
“ Ha? Jadi maksudnya lo ngeduain si Andry?.” Lanjut Sophia masih dengan wajah kaget dan mata terbelalak.
“ Hem.” Fani hanya berdehem dan menjawab dengan anggukan.
“ Fan, ini lo kan? Ini masih Fani Almaera yang gue kenal kan?.” Sophia mendekat dan menepuk-nepuk pelan kedua pipi Fani dengan tangannya.
“ Ini lo kan Fan?.” Sophia terus bertanya, wajahnya benar-benar datar.
“ Iya ini gue Fani, jadi siapa lagi kalau bukan gue.” Fani merasa risih dan menepis kedua tangan Sophia yang masih menempel di pipinya.
“ Hahahaha ternyata Fani bisa jadi playgirl juga ya. Sejak kapan lo jadi playgirl? Sejak pindah ke luar kota? Ga nyangka ya sahabat gue udah jadi pemain sekarang.” Seketika wajah datar Sophia berubah menjadi ceria sumringah, tawanya pecah.
“ Ketawa lo!.” Fani menjentik kening Sophia keras.
“ Ini juga gak sengaja, bisa dikatakan kepepet sih. Bener-bener dah Sop gue gak ada niatan buat jadi playgirl. Satu aja ribetnya bikin pusing apalagi dua ya kan.” Lanjutnya bergidik ngeri.
“ Lah ini sekarang lo pasang dua kan?.” Sophia semakin terbahak-bahak.
“ Duh ceritanya panjang Sop. Gue juga gak nyangka kalau akhirnya bakalan seperti ini. Mau lepasin salah satu, tapi gue sayang kedua-duanya.”
“ Gila ya lo! Serakah lelaki. Haus kasih sayang lo.” Sophia memukul-mukul pasir, tawanya semakin menjadi-jadi hingga wajahnya jadi memerah.
“ Bukan gitu Sop, ih dengerin dulu penjelasan gue. Sekarang gue lagi bingung dan bener-bener butuh bantuan lo.” Fani menghambur dan membekap mulut Sophia yang sejak tadi tidak berhenti menganga menertawakan dirinya.
“ Aaaaaaa.” Teriak Sophia.
“ Gak bakal gue lepasin sampai lo diam.” Bentak Fani yang sudah mulai kesal.
“ Hemmm..”
“ Sekarang lo gak usah nyolot, jangan ngomong apapun apalagi ketawa. Gue bogem lu!.” Lanjutnya semakin mengancam. Bukannya takut, Sophia malah senyum terkulum menahan tawa melihat wajah Fani yang sudah mulai kesal.
“ …” Sophia mengangguk dengan cepat, berulang-ulang.
“ Sebenarnya ini diluar perkiraan gue. Setelah gue mutusin Andry secara sepihak, gue deket sama kakak kelas gue, namanya Endrico. Nah awalnya gue gak tertarik apalagi suka sama tuh orang. Tapi si cowok ini terus deketin gue, ngegasak gue, sampai akhirnya dia nyatain perasaan sama gue.” Fani menghela nafas panjang.
“ Terus?.”
“ Nah awalnya batin gue nolak. Bener-bener nolak. Tapi tiba-tiba gue kepikiran tentang Andry dan betapa sakitnya hati gue. Akhirnya dengan perasaan campur aduk, penuh keterpaksaan dan ingin melampiaskan sakit hati ya gue terima deh tu Endrico.” Fani kembali menghela nafas panjang.
“ Tapi saat itu gue belum balikan sama Andry, belum ketemu malahan.” Lanjutnya.
“ Terus terus?.” Sohpia tidak sabar menunggu kelanjutannya.
“ Dan lo tau? Waktu Endrico nyatain perasaannya sama gue, gue juga diajak makan malam sama keluarganya.”
“ Tapi gak lama setelah dia nyatain perasaan sama gue, dia berangkat ke Chicago buat lanjutin study. Huffhhh gue baru pacaran tapi udah langsung Ldr.” Gumamnya bersedih hati.
“ Jadi intinya sekarang lo punya perasaan gak sih sama dia?.”
“ Ya punya lah gila!.” Sahutnya dengan tegas.
“ Terus lo masih cinta gak sama Andry?.” Lanjut Sophia.
“ Cinta banget malahan.” Jawabnya sedikit melemah, wajahnya redup sedih.
“ Emang benar-benar gila lo ya Fan. ****** kan lo terjebak didalam permainan lo sendiri.”
“ Disatu sisi gue gak mau kehilangan salah satu dari mereka, tapi disisi lain gue juga merasa bersalah sama Endrico. Belum lagi gue udah janji sama Andry bakal mutusin Endrico dalam waktu satu minggu. Eh sekarang udah berminggu-minggu.”
__ADS_1
“ Sop, please bantuin gue ya?.” Fani menggelayut-gelayut manja dibahu Sophia. Membujuk rayu agar Sophia mau membantunya.
“ Bantu apaan?.” Jawabnya ketus.
“ Lo deketin Endrico, buat dia jatuh cinta sama lo. Pepet terus sampai dia nyaman sama lo dan mutusin gue.” Ucapnya tanpa rasa ragu sedikitpun.
“ Hah! Gila lo ya! Gak ah, gak mau gue.” Lagi-lagi Sophia membelalak dan menatap tajam kepada Fani.
“ Ide lo gak ada bagus-bagusnya ya. Gila!.” Sophia melempar botol minum kepada Fani.
“ Please Sop, Cuma lo yang bisa bantuin gue sekarang. Syukur-syukur kalau lo emang jatuh cinta sama dia, pacaran deh sama tu orang.” Ucapannya semakin mengada-ngada.
“ Gila lo ya, bener-bener gila. Gue gak mau bekas lo.” Ketusnya semakin kesal mendengar ucapan gila sahabatnya.
“ Hahahaha yakin lo gak mau?.” Malah Fani yang tertawa.
“ Iya yakin lah.” ketusnya singkat.
“ Gak mau bekas gue tapi kenapa kemarin lo ngejar-ngejar si Andry?.” Jleebbb. Tanpa pikir panjang Fani melontakan ucapan yang membuat Sophia seketika diam dan tak bisa berkata-kata.
“…” Sophia hanya menatap Fani dengan wajah kaget. Seolah dibungkam, Sophia terdiam dan tak bergeming.
“ Hah kenapa lo diam?.”
“ Kenapa? Jawab dong, kenapa kemarin lo malah ngejar-ngejar Andry sampai-sampai lo tega bikin hubungan gue berantakan.” Lanjut Fani sembari terus terkekeh. Tanpa sadar ucapannya sudah merajam hati Sophia berulang-ulang.
“ Maaf.” Hanya itu yang keluar dari mulut Sophia. Seketika wajahnya meredup dan penuh penyesalan.
“ Eh Sop lo kenapa?.” Fani mengangkat kepala Sophia yang tertunduk setelah mengucap kata maaf.
“ Kenapa lo jadi gini sih? Kan gue Cuma becanda doang, eh lo nya malah serius.”
“ Maafin gue ya Fan. Ini salah gue, seharusnya lo gak akan terjebak dalam permainan lo kalau gue gak ngerebut kebahagiaan lo. Seandainya lo sama Andry baik-baik aja, pasti lo gak akan dideketin Endrico. Ini semua salah gue, maafin gue Fan.” Sophia malah menyalahkan dirinya atas semua masalah yang dihadapi Fani saat ini.
“ Gue Cuma mau lo bantuin gue Sop, gue gak ada maksud buat nyalahin lo kok. Maafin gue ya Sop. Tapi gue gak akan maksa lo lagi kok, ini semua permainan gue jadi gue harus selesaikan ini sendiri tanpa menarik lo dalam masalah.” Lanjutnya terus menenangkan Sophia yang masih terisak-isak.
“ Gapapa kok Fan. Gue bersedia kok bantuin lo, lagian ini juga salah gue. Kita harus selesaikan ini sama-sama.” Sophia menyeka air matanya dan menghambur memeluk Fani.
“ Gue bakal bantuin lo.” Lanjutnya.
“ Lo serius Sop?.”
“ Serius kok Fan, apa salahnya sekali-kali gue berkorban demi sahabat gue kan.”
“ Aaaa peluk sayang.” Fani kembali menghambur memeluk Sophia.
**
Sejak sampai dikediaman Ardy, Andry hanya rebahan diatas ranjang milik pengantin. Tidak memperdulikan orang-orang yang sedang sibuk mendekorasi kamar. Dia hanya sibuk dengan game yang ada diponselnya.
“ Woi An, betah banget lu diatas tempat tidur gue. Jangan lo nodai ya. Itu ranjang mau gue pakai buat malam pertama hahahaha.” Ardi melempar bantal tepat dikepala Andry hingga membuatnya menggerutu kesakitan.
“ Apaan sih lo. Gue nodai gimana coba? Gak mungkin kan gue tempelin ta* diranjang lo.” Gerutunya kesal.
“ Ah si*lan lo An. Yuk keluar, gabung sama anak yang lain udah pada dateng tuh. Keluar lo, biar kamar gue didekorasi cantik secantik-cantiknya.” Ardi menarik paksa Andry agar beranjak dan keluar dari kamar kesayangannya.
“ Idih, parah banget lo. Awas aja kalau besok gue nikahan, jangankan naik keatas ranjang buat ngelihat gimana bentuk kamar pengantin gue aja lo gak bakal bisa.” Ketusnya sembari menepik kepala Ardi kesal.
“ Hahahaha siapa sih yang mau nikah sama lelaki dingin dan sok kegantengan kayak lo.”
__ADS_1
“ Eh jangan salah lo ya gini-gini gue penyayang.” Sahutnya sembari menepuk dada, tidak mau kalah dengan Ardi.
“ Ah paling lo nikah ntar pas anak gue udah jejeran hahahaa.” Tawanya pecah, menggema memenuhi seisi kamar.
“ Lah yang mau sama lo Cuma si Fani doang, itupun gue yakin dia pasti menanggung beban jiwa deh pacaran sama lo. Mental nya rusak tuh.” Lanjutnya masih terus mengejek Andry.
“ Wah parah ya lo. Puas banget kayaknya ngehina gue, iya sekarang lo diatas. Berhubung beberapa hari ini adalah hari bahagia lo, jadi lo bebas deh mau ngapain. Lagian gue kan waras, jadi gue ngalah aja deh.” Balasnya dengan santai, sudah tidak termakan emosi.
Moment pernikahan Ardi adalah moment yang menarik paksa seluruh teman-temannya untuk pulang dan duduk bersama. Semua kesibukan terpaksa ditinggalkan demi ikut serta dalam kebahagiaan sang teman. Sudah lama sejak lulus sekolah mereka tidak pernah lagi duduk melingkar dan berbagi cerita, namun hari ini mereka semua nampak lega. Saling mencemooh, tertawa dan kemudian melupakan beban-beban pikiran.
“ Oh iya, jangan lupa besok lo semua datang dengan pakaian yang rapi. Ingat, pernikahan teman bisa jadi moment untuk menemukan pujaan hati. Selamat mencoba, semoga kalian beruntung besok ya hahahaha.” Ardi terkekeh geli. Beberapa dari mereka memandanginya dengan wajah kesal, ada yang ikut tertawa dan ada pula yang menanggapinya dengan wajah datar.
“ Songong banget ya yang mau nikah. Mentang-mentang udah laku jadi seenaknya nih ya ngatain kita-kita.” Sahut Deni dengan wajah yang kesal.
“ Hahahaaha sudah sudah, biarkan saja mengatakan apapun yang dia suka. Berhubung beberapa hari ini adalah hari bahagianya, jadi kita biarkan dia melakukan apapun yang dia suka. Asal lo senang aja deh ya Di.” Timpal Andry senyum jahatnya.
“ Tapi bener juga kan kata si Ardi. Biasanya pernikahan temen adalah ajang untuk menemukan jodoh yang terpisah. Ya tuhan, semoga gue besok ketemu jodoh. Mau langsung nikah aja gue, kuliah juga kagak ngerti. Otak gue gak mampu.” Timpal Revi sembari terkekeh geli.
“ Nah iya bener. Pasti besok temen-teman istri gue pada datang, otomatis kan sepantaran tuh sama kita. Semoga beruntung ya boy, gue doain lo semua besok ketemu jodoh lo. Walaupun selama pertemanan kita gue belum menguntungkan bagi lo semua, seenggaknya ada yang bisa dikenang. ‘ gue ketemu istri gue dinikahannya Ardi’. Kan bangga gue hahahaha.”
“ Eh ngomong-ngomong gimana hubungan lo sama Fani An?.” Tiba-tiba Deni menanyakan perihal Fani.
“ Yahh udah putus paling, siapa sih yang tahan lama-lama berhubungan sama Andry si manusia berdarah dingin ini.” Timpal Revi terkekeh.
“ Eh jangan ngada-ngada lo ya. Pulang aja deh gue, malas jadi bahan bullyan lo doang mah gue disini.” Sahut Andry kemudian beranjak ingin pergi meninggalkan lingkaran perbullyan nya.
“ Eh boy, masa gitu aja marah. Ah lemah banget sih lo.” Ejek Ardi sembari menahan tangan Andry agar tidak beranjak pergi.
“ Nah kalau marah gini berarti bener nih udah ditinggal si Fani. Malang banget nasib lo boy. Udah seperlingkaran aja kita, besok sama-sama cari jodoh dinikahannya Ardi. Jangan lupa ganteng-ganteng lo hahahaha.” Revi seolah tidak ada puasnya mencemooh Andry.
“ Terserah lo deh mau ngomong apa, yang penting lo senang. Gue yang waras ya ngalah aja.” Jawabnya santai dan tersenyum menyeringai.
“ Anj*r jadi lo pikir kita-kita gak waras? Parah lu ya boy.”
“ Emang.” Andry menjulurkan lidahnya kemudian tertawa terbahak-bahak.
**
Setelah cukup lama berpikir dan menysusun rencana untuk menjebak Endrico, akhirnya Sophia dan Fani memutuskan untuk pulang kerumah dan menjalankan misinya besok setelah acara pernikahan Ardi. Beberapa ide
nyeleneh keluar dari mulut Fani, beberapa lainnya keluar dari mulut Sophia. Padahal tidak perlu merencanakan hal sejahat ini hanya demi memutuskan hubungan dengan Endrico. Tidak perlu menjebak, jika memang ingin putus harusnya tinggal bilang saja. Ya tinggal bilang kalau dirinya tidak sanggup Ldr.
“ Oh iya besok ke nikahan kak Ardi jam berapa?.” Tanya Sophia dengan pandangan yang tetap fokus menatap jalanan.
“ Terserah sih, gue mah ngikut aja. Kalau bisa datangnya agak cepetan.”
“ Oh iya besok kita harus datang agak cepat ya, kali aja ada cowok ganteng yang kecantol sama kita, ya gak?.” Sophia menatap Fani dan mengangkat alisya bergantian.
“ Gak. Lo aja deh. Gue yang dua aja masih pusing, masa ada lagi yang nyantol sih. Makin ribet ntar hidup gue.” Fani menggidikkan
bahu.
“ Oh iya lupa, lo kan udah punya dua anj*ng ya. Eh tapi satunya kan udah lo bagi sama gue ahahahaha.” Tawanya pecah ketika mengingat ucapan Fani dipantai tadi.
“ Nah iya, makan tuh anj*ng. Hati-hati lo.” Fani mencacarkan telunjuknya pada Sophia, menakut-nakuti sahabatnya.
“ Hahahah kamp*et lo Fan. Arrgghhh gue duluan dong yang nerkam.” Timpalnya kemudian ikut tertawa.
“ Ya tuhan, semoga besok dinikahan Ardi ketemu jodoh. Semoga besok ketemu cowo ganteng pake banget, terus dianya kecantol sama aku ya tuhan.” Sophia mengangkat kedua tangannya berdoa.
__ADS_1
“ Dih mimpi lu, minta lo kebanyakan sama tuhan. Ibaratanya doa pas ada maunya, datang pas lagi butuh doang. Gak dikabulin deh tu.”
“ Diam lo anak da*al.” sophia menjentik jidat Fani hingga siempunya mengerang kesakitan.