Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Polaroid.


__ADS_3

Sudah lama dua insan ini saling bercengkrama ditengah dinginnya udara. Andry tak henti-hentinya membelai rambut bergelombang Fani, sambil sesekali mengecup keningnya. Fani tampak nyaman dan tenang berada dalam dekapan pria yang dicintainya itu. Sangat dekat, bahkan bisa saling mendengar hembusan nafas yang memburu. Andry memberikan satu kecupan lagi dibagian pipi Fani, lalu beranjak menuju kursi pengemudi. Mengambil sebuah kotak berbentuk love dan dihiasi pita berwarna merah. Memberi hadiah lagi?


“ Mau kemana?.” Tanya Fani saat melihat Andry beranjak menjauhinya.


“ Tunggu ya, aku ambil sesuatu dulu.” Jawabnya tanpa menghentikan langkah. Membuka pintu mobil dan mengambil kotak yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.


“ Tutup matanya dong.” Sahut Andry saat mendekati Fani yang membelakanginya.


“ Ini kenapa pakai tutup mata sih? Gak mau ah.” Jawabnya menolak. Ingin berbalik melihat apa yang dilakukan kekasihnya itu. Namun dengan cepat Andry menghentikan agar Fani tak berbalik dan melihat dirinya.


“ Eh jangan lihat kesini dong. Aku kan mau kasih kejutan.” Sahutnya menahan agar Fani tidak membalikkan badan.


“ Hem iyadeh.” Fani hanya mendengus dan mengikuti perintah Andry. Memejamkan matanya dan menunggu kejutan dari Andry.


“ Nah sekarang buka matanya.” Perintah Andry lagi saat dia sudah duduk disebelah Fani.


Fani mengikuti semua yang diperintah oleh Andry, membuka mata dan mendapati sebuah kotak berbentuk hati dihadapannya. Fani menatap kebingungan, lagi-lagi Andry memberinya hadiah. Tangannya bergerak pelan menerima kotak yang entah apa isinya itu, sembari menatap Andry yang tersenyum senang.


“ Apa ini sayang?.” Tanya Fani saat kotak itu sudah berada ditangannya. Enggan membuka langsung, memilih bertanya kepada pemberinya.


Kenapa kau suka memberiku hadiah sih. Aku berasa jadi ulang hari nih.

__ADS_1


“ Buka aja sayang.” Andry tersenyum dan melirik kotak berbentuk hati itu.


Fani dengan ragu membuka kotak itu, tangannya perlahan-lahan membuka simpul pita sebagai pengunci. Fani tersenyum bahagia saat melihat isi kotak berbentuk hati itu. Dipenuhi dengan foto-foto kebersamaan mereka yang dicetak dalam bentuk polaroid. Tak menyangka jika Andry lebih dulu melakukan ini. Padahal dia sudah berencana mencetak foto mereka ketika telah kembali ke kota. Entah karena saling mencinta hingga mereka berpikiran sama. Fani merasa sangat bahagia, keinginannya diwujudkan oleh Andry malam ini. Fani tersenyum setiap kali melihat foto-foto mereka yang lucu dan menggemaskan. Sambil sesekali menatap kemperlap cahaya kota dan indahnya rasi bintang-bintang.


“ Kamu lucu banget sih disini.” Fani menunjukkan sebuah foto kepada Andry. Foto mereka berdua saling merangkul dan beradu papi, Fani tersenyum namun Andry berpose ala duck face. Bibirnya maju kedepan, matanya membelalak keatas dan sebelah pipinya di cubit oleh Fani. Benar-benar menggemaskan.


“ Iya kamu juga cantik banget sih disini.” Sahutnya menatap selembaran foto itu. Kemudian mengacak-acak kotak dan mencari sebuah foto yang dia inginkan. Sebuah foto Fani dengan wajah yang ditekuk kesal, mulutnya maju beberapa centi dan pandangannya yang tajam. Kemudian menunjukkan kepada Fani dan tertawa senang. Mencetak semua wajah kesal dan murung Fani yang sempat dipotretnya selama ini. Bukan hanya untuk diberikan kepada kekasihnya, Andry juga mencetak foto yang sama untuk digantung dikamar luasnya.


“ Hehehehe kamu gemes ya kalau lagi murung. Apalagi mulut mu yang maju bercenti-centi.” Andry tak dapat menahan gelak tawanya saat melihat semua-semua foto murung Fani.


“ Apalagi kalau murung didepan aku gini. Aku suka pengen cubit peluk tau gak sih.” Menatap wajah kesal Fani yang diejeknya sejak tadi. Andry mencubit kedua pipi gadis itu kemudian menarik Fani kedalam pelukannya.


“ Udah jangan gemesin terus dong. Nanti kamu aku uyel-uyel deh.” Sambungnya sambil terkekeh. Membelai rambut bergelombang yang menjadi favoritenya sekarang.


Sudah cukup lama mereka berdiam diri disini. Sudah puas berkasih sayang hingga berfoto-foto ria. Andry akhirnya memutuskan untuk segera mengantar Fani pulang. Takut jika ayah dan ibu akan marah jika mereka pulang larut malam. Fani memasuk kan kembali foto-foto polaroid yang dibongkarnya tadi. Disusun rapi dan ditutup kembali dengan baik. Andry melajukan mobilnya meninggalkan tempat nyaman itu. Menyusuri jalanan kota yang seakan tiada matinya.


“ Oh iya kamu mau ikut Joo kemana sih sampai nangis-nangis gitu?.” Tanya Andry saat teringat kembali perkara tadi.


“ Mau ikut bang Joo kepulau.” Fani terkekeh geli saat membayangkan tangisannya tadi.


“ Kepulau mana? Ngapain sih ikut-ikutan cowo.” Sahutnya seolah melarang Fani untuk ikut dengan Joo.

__ADS_1


“ Tapi aku pengen banget  ke pulau sayang.” Suaranya melemah dan terdengar sedih.


“ Gak usah. Kamu disini aja, besok kita jalan-jalan lagi.” Andry memberi tawaran. “ Kita ke pantai yang lebih jauh lagi. hampir 3 jam dari sini.” Sambungnya lagi.


“ Ke pulaunya besok-besok aja bareng aku.” Andry memberi tawaran dan tersenyum kepada Fani. Meraih tangan mungil itu dan menggenggam nya erat. Fani tampak menimbang-nimbang tawaran kekasihnya tersebut.


“ Hem iyadeh. Aku gak jadi ikut bang Joo ke pulau.” Jawabnya sambil tersenyum dan membalas genggaman tangan Andry.


“ Kalau tau kamu bakal ajak aku main-main kepantai besok pasti aku gak akan nangis kayak tadi.” Sambungnya terkekeh geli membayangkan betapa dramatisnya dia tadi.


“ Hem gapapa kok. Akhirnya aku bisa lihat kamu nangis.” Ucapnya kemudian menjulurkan lidah mengejek Fani. “ Jelek banget sih kalau nangis.” Sambungnya sambil terkekeh menertawai Fani.


Fani hanya menatap sinis lelaki yang ada disebelahnya itu. Sesekali mencubit pinggang Andry yang tak henti-hentinya mengejek dan tertawa. Fani hanya diam seribu bahasa sambil menatap jalanan yang ramai kendaraan lalu lalang. Andry menambah kecepatan mobilnya itu, sebelah tangan memegang setir dan sebelah menggenggam tangan kekasihnya.


“ Aku jemput pagi-pagi besok ya. Pukul 6.” Ucap Andry saat mereka sudah hampir sampai kerumah Fani.


“ Kok pagi-pagi banget sih.” Protesnya membayangkan jika harus bangun pagi sekali.


“ Kan kemaren udah nikmati sunset dipantai, sekarang nikmati sunrise.” Jawabnya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


“ Oh iya ya. Oke besok jangan lupa jam 6 pagi.” Tersenyum seketika saat mendengar kata sunrise. Membayangkan keseruan pagi dipantai.

__ADS_1


Andry menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Fani. Kemudian segera pamit dan kembali pulang kerumahnya. Bersiap untuk istirahat karena besok harus bangun pagi-pagi sekali demi menyenangkan kekasih hati yang sangat dia cintai. Begitupun dengan Fani yang segera membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di ranjang, memejamkan mata dan tak lupa memasang alarm. Tak sabar untuk menemui hari esok yang pasti akan sangat menyenangkan.


__ADS_2