
Fani sedang berbaring dikamarnya, menatap langit-langit yang membuatnya tiba-tiba sesak dada. Mengingat kenangan masalalunya yang sangat menyakitkan. Malam ini Fani menatap langit-langit kamar dengan diteman lagu-lagu galau. Padahal ini adalah hari ulang tahunnya, hari yang sanga spesial bagi dirinya, tapi entah kenapa dia malah menjadi galau dan mellow.
“ Aku rindu sekali Andry, kenapa sih kamu tega denganku.” Ucapnya sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya. Apalagi ditambah dengan music mellow menambah rasa galau dan gundah gulana hatinya.
Jangan tanyakan perasaanku
Jika kau pun tak bisa beralih
Dari masa lalu yang menghantuimu
Karena sungguh ini tidak adil
Bukan maksudku menyakitiku
Namun tak mudah 'tuk melupakan
Cerita panjang yang pernah aku lalui
Tolong yakinkan saja raguku
Pergi saja, engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Hidup memang sebuah pilihan
Tapi hati bukan 'tuk dipilih
__ADS_1
Bila hanya setengah dirimu hadir
Dan setengah lagi untuk dia
Pergi saja, engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Bukan ini yang kumau
Rindu tak bisa diatur
Kita tak pernah mengerti
Kau dan aku menyakitkan
Pergi saja, engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
__ADS_1
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Di waktu yang salah
“ Duh lagunya sedih banget lagi, aku kan jadi makin galau.” Sambungnya sambil terus mengusap air matanya yang tanpa sadar sudah membasahi pipinya. Berbalik dan meraih ponsel yang baru saja menambah kegalauannya. Mematikan musik dan melempar ponsel kesisi ranjang yang lain, menjauhinya. Padahal sejak pagi hingga barusan dia dibuat senang oleh orang-orang terdekatnya. Mulai dari Endrico hingga dengan Al yang rela jauh-jauh datang kerumahnya hanya untuk merayakan ulang tahunnya.
“ Masa sih kau kalah dengan Al yang cintanya ku tolak. Dia yang ku tolak saja masiih bersedia datang menemuiku, memberiku kejutan ulang tahun, tidak lupa juga dia memberiku kado yang indah.” Ucapnya kali ini memuji Al yang cintanya dulu ia tolak. Itupun karna terpaksa, dan lebih terpaksa lagi dia harus menerima cinta Andry yang dulu sama sekali tidak dia sukai.
“ Nah kamu yang tidak aku cintai tapi aku terima cintanya aja malah tega begini. Gimana sih. Meskipun akhirnya aku mencintaimu. Aku terima cintamu, aku cintai kamu, tapi kamu malah selingkuh dan menyakiti hatiku. Kamu gak punya hati banget ya.” Ucapnya terdengar menggerutu kepada Andry. Juga hampir mengarah kepada membandingkan Andry dengan Al.
" Gak tau diri banget sih kamu Andry. Aku serius tapi kamu malah tega main dibelakangku, sama sahabatku ( mantan sahabat ) pula. Ga ada akal banget sih kamu, ah jadi kesel. Mood aku jadi berubah ya seketika, serasa jungkir balik. Bentar-bentar senang, bentar sedih, bentar galau, eh sekarang malah kesel." Lanjutnya menggerutu kesal.
Sudah puas mencaci dan membanding-bandingkan Andry dengan lelaki lain, sekarang Fani beralih dengan bingkisan-bingkisan yang diberikan oleh Endrico dan Al. Dua lelaki yang sekaligus memberi bahagia padanya hari ini, menyempatkan waktu untuk menyalurkan empati dihari yang spesial baginya. Meskipun ucapan dan hadiah dari sosok yang paling diharapkannya belum dia terima hingga saat ini, Fani tetap masih bersedia menunggu. Entah akan dia dapat esok, bulan depan, tahun depan atau entah berapa tahun kemudian.
" Huffhh kenapa sih aku yang bodoh ini masih mengharapkan dia yang udah gak jelas, udah bahagia sama yang lain, bener-bener gak ada harga diri lagi nih aku dibuat perasaan." Ucapnya memaki diri sendiri ketika menyadari pikirannya masih terpaku pada sosok Andry, lelaki yang sampai saat ini masih dia cintai. Meskipun pikirannya memaksa menolak namun hatinya tidak.
Fani mulai meraih bingkisan-bingkisan yang dia letakkan diatas meja. Dimulai dari bingkisan yang diberikan oleh Al, mulai membuka dengan penuh semangat sembari menerka-nerka apa isi bingkisan itu. Perlahan dan penuh kehati-hatian, tiba-tiba Mulutnya ternganga senang ketika mendapati sebuah jam tangan berwarna rosegold didalam kotak itu. Dengan penuh semangat dan senyum yang merekah Fani melingkarkan jam ditangannya yang putih itu.
“ Aaaa bagus sekali. Aku sangat suka jam ini, aaa aku cinta sekali dengan warnanya. Ini kan warna kesukaanku.” Ucapnya melonjak kesenangan sambil terus menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya yang putih bersih itu.
“ Gak berubah ya, dari dulu sampai sekarang pun masih pinter banget pilih kado. Tau aja aku suka yang gimana. ” Lanjutnya tersenyum dan terus saja memuji Al yang berhasil membuat kesalnya seketika berubah kembali menjadi bahagia. Sejak dulu Al selalu tahu cara membuatnya senang. Hanya dengan sebuah jam tangan mampu membuat Fani melupakan kelagauan hatinya.
" Oke sekarang aku mau buka hadiah dari kak Endi. Kira-kira apa ya hadiahnya. Hehehehe aku jadi deg-degan deh. Apakah hadiahnya juga akan membuatku terlonjak senang. Hehehehe kita lihat saja." Ucapnya beralih meraih bingkisan dari Endrico.
" Waw, kotaknya lucu sekali. Aku tebak ini pasti cincin." Ucapnya ketika menemukan kotak yang berukuran cukup kecil didalam bag yang diberikan Endrico kepadanya tadi siang.
Fani dengan cepat membuka kotak itu, namun kali ini tebakannya salah. Tampak sebuah liotin bergambar bunga didalam kotak itu, ada sepucuk surat kecil yang ternyata juga diselipkan Endrico kedalamnya. Kali ini bukan tercengang dan terlonjak senang, namun Fani tercengang dan mendadak ketakutan. Mengingat jika apa yang dilakukan Endrico hampir sama dengan yang pernah dilakukan Andry padanya. Hanya sebuah liontin saja mampu menguras semua memori lampau yang sudah dia tutup rapat-rapat.
" Apa-apaan ini. Harusnya aku senang, tapi sayang kado mu membuatku malah jadi mengingat masa silam." Ucapnya dengan nada kesal dan melemparkan kotak berisi liontin tersebut keatas lantai. Tidak ingin melihat hadiah yang membuatnya menjadi teringat masa silam, kenangan yang sudah dia kirimkan bersama barang-barang pemberian mantan beberapa minggu lalu.
Apa semua lelaki emang suka memberi liontin? Hei apa kau tau liontin darimu membuatku gagal move on. Imanku tipis, malah kau pukul pula, ya patah. Terus aku harus mulai dari awal lagi nih move on nya?
Padahal emang belum move on :)
__ADS_1