Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Kode


__ADS_3

“ Fan kita pulang yuk, ganti baju dulu. Habis itu gue mau ajak lo ke mall, udah lama banget kan gak belanja. Pengen beli baju samaan gitu, aa kangen banget.” Sophia dengan penuh semangat menarik tangan Fani pergi menjauh dari pantai, kembali keparkiran.


“ Gue balik dulu ya, nanti gue jemput lo jam 5 sore. Jangan lupa, buruan ya. Ada waktu sekitar 3 jam lagi nih.” Sophia menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya, tubuhnya sudah setengah masuk kedalam mobil. Tangannya melambai-lambai kepada Fani yang juga hendak masuk kedalam mobil.


“ Bye, sampai ketemu nanti.” Fani membalas lambaian tangan Sophia, kemudian bergegas menyalakan mesin mobil.


Fani dan Sophia melajukan mobil dijalanan, saling menyalip dan memacu. Kadang Sophia yang didepan, kadang kala Fani yang didepan. Mereka terus memacu hingga sampai ke perkotaan dan kembali kerumah masing-masing.


“ Ah, ternyata gak ada untungnya bermusuhan ya. Bersahabat seperti ini sangat menyenangkan. Kenapa harus ada benci kalau ternyata bisa saling memaafkan seperti ini.” Gumam Sophia sembari mengemudi terus hingga sampai kerumahnya.


“ Terimakasih Fan, lo udah bersedia terima gue jadi sahabat lo lagi. Terimakasih lo udah bersedia membuka jalan untuk kita kembali seperti dulu lagi, gue bahagia banget. Gak masalah gak punya pacar asalkan punya sahabat seperti ini, bahagia terus.” Sophia haru biru sendirinya. Sebelah tangannya dengan cepat menyeka kedua ujung matanya, sudah sampai dirumah. Sophia harus bergegas mandi dan menjemput Fani. Pergi untuk berbahagia dan menembus waktu yang sudah mereka sia-siakan untuk saling bermusuhan.


**


Sophia dan Fani saling bergandengan, berjalan dengan riang gembira memasuki pusat perbelanjaan. Sudah hampir satu tahun mereka tidak pernah main berdua, terakhir kali beberapa bulan yang lalu ketika Sophia belum tau tentang hubungan Fani dan Andry.


“ Udah lama banget ya kita gak main bareng Fan.” Gumam Sophia menyela senyum bahagia yang terpancar diwajah mereka berdua.


“ Hem iya nih.” Sahut Fani cengengesan.


“ Terakhir kali waktu kita beli baju samaan ya Fan, yang warna pink kalau gak salah. Itupun karena kamu yang merayu-rayu biar aku juga ikutan beli. Ah kenapa gak pakai baju itu aja ya tadi, kan lucu. Kita bisa mengulang kenangan. Sambil menyelam minum air hehehhe.” Sophia terkekeh geli.


“ Gampang sih, tinggal beli doang.” Fani menarik tangan Sophia menuju sebuah toko yang menjual pakaian wanita.


“ Hahhahaha iya ya, kenapa harus susah-susah sih, tinggal beli doang.” Sophia ikut tertawa sembari menyeiringkan langkah sahabatnya.


Fani asyik memilih pakaian yang sesuai dengan seleranya, sementara disudut lain Sophia juga tengah asyik memilih baju yang sesuai dengan seleranya. Meskipun mereka bersahabat dekat, sejak dulu mereka tidak pernah sama dalam perihal selera berpakaian. Namun karena ingin samaan, kadang terpaksa salah satu dari mereka harus ada yang mengalah.


“ Sophia?.” Fani berteriak pelan, suaranya nyaring hingga membuat siempunya nama berbalik seketika.


“ Ini bagus gak?.” Fani mengembangkan sehelai baju yang dipilihnya. Sebuah hoodie berwarna biru keungu-unguan dengan model crop.


“ Hem.” Sophia berdehem, alisnya naik sebelah. Seolah mengatakan itu sama sekali bukan seleranya.


“ Bagus gak?.” Fani berjalan mendekat, meraih baju yang sama dan membawanya menuju Sophia yang juga sedang berdiri didepan baju-baju yang bergelantungan.


“ Hem, keep dulu deh. Coba cari yang lain dulu.” Sahut Sophia, menolak dengan cara halus. Sophia benar-benar memikirkan perasaan Fani, tidak ingin membuatnya marah dan kecewa sekali lagi. Padahal ingin sekali rasanya mulut Sophia mengatakan ‘ Dih jelek amat, itu bukan selera gue ****. Gue mah feminine, bukan ke laki-lakian kayak lo’. Namun Sophia harus menahan omongannya, mengingat mereka baru saja baikan. Tidak baik jika dirinya berbicara seperti biasanya, masih ada sedikit rasa canggung dan kehati-hatian dalam bicara.


“ Hem yaudah deh, gue lihat-lihat yang lain dulu. Huhhhh.” Fani berdecak kesal, kemudian dengan cepat berbalik dan mencari model lain yang cocok dengan mereka berdua.


Sementara Sophia masih asyik dengan model pilihannya, blouse kerut yang tampak sangat feminine, benar-benar anggun jika dipakai. Sophia senyum-senyum terkulum sembari mencoba baju tersebut ditubuhnya. Kemudian bergegas mendekati Fani, meminta pendapat sahabatnya tentang baju pilihannya ini. Sudah sangat lumrah jika mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyamakan selera.


“ Fan, ini bagus kan? Dih keren banget sumpah. Gue kebayang betapa cantiknya gue kalau pakai nih baju. Apalagi ditambah jeans highwaist gitu, dih cakep banget gue.” Sophia tampak begitu bahagia membayangkan dirinya mengenakan pakaian tersebut.

__ADS_1


“ Idih jelek amat selera lo. Ganti!.” Ketus Fani tiba-tiba melunturkan senyum bahagia yang terukir diwajah Sophia.


“ Dih, coba aja dulu kali Fan. Kalau emang cocok sama kita berdua kan bisa beli yang ini.” gumam Sophia lirih, air mukanya jatuh, seketika menjadi sendu.


“ Hem.” Lanjutnya bergumam, kemudian meletakkan kembali baju yang dipegangnya pada tempatnya. Lalu Sophia menghentikan pencarian, memilih untuk duduk diam ditempat yang telah disediakan.


" Masih bagusan selera gue ya. Dih selera lo jelek banget tau gak." Gumam Fani sembari menjulurkan lidah mengejek Sophia yang bersedih hati.


" Eh ingat ya, kita emang gak pernah satu selera. Lo seleranya lain gue lain." Balas Sophia tak mau kalah.


" Tapi jangan lupa ya, gue yang selalu ngalah kalau masalah beli-beli yang ginian." Fani terus saja menjawab, saling menyanggah tidak ingin kalah.


" Hem." Sophia hanya berdehem.


“ Hufffhh ternyata dalam hal ini masih sama ya, masih ribet kayak dulu. Capek deh gue harus belanja sama orang yang seleranya gak sama kayak gue.” Batinnya. Sophia menghela nafas panjang. Kini hanya terduduk diam sembari menyaksikan gerak-gerik Fani yang kesana-kesini memilih pakaian.


“ Baiklah kali ini gue yang ngalah, anggap aja ini permintaan maaf gue. Tapi lain kali jangan harap gue mau pakai selera lo yang jelek ya, dih sorry deh.” Sophia bergidik.


“ Eh Sop, ini bagus gak?.” Fani kembali mendekati Sophia, membawa dua helai baju dengan bentuk dan warna yang sama persis.


“ Hem bagus, yaudah beli yang itu aja.” Sahutnya tanpa banyak komentar, Sophia mengangguk iya-iya saja.


“ Tumben lo gak banyak koment kali ini, biasanya lo gak pernah cocok sama selera gue. Kenapa lo? Kesambet apaan?.” Fani malah keheranan, diwajahnya seolah-olah muncul pertanyaan besar, kenapa Sophia tiba-tiba mengiyakan?.


“ Hari ini terserah lo, hari ini gue ngalah sama lo. Semua yang lo mau bakal gue turutin, termasuk beli baju yang benar-benar bukan selera gue ini. Anggap ini semua permintaan maaf dari gue.” Ucap Sophia dengan wajah angkuh. Padahal judulnya minta maaf tapi wajahnya songongnya malah bikin semakin kesal dan ingin marah.


“ Hahahahaha.” Sophia tertawa terbahak-bahak melihat wajah Fani yang kesal.


“ Kalau emang mau minta maaf sekalian bayarin, baru gue maafin!.” Ketus Fani sembari melempar pakaian yang dipegangnnya kepada Sophia hingga mengenai wajahnya.


“ Aw sakit.” Sophia mengerang kesakitan. Tangannya mengelus-elus pipinya yang terkena besi gantungan baju.


“ Awas lo ya.” Sophia bangkit dan mengejar Fani.


Brukkkkkkk…


Tiba-tiba Sophia terjatuh, meringis kesakitan sembari mengelus-elus kepalanya.


“ Aww sakit.” Sophia mengelus-elus kepalanya, terasa benar-benar sakit.


Sophia perlahan-lahan membuka matanya, tangannya masih setia mengelus kepala yang terbentur. Tiba-tiba Sophia kaget, matanya membelalak smepurna ketika mendapati dirinya berada dibawah lantai. Ternyata Sopia masih berada didalam kamarnya, semua yang baru saja dialaminya hanya dalam mimpi.


“ Ha? Berarti semua itu hanya mimpi? Aaaaa gak mungkin? Masa sih semua itu hanya mimpi?.” Sophia mengucek-ucek matanya kasar, masih tidak percaya jika semua yang dialaminya hanya mimpi.

__ADS_1


“ Gak, ini gak mimpi. Ini pasti kenyataan, gue gak mimpi kan?.” Sophia mencoba bangkit dari lantai, menghamburkan tubuhnya keatas ranjang. Selutuh tubuhnya terasa pegal-pegal karena jatuh dari ranjang yang cukup tinggi.


“ Aku gak mimpi? Ini kenyataan kan? Hey Fan? Lo dimana? Bantuin gue, gue jatuh ni karena ngejar lo!.” Teriak Sophia. Matanya terpejam, kepalanya terasa sakit. Pandangannya berkunang-kunang jika matanya terbuka.


“ Aaaaaaaaa gak mungkin ini semua hanya mimpi, ini pasti kenyataan. Fan, bantuin gue.” Sophia mulai terisak-isak, tangannya memukul-mukul ranjang dengan brutal. Sophia benar-benar tidak terima jika semua kebahagiaan dirinya dengan Fani barusan hanyalah mimpi.


Sophia meracau tak menentu, tubuhnya lemas lunglai tak berdaya diatas ranjang. Namun kedua tangannya masih kuat memukul-mukul bantal dan benda lainnya. Seolah ada penyesalan mandalam sehingga membuat Sophia meringis meracau tak menentu begini. Sophia meraih ponselnya, masih ingin membuktikan jika semua yang dialaminya barusan adalah kenyataan, bukan hanya mimpi semata.


“ Ini pasti nyata, mungkin gue terlalu lelah setelah pulang main sama Fani makanya gue sampai ketiduran dan jatuh begini.” Gumamnya. Tangannya gemetaran menggenggam ponsel.


Sophia membuka pesan yang dikirim Fani, bertapa terkejutnya ketika dia mendapati bahwa pesan yang dikirimkan Fani padanya sama sekali belum dia balas. Jangankan dibalas, dibuka saja belum. Perlahan Sophia menyadari jika semua yang dialaminya benar-benar mimpi.


“ Ya tuhan, ternyata gue benar-benar mimpi.” Gumamnya. Sophia memukul-mukul kepalanya pelan, menggerutu pada dirinya sendiri.


“ Kenapa sih bisa-bisanya gue mimpi udah  baikan lagi sama Fani. Apa karena tadi gue mikirin mau balas pesan Fani gimana, eh sampai ketiduran. Dan akhirnya kebawa-bawa deh. Malah mimpinya bahagia banget lagi.” Sophia bersendu hati.


“ Apa sebenarnya ini adalah kode alam supaya gue mengiyakan ajakan Fani buat ketemu? Masa sih?.” Batinnya mulai peka dengan mimpinya.


“ Jadi sekarang gue harus gimana? Balas pesan dia, terus iyain ajakan dia buat ketemu.?.” Sophia membuka pesan dari Fani yang sampai saat ini belum dibukanya. Jari jemari Sophia bersiap-siap ingin mengetik beberapa pesan, namun masih tertahan, tidak tau apa yang ingin dikatakan.


“ Hem gue harus balas apa? Tapi masa sih ini kode biar gue baikan sama Fani? Terus nanti gimana? Kalau gue ketemu gue harus bilang apa? Gue kan takut. Apa karena gue menyimpan rasa bersalah selama ini ya? Ah mending gak usah balas deh.” Sophia masih menahan diri, masih ada gengsi yang menahan dirinya agar tidak mengiyakan I’tikad baik Fani.


“ Ah balas aja deh, dari pada gue hidup dibayang-bayangi rasa bersalah. Rasa penasaran sih lebih tepatnya. Kan gak lucu kalau gue mati penasaran.” Lanjutnya.


Tanpa pikir panjang Sophia mulai mengetik beberapa pesan, meskipun awalnya gengsi-gengsi tapi akhirnya Sophia memberanikan diri mengirimkan pesan.


“ Hallo Fan.”


“ Oke Fan, besok kita ketemu jam 9 pagi ya.”


“ Gue tunggu ditempat biasa, rumah makan seafood.”


Tangan Sophia gemetaran, akhirnya dia berhasil juga mengalahkan gengsi dan egonya. Sophia menghela nafas panjang, nafasnya seketika tidak beraturan, jantungnya berdetak kencang.


“ Akhirnya ya, gue berhasil juga ngalahin ego gue. Good job Sop, lo benar-benar pahlawan hari ini. Lo hebat, lo patut dikasih hadiah atas keberanian lo. Lo hebat Sop, lo hebat bisa mengalahkan diri lo sendiri.” Batinnya tersenyum riang, Sophia mengepalkan tangannya seolah membuat gerakan semangat Sophia semangat, lo hebat.


“ Hufffhhhhhh.” Sophia menghela nafas panjang. Rasanya sangat gugup, apalagi membayangkan besok dia akan bertemu dengan Fani, sahabat lamanya.


“ Ketemunya besok, tapi gue gugupnya udah dari sekarang, astagaa kenapa sih? Apa ini semua karena rasa bersalah gue ya?.” Sophia meneguk segelas air yang ada diatas meja sebelah ranjang, berharap bisa mengurangi rasa gugupnya, namun ternyata tidak.


“ Duh kenapa sih gue segugup ini? Hei, jantung! Berhentilah memburu seolah ingin membeludak keluar. Aku lelah, aku ingin bernafas lega. Tolong berhentilah!.” Sophia memukul-mukul dadanya kuat.


Sophia benar-benar tidak bisa menahan dirinya, hingga tanpa sadar hari sudah mulai gelap. Sophia tidak bisa tidur sepanjang malam, sibuk memikirkan apa yang akan dia lakukan besok bersama Fani, apakah semua akan mudah, bahagia seperti mimpinya. Sophia sibuk menyusun kosa kata apa yang akan dia katakan pada Fani besok, kata-kata yang sederhana, tanpa menyakiti perasaan Fani nantinya.

__ADS_1


“ Apapun caranya, gue harus bisa menahan diri. Gue gak boleh ngomong seenak jidat gue, gue gak boleh bikin Fani tersinggung. Pokoknya gue harus bisa menahan diri gue, bersikap anggun. Tapi gue berharap semua lancar jaya seindah mimpi gue.” Batin Sophia menutup pemikirannya.


“ Sampai ketemu besok Fan, gue gugup seriusan. Udah kayak mau ketemu calon mertua aja, kenapa sih ngebayangin lo aja gue jadi gugup begini. Sampai ketemu besok, semoga jantung gue gak copot ya karena menahan rasa gugup. Tapi gue lebih berharap besok gue gak gugup sama sekali saat ketemu sama lo.” Batin Sophia terus berkata-kata.


__ADS_2