Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Kemarahan Fani (Part3)


__ADS_3

Fani bergegas melangkah keluar dari kamar, kedua tangannya tampak membawa sebuah kotak berukuran sedang. Berjalan cepat melewati ibu yang tengah sibuk membersihkan rumah. Hanya ada diriinya dan ibu dirumah hari ini, sisanya kesekolah dan bekerja. Ibu hanya menatap dengan heran, bukankah Fani sangat lemah kemarin? Tapi kenapa pagi ini dia tampak sangat semangat melakukan aktivitas. Kondisinya berubah seketika.


“ Hei Fan, mau kemana? Bukannya kamu masih sakit? Kenapa ini jalannya cepat banget sih? Kamu gak lagi kesambet kan nak?.” Ucapnya menghentikan langkah Fani yang tampak sangat buru-buru menuju luar rumah.


“ Iya bu, gapapa kok ini Cuma mau kedepan aja kok.” Sahutnya berhenti dan berbalik melihat sang ibu yang tampak berdiri memegang beberapa alat tempur untuk membersihkan rumah.


“ Mau ngapain? Itu kamu bawa apa? Ada siapa diluar?.”  Serangnnya dengan banyak pertanyaan. Pandangannya terfokus pada kotak berukuran cukup besar yang ada ditangan anak gadisnya itu. Dahinya mengkerut menerka-nerka apa yang ada didalam kotak berwarna merah muda tersebut.


“ Mau kasih barang ini kekurir bu. Kurirnya sudah nunggu


didepan nih.” Ucapnya melanjutkan langkah menghampiri kurir yang akan membawa


kotak dan tumpukan kenangannya itu pergi.


“ Hei, ibu kan belum selesai bicara.” Teriaknya ketika melihat Fani berlalu pergi meminggalkannya yang masih bingung dan penasaran dengan isi kotak yang dibawa oleh Fani.


“ Bang, tolong usahakan paket ini sampai ketujuan dengan selamat dan sehat wal’afiat ya.” Ucapnya kepada seorang lelaki yang tampak mengenakan baju hitam list merah, seragam kerja sebuah ekspedisi. Kemudian dengan cepat menyerahkan kotak berwarna merah muda tersebut kepada sang kurir.


“ Baik mbak.” Sahut lelaki itu meraih kotak yang disodorkan oleh Fani.

__ADS_1


“ Oh iya bang, pastikan paket ini dikirim segera ya.” Ucapnya lagi. Menghentikan langkah kaki kurir yang semula sudah melangkah meninggalkannya.


" Kira-kira paket ini sampai kapan ya bang?." Kembali bertanya dan memastikan jika barang-barang ini akan sampai ditangan Andry dengan segera.


" Kemungkinan besok mbak, atau bisa jadi nanti malam sudah bisa langsung diantar kepemiliknya." Jawab lelaki tersebut.


Fani kembali masuk kedalam rumah, kali ini langkah kakinya tidak terburu-buru seperti tadi. Langkah kakinya pelan, menyeret lantai. Wajahnya mendadak sedih mengingat kisah cintanya yang sedih, wajahnya kusut masai, gelap dan suram. Lagi-lagi langkahnya dicegat oleh sang ibu yang belum puas dengan introgasinya tadi. Namun kali ini jauh lebih heran ketika melihat Fani kembali dengan wajah yang muram, padahal tadi dia tampak sangat semangat.


“ Hei berhenti dulu.” Ucapnya menghentikan langkah Fani dengan melintangkan sebuah sapu tepat dihadapan Fani.


“ Apa tadi yang kamu bawa? Ibu belum selesai bertanya.” Lagi-lagi ibu kepo ini menyerang dengan pertanyaan. Mencoba ingin tahu semua tentang, sedang dan akan dilakukan oleh Fani.


“ Hem.” Fani menghentikan langkahnya dan hanya menjawab dengan sebuah deheman. Pandangan matanya kosong, hanya menatap lantai yang tampak cemerlang sehabis dibersiihkan oleh ibu.


“ Tadi kau berlagak seperti orang yang sudah sangat sehat, eh setelah ibu cek ternyata tidak seperti tampaknya ya. Suhu tubuhmu masih tinggi.” Ucapnya diiringi gelak tawa kecil. Mengejek Fani yang menekuk wajahnya kesal.


“ Apa yang kau bawa tadi? Untuk siapa? Dan apa itu?.” Lagi-lagi masih menyerang dan masih sangat ingin tahu dengan semua yang dilakukan oleh Fani.


“ Itu kado bu, aku kirimkan untuk Sophia disana. Karena kemarin dia ulang tahun, aku baru sempat mengirim hadiahnya hari ini.” Jawabnya berbohong. Ini adalah satu-satu jawaban yang mungkin dipercayai ibu, karena tidak mungkin dia mengatakan yang sesungguhnya. Mengatakan jika kotak itu adalah semua barang-barang yang pernah diberikan Andry kepadanya, mulai dari kalung, cincin, foto-foto dan gaun mewah yang dia berikan sebelum ulang tahunnya. Tidak mungkin juga dia mengatakan jika Andry dan Sophia telah mengkhianatinya, hubungannya sudah berakhir sepihak.

__ADS_1


“ Oh begitu, ibu kira untuk siapa.” Ucapnya mengagguk-angguk paham. Merasa jika yang dibawa Fani adalah kado yang memang ditujukan untuk Sophia. Dilihat dari hubungan dekat Fani dan Sophia serta warna kotak yang


menunjukkan jika itu untuk wanita. Ya dengan mudah percaya saja.


“ Bu, aku istirahat dulu ya.” Lanjutnya meninggalkan ibu yang masih sibuk memegang sapu dan dedengkotnya.


Huffhh semoga saja kau bahagia, semua barang itu simpan saja, agar nanti setiap kali kau melihatnya kau langsung menghujam dirimu dengan rasa bersalah.


Fani kembali kedalam kamar, perlahan-lahan mengunci pintu kamarnya agar ibu tidak masuk tiba-tiba. Tangisnya mendadak pecah seketika, setelah benar-benar mengirim barang-barang berharga yang diberikan Andry padanya, barang-barang yang penuh dengan kenangan sepanjang perjalanan cinta mereka. Mulai dari yang awalnya hanya untuk taruhan hingga kemarin mereka menjadi benar-benar saling cinta. Namun, hari ini dengan berat hati dia harus membuang semua kenangan bersama barang-barang yang dikirimkannya. Sembari berharap kehidupan mereka akan lebih baik kedepannya, meskipun ini hanya keputusannya sepihak namun dia yakin jika ini adalah yang terbaik untuk dirinya serta untuk hubungan Andry dan Sophia ( Hubungan yang nyatanya tidak ada, hanya asumsi belaka.).


**


 Andry bergegas keluar dari ruang kelas, tangannya sebelah menyandang tas dan sebelah lagi memegang kunci mobil. Mengabaikan semua orang yang dilewatinya, dengan cepat melangkah menuju parkiran, menuju mobil kesayangan. Berjalan dibawah terik matahari ditambah dengan senyumnya yang mekar kuncup menambah ketampanan dirinya. Banyak pasang mata yang tergugah melihatnya, berkilau dan tampan.


“ Hei buddy apa kau siap mengantarku membeli hadiah untuk kekasih hatiku?.” Ucapnya mengelus pintu mobil sembari tertawa kecil. Membuka pintu dan segera duduk dibelakang kemudi, senyumnya masih mekar dan belum kuncup.


“ Mari kita jelajahi kota dan temukan sesuatu yang berharga. Akan ku beri untuk kekasih hatiku sebagai hadiah bertambah usianya.” Lanjutnya sembari mencekam kemudi dengan sangat kuat. Menyalakan mesin dan segera


melajukan mobil keluar dari pekarangan sekolah. Melaju menuju pusat kota, tempat yang akan dijelajahinya untuk mencari hadiah spesial untuk orang yang sangat spesial baginya.

__ADS_1


Huh kenapa waktu bergerak begitu lama? Aku ingin hari ini berakhir dengan sangat cepat.


Andry menyalakan layar ponselnya, mencoba menghubungi sang kakak Devi. Mungkin ada ide bagus tentang hadiah untuk wanita. Jujur Andry sama sekali tidak tahu apa yang disukai oleh wanita, otaknya sejak pagi sudah berputar keras memikirkan hadiah apa yang cocok untuk diberikan kepada Fani. Hadiah yang akan menjadi sangat berharga dan spesial sepanjang masa, hadiah yang tidak akan pernah dilupakan oleh kekasihnya itu.


__ADS_2