
Fani merebahkan tubuhnya diranjang, meraih ponsel yang sejak kemarin belum disentuhnya sama sekali. Melihat siapa saja yang telah merasa kehilangan dan mencari drinya. Harapannya tentu saja Andry sang kekasih pujaannya. Sudah berhari-hari sejak perdebatan kemarin mereka masih belum saling mengabari, entah karena sibuk atau saling gengsi. Fani menyalakan layar ponselnya, ternyata kehabisan daya. Beranjak dan duduk dimeja belajar, mengecas ponselnya hingga bisa menyala. Tampak beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Irma. Dahinya mengkerut tidak percaya, sama sekali tidak ada panggilan masuk dan pesan dari kekasihnya.
“ Eih apakah kau masih marah? Bukankah biasanya kau tak sanggup tanpa kabar sehari saja? Ini kau sudah bertahan selama empat hari. Aku jadi curiga.” Gumamnya lirih, mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan kekasihnya.
“ Atau jangan-jangan kau sakit parah hingga kau tak bisa mengabariku?.” Sambungnya berpikir entah kemana-mana.
“ Ah kenapa aku baru kepikiran sekarang. Seharusnya aku memikirkan ini sejak kemarin, bukannya malah curiga yang tidak-tidak.” Ucapnya mendadak cemas.
“ Sebaiknya aku telepon saja, aku harus memastikan keadaanmu hei lelaki keras kepala.”
Namun saat membuka sosmednya, Fani kaget banyak sekali chat yang masuk dari teman-temannya. Mungkin karena internetnya baru saja dinyalakan. Ada sebuah chat yang menarik perhatian Fani hingga membuatnya lupa dengan tujuannya menelepon Andry. Sebuah pesan dari Rara teman sekolahnya dulu. Lagi-lagi dahinya mengkerut saat membaca pesan itu. Pesan yang menyatakan bahwa tadi Rara melihat Sophia dan Andry kesekolah dengan mobil yang sama.
__ADS_1
Ha? Kesekolah berdua? Sejak kapan mereka menjadi akrab seperti ini hingga Andry mengajaknya kesekolah bersama.
Fani mengabaikan pesan dari Rara, memilih untuk menelepon Andry saja. Namun pikirannya tetap tenang, jika dalam kepalanya memikirkan Andry sakit hingga tak sanggup mengabarinya, lalu kenapa Rara mengatakan Andry kesekolah bahkan bersama Sophia pula. Itu artinya Andry tidak sedang sakit. Fani mengurungkan niatnya untuk menghubungi Andry, memilih untuk tetap diam hingga nanti ada yang mengalah antara mereka berdua. Untuk memulai percakapan saja harus sesulit ini. Wajah Fani kembali bermuram durja, pikirannya bergelayut entah kemana-mana. Apa lagi jika bukan memikirkan tentang kenapa dan bagaimana Andry bisa kesekolah bersama Sophia.
“ Gak ngerti deh sama keadaan sekarang. Mungkin Sophia bisa jadi adalah alasan kenapa berhari-hari dia sanggup tidak mengabari. Atau yang lebih menyeramkan mungkin mereka sudah menjalin sebuah hubungan. Hei Fani yang malang.” Gumamnya melemah. Matanya berkaca-kaca membayangkan hal yang tidak dia percaya.
Fani beranjak ingin kembali merebahkan tubuh diranjang, namun ketidakpuasannya memaksanya untuk tetap diam dan mencari kebenaran. Akhirnya Fani tetap duduk memegang ponsel, memeriksa semua pesan dan status yang ada. Benar saja kata hatinya, tampak Sophia mengunggah sebuah status. Dengan cepat jempolnya menekan, melihat dan menonton dengan seksama video yang diunggah oleh Sophia. Tampak dia sedang ada dalam mobil yang melaju kencang, kamera hanya menyorot jalanan yang agak lengang namun diujung video dia menyorot seorang lelaki yang hanya tampak samar-samar.
“ Oh tuhan, siapa lelaki ini.” Gumamnya semakin cemas. Tangannya kembali menekan dan memutar ulang video unggahan itu. Mencoba memperhatikan dengan jelas sosok lelaki yang bersama Sophia itu. Masih tidak terlihat jelas, masih terus mengulang hingga beberapa kali.
“ Ternyata kalian memang benar-benar ada hubungan. Sulit dipercaya, namun Andry kau benar-benar lelaki sia*an.” Gerutunya kesal.
__ADS_1
“ Seharusnya aku curiga sejak kemarin, sejak Sophia mengunggah foto kalian berdua. Tapi aku masih bisa menahan pikiran burukku, masih bisa menahan amarahku. Namun sekarang tidak lagi, kau tidak bisa kumaafkan. Pantas saja kau sanggup tidak menghubungiku berhari-hari ternyata kau sudah ada mainan baru, sudah ada wanita baru.” Sambungnya tetap menggerutu. Kali ini bukan hanya berkaca-kaca, namun wajahnya sudah dipenuhi dengan buliran air mata. Tidak mau menyeka, membiarkan air matanya jatuh dan membasahi seluruh pipinya.
“ Kau tak akan ku maafkan.” Ucapnya tersedu-sedu.
Fani mematikan ponselnya, dengan sisa-sisa tenanga langsung menghambur keatas ranjang. Menangis tersedu-sedu dibalik bantal. Mulutnya tidak berhenti menggerutu dua manusia yang saat ini mengkhianatinya. Matanya seketika berubah menjadi sembab, air matanya juga membasahi bantal yang dipeluknya. Kalau bisa memutar waktu dia ingin sama sekali tidak mengenal dua manusia ini, memang benar dia juga pernah disebut mengkhianati Sophia. Namun hanya dia yang berkhianat, lalu kenapa dia mendapat balasan pengkhianatan sekaligus dua.
“ Kau sebut aku pengkhianat, namun hanya aku sendiri tapi kenapa aku dapat balasannya dua.” Gumamnya terisak-isak. Kedua tangannya menyeka air yang membasahi seluruh wajahnya.
“ kalian berdua tidak akan kumaafkan. Biarlah kalian bahagia, kesakitanku hari ini suatu saat pasti akan kalian rasakan juga.” Ucapnya mencoba tegar. Mengumpulkan kembali kekuatan-kekuatan, mengatur nafas agar tak lagi terisak-isak. Wajahnya yang semula pucat karena sakit sekarang sudah memerah karena tangis. Ini adalah pertama kalinya dia bercinta, namun ternyata ini adalah awal mula dia mendapatkan luka mendalam. Beri dia penghargaan untuk cinta pertama yang menyedihkan.
Fani bangkit dan mengunci pintu kamarnya, takut jika tiba-tiba ada yang masuk dan melihatnya tengah bersedih hati. Mematikan lampu untuk mengelabui yang lain, agar mereka mengira Fani sudah tidur. Padahal dia masih bersembunyi dibalik bantal dan menahan kesedihan. Mencoba menenangkan pikiran namun tetap saja sumpah serapah menyertai hembusan nafasnya.
__ADS_1
Kalian berdua bersiaplah menyapa karma yang sesungguhnya. Meskipun aku juga salah awalnya, tapi aku tidak terima dengan pengkhianatan kalian berdua. Lihat lah aku akan tunjukkan kalau aku bisa lebih bahagia dari kalian nantinya. Meskipun aku harus tertatih dahulu, tapi nanti aku tinggal duduk dipuncak, menonton kisah cinta kalian seperti apa. Cinta yang dimulai dengan pengkhianatan.
Cukup lama Fani menangis terisak-isak, nafasnya sudah tersengal-sengal. Matanya membengkak sembab, wajahnya merah padam. Rasa lelah sudah menghampiri dirinya, apalagi dia tengah tidak sehat. Medapati kebenaran atas pengkhianatan saat kesehatannya sedang menurun tentu saja menambah buruk kondisi tubuhnya. Badannya semakin lemah, kepalanya terasa berat. Akhirnya Fani memutuskan untuk tidur saja, melupakan semua yang membuatnya bersedih malam ini. Bagaimana pun besok dia sudah harus menjalani hidup lebih baik sebelumnya. Memulai sesuatu yang baru, meninggalkan luka lara yang dia dapat hari ini. Sebenarnya jika dia memilih tetap menghubungi Andry pasti dia mengetahui semua kebenaran yang sesungguhnya. Namun hanya dengan melihat sebuah video yang diunggah Sophia dia sudah mengklaim yang tidak-tidak, sudah cukup menjadi bukti baginya, padahal apa yang dilihat belum tentu kebenarannya. Hingga jadilah keputusan tanpa mempertimbangkan, tanpa mendengar kejelasan