
Setelah menyelesaikan semua perkerjaan, Fani berjalan keteras depan. Mencari dimana keberadaan para lelaki yang banyak tadi. Tak satupun terlihat, Fani berjalan kesekeliling rumah dan melihat ayah dipinggir jalan. Fani berlari mendekat, melihat apa yang dilakukan ayah disana. Namun semakin dekat ia hanya melihat ayah dan sepupunya. Sementara Joo dan kekasihnya tak terlihat.
“ Loh bang Joo dan Andry kemana yah?.” Tanya Fani saat berhenti disebelah ayah.
“ Lagi olahraga malam.” Sahut Rafi terkekeh sambil kedua tangannya dilipat di depan dada.
“ Ha olahraga malam?.” Tanya Fani bingung. Rafi hanya menjawab dengan anggukan pelan.
“ Iya, soalnya siapa yang kalah hukumannya lari keliling kampung.” Jawab ayah sambil tertawa pelan. Membayangkan kedua anak muda itu berlari-lari keliling kampung.
“ Ya ampun kasihan banget sih.” Gumamnya membayangkan Andry yang berlari keliling kampung. Pasti disekujur tubuh Andry dipenuhi keringat.
Ayah dan Rafi kembali ke teras rumah. Mereka duduk santai dan kemudian disusul paman yang sibuk menelepon sejak tadi. Mereka tampak berbincang-bincang dan sesekali terdengar tawa hingga kepinggir jalan. Sementara itu Fani hanya duduk disebuah bangku yang terbuat dari batang kelapa. Menunggu kekasih hatinya kembali dari perjalanan melelahkannya. Fani meraih ponsel dari saku celananya, menyalakan musik untuk menghilangkan kesunyian disekitarnya. Suasana malam dikampung memang berbeda jauh dengan kota. Sunyi, gelap dan sepi. Hanya ada suara-suara jangkrik yang menghiasi.
“ Sayang kok lama banget sih olahraga malamnya.” Gumam Fani sambil menatap foto Andry.
“ Aku kangen nih.” Sambungnya sedih. Entah apa yang disedihkannya, padahal belum sampai satu jam mereka tidak bertatap muka. Apa beginikah tingkah setiap manusia yang tengah dimabuk cinta?
Dari kejauhan terlihat sosok berbaju merah berlari mendekat. Semakin dekat semakin jelas terdengar hembusan nafasnya yang keras. Ternyata Andry sudah kembali dari olahraga malamnya. Fani mendekati sosok yang ditunggu-tunnggunya sejak tadi.
“ Aaaa sayang kamu kenapa berlari malam-malam gini sih.” Ucapnya sambil membantu Andry untuk duduk dibangku.
__ADS_1
“ Habis kamu sih gak bantuin aku. Kalah deh.” Jawabnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
Tubuh Andry dipenuhi keringat, apalagi dibagian wajahnya. Hampir seperti orang mandi, basah sekali. Nafasnya memburu kencang, detak jantungnya tak beraturan. Bagian perutnya turun naik secepat hembusan nafasnya.
Andry mencoba mengatur pernafasannya agar segera normal. Fani berlari kedalam rumah dan mengambilkan segelas air untuk pria yang tampak sangat kelelahan itu.
“ Sayang minum dulu.” Ucapnya smabil menyodorkan segelas air kepas Andry.
“ Huffhh, huffhh.” Nafas Andry masih tersengal-sengal dan mengambil gelas berisi air dari tangan Fani. Dengan cepat dia meneguknya hingga habis tak bersisa. Haus sekali.
“ Aaa makasih ya sayang.” Sambungnya terdengar lumayan lega dan nafasnya sudah hampir normal.
“ Hehehehe lucu banget sih kamu kayak habis dikejar setan.” Mengambil kembali gelas kosong dari tangan Andry dan mengejek kekasihnya itu.
Fani membantu mengibas-ngibaskan tangannya kewajah Andry. Memberi angin agar keringat itu cepat mengering. Andry hanya menikmati kibasan dari tangan mungil gadis itu. Tiba-tiba Andry teringat dengan Bunga dan sekotak coklat yang dia bawa khusus untuk kekasihnya ini. Andry beranjak tanpa mengatakan apapun pada Fani. Berjalan menjauh meninggalkan Fani menuju rumah untuk mengambil kunci mobilnya. Fani heran kenapa Andry baranjak dan meninggalkannya sendiri. Ingin mengikuti namun Andry langsung memintanya berhenti dan menunggu disini.
“ Sayang mau kemana?.” Tanya Fani saat Andry berjalan menjauh.
“ Tunggu disini. Aku kembali dalam waktu 10 menit.” Jawabnya meminta Fani untuk tak mengikuti dan menunggu disana.
Fani tak menyanggah apapun yang dikatakan Andry. Berdiam diri dan menunggu dibangku kayu beratapkan langit itu. menatap gelapnya malam dan keindahan bintang-bintang yang bertaburan. Memejamkan mata dan meresapi udara yang menerpa tubuhnya. Udara yang tak pernah dia dapatkan selama tinggal dikota. Namun seketika Joo mengejutkannya. Berlari dengan cepat dan suara nafas yang memburu kencang. Terdengar jelas nafasnya tersengal-sengal. Joo sudah kembali dari olahraga malamnya. Fani hanya menatap lelaki yang melintasinya itu, menatap hingga sosok itu menghempaskan tubuhnya kelantai rumah karena sangat kelelahan.
__ADS_1
“ Kasihan banget sih lo bang.” Gumamnya menatap Joo yang terkapar diantas lantai teras. Tersenyum saat mendengar gelak tawa ayah, paman dan Rafi yang menyambut kedatangan Joo.
Tak lama kemudian Andry datang dan mendekati Fani yang tengah menatap langit malam itu. Membawa setangkai bunga dan sekotak coklat yang dia beli untuk kekasihnya. Harusnya sudah dia berikan sejak sore tadi, namun karena kesal dan mereka yang sibuk bermain lumpur hingga senja membuat Andry melupakan hadiahnya. Andry meletakkan hadihnya dibelakang punggungnya, berjalan mendekati Fani dan tersenyum manis. Fani berbalik dan menatap Andry penuh kebingungan.
“ Ngapain senyum-senyum?.” Tanya Fani keheranan.
“ Heheheh gapapa kok.” Jawab Andry tersenyum cengengesan.
“ Pati ada sesuatu ni.” Merasa jika Andry menyembunyikan sesuatu darinya.
Andry terus saja tersenyum cengengsan, kemudian menyodorkan setangkai bunga beserta sekotak cokelat kehadapan Fani. Sontak Fani terkejut dan matanya terbelalak melihat apa yang diberikan Andry. Dengan cepat tangannya meraih bunga dan sekotak cokelat itu, ini adalah kali pertamanya Fani menerima pemberian Andry dengan senang hati. Wajahnya yang semula kaget seketika berubah menjadi senyuman lebar penuh kebahagiaan.
“ Aaaa terimakasih sayang. Masih sempat-sempatnya bawa beginian.” Ucapnya sambil meraih bunga dan cokelat dari tangan Andry.
“ Hehehehe harusnya aku kasih tadi siang, biar lebih romantis. Tapi karena kesal dan sibuk main lumpur ya aku jadi lupa deh.” Jawabnya bercampur kesal.
“ Heheheh makasih ya sayangku.” Fani menggenggam tangan Andry kuat. Senyuman bahagia masih terpancar diwajahnya yang cantik itu.
“ Kamu suka?.” Tanya Andry membalas genggaman tangan Fani. Matanya menatap dalam manik mata Fani yang berbinar indah.
“ Senang sekali.” Tersenyum dan mencium aroma bunga yang segar itu.
__ADS_1
Andry merangkul kekasihnya yang masih tersenyum bahagia itu. Menarik kedalam pelukannya untuk berbagi kehangatan dibawah dinginnya langit malam. Sesekali mereka saling menatap dan tersenyum simpul. Andry benar-benar merasa nyaman saat ini. Wajahnya tak henti-henti mengukir senyuman kebahagiaan, terlebih melihat Fani yang berulang kali mencium bunga dan memeluk erat kotak coklat darinya. Beryukur karena niat buruknya berbuah cinta dan kebahagiaan. Berharap cinta mereka besar, berharap kekal.
Diantara hal yang paling ingin, mencintai dan tetap adalah hal yang paling. Mengasihi dan berkasih dibawah langit sang pengasih. Membesarlah kemudian kekal, cinta.