Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Misi Sophia (Part5)


__ADS_3

Andry sudah duduk dibelakang kemudi, sementara Sophia juga sudah duduk disebelah Andry. Tanpa banyak bicara Andry segera melajukan mobil kesayangannya menuju sekolah. Sebelumnya mobilnya hanya pernah ditumpangi satu wanita saja, yaitu Fani. Namun kali ini terpaksa Sophia juga masuk dalam listnya. Andry tidak berbicara apapun dengan Sophia, pandangannya hanya fokus kepada jalanan yang mulai ramai.


“ Terimakasih ya kak Andry.” Ucap Sophia memecahkan keheningan antara mereka berdua, menatap Andry dan tersenyum bahagia.


“ Iya santai aja, karena lo sahabatnya Fani berarti lo juga sahabatnya gue.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.


“ Hehehe.” Hanya tawa palsu yang keluar dari mulut Sophia. Seisi perutnya terasa berguncang ketika mendengar kata ‘ Sahabatnya Fani ‘. Kadar kesal dan marahnya masih saja sama, bahkan mendengar nama Fani saja bisa membangkitkan emosinya.


Cih ! Sahabat kepalamu ! Iya dulu, tapi sejak ada duri dalam daging dia udah berubah status jadi musuh gue.


Sophia meraih ponsel dari saku tasnya, melihat ada peluang yang bagus untuk melanjutkan misinya. Ya, merasa jika dunia tengah berppihak kepadanya. Menyalakan ponsel dan membuka kamera, merekam perjalanannya dengan diam-diam. Diujung video dia sengaja menampakkan sebagian tubuh Andry, meskipun wajahnya tidak terlihat jelas namun dia yakin jika Fani pasti akan mengenali sosok ini dengan sangat baik. Hatinya tersenyum senang, membayangkan seberapa kesal dan murkanya Fani setelah melihat  video ini, sengaja dia lakukan untuk mengobrak-abrik emosi Fani.


Hahahaha mati deh lo Fan abis lihat video ini, bisa kejang-kejang deh lo. Ahahahah sayangnya gue gak bisa lihat gimana kejang-kejangnya lo, pasti seru.


Seperti sebelumnya, Sophia hanya membagikan statusnya kepada Fani saja. Tidak ada yang bisa melihat status ini selain Fani, tentu saja karena Fani adalah peran utama dalam misinya. Dengan cepat Sophia mengunggah videonya, senyumnya kembali mekar setelah videonya berhasil terunggah. Hanya tinggal menunggu video itu dilihat oleh sasaran, menunggu reaksi dari sang lawan.


Hehehehe pasti lo bakal nangis jungkir balik Fan, gak mungkin lo gak ngerasa marah dan kesal. Apalagi kemarin lo juga udah lihat status gue yang nyender dibahu Andry. Tunggu saja satu persatu hadiah spesial dariku untuk mu hei gadis lugu.


“ Udah sampai ni.” Ucap Andry membuyarkan lamunan Sophia. Senyum yang mekar diwajahnya seketika berubah menjadi kaget dan panik. Terperanjak dan menatap sekelilingnya, benar saja ternyata mereka sudah berada diparkiran sekolah.


“ Eh iya kak.” Jawabnya tersentak kaget. Dengan cepat diraihnya tas dan barang-barangnya, segera turun dari mobil mewah milik Andry.

__ADS_1


“ Terimakasih ya kak, sampai jumpa.” Bergegas melangkah menuju kelas, melambaikan tangannya kepada Andry yang masih berdiri disebelah mobil. Malu jika seandainya tadi Andry melihatnya melamun dan tersenyum-senyum sendirian.


“ Duh, kira-kira kak Andry lihat gak ya gue senyum-senyum tadi.” Berjalan setengah berlari menuju kelas, nafasnya sesekali tersengal-sengal.


Semakin mempercepat langkahnya dan menghambur duduk dikursi miliknya. Mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, masih cemas ketakutan jika Andry ngegap dirinya yang tersnyum-senyum dimobil sendirian. Mencoba mengatur pernafasan dengan menarik  nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Kemudian meraih ponsel dari saku bajunya, melihat apakah Fani sudah menonton video yang diunggahnya beberapa menit yang lalu.


“ Yah kok belum dilihat sih? Apa jangan-jangan dia masih sibuk bersiap-siap berangkat sekolah?.” Gumamnya agak kecewa. Masih menunggu Fani menonton video yang diunggahnya.


“ Ah biarin ajadeh, pasti nanti juga dilihat videonya. Kan gue yang mau bikin dia sakit hati, kalau gue menggerutu begini nanti malah gue yang sakit hati.” Sambungnya mematikan ponsel. Menyimpannya kembali kedalam tas, mengeluarkan beberapa buku dan kotak pensil. Memilih untuk mengerjakan tugas sebelum bel masuk berbunyi.


**


“ Woi dek, lo kesekolah gak sih?.” Teriak Joo. Sudah hampir 10 menit dia menunggu dimeja makan, namun sosok Fani masih belum juga terlihat keluar dari kamar.


“ Iya ibu lihat dulu ya.” Bergegas melangkah menuju kamar Fani. Tanpa mengetuk pintu langsung saja masuk dan memeriksa apa yang sedang dilakukan oleh Fani hingga membuatnya belum keluar sejak tadi.


“ Fan? Loh kok kamu masih tiduran sih. Gak sekolah?.” Ucapnya mendekati sosok Fani yang masih bernaung dibawah selimut tebal, hampir seluruh tubuhnya tertutup.


“ Fan.” Semakin mendekat dan duduk ditepi ranjang. Melihat tidak ada respon dari anak gadisnya, ibu langsung memukul dan menggoyangkan tubuh Fani pelan. Terasa panas, tangannya beralih menempel didahi Fani. Benar saja, suhu tubuh Fani sangat panas. Pantas saja hingga saat ini dia belum keluar kamar, ternyata dia sakit.


“ Wah kamu sakit ya nak? Fan. Ibu ambilkan kompres ya.” Ucapnya bergegas keluar dan meninggakan Fani sendirian, kembali menuju meja makan dan memberitahu Joo jika mereka bisa berangkat sekarang tanpa menunggu Fani.

__ADS_1


“ Joo, kamu berangkat saja ya sama Efan.” Ucapnya cemas, tampak kalang kabut mencari mangkok dan mengisi dengan air.


“ Lah kenapa bu?.” Tanya Joo keheranan melihat sang ibu yang kalang kabut. Belum mendapatkan jawaban, sudah datang lagi pertanyaan dari ayah yang baru datang. Masih sama keheranan melihat sang istri yang tampak kalang kabut tidak karuan.


“ Kenapa bu, kok panik begitu?.” Tanya Ayah duduk dimeja makan. Mengambil beberapa potong roti sebagai sarapan.


“ Fani ternyata demam tinggi yah, harus cepat-cepat dibawa kedokter.” Bergegas menuju kamar Fani dengan membawa semangkuk air dan sebuah kain kecil untuk dijadikan kompres.


“ Kamu berangkat saja ya Joo, jangan lupa Efan diantar sampai kedepan kelas.” Sambungnya setengah berteriak.


“ Iya bu.” Sahutnya. Menggandeng tangan Efan dan berpamitan dengan ayah yang sedang menikmati sarapan.


Ibu mencoba mengompres dahi Fani agar suhu tubuhnya segera turun dan normal. Cemas melihat tubuh Fani yang pucat dan lemas. Berkali-kali memanggil Fani agar bangun dan segera kedokter.


“ Fan, bangun nak. Kita kedokter yuk, badan kamu panas banget nih.” Ucapnya menggoyang-goyangkan tubuh Fani pelan. Membolak-balikkan kain yang menempel didahi Fani. Karena suhu tubuh yang sangat panas membuat kain basah itu cepat kering.


“ Fan.” Sambungnya terus memanggil Fani. Terlihat kepala Fani bergerak kekanan dan kekiri. Mulutnya mengerang kesakitan, meringis dan menangis. Merasa tidak nyaman dan pegal-pegal. Perlahan Fani membuka mata dan menatap sosok wanita yang ada dihadapannya.


“ Bu.” Ucapnya lirih. Mulutnya pucat dan gemetar.


“ Iya nak, kamu kenapa? Apa yang sakit? Kita kedokter ya.” Membantu Fani duduk bersandar diranjang, memaksa untuk minum yang banyak. Fani hanya mengikut dan mengangguk mengiyakan, tubuhnya benar-benar pegal dan sakit.

__ADS_1


Akhirnya Fani kerumah sakit ditemani ayah dan ibu, entah sejak kapan dia demam. Yang jelas tadi malam dia masih baik-baik saja, hanya menggerutu kesal dan menyumpah serapahi Andry. Mungkin karena terlalu kelelahan yang membuat kondisi tubuhnya menurun.


Bersambung....


__ADS_2