Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Pesta ulang tahun


__ADS_3

Fani masih tenggelam dalam tidurnya yang nyenyak. Langit sudah hampir gelap, namun dia masih belum bangun dari tidurnya. Padahal pesta akan dimulai kurang lebih 2 jam lagi. Sebuah ketukan pintu yang keras membangunkan gadis kecil ini. Perlahan membuka matanya dan mengedarkan pandangan kesekeliling. Terperanjak saat pandangannya terhenti dijendela, tampak langit sudah hampir gelap. Fani beranjak dan membuka pintu kamarnya, ternyata ibu yang membangunkan nya.


“ Sudah hampir gelap kamu masih tidur. Gak baik kata orang tua zaman dulu.” Ibu menatap sinis.


“ Sana cepetan mandi.” Sambungnya sambil mendorong pelan tubuh Fani agar beranjak.


“ Iya bu, aku mau siap-siap kepesta ulang tahunnya Andry.” Melangkah pelan menjauhi ibu.


“ Yaudah sana siap-siap nanti kamu telat.” Ibu menutup pintu kamar dan beranjak pergi.


Fani melangkah menuju kamar mandi, matanya masih mengantuk. Sesekali dia memejamkan matanya saat mandi. Hampir setengah jam Fani keluar dengan mengenakan handuk berwarna putih yang dililitkan ditubuh nya.


“ Aku gak bisa dandan lagi.” Gumamnya saat berdiri didepan meja rias.


“ Gak mungkin pakai gaun bagus tapi aku gak dandan. Gak sesuai kodrat dong.” Gumamnya lagi.


Fani mengeringkan tubuhnya dan mengenakan gaun berwarna kuning keemasan pilihan kekasihnya itu. Benar-benar sangat cocok ditubuhnya yang tinggi. Belahan hingga paha yang mengexspose kemulusan kaki jenjangnya. Fani sebenarnya tak pede dengan gaun ini, namun harus tetap memakainya dihari spesial kekasihnya.


“ Fan, kamu udah siap-siap?.” Suara ibu terdengar sayup-sayup dari luar kamar.


“ Belum bu.” Sahutnya sambil berputar-putar didepan kaca.


“ Kenapa belum siap? Ini udah jam 7 loh.” Ibu masuk dan menutup kembali pintu kamar Fani. Terkejut melihat gaun yang dikenakan oleh Fani.


“ Loh sejak kapan kamu punya gaun ini?.” Tanya ibu mendekat dan menyentuh gaun mewah yang sangat cocok ditubuh putrinya itu.


“ Kemarin dibeliin Andry bu. Dia yang minta aku pakai gaun ini saat pesta ulang tahunnya.” Fani masih berputar-putar didepan kaca. Melihat kemolekan tubuhnya saat mengenakan gaun berwarna kuning keemasan itu.


“ Bagus. Tapi kenapa wajah kamu masih polos dan pucat gitu.” Ibu mengerutkan keningnya saat melihat wajah Fani tanpa riasan.


“ Kan ibu tau kalau aku gak bisa dandan.” Fani cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“ Sini ibu bantu. Masa gaunnya bagus tapi mukanya gembel gini sih.” Ibu terkekeh. Berjalan kekamarnya untuk mengambil alat tempur. Meminta Fani untuk duduk dikursi meja rias dan mulai memberi sentuhan diwajah putrinya itu.

__ADS_1


“ Bu, jangan norak ya dandanan nya.” Ujar Fani takut jika ibu mendandani nya menor.


“ Iya tenang aja. Ibu sulap kamu jadi Cinderella malam ini.” Ibu terkekeh sambil tangannya terus bekerja.


“ Kebanyakan nonton dongeng ni ibu.” Jawabnya ketus.


“ Anak ibu harus cantik dong dihari spesial kekasihnya.” Ibu tertawa terbahak-bahak.


“ Ih siapa yang pacaran.” Jawabnya ketus.


“ Aduh anak ibu udah gede ya. Udah punya pacar sekarang.” Sambungnya masih terkekeh.


“ Terus apa kalau bukan pacaran? Sampai-sampai dibeliin gaun mewah gini.” Tanya ibu. Fani tak menjawab lagi, hanya berdiam dan menunggu ibu selesai menyulap dirinya.


“ Bu, masih lama?.” Tanya Fani risih dan tak sabar.


“ Sabar, ini udah hampir selesai.” Ibu memberi sentuhan akhir agak hasilnya bagus.


“ Nah, udah selesai.” Ibu menepuk tangannya. Fani membuka matanya perlahan dan melihat wajahnya dikaca.


“ Norak apanya sih. Ini bagus loh sesuai sama gaun kamu.” Protes ibu.


Wajah Fani benar-benar disulap ibu menjadi Cinderella malam ini. Hanya saja Fani tidak pede dengan riasannya, karena dia jarang sekali berdandan. Wajahnya ditekuk kesal, takut jika riasannya terkesan jelek dan menjadi bahan tawaan tamu yang datang. Ibu menepuk pundak Fani pelan dan memintanya agar segera pergi.


" Aduuh anak cantik ibu jangan ditekuk gitu dong mukanya. Nanti make up nya nge-crack malah jadi jelek." Ibu memegang kedua pipi Fani dan memaksanya tersenyum.


“ Udah, kamu pasti jadi tamu paling cantik malam ini.” Ucap ibu tersenyum sambil mendorong Fani agar beranjak pergi.


“ Kamu pakai sandal yang mana?.” Tanya ibu.


“ Ini bu, aku beli heels tadi siang.” Fani meraih kotak diatas ranjannya. Mengenakan heels yang senada dengan gaunnya itu.


“ Waw sempurna.” Ucap ibu terdengar memuji.

__ADS_1


“ Yaudah sana buruan. Nanti kamu telat gak enak sama Andry.” Ibu mendorong Fani keluar dari kamar.


Diruang tamu ada ayah dan Joo yang sedang menonton bersama. Melihat kedatangan dua wanita cantik tentu saja mengalihkan pandangan mereka. Fokus utama adalah Fani yang terlihat sangat cantik malam ini. Joo sampai berkali-kali memuji kecantikan adik wanita satu-satunya itu.


“ Wah cantik sekali anak ibu, mau kemana?.” Joo menepuk tangannya berulang kali diikuti oleh ayah.


“ Iya, anak ayah cantik banget sih.” Sambung ayah. Beranjak dan mendekati anak gadisnya.


" Sini ayah foto dulu anak ayah yang cantik ini." Meminta Fani berdiri tegak dan memotret putrunya beberapa kali.


" Cantik." Gumamnya kembali duduk didepan Tv.


Joo beranjak dan mendekati Fani yang masih tersenyum karena dipuji. Mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengajak Fani untuk berselfie.


" Sini dek. Kita foto dulu." Joo mengangkat ponselnya dan menekan tombol potret. Berkali-kali berganti gaya, mulai dari senyum hingga duck face. Ayah dan ibu yang tak mau kalah pun ikut nimbrung ditengah-tengah Fani dan joo.


" Cantik banget sih adek gue. Kan jadi gemess pengen cubit." Joo mencubit pelan pipi Fani. Gemas melihat adiknya yang sudah beranjak dewasa itu.


“ Hehehe makasih duo gantengku. Makasih ibu yang udah bikin anaknya jadi cantik malam ini. Aku mau ke pesta ulang tahun Andry dulu ya.” Fani cengengesan. Antara bahagia dan malu karena dipuji oleh ayah dan abangnya.


“ Eh tapi ngomong-ngomong kenapa gue gak diundang si Andry?.” Tanya Joo sambil mengangkat alisnya.


“ Ya mana gue tau.” Fani mengangkat bahunya tak tahu.


“ Udah buruan sana. Nanti telat.” Ibu mendorong tubuh Fani lagi.


“ Oh iya sampaikan salam dan ucapan ibu untuk Andry ya.” Sambung ibu.


“ Naik mobil kan lo dek? Nanti riasan lo luntur lagi kalau pakai motor.” Joo terkekeh menertawai Fani.


Fani hanya menatap Joo sinis dan meraih kunci mobil yang ada dimeja. Berjalan menjauh meninggalkan anggota keluarganya. Tangannya dipenuhi oleh kantong-kantong berisi hadiah. Fani meletakkan barang dikursi penumpang dan menyalakan mesin mobilnya. Saat hendak melajukan mobilnya, sebuah panggilan masuk dari Andry membuatnya mengurungkan niat. Menekan tombol jawab dan pannggilan pun terhubung.


“ Hallo sayang. Kamu dimana?.” Suara Andry terdengar samar-samar dari dalam telepon.

__ADS_1


“ Iya sayang, ini aku mau jalan. See you ya.” Sahut Fani.


“ Yaudah kamu hati-hati ya. Aku tunggu dirumah.” Andry menutup panggilan dan Fani bergegas melajukan mobilnya. Membelah jalanan yang ramai menuju rumah Andry, pria yang mulai dicintainya saat ini.


__ADS_2