
Setelah puas berfoto-foto dengan langit pagi dan terangnya cahaya sang surya, Andry menarik tangan Fani duduk disebuah pepohonan yang rindang. Meminta Fani untuk menunggu dan ia segera beranjak pergi. Menuju mobil untuk mengambilkan sarapan yang dibekalkan oleh ibu mereka masing-masing. Kemudian bergegas kembali menemui Fani dengan kedua tangannya membawa tas yang berisikan makanan.
“ Kita sarapan dulu ya.” Ucapnya mendekat. Kemudian duduk disebelah Fani dan membuka tempat bekal yang dibawanya.
“ Aku belum lapar.” Gumam Fani enggan sarapan. Andry mengambil sandwich yang dibekali bundanya. Menyodorkan kemulut Fani yang menolak makan.
“ Makan dulu. Disini anginnya kencang nanti kamu masuk angin kalau gak sarapan.” Memaksa Fani menggigit sandwich yang dipegangnya itu. Fani tampak kesal namun tetap menurut dengan apa yang diperintahkan.
“ Makanlah. Habis ini kita akan membuat istana pasir.” Tawarnya agar Fani segera menghabiskan sarapannya.
“ Horee.” Tiba-tiba berteriak senang dan dengan semangat mengambil dua sandwich ditangannya. Menggigit dan mengunyah dengan sangat cepat. Seperti anak-anak yang senang dijanjikan mainan.
Kenapa kau lucu sih. Aku tak tahan. Ingin mencubit dan menarikmu dalam pelukan ku.
“ Sudah siap.” Menepuk kedua tangannya dan mengangkat alisnya. Dia benar-benar menghabiskan 3 potong sandwich dalam waktu yang singkat.
“ Yuk kita membangun istana cinta.” Jawabnya terkekeh. Menarik tangan Fani dan duduk ditengah putihnya pasir pantai. Mengeruk pasir dengan tangan dan membuatnya jadi berbentuk. Saling membantu satu sama lain, sesekali Andry yang usil melempar Fani dengan pasir.
“ Seru ya bermain dipantai. Apalagi sama orang yang tersayang.” Fani terdengar menggoda pria yang ada dihadapannya itu.
“ Apa? Coba ulangi. Aku tak mendnegar.” Sahutnya sambil mendekatkan telinganya ke mulut Fani yang baru saja mengatakan sayang.
“ Aku sayang kamu.” Cup. Sebuah kecupan mendarat dipipi kanan Andry. Matanya terbelalak saat menerima kecupan itu, dengan cepat direngkuhnya Fani kedalam pelukannya kemudian berbalik mengecup pipi Fani.
__ADS_1
“ Aku juga sayang kamu.” Balasnya tak henti-henti mengecup kening Fani.
Benar-benar menyenangkan bagi Fani. Bersyukur jika dia dipertemukan dengan lelaki yang ada dihadapannya ini. Tidak menyangka jika mereka saling mencintai dan dicintai. Mulutnya tak henti-henti mengukir senyum seolah bentuk ucapan syukur. Berharap mereka akan tetap menjalin kasih meski nanti harus terpisah oleh jarak.
Aku harap kita kekal sampai nanti. Meskipun jarak memilin letak.
“ Coba naikkan jari kelingkingmu.” Pinta Andry.
“ Untu apa.” Fani beranjak dari pelukan Andry. Menatap lelaki itu heran, untuk apa jari kelingking.
“ Ah banyak tanya. Sini.” Menarik jari kelingking Fani dan menautkan dengan jari kelingkingnya.
“ Sekarang mari kita berjanji.” Sambungnya sambil menggenggam sebelah tangan Fani.
“ Janji apa?.” Lagi-lagi gadis ini bertanya bingung.
“ Baiklah. Saya Fani Almaera berjanji akan tetap setia dan mencintai anda Arafel Bekti Andry, hingga nanti sampai kapanpun.” Ucapnya dengan tegas dan bersemangat. Matanya tertuju pada bundaran hitam yang ada dimata Andry. Mengatakan dengan lugas jika dia akan senantiasa mencintai sang pria yang ada dihadapannya ini. Andry tersenyum lebar mendengar janji yang diucapkan Fani, mulutnya tersenyum-senyum girang. Matanya pun ta berhenti menatap indahnya mata Fani. Tak mau kalah dengan wanita yang ada dihadapannya, Andry pun ikut mengambil sumpah janjinya.
“ Saya Arafel Bekti Andry berjanji akan tetap setia dan mencintai wanita yang ada dihadapan saya, Fani Almaera hingga nanti, esok dan sampai kapanpun.” Ucapnya tak kalah lugas. Menggenggam erat kedua tangan Fani dan menciumnya berulang kali.
“ Baiklah. Kamu udah janji dihadapan air pantai dan lautan pasir putih ini. Awas aja kalau kamu sampai ingkar.” Gumam Andry sambil mencubit hidung Fani.
“ Heheheh kamu juga ya, kan udah janji.” Sahutnya sambil mendekat dan bergelayut dibahu Andry.
__ADS_1
“ Meskipun masalah datang menerpa, aku harap kamu tetap setia.” Sambung Andry sambil mengelus rambut bergelombang yang menjadi favoritenya.
Mereka menatap pantai yang tenang, meski sesekali Nampak ombak menghantam bibir pantai. Saling menggenggam tangan pasangan meski sinar sang mentari kian membakar kulit mereka. Sesekali membicarakan tentang masa depan dan bagaimana cara mereka menjalani hubungan. Mulai membangun asa, mengganggap tak aka ada luka.
Aku bahagia. Mulai hari ini aku izinkan kau menanam asa, merancang masa depan kita. Semoga dan akan. Ingin mu tentu juga inginku.
Setelah puas bermain dipantai, Andry mengajak Fani untuk pulang karena sudah siang. Andry menggandeng tangan Fani dan berjalan menuju mobil, sesekali dia menyeka dahi Fani yang dipenuhi keringat. Panas seolah
membakar tubuh mereka, keringat bercucuran dimana-mana.
“ Huffh panas.” Gumam Fani saat sudah masuk kedalam mobil. Menyalakan pendingin dan menyeka keringat yang memenuhi wajahnya.
“ Kita beli minum ya.” Sahut Andry melajukan mobilnya meninggalkan pantai.
“ Aku mau ice cream.” Pintanya dengan muka sok imut manja. Andry hanya mengangguk mengiyakan dan mencari kedai ice cream sesuai permintaan sang tuan puteri.
Andry menghentikan mobilnya disebuah kedai ice cream. Tampak ramai sekali, namun tetap rela mengantri demi sang kekasih hati. Fani hanya berdiam diri dimobil, menunggu sang pangeran datang dengan ice cream ditangan. Mencoba menyapu wajahnya yang memerah terbakar dengan tisu yang dibasahi. Beberapa bagian wajahnya mengalami luka bakar karena panasnya kelewatan. Cukup lama Andry mengantri, membuat Fani bosan dan menurunkan sandaran kursi. Memejamkan matanya perlahan hingga dia tertidur beneran.
“ Loh kok malah tidur sih.” Gumam Andry saat masuk kedalam mobil, kedua tangannya dipenuhi dengan ice cream. Andry meniup mata Fani hingga berkedip-kedip pelan. Lagi-lagi Andry meniup hingga Fani terbangun dan menggeliat sana sini. Tersenyum saat menatap gadis mungilnya tanpa rasa malu dan gengsi.
Kau cantik meskipun begini. Apa kau tak punya waktu jadi jelek? Aku ingin lihat bagaimana wajah jelekmu.
“ Hey bangunlah atau matahari yang akan menjilat ice cream mu.” Ucap Andry berbisik ditelinga Fani. Dengan cepat Fani membuka matanya dan merebut ice cream dari tangan Andry.
__ADS_1
“ Aaaa gak boleh. Aku yang akan menikmati ice cream ini.” Ketusnya sambil menjilat ice cream yang diinginkannya sejak tadi.
Andry kembali melajukan mobilnya menuju hiruk pikuknya kota. Menikmati keindahan pemandangan yang semakin lama akan semakin hilang digantikan gedung-gedung dan keramaian. Sementara dikursi sebelahh Fani asyik menjilat ice cream sambil menatap jalanan yang cukup lengang. Akhirnya liburan kali ini menyenangkan, terlebih lagi bersama kekasihnya. Fani berulangkali mengucapkan terimakasih kepada Andry yang memberi kebahagiaan pada dirinya.