Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Kembali ke Kota


__ADS_3

Pagi ini Andry akan kembali lagi ke kota. Andry bergegas mengemasi barang-barangnya. Namun Fani benar-benar enggan jika Andry meninggalkannya. Wajahnya dipasang cemberut sedemikian rupa agar Andry membatalkan rencana kepulangannya.


“ Jangan cemberut gitu dong. Aku kan udah tepatin janji buat nemuin kamu disini.” Andry mendekat dan mencoba membujuk rayu Fani.


“ Aku harus temenin ayah keluar kota besok, mungkin sampai hari minggu.” Sambungnya sambil merangkul pundak Fani.


“ Nanti kalau kamu udah balik lagi ke kota aku janji deh sering-sering main kerumah.” Mencoba membujuk lagi. Fani tak bergeming, tak mengatakan apapun. Andry mencubit mulut Fani pelan, tak tahan melihat tingkah gadis perajuk itu.


“ Jangan cemberut lagi dong nanti cantiknya hilang.” Masih mencubit bibir Fani dan terkekeh geli. Fani masih diam seribu kata, masih mencari cara agar pria ini menunda kepulangannya.


“ Jangan cemberut dong nanti aku punya banyak koleksi wajah murungmu.” Mengeluarkan ponsel dan hendak memotret pemandangan yang menggemaskan itu. Dengan cepat Fani merampas ponsel, namun sayannya Andry sudah berhasil menangkap momen.


“ Hapus gak!.” Ketusnya kesal. Menatap Andry dengan tatapan kesal, mencoba meraih ponsel dari pria menyebalkan.


“ Jangan dong. Kan gemes sih fotonya. Aku suka lihat-liihat foto cemberut kamu kalau lagi kangen.” Andry tersenyum dan menarik kembali gadis itu kedalam pelukannya. Mengelus lembut rambut bergelombang itu. Mencoba menenangkan dan memberi pengertian.


Bahkan aku pun enggan pulang. Namun disini bukan tempatku untuk menetap, nanti kau jadi tempat ku pulang ketika kita sudah seatap.


“ Kenapa sih pulangnya pagi-pagi sekali. Kita kan belum puas berkeliling.” Ketusnya kesal namun matanya berkaca-kaca. Menatap Andry seolah memohon jangan pulang.


“ Ya udah kita keliling-keliling dulu ya. Aku pulangnya habis makan siang.” Ucap Andry menunda kepulanga karena enggan kekasihnya merasa sedih.


“ Aaaa beneran?.” Ucapnya terdengar senang dan tersenyum lebar. Meskipun matanya berkaca-kaca namun senyum juga terukir diwajahnya. Andry tersenyum dan dengan cepat mengangguk mengiyakan.


Fani dengan senang hati berlari menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Sementara Andry berjalan menuju dapur setelah beberapa kali mendapat panggilan dari ibu. Sarapan bersama dimeja makan dan mengatakan jika dia menunda kepulangannya hingga nanti siang.

__ADS_1


“ Andry langsung pulang sekarang?.” Tanya ayah saat Andry sudah duduk dimeja makan.


“ Enggak om. Pulangnya nanti siang aja. Soalnya Fani merajuk kalau aku pulang pagi-pagi begini.” Jawabnya terkekeh mengingat drama diluar tadi.


“ Ya ampun tu anak ya. Enggak sama ayah ibu nya aja yang manja. Sama orang lain juga.” Sahut ibu sedikit kesal mendengar alasan Andry menunda kepulangannya itu.


“ Heheheh gak apa-apa tante, dia cuma mau ngajak keliling-keliling. Katanya kemaren waktunya singkat, dia mau ajak nikmati suasana pagi disini.” Jawab Andry membela Fani.


“ Lagian keluar kotanya baru besok kok tan.” Sambungnya. Merasa jika tak terlalu masalah jika harus berdiam diri disini hingga siang nanti.


“ Ya udah sarapan dulu. Tante, om sama nenek juga mau ke kampung sebelah. Ada urusan yang harus diselesaikan.” Ucapnya sambil meletakkan nasi goreng kedalam piring Andry.


Mereka sarapan dengan santai. Menikmati suasana gelap menuju terang saat kehadiran mentari. Masih pagi sekali, belum sampai pukul 7 pagi. Andry menyantap sarapan pertamanya dikampung ini, entah kapan lagi baru akan kembali kesini. Menatap indahnya pagi dan racauan burung-burung yang seolah bernyanyi.


“ Udah siap nih. Yuk berangkat.” Tiba-tiba muncul Fani dengan wajah ceria dan terlonjak-lonjak gembira. Semua yang ada dimeja makan hanya menatap dengan heran, ada apa dan kenapa?.


“ Gak nek nanti aja. Masih kenyang ni.” Duduk dikursi sebelah Andry dan menunggu lelaki itu hingga selesai menikmati sarapannya.


“ Sabar Fan. Liat tuh Andry belum selesai makan.” Sahut ibu yang kesal melihat tingkah puterinya yang tak sabaran.


“ Iya bu, ini lagi ditungguin.” Jawabnya sambil tersenyum menatap Andry. Sebelah tangannya dijadikan tumpuan dagu. Andry menatap heran kekasihnya, sebenarnya cukup merasa terganggu. Dengan cepat Andry melahap makanannya.


“ Udah nih. Anak ibu memang gak sabaran ya.” Beranjak dan mencubit pipi Fani geram.


“ Kita pergi dulu ya om, tante dan nenek.” Andry melangkah menjauh dan melambaikan tangannya. Meninggalkan meja makan dan piringnya yang masih ada makanan.

__ADS_1


“ Iya hati-hati ya.” Sahut ayah.


Andry dan Fani sudah masuk kedalam mobil berwarna hitam itu. Segera Andry menyalakan mesin dan melajukan mobilnya. Menatap bingung gadis yang ada disebelahnya, tak henti-henti tersenyum. Entah karena bahagia atau gangguan jiwa. Andry mengurangi kecepatan mobilnya, menurunkan kaca dan menikmati udara segar dan menyejukkan yang tak pernah dia rasakan dikota. Berbeda dengan Fani yang sejak tadi tampak bahagia. Melihat Andry yang menikmati udara dan kepalanya menghadap kaca, Fani meraih ponselnya dan memotret lelaki itu dari samping. Tampan !. Satu kata yang ada dalam benak nya, merasa bahagia melihat wajah kekasihnya.


Rupanya kau tampan dilihat dari mana pun. Aku bersyukur, millikmu


“ Kamu fotoin aku ya.” Ucap Andry sambil tersenyum saat mendengar bunyi khas potret.


“ Ih pede banget sih.” Jawabnya tak mengaku. Gengsi jika ketahuan memotret diam-diam, takut lelaki itu semakin besar kepala katanya. Wajahnya memerah karena ketahuan, hanya bisa menunduk malu.


“ Bohong. Kenapa diam-diam sih. Kan bisa bilang baik-baik terus aku senyum deh.” Tersenyum dan mencubit pelan gadis itu. Menghentikan mobilnya dan meraih ponsel Fani. Mengangkat ponsel dan mengajak kekasihnya itu menngambil foto selfie.


“ Sini hp nya, kita selfie romantis ya.” Sambungnya sambil menarik dagu Fani keatas agar menatap kamera.


Awalnya Fani malu-malu, namun akhirnya malu-maluin. Mereka banyak sekali mengambil foto selfie, mulai dari senyum manja, unjuk gigi, saling menatap, merangkul hingga bermasam muka. Tak lupa Fani juga berselfie


sambil memegang hingga mencium bunga dari Andry. Mengambil foto-foto untuk mengabadikan kenangan dari setiap perjalanan kisah cinta mereka.


“ Sayang kita turun yuk. Kita foto dengan background hamparan sawah.” Membuka pintu mobil dan segera turun diikuti oleh Andry.


“ Sayang fotoin aku disini.” Sambungnya sambil berdiri didepan hamparan sawah yang luas. Andry mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mendekat dan memotret model pribadinya.


“ Sayang pegang tangan aku dong.” Pinta Fani sambil mengulurkan sebelah tangannya. Sebelah tangannya lagi memegang bunga mawar dari kekasihnya. Berfoto dengan gaya mencium bunga dan memejamkan mata, sebelah tangannya digenggam pangerannya. Sempurna.


“ Cantik banget sih sayang aku.” Ucap Andry setelah mengambil beberapa foto model pribadinya itu. Fani hanya tersenyum gembira mendapat pujian itu. Mendekat dan melihat.

__ADS_1


Mereka terus berfoto-foto hingga muak. Menikmati keindahan pagi dan udara digin yang bercampur panasnya sinar sang mentari. Tergelak tawa dan sesekali bermuram durja. Menikmati setiap detik kebersamaan ini, yang


mungkin baru bisa dirasakan seminggu lagi. wajah Fani saat ini berbanding terbalik dengan pagi tadi. Ternyata kebahagian pun tidak melulu perkara materi, namun waktu adalah yang lebih berarti.


__ADS_2