengan


wajah yang ditekuk, membuat Endrico yang berada didepannya merasa tersinggung. Melihat


penolakan dan bagaimana ekspresi wajah Fani membuat hati Endrico terasa sakit


dan kecewa. Seolah Fani benar-benar tidak menyukainya, jangankan dipasangkan


didunia nyata, hanya dipasangkan dalam pesta dansa saja dia tidak suka.

__ADS_1


__ADS_2