Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Gimana? Balikan (part2)


__ADS_3

Fani terdiam membisu, hatinya berkecamuk tak


menentu. Andry menanyakan sesuatu yang membuatnya sulit untuk menentukan


jawaban. Bagaimana mereka akan kembali bersama, bagaimana mereka akan menjalin


kembali tali cinta, sementara Fani saat ini telah milik orang lain. Seketika


baying-bayang Endrico memenuhi isi kepalanya, membuatnya tidak mampu


mengedipkan mata, sangat ketakutan.


“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu


selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”


Kata-kata yang pernah diucapkan Endrico


terngiang-ngiang dikepalanya. Bagaimana dia bisa melupakan janjinya, melupakan


kejamnya ancaman yang Endrico katakan. Apa karena Andry adalah pria yang pernah


mengisi hatinya, bahkan sampai saat ini pun masih. Karena terhanyut pada kisah


lama, Fani lupa bahwa dirinya sudah tidak sama.


“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu


selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”


“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu


selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”


“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu


selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”


“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu


selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”


“ Jangan nakal ya, jangan selingkuh. Kalau kamu


selingkuh aku tidak segan-segan akan membunuhmu.”


Kata-kata itu selalu terngiang dikepala Fani. Bahkan


dia masih bisa mengingat jelas bagaimana ekspresi wajah Endrico ketika


mengatakan hal itu. Terlihat becanda tapi ada keseriusan didalamnya. Fani


semakin merasa takut, perlahan-lahan tubuhnya berjalan mundur, menjauhi Andry


yang terdiam bingung. Hanya menatap Fani yang terus-terusan mundur, tatapannya


kosong, dari mulutnya tidak keluar sepatah kata pun. Hingga tanpa sadar Fani


menangis tersedu-sedu, terduduk melutut dipasir, menangisi, menyesali.


“ Fan kamu kenapa? Kamu gapapa kan?.” Andry berlari


menghambur mendekati Fani yang sudah bergerumul dengan pasir-pasir.


“ Fan kenapa? Kamu kenapa?.” Tanya Andry panic.


Tangannya menampar pelan pipi Fani agar berhenti menangis, berharap gadis itu


akan berbicara dan mengatakan apa yang salah  darinya, apa yang membuatnya sesedih ini.


Apa


yang membuatmu menangis tersedu-sedu begini? Perasaan aku gak bilang sesuatu


yang menyakiti hati. Ada apa? Apa yang sebenarnya kau pikirkan Fani.


“ Fan, lihat aku. Please jangan nangis tanpa sebab


begini. Apa aku salah? Aku salah ? Kalau aku salah aku minta maaf Fan, please


jangan nangis lagi.” Ucapnya lirih. Andry mengatupkan kedua tangannya, memohon


dihadapan Fani agar Fani jangan menangis lagi. Semakin kuat Fani menangis


semakin hatinya teriris. Tidak ada satupun lelaki yang tega melihat orang yang


dicintainya menangis hingga tersedu-sedu begini.


“ Gapapa kok kak, Cuma aku sedih aja.” Jawab Fani


terisak-isak, perlahan tubuhnya bergerak dan beranjak. Kedua tangannya menyeka


ujung mata, tampak sembab membengkak.


Andry mengikuti Fani yang kembali duduk dibawah


pepohonan rindang. Berjalan tergopoh-gopoh dengan kotak pink ditangan. Hari ini


benar-benar menguras emosional, canda tawa, tangis haru berubah menjadi satu.


“ Fan,” Panggil Andry. Kemudian duduk mendekat


dengan Fani yang tertunduk dengan tangan yang menyilang dilutut.


Ini


cewe kenapa sih? Kesambet setan? Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba nangis


sesenggukan. Susah bener ya ngertiin wanita. Bentar nangis bentar ketawa.


“ Fan, kamu kenapa? Kita pulang aja ya.” Andry


perlahan-lahan menepuk pundak Fani. Masih belum mengerti apa yang menyebabkan


Fani sesedih ini, padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun.


“ Kita pulang aja ya.” Ajak Andry lagi. Tangannya


memegang kedua pundak Fani dan membantunya agar berdiri, namun Fani menepisnya.


Seolah tidak ingin Andry mengajaknya pulang, masih ingin disini menangisi


sesuatu yang mengusik hati.


“ Kita pulang aja ya biar kamu lebih tenang.” Andry


membujuk Fani. Sebenarnya dia bingung harus berbuat apa lagi, tiba-tiba Fani


menangis tanpa ada sebabnya. Dari pada semakin bingung lebih baik membawa Fani


pulang agar dia lebih tenang.


“ Gak, aku gapapa kok kak.” Fani menggeleng, menarik


tangan Andry agar duduk disebelahnya.


“ Yakin ni gapapa?.” Tanya Andry memastikan.


Kemudian Andry duduk disebelah Fani, mengelus pundaknya agar lebih tenang.


Fani merebahkan kepalanya didada Andry,


perlahan-lahan tangisnya sudah reda. Tidak lagi terisak-isak seperti tadi.


“ Kenapa sih? Cerita aja kalau ada masalah. Jangan


diam-diam nangis gini, aku kan jadi bingung.” Andry masih penasaran apa yang


membuat Fani mendadak menangis tersedu-sedu.


“ Cuma sedih aja.” Jawab Fani terisak-isak.


“ Sedih kenapa lagi sih? Gak cukup sedihnya selama


ini?.” Andry membawa Fani semakin jauh kedalam pelukannya. Tidak perduli lagi


wanita ini milik orang atau sebagainya, yang terpenting saat ini adalah


bagaimana caranya agar orang yang dia sayangi tidak menangis dan bersedih hati


lagi. Andry harus berusaha membuat Fani nyaman disisinya, lebih tepatnya harus


berusaha merebut kembali Fani menjadi miliknya.


“ Aku sedih. Aku menyesal. Kenapa sih aku gak bisa


percaya sama kak Andry waktu itu? kenapa sih aku mudah percaya dengan Sophia

__ADS_1


yang sudah jelas-jelas ingin menghancurkan hubungan kita. Kenapa sih?.” Ucap


Fani terisak-isak. Ternyata penyesalan lah yang membuatnya menangis


terisak-isak seperti ini.


“ Udah gapapa, penyesalan memang pasti ada. Yang


lalu biarlah berlalu, tugas kita sekarang Cuma memikirkan masa depan.” Andry


mengangguk mengerti, kemudian tersenyum tipis sembari memeluk Fani. Akhirnya


gadis ini mengerti dan menyadari kesalahannya.


“ Tapi lihat lah sekarang, aku menjebak diriku


sendiri. Aku tidak tau harus bagaimana lagi. Aku terlalu tergesa-gesa, terlalu


egois, aku tidak sabaran hingga aku menerima cinta orang lain. Padahal sudah


jelas-jelas aku masih memiliki perasaan sama kak Andry, tapi aku menerima kak


Endri.” Fani semakin menjadi-jadi, menangis tersedu-sedu.


“ Sudah sudah, yang penting sekarang udah tau mana


letak kesalahannya. Sekarang mari sama-sama kita perbaiki, itupun kalau kamu ingin


kita kembali lagi. Atau bahkan sekalipun kamu tidak ingin kembali, aku tidak


akan memaksa. Yang penting kesalahpahaman antara kita sudah selesai.” Ucap


Andry lirih. Meskipun nadanya terdengar biasa saja, padahal dalam hatinya


menggebu-gebu ingin mendengar bahwa Fani memilih dirinyaa.


“ Kak, aku cinta kak Andry. Tapi posisinya sekarang


aku sudah milikk orang. Aku juga udah mulai nyaman dengan kehidupan yang


sekarang.” Lanjut Fani.


Andry mengkerutkan dahinya, mulai tidak mengerti


dengan maksud Fani. Semakin berbeli-belit, semakin rumit.


Jadi


maksudmu apa? Kau masih mencintaiku, tapi kau nyaman dengan lelaki barumu. Apa


ini? jadi maksudmu kau ingin pakai sekali dua? Ha gimana-gimana? Emang kau


tidak bisa memilih salah satu ya? Kenapa harus merumitkan diri sih?


“ Aku tidak bisa menjawab apapun. Posisinya aku


hanya sebagai pilihan saat ini. Tidak mungkin aku memaksamu untuk memilihku.


Untuk apa nantinya jika kamu memilihku sementara hatimu masih tinggal bersama


lelaki barumu. Begitu juga sebaliknya. Kamu harus mengikuti kata hatimu.” Andry


tersenyum. Hari ini dia mengatakan sesuatu yang amat sangat bijak, meskipun


hatinya tertusuk-tusuk.


Hah


sedih ya. Aku sudah berbulan-bulan mengejar cinta, aku mati-matian berkelana


demi kau. Tapi ini balasannya, kau bahkan tidak langsung memantapkan pilihan


memilihku. Seandainya kau lebih memilih lelaki barumu, entahlah aku sudah tidak


bisa berkata-kata lagi. kau benar-benar wanita kejam.


“ Kak,” Fani menatap dalam mata Andry. Mata sembab


yang, raut wajahnya benar-benar mengatakan jika dia mengakui kesalahannya.


“ Sudah jangan bahas masalah itu lagi.” Andry


menempelkan jari telunjuknya kebibir Fani, sudah tidak perlu membahas masalah


ini lagi. Percuma baginya, menyesal tapi tetap saja menyakitkan hati.


ada sesuatu yang harus dia sampaikan.


“ Sudah sudah, sekarang kita bahas masalah lain.


Seperti ini contohnya.” Andry mengambil kotak pink dan memberikannya kepada


Fani.


“ Ini? Bahas kesalahan aku lagi?.” tanya Fani dengan


wajah polosnya.


“ Bukan. Sekarang jangan sedih-sedih lagi ya. Kita


manfaatin waktu yang ada sebaik mungkin, harus bersenang-senang dan bahagia.”


Andry membuka kotak pink dan menuangkan semua isinya diatas pasir, berserakan.


Fani hanya teridam, menyaksikan semua yang dilakukan


oleh Andry. Semua barang-barang yang pernah diberikan oleh Andry sebelumnya ada


disini, bahkan juga ada foto-foto polaroid yang pernah menjadi kesayangan Fani


ini. Tangan Fani meraih gaun berwarna kuning keemasan, seketika pikirannya membawannya


kembali kemasa lalu. Dimana saat itu dia tampil bak seorang ratu, dengan gaun


mewah ini, datang untuk mendampingi Andry dipesta ulang tahunnya. Seketika mata


Fani berkaca-kaca, perlahan satu persatu kenangan yang sudah berusaha


ditimbunnya kembali lagi kepermukaan. Hari ini, dia ingin sekali menangisi,


mengutuk dirinya sendiri.


Seandainya


aku tidak percaya dengan yang aku lihat saat itu, sudah pasti kita akan sangat


bahagia saat ini. Bagaimana bisa kau masih mencintaiku, sementara aku


bersikukuh lari darimu.


“ Ambil kembali semua barang-barang milikmu.


Meskipun tidak ingin memakainya lagi, setidaknya hargai aku. Biarkan gaun ini


melengkapi kenangan-kenangan yang terdahulu.” Andry tersenyum, tangannya


menggenggam tangan Fani.


“ Baiklah, masukkan kembali semua barang-barang ini


dan bawa pulang bersamamu.” Ucap Andry sembari memasukkan kembali satu persatu


barang kedalam kotak pink lusuh itu.


“ Hem,” Andry menyunggingkan bibir ketika tangannya


meraih foto-foto polaroid yang terpampang foto-foto mesranya dengan Fani.


Beberapa moment yang mereka abadikan saat pacaran, sengaja dicetak untuk


digantungkan didinding kamar.


“ Hum.” Sambut Fani mengambil tumpukan polaroid dari


tangan Andry. Bibirnya juga tersungging, setelah beberapa lama dia tidak


melihat foto-fotonya dengan Andry. Hari ini dia melihatnya kembali. Padahal


sebelumnya foto-foto ini bergelantungan didinding kamarnya, menemaninya dan


menjadi penghantar tidurnya.


“ Lucu ya.” Lanjut Fani. Melihat-lihat kembali


polaroid ini, memilah milih yang paling baik diantara yang baik. Kemudian


dengan cepat tangan Fani meraih tas mininya, memasukkan beberapa foto yang

__ADS_1


telah dipilihnya kedalam tas itu.


“ Ini buat dibawa kemana-mana hehehehe.” Ucap Fani


tertawa. Kemudian menutup tas mini miliknya dengan tergesa-gesa.


Ini


maksudnya apaan sih? Lo pengen bareng gue lagi apa engga. Kenapa lo gak bisa


mutusin hal sesederhana ini sih. Kalau emang lo cinta sama gue ya lo balik lagi


sama gue, tapi kalo lo cinta sama tu laki ya lo tinggalin gue.


“ Sekarang tutup mata kamu.” Pinta Andry,


menyingkirkan kotak pink itu menjauh dari mereka berdua.


“ Lah kenapa?.” Tanya Fani polos, bola matanya


berkeliaran sana sini menanti jawaban Andry.


“ Udah tutup aja mata kamu.” Pinta Andry secara


paksa, tangannya menutup kedua mata Fani.


“ Udah tutup ya. Jangan ngintip. Kalau ngintip nanti


matanya bintitan.” Lanjut Andry sambil mengancam. Perlahan-lahan tangannya


melepaskan dan memastikan jika Fani benar-benar menutup matanya.


Setelah memastikan Fani benar-benar tidak mengintip,


Andry berlari menuju mobil. Berlari dipasir-pasir pantai yang menggunung,


langkahnya tertatih-tatih. Andry berlari dan sesekali berbalik memastikan jika


Fani masih tetap diposisinya, tidak mengintip apa yang dilakukan oleh Andry.


Beberapa saat kemudian, Andry kembali mendekati Fani. Dari kejauhan sudah


terdengar langkahnya dan nafasnya yang memburu.


“ Dari mana sih? Lama banget.” Fani langsung


menyodorkan pertanyaan setelah mendengar langkah kaki Andry berhenti


didekatnya.


“ Huh huh huh, gak dari  mana-mana kok. Diam. Jangan buka mata sampai


aku mengatakan buka.” Ucap Andry dengan nafas tersengal-sengal.


Cukup lama Fani menunggu, menutup mata tanpa tau apa


yang dilakukan oleh lelaki yang ada didekatnya. Fani hanya menurut, disuruh


tutup mata ya tutup mata.


“ Sekarang buka.” Pinta Andry.


Perlahan Fani membuka matanya, awalnya gelap pitam.


Perlahan mulai terang, tepat dihadapannya terlihat Andry sedang berlutut


dihadapannya dengan setangkai bunga dan kotak kecil berwarna merah. Fani sontak


menarik tubuhnya kebelakang, keningnya berkerut keheranan.


“ Apa ini.” Tanya Fani bingung. Atas dasar apa Andry


memberikannya kejutan, ini bukan ulang tahunnya.


“ Ha? Ini apa kak?.” Tanya Fani lagi.


Andry tidak menjawab apapun, hanya tersenyum manis


sembari menyodorkan bunga dan hadiah kecil dari tangannya. Memaksa agar Fani


menerima.


“ Apa ini kak?.” Fani masih enggan menerima, masih


belum bisa menerka maksud Andry yang sebenarnya.


“ Ambil dulu. Kamu gak perlu bertanya, Cuma perlu


ambil dan lihat isinya.” Ucap Andry. Tangannya terus menyodorkan benda kecil


yang ada ditangannya.


“ Tapi dalam rangka apa ini kak?.” Fani


perlahan-lahan mengulurkan tangannya, meraih setangkai bunga dan kotak kecil


yang diberikan Andry.


Andry tidak menjawab apapun, lagi-lagi hanya


tersenyum. Sementara Fani yang penasaran dengan benda yang diberikan Andry pun


perlahan-lahan membukanya. Tidak lupa juga mencium bunga mawar merah


kesukaannya.  Fani tersenyum senang,


setelah sekian lama akhirnya dia kembali mendapat setangkai mawar merah dari


lelaki yang dicintainya.


“ Terimakasih kak Andry. Ini bukan sogokan agar aku


mengiyakan permintaan balikan kak Andry kan?.” Tanya Fani menggoda.


Bisa-bisanya dia berpikiran sampai kesana.


“ Kalau ini sogokan biar aku terima ajakan balikan,


mungkin aku akan…” Lanjut Fani kemudian menghentikan ucapannya. Menatap Andry


dan tersenyum seolah menggoda.


“ Mungkin apa?.” Sahut Andry tiba-tiba. Sorot


matanya tajam dengan kening yang berkerut. Fani sangat lihai membuat Andry


penasaran.


“ Mungkin…” Fani masih menggoda Andry. Senyumnya sudah


berubah menjadi tawa yang ingin pecah. Namun Fani masih bisa menahannya, senyum


terkulum apalagi ketika melihat wajah Andry yang amat sangat penasaran.


“ Mungkin apa? Mungkin aku akan membuangnya. Aku


akan memijak-mijaknya. Gitu?.” Tiba-tiba Andry meninggikan suaranya, emosi


karena Fani menggodanya.


“ Kalau memang begitu sini aku bantu, aku yang akan


membuangnya.” Lanjut Andry semakin tidak bisa mengendalikan emosinya. Wajahnya


mendadak memerah, sorot matanya tajam dan tangannya bergerak ingin merampas


mawar itu dari tangan Fani.


“ Awwww, sakit.” Teriak Fani ketika Andry mencoba


merebut mawar itu dan Fani menghalanginya. Entah apa yang menggerus pergelangan


tangan Fani hingga berdarah, mungkin jam tangan Andry.


“ Awww.” Teriaknya semakin dramatis.


“ Fan, maaf. Kamu gapapa kan?.” Tanya Andry panic.


Seketika marahnya berubah menjadi khawatir. Seperti biasa, ini adalah


kelemahannya.


“ Fan, maaf aku gak sengaja.” Andry meniup


pergelangan tangan Fani yang berdarah. Entah berapa kali mereka bermain drama


hari ini. Kadang Andry, lalu dibalas oleh Fani. Diam, kemudian mengulanginya

__ADS_1


lagi.


__ADS_2