
Andry bergegas menyelesaikan makan malamnya, jari-jari kakinya meronta ketika semenjak menerima telepon dari Ardi yang mengajaknya untuk duduk nongkrong bersama. Andry segera mengiyakan tawaran Ardi karena suasana hatinya pun sedang buruk. Menghirup angin malam mungkin lebih baik daripada telentang menatap langit-langit kamar yang dipenuhi gantungan-gantungan kekesalan. Dengan cepat dia menuju kamar dan berganti pakaian. Mengenakan kaus hitam dan celana jeans selutut, dilengkapi dengan jaket berwarna hijau Army yang menambah kesan keren pada dirinya.
“ Bunda, aku pergi dulu ya.” Meraih kunci mobil dan setengah berlari menuju garasi. Dengan lincah tangannya menyalakan mesin dan melaju meninggalkan pekarangan rumahnya, membelah jalanan yang tampak sangat ramai malam ini. Kilau cahaya dari sorot lampu kendaraan sesekali menghalangi pandangannya, hiruk pikuk kendaraan pun menemani sepanjang perjalananya.
“ Dimana lo?.” Tanyanya ketika Ardi menjawab telepon. Tangannya mematikan mesin mobil dan segera keluar dengan sebelah tangan masih menggenggam telepon.
“ Gue udah dibawah ni.” Sambungnya terus melangkah menuju cafe yang bernuansa klasik itu. Dimatikannya sambungan telepon dan berjalan setengah lari menuju lantai atas, menemui sekumpulan teman-teman yang sudah menunggunya sejak tadi.
“ Nah ini dia orang yang kita tunggu-tunggu.” Sahut Ardi dari kejauhan saat melihat sosok Andry berjalan mendekat.
“ Bisa aja lo.” Jawabnya sembari menarik kursi dan bergabung dengan teman-temannya.
Mereka berbincang dan sesekali tergelak tawa. Kadang hanya hal kecil yang menjadi alasan dibalik tawa mereka, namun situasi ini benar-benar membuat nyaman Andry. Seketika dia melupakan tentang kekesalan dan kecemburuan yang menyelimutinya sejak siang tadi. Melupakan Fani yang berkecil hati setelah bentakannya tadi. Memilih untuk tidak ambil peduli masalah percintaannya untuk saat ini, hanya ingin meluapkan emosi dan tergelak tawa tanpa beban dihati. Perlahan emosinya meredam seiring dengan hembusan angin malam dingin yang menyentuh kulitnya.
**
Jari jemari Sophia dengan lincah mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan besok pagi. Biasanya dia hanya tinggal menyalin tugas tanpa mencari, namun sekarang dia harus mandiri dan mengerjakannya sendiri. Meskipun dalam hatinya merasa kesal dengan keadaan yang memaksanya untuk rajin dan mandiri, tapi Sophia tetap menikmati situasi saat ini. Terlebih situasi semenjak pindahnya Fani, benar-benar sangat dia nikmati. Jari jemarinya terus menulis dan memecahkan persoalan, sangat cepat dan terburu-buru. Ini semua demi sesuatu yang akan dia lakukan setelah menyelesaikan tugas ini.
“ Oke siap.” Ucapnya dengan diiringi tawa kecil dan tepuk tangan. Tangannya dengan sigap menutup dan mengumpulkan buku-buku yang berserakan, menyimpan kedalam tas. Diraihnya ponsel dari atas meja dan berlari
menuju ranjang, seluruh bagian tubuhnya mendarat sempurna diatas kasur yang berukuran sedang itu.
“ Siap juga untuk menjalani misiku hehehe.” Gumamnya sambil terus tertawa. Jarinya langsung mencari kontak Fani yang sejak beberapa minggu terakhir ini tidak pernah dia hubungi.
__ADS_1
“ Hei Fani, apa kau siap menerima pembalasan dariku?.” Sambungnya tetap terus tertawa. Jarinya beralih menekan tombol setelan, privacy dan memilih hanya dibagikan kepada Fani. Fitur apaan ini, hanya Fani saja yang dapat melihat status yang dibagikannya. Dipilihnya foto dia yang menatap Andry dengan penuh kasih sayang, mengunggah status dilengkapi dengan emoji berbentuk hati.
“ Nah udah selesai. Kalau gue kirim langsung sama lo pasti lo mikir gue sengaja buat panas-panasin lo doang.”
Sophia memainkan ponselnya sambil sesekali mengecek apakah Fani sudah melihat status yang dibagikannya atau belum. Meskipun dia asyik menonton video yang ada diyoutube, hatinya tetap merasa tidak tenang dan cemas karena sudah hampir satu jam sejak foto itu dia unggah Fani masih belum juga melihatnya.
Jangan-jangan Fani udah hapus kontak gue, atau jangan-jangan dia udah ganti nomor baru.
Seketika Sophia bangkit dan terduduk saat kata jangan-jangan itu bergelayut dipikirannya. Pasti akan sangat kesal jika Fani benar-benar menghapus kontaknya atau mengganti nomor ponselnya. Tentu saja ini akan menghambat rencananya atau bahkan bisa menghancurkan semua rencana yang sudah dia tata seminggu belakangan ini.
“ Aduh gimana cara mastiin kalau Fani masih menyimpan kontak gue ya?." Tanya nya dengan penuh kecemasan. Tadi dia terkekeh geli saat membayangkan bagaimana emosi dan marahnya Fani, tapi sekarang bayang-bayangnya saja menertawakan kecemasannya.
“ Ayolah berfikir, jangan cemas-cemas tak menentu.” Gumamnya sambil meremas rambut dengan kedua tangannya. " Gak mungkin aku unggah diakun sosmed yang lain, masalah cuma sosmed ini yang bisa ditentuin siapa aja penonton statusku." Terus menjambak rambutnya frustasi.
“ Pada siapa harus ku tanyakan ini? Apakah kontaknya masih sama atau sudah berganti?.” Sambungnya. Tangan dan matanya dengan lihai mencari kontak seseorang yang bisa dia tanyakan tentang ini. Sambil terus berfikir sosok siapa saja yang mungkin
“ Cuma Andry sih.” Menarik nafas panjang dan menghembuskannya kencang. Merasa seperti putus asa. Tentu saja hanya Andry yang paling mengetahui tentang kehidupan Fani saat ini. Dirinya? Bahkan kabar pindahnya Fani saja dia tahu dari orang lain. Sejak dia memutuskan pertemanan dengan Fani, sejak itu pula lah dia berhenti mendapatkan informasi pribadi dari Fani. Dari yang awalnya sangat dekat hingga jadi orang yang paling jauh saat ini.
Aaaa sejak aku memutuskan pertemanan denganmu, aku kehilangan seluruh informasi. Dari yang awalnya paling mengetahui hingga aku jadi orang yang tidak tau apa-apa. Harusnya aku tetap dapat informasi meskipun aku tidak ingin lagi berteman denganmu, anggap saja seperti musuh dalam selimut. Eh tapi aku tidak tau caranya bermanis mulut dengan orang yang aku benci, ah persetan!
Sophia terus saja menggerutu tak menentu, kadang-kadang menyalahkan dirinya tapi kadang-kadang juga menyalahkan Fani. Mungkin jika Fani tidak mengkhianatinya, mereka pasti masih berteman dengan sangat baik. Lebih penting misi buruk ini tidak akan mungkin terlintas dikepalanya. Dalam cemas dan kesalnya tiba-tiba dia terfikir tentang sosok Ardi. Ya tentu saja sosok lelaki selain Andry yang mengetahui tentang kehidupan Fani.
“ Ardi.” Gumamnya sambil mebelalakkan mata, kaget senang ketika menemukan ide brilian. Wajah yang mulanya ditekuk seketika berubah menjadi riang gembira. Diraihnya ponsel dan bergegas mencari kontak Ardi. Perlahan menulis pesan mekipun ditemani rasa ragu-ragu. Kirim atau tidak kirim atau tidak, pertanyaan itu seolah-olah bergelantungan dikepalanya. Terdiam sesaat hingga nekat jempolnya menekan tombol panah dan pesan langsung saja terkirim. Sophia menarik nafas panjang dan memilih menjauhi ponselnya, mengabaikan tentang status yang dibagikan hanya kepada Fani, memilih lupa tentang pertanyaan yang diajukannya kepada Ardi.
__ADS_1
“ Aaa aku menyesal bertanya seperti itu dengan Ardi. Pasti dia langsung bisa menebak jika aku sedang punya masalah dengan Fani.” Gumamnya sambil menghempaskan kepalanya berulang kali keatas bantal yang dipegangnya.
“ Aku Tarik saja pesannya.” Tiba-tiba matanya kembali terbelalak dan segera meraih ponsel yang dia lemparkan kesudut Ranjang tadi. Tangannya yang gemetar dengan cepat membuka pesan, namun belum sempat menarik pesan yang dikirimnya tadi ternyata Ardi sudah membaca dan tengah mengetik pesan.
“ Aaaa mati aku. Dia sudah membaca bahkan sedang mengetik.” Jari-jemarinya semakin gemetar menatap ruang chatnya dengan Ardi. Tiba-tiba sebuah pesan masuk, membuatnya kaget dan melongo. Semakin menyesali kecerobohan dan kebodohannya.
“ Kenapa Sophia? Kenapa tidak langsung tanyakan saja pada Andry kekasihnya Fani. Mumpung dia ada bareng gue sih sekarang, atau mau gue yang tanyain langsung?.”
“ Oh iya, kenapa lo nanya ke gue? Bukannya lo sahabat karibnya? Harusnya kan lo yang paling tau tentang Fani. Lo lagi slek ya?.”
Dua balasan Ardi yang menambah kecemasan Sophia, apalagi nama Andry yang dibawa-bawa. Tidak menyangka jika Andry dan Ardi saat ini sedang bersama. Sophia semakin mengutuki kebodohan dirinya, bagaimana jika Ardi benar-benar bertanya dengan Andry atas nama dia? Sudah pasti Andry akan ikut-ikutan curiga.
Ah bodoh ! Tak ada lagi yang bodoh selain kau Sophia.
“ Jadi ini bagaimana? Aku harus balas pesannya atau enggak. Lagian aku juga kegep stay room chat. Aaa gimana ini? Ardi bilang ke Andry gak ya kalau aku chat dia nanyain Fani.”
Sophia menggenggam kedua tangannya yang dingin dan gemetar, niatnya ingin mengorek informasi tentang Fani dari Ardi. Alih-alih malah terjebak dalam niatnya sendiri, sedikit saja kecurigaan Andry pasti rencana dan misinya gagal total. Pasalnya setiap kali mengajak Andry foto berdua, Sophia selalu mengatakan jika dia akan mengirimkan foto ini kepada Fani, dia juga mengatakan sering berkomunikasi dengan Fani.
Masa misinya belum jalan tapi aku udah dipaksa berhenti sih. Ini yang salah strateginya atau akunya?
“ Ah sebaiknya aku gak usah balas deh pesan Ardi, aku pura-pura ditelan bumi ajadeh.” Gumamnya sembari merebahkan tubuh dan menarik selimut hingga kelehernya. Menutup mata dan memilih menjauhi ponsel yang saat ini dianggapnya benar-benar tidak berguna. Memang lari dari masalah adalah sesuatu perkara yang nikmat baginya.
Hallo pembaca setia.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment dan vote novel ini ya.
Jika ada kritik dan saran boleh tinggalkan dikolom komentar, terimakasih.