
Fani terdiam membisu, hatinya berkecamuk tak
menentu. Andry menanyakan sesuatu yang membuatnya sulit untuk menentukan
jawaban. Bagaimana mereka akan kembali bersama, bagaimana mereka akan menjalin
kembali tali cinta, sementara Fani saat ini telah milik orang lain. Seketika
baying-bayang Endrico memenuhi isi kepalanya, membuatnya tidak mampu
mengedipkan mata, sangat ketakutan.
“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu
selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”
Kata-kata yang pernah diucapkan Endrico
terngiang-ngiang dikepalanya. Bagaimana dia bisa melupakan janjinya, melupakan
kejamnya ancaman yang Endrico katakan. Apa karena Andry adalah pria yang pernah
mengisi hatinya, bahkan sampai saat ini pun masih. Karena terhanyut pada kisah
lama, Fani lupa bahwa dirinya sudah tidak sama.
“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu
selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”
“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu
selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”
“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu
selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”
“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu
selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”
“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu
selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”
Kata-kata itu selalu terngiang dikepala Fani. Bahkan
dia masih bisa mengingat jelas bagaimana ekspresi wajah Endrico ketika
mengatakan hal itu. Terlihat becanda tapi ada keseriusan didalamnya. Fani
semakin merasa takut, perlahan-lahan tubuhnya berjalan mundur, menjauhi Andry
yang terdiam bingung. Hanya menatap Fani yang terus-terusan mundur, tatapannya
kosong, dari mulutnya tidak keluar sepatah kata pun. Hingga tanpa sadar Fani
menangis tersedu-sedu, terduduk melutut dipasir, menangisi, menyesali.
“ Fan kamu kenapa? Kamu gapapa kan?.” Andry berlari
menghambur mendekati Fani yang sudah bergerumul dengan pasir-pasir.
“ Fan kenapa? Kamu kenapa?.” Tanya Andry panic.
Tangannya menampar pelan pipi Fani agar berhenti menangis, berharap gadis itu
akan berbicara dan mengatakan apa yang salah darinya, apa yang membuatnya sesedih ini.
Apa
yang membuatmu menangis tersedu-sedu begini? Perasaan aku gak bilang sesuatu
yang menyakiti hati. Ada apa? Apa yang sebenarnya kau pikirkan Fani.
“ Fan, lihat aku. Please jangan nangis tanpa sebab
begini. Apa aku salah? Aku salah ? Kalau aku salah aku minta maaf Fan, please
jangan nangis lagi.” Ucapnya lirih. Andry mengatupkan kedua tangannya, memohon
dihadapan Fani agar Fani jangan menangis lagi. Semakin kuat Fani menangis
semakin hatinya teriris. Tidak ada satupun lelaki yang tega melihat orang yang
dicintainya menangis hingga tersedu-sedu begini.
“ Gapapa kok kak, Cuma aku sedih aja.” Jawab Fani
terisak-isak, perlahan tubuhnya bergerak dan beranjak. Kedua tangannya menyeka
ujung mata, tampak sembab membengkak.
Andry mengikuti Fani yang kembali duduk dibawah
pepohonan rindang. Berjalan tergopoh-gopoh dengan kotak pink ditangan. Hari ini
benar-benar menguras emosional, canda tawa, tangis haru berubah menjadi satu.
“ Fan,” Panggil Andry. Kemudian duduk mendekat
dengan Fani yang tertunduk dengan tangan yang menyilang dilutut.
Ini
cewe kenapa sih? Kesambet setan? Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba nangis
sesenggukan. Susah bener ya ngertiin wanita. Bentar nangis bentar ketawa.
“ Fan, kamu kenapa? Kita pulang aja ya.” Andry
perlahan-lahan menepuk pundak Fani. Masih belum mengerti apa yang menyebabkan
Fani sesedih ini, padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun.
“ Kita pulang aja ya.” Ajak Andry lagi. Tangannya
memegang kedua pundak Fani dan membantunya agar berdiri, namun Fani menepisnya.
Seolah tidak ingin Andry mengajaknya pulang, masih ingin disini menangisi
sesuatu yang mengusik hati.
“ Kita pulang aja ya biar kamu lebih tenang.” Andry
membujuk Fani. Sebenarnya dia bingung harus berbuat apa lagi, tiba-tiba Fani
menangis tanpa ada sebabnya. Dari pada semakin bingung lebih baik membawa Fani
pulang agar dia lebih tenang.
“ Gak, aku gapapa kok kak.” Fani menggeleng, menarik
tangan Andry agar duduk disebelahnya.
“ Yakin ni gapapa?.” Tanya Andry memastikan.
Kemudian Andry duduk disebelah Fani, mengelus pundaknya agar lebih tenang.
Fani merebahkan kepalanya didada Andry,
perlahan-lahan tangisnya sudah reda. Tidak lagi terisak-isak seperti tadi.
“ Kenapa sih? Cerita aja kalau ada masalah. Jangan
diam-diam nangis gini, aku kan jadi bingung.” Andry masih penasaran apa yang
membuat Fani mendadak menangis tersedu-sedu.
“ Cuma sedih aja.” Jawab Fani terisak-isak.
“ Sedih kenapa lagi sih? Gak cukup sedihnya selama
ini?.” Andry membawa Fani semakin jauh kedalam pelukannya. Tidak perduli lagi
wanita ini milik orang atau sebagainya, yang terpenting saat ini adalah
bagaimana caranya agar orang yang dia sayangi tidak menangis dan bersedih hati
lagi. Andry harus berusaha membuat Fani nyaman disisinya, lebih tepatnya harus
berusaha merebut kembali Fani menjadi miliknya.
“ Aku sedih. Aku menyesal. Kenapa sih aku gak bisa
percaya sama kak Andry waktu itu? kenapa sih aku mudah percaya dengan Sophia
__ADS_1
yang sudah jelas-jelas ingin menghancurkan hubungan kita. Kenapa sih?.” Ucap
Fani terisak-isak. Ternyata penyesalan lah yang membuatnya menangis
terisak-isak seperti ini.
“ Udah gapapa, penyesalan memang pasti ada. Yang
lalu biarlah berlalu, tugas kita sekarang Cuma memikirkan masa depan.” Andry
mengangguk mengerti, kemudian tersenyum tipis sembari memeluk Fani. Akhirnya
gadis ini mengerti dan menyadari kesalahannya.
“ Tapi lihat lah sekarang, aku menjebak diriku
sendiri. Aku tidak tau harus bagaimana lagi. Aku terlalu tergesa-gesa, terlalu
egois, aku tidak sabaran hingga aku menerima cinta orang lain. Padahal sudah
jelas-jelas aku masih memiliki perasaan sama kak Andry, tapi aku menerima kak
Endri.” Fani semakin menjadi-jadi, menangis tersedu-sedu.
“ Sudah sudah, yang penting sekarang udah tau mana
letak kesalahannya. Sekarang mari sama-sama kita perbaiki, itupun kalau kamu ingin
kita kembali lagi. Atau bahkan sekalipun kamu tidak ingin kembali, aku tidak
akan memaksa. Yang penting kesalahpahaman antara kita sudah selesai.” Ucap
Andry lirih. Meskipun nadanya terdengar biasa saja, padahal dalam hatinya
menggebu-gebu ingin mendengar bahwa Fani memilih dirinyaa.
“ Kak, aku cinta kak Andry. Tapi posisinya sekarang
aku sudah milikk orang. Aku juga udah mulai nyaman dengan kehidupan yang
sekarang.” Lanjut Fani.
Andry mengkerutkan dahinya, mulai tidak mengerti
dengan maksud Fani. Semakin berbeli-belit, semakin rumit.
Jadi
maksudmu apa? Kau masih mencintaiku, tapi kau nyaman dengan lelaki barumu. Apa
ini? jadi maksudmu kau ingin pakai sekali dua? Ha gimana-gimana? Emang kau
tidak bisa memilih salah satu ya? Kenapa harus merumitkan diri sih?
“ Aku tidak bisa menjawab apapun. Posisinya aku
hanya sebagai pilihan saat ini. Tidak mungkin aku memaksamu untuk memilihku.
Untuk apa nantinya jika kamu memilihku sementara hatimu masih tinggal bersama
lelaki barumu. Begitu juga sebaliknya. Kamu harus mengikuti kata hatimu.” Andry
tersenyum. Hari ini dia mengatakan sesuatu yang amat sangat bijak, meskipun
hatinya tertusuk-tusuk.
Hah
sedih ya. Aku sudah berbulan-bulan mengejar cinta, aku mati-matian berkelana
demi kau. Tapi ini balasannya, kau bahkan tidak langsung memantapkan pilihan
memilihku. Seandainya kau lebih memilih lelaki barumu, entahlah aku sudah tidak
bisa berkata-kata lagi. kau benar-benar wanita kejam.
“ Kak,” Fani menatap dalam mata Andry. Mata sembab
yang, raut wajahnya benar-benar mengatakan jika dia mengakui kesalahannya.
“ Sudah jangan bahas masalah itu lagi.” Andry
menempelkan jari telunjuknya kebibir Fani, sudah tidak perlu membahas masalah
ini lagi. Percuma baginya, menyesal tapi tetap saja menyakitkan hati.
ada sesuatu yang harus dia sampaikan.
“ Sudah sudah, sekarang kita bahas masalah lain.
Seperti ini contohnya.” Andry mengambil kotak pink dan memberikannya kepada
Fani.
“ Ini? Bahas kesalahan aku lagi?.” tanya Fani dengan
wajah polosnya.
“ Bukan. Sekarang jangan sedih-sedih lagi ya. Kita
manfaatin waktu yang ada sebaik mungkin, harus bersenang-senang dan bahagia.”
Andry membuka kotak pink dan menuangkan semua isinya diatas pasir, berserakan.
Fani hanya teridam, menyaksikan semua yang dilakukan
oleh Andry. Semua barang-barang yang pernah diberikan oleh Andry sebelumnya ada
disini, bahkan juga ada foto-foto polaroid yang pernah menjadi kesayangan Fani
ini. Tangan Fani meraih gaun berwarna kuning keemasan, seketika pikirannya membawannya
kembali kemasa lalu. Dimana saat itu dia tampil bak seorang ratu, dengan gaun
mewah ini, datang untuk mendampingi Andry dipesta ulang tahunnya. Seketika mata
Fani berkaca-kaca, perlahan satu persatu kenangan yang sudah berusaha
ditimbunnya kembali lagi kepermukaan. Hari ini, dia ingin sekali menangisi,
mengutuk dirinya sendiri.
Seandainya
aku tidak percaya dengan yang aku lihat saat itu, sudah pasti kita akan sangat
bahagia saat ini. Bagaimana bisa kau masih mencintaiku, sementara aku
bersikukuh lari darimu.
“ Ambil kembali semua barang-barang milikmu.
Meskipun tidak ingin memakainya lagi, setidaknya hargai aku. Biarkan gaun ini
melengkapi kenangan-kenangan yang terdahulu.” Andry tersenyum, tangannya
menggenggam tangan Fani.
“ Baiklah, masukkan kembali semua barang-barang ini
dan bawa pulang bersamamu.” Ucap Andry sembari memasukkan kembali satu persatu
barang kedalam kotak pink lusuh itu.
“ Hem,” Andry menyunggingkan bibir ketika tangannya
meraih foto-foto polaroid yang terpampang foto-foto mesranya dengan Fani.
Beberapa moment yang mereka abadikan saat pacaran, sengaja dicetak untuk
digantungkan didinding kamar.
“ Hum.” Sambut Fani mengambil tumpukan polaroid dari
tangan Andry. Bibirnya juga tersungging, setelah beberapa lama dia tidak
melihat foto-fotonya dengan Andry. Hari ini dia melihatnya kembali. Padahal
sebelumnya foto-foto ini bergelantungan didinding kamarnya, menemaninya dan
menjadi penghantar tidurnya.
“ Lucu ya.” Lanjut Fani. Melihat-lihat kembali
polaroid ini, memilah milih yang paling baik diantara yang baik. Kemudian
dengan cepat tangan Fani meraih tas mininya, memasukkan beberapa foto yang
__ADS_1
telah dipilihnya kedalam tas itu.
“ Ini buat dibawa kemana-mana hehehehe.” Ucap Fani
tertawa. Kemudian menutup tas mini miliknya dengan tergesa-gesa.
Ini
maksudnya apaan sih? Lo pengen bareng gue lagi apa engga. Kenapa lo gak bisa
mutusin hal sesederhana ini sih. Kalau emang lo cinta sama gue ya lo balik lagi
sama gue, tapi kalo lo cinta sama tu laki ya lo tinggalin gue.
“ Sekarang tutup mata kamu.” Pinta Andry,
menyingkirkan kotak pink itu menjauh dari mereka berdua.
“ Lah kenapa?.” Tanya Fani polos, bola matanya
berkeliaran sana sini menanti jawaban Andry.
“ Udah tutup aja mata kamu.” Pinta Andry secara
paksa, tangannya menutup kedua mata Fani.
“ Udah tutup ya. Jangan ngintip. Kalau ngintip nanti
matanya bintitan.” Lanjut Andry sambil mengancam. Perlahan-lahan tangannya
melepaskan dan memastikan jika Fani benar-benar menutup matanya.
Setelah memastikan Fani benar-benar tidak mengintip,
Andry berlari menuju mobil. Berlari dipasir-pasir pantai yang menggunung,
langkahnya tertatih-tatih. Andry berlari dan sesekali berbalik memastikan jika
Fani masih tetap diposisinya, tidak mengintip apa yang dilakukan oleh Andry.
Beberapa saat kemudian, Andry kembali mendekati Fani. Dari kejauhan sudah
terdengar langkahnya dan nafasnya yang memburu.
“ Dari mana sih? Lama banget.” Fani langsung
menyodorkan pertanyaan setelah mendengar langkah kaki Andry berhenti
didekatnya.
“ Huh huh huh, gak dari mana-mana kok. Diam. Jangan buka mata sampai
aku mengatakan buka.” Ucap Andry dengan nafas tersengal-sengal.
Cukup lama Fani menunggu, menutup mata tanpa tau apa
yang dilakukan oleh lelaki yang ada didekatnya. Fani hanya menurut, disuruh
tutup mata ya tutup mata.
“ Sekarang buka.” Pinta Andry.
Perlahan Fani membuka matanya, awalnya gelap pitam.
Perlahan mulai terang, tepat dihadapannya terlihat Andry sedang berlutut
dihadapannya dengan setangkai bunga dan kotak kecil berwarna merah. Fani sontak
menarik tubuhnya kebelakang, keningnya berkerut keheranan.
“ Apa ini.” Tanya Fani bingung. Atas dasar apa Andry
memberikannya kejutan, ini bukan ulang tahunnya.
“ Ha? Ini apa kak?.” Tanya Fani lagi.
Andry tidak menjawab apapun, hanya tersenyum manis
sembari menyodorkan bunga dan hadiah kecil dari tangannya. Memaksa agar Fani
menerima.
“ Apa ini kak?.” Fani masih enggan menerima, masih
belum bisa menerka maksud Andry yang sebenarnya.
“ Ambil dulu. Kamu gak perlu bertanya, Cuma perlu
ambil dan lihat isinya.” Ucap Andry. Tangannya terus menyodorkan benda kecil
yang ada ditangannya.
“ Tapi dalam rangka apa ini kak?.” Fani
perlahan-lahan mengulurkan tangannya, meraih setangkai bunga dan kotak kecil
yang diberikan Andry.
Andry tidak menjawab apapun, lagi-lagi hanya
tersenyum. Sementara Fani yang penasaran dengan benda yang diberikan Andry pun
perlahan-lahan membukanya. Tidak lupa juga mencium bunga mawar merah
kesukaannya. Fani tersenyum senang,
setelah sekian lama akhirnya dia kembali mendapat setangkai mawar merah dari
lelaki yang dicintainya.
“ Terimakasih kak Andry. Ini bukan sogokan agar aku
mengiyakan permintaan balikan kak Andry kan?.” Tanya Fani menggoda.
Bisa-bisanya dia berpikiran sampai kesana.
“ Kalau ini sogokan biar aku terima ajakan balikan,
mungkin aku akan…” Lanjut Fani kemudian menghentikan ucapannya. Menatap Andry
dan tersenyum seolah menggoda.
“ Mungkin apa?.” Sahut Andry tiba-tiba. Sorot
matanya tajam dengan kening yang berkerut. Fani sangat lihai membuat Andry
penasaran.
“ Mungkin…” Fani masih menggoda Andry. Senyumnya sudah
berubah menjadi tawa yang ingin pecah. Namun Fani masih bisa menahannya, senyum
terkulum apalagi ketika melihat wajah Andry yang amat sangat penasaran.
“ Mungkin apa? Mungkin aku akan membuangnya. Aku
akan memijak-mijaknya. Gitu?.” Tiba-tiba Andry meninggikan suaranya, emosi
karena Fani menggodanya.
“ Kalau memang begitu sini aku bantu, aku yang akan
membuangnya.” Lanjut Andry semakin tidak bisa mengendalikan emosinya. Wajahnya
mendadak memerah, sorot matanya tajam dan tangannya bergerak ingin merampas
mawar itu dari tangan Fani.
“ Awwww, sakit.” Teriak Fani ketika Andry mencoba
merebut mawar itu dan Fani menghalanginya. Entah apa yang menggerus pergelangan
tangan Fani hingga berdarah, mungkin jam tangan Andry.
“ Awww.” Teriaknya semakin dramatis.
“ Fan, maaf. Kamu gapapa kan?.” Tanya Andry panic.
Seketika marahnya berubah menjadi khawatir. Seperti biasa, ini adalah
kelemahannya.
“ Fan, maaf aku gak sengaja.” Andry meniup
pergelangan tangan Fani yang berdarah. Entah berapa kali mereka bermain drama
hari ini. Kadang Andry, lalu dibalas oleh Fani. Diam, kemudian mengulanginya
__ADS_1
lagi.