Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Pindah


__ADS_3

Andry bersandar dikamarnya, sudah dua hari Fani menghilang tanpa kabar. Menatap ponselnya dan terus mencoba menghubungi Fani kekasihnya. Namun masih sama, nihil. Fani menghilang bagaikan ditelan bumi, entah kemana


perginya. Sudah dua hari juga Andry selalu mencarinya kekelas namun Fani tak juga terlihat.  Takut terjadi apa-apa


pada kekasihnya itu, pasalanya Fani tidak pernah seperrti ini sebelumnya. Andry mencoba bertanya kepada Sophia, mungkin dia akan mendapatkan jawabannya.


“ Hallo Sophia. Lo lagi sibuk ya?.” Sahut Andry saat telepon tersambung.


“ Eh enggak kok kak. Ada apa ya?” Sahut Sophia dari dlaam telepon.


“ Sophia? Lo tau gak Fani dimana? Udah dua hari dia menghilang gak ada kabar sama sekali. Gue jadi khawatir.” Tanya Andry berharap mendapatkan jawaban dari Sophia.


“ Gak tau kak. Soalnya udah dua hari juuga dia gak masuk sekolah.” Sahut Sophia lagi.


“ Kenapa gak coba datangi kerumahnya aja kak.” Sambung Sophia memberikan solusi.


“ Oh oke deh. Thank you ya Sophia. Bye.” Andry memutuskan sambungan telepon.


Kembali mencoba menghubungi Fani, takut terjadi apa-apa pada kekasihnya itu. pasalnya Andry juga sedang sakit hingga tak memungkinkan jika dia kerumah Fani. Andry terus menatap langit-langit, berharap Fani segera memebri kabar.


“ Fan lo dimana sih? Gue kangen.” Gumam Andry menatap layar ponselnya yang terpampang foto Fani yang tersenyum manis sekali.


“ Aku rindu kamu. Tolong jangan buat aku khawatir begini. Kamu dimana sih sebenarnya Fan?.” Gumamnya bertanya dalam hati. Andry terus saja menatap foto kekasihnya itu, berharap Fani akan mengakhiri kekhawatirannya ini.

__ADS_1


Sophia Pov


Sophia tengah asyik  bermain game diponselnya, namun tiba-tiba sebuah panggilan mengganggu permainannya. Sophia melihat ternyata itu adalah panggilan dari Andry. Dengan cepat dia menjawab panggilan tersebut.


“ Hallo Sophia. Lo lagi sibuk ya?.” Sahut Andry saat telepon tersambung.


“ Eh enggak kok kak. Ada apa ya?” Jawabnya dengan wajah yang kesal. Tentu saja, Andry menghubunginya hanya untuk mencari keberadaan Fani. Sudah jelas-jelas Fani adalah orang yang dibencinya saat ini tapi dia malah menanyakan Fani.


“ Sophia? Lo tau gak Fani dimana? Udah dua hari dia menghilang gak ada kabar sama sekali. Gue jadi khawatir.” Tanya Andry terdengar cemas. Suaranya lirih.


“ Gak tau kak. Soalnya udah dua hari juuga dia gak masuk sekolah.” Jawabnya masih dengan nada datar.


“ Kenapa gak coba datangi kerumahnya aja kak.” Sambungnya memberi solusi agar Andry segera mematikan telepon yang mengganggu ini.


“ Oh oke deh. Thank you ya Sophia. Bye.” Andry memutuskan sambungan telepon.


“ Udah jelas-jelas gue sama Fani sekarang musuh bebuyutan masih aja dia nanyain ceweenya sama gue. Ih ogah deh gue angkat telepon lo lain kali Ndry.” Gumam Sophia kesal.Kemudian meneruskan gamenya yang terhenti tadi.


************


Semua barang sudah dimasukkan kedalam mobil, hari ini mereka sekeluarga akan segera pindah keluar kota. Fani yang enggan memberi tahu tentang kepindahannya itu pun sengaja mematikan ponslenya dua hari belakangan. Meskipun hatinya teriris-iris kerinduan namun dia tak ingin membuat Andry merasa sedih dengan berita ini.


Maaf aku harus pergi diam-diam. Aku takut kau sedih dengan berita ini, kita akan terpisah cukup jauh. Maafkan aku yang tak memberi tahu mu.

__ADS_1


Fani memejamkan matanya saat ayah melajukan mobil. Menahan kesedihan yang mendalam karena harus meninggalkan sang kekasih yang sangat dicintainya. Ada banyak kenangan yang tak ingin dia lupakan, diaraup dan dibawanya bersama kepergiannya. Fani menangis dlaam hati, membayangkan hari-harinya tanpa Andry. Membayangkan berapa banyak kerinduan yang akan dia kumpulkan. Entah sampai kapan dia akan memecahkan, tentu bukan dalam waktu yang dekat.


“ Maaf aku harus meninggalkan mu. Tapi tenang, aku tetap membawa kenangan kita. Untuk aku sipan, untuk aku kenang. Aku mencintaimu dari lubuk hati yang paling dalam.” Gumam Fani dalam hatinya. Menangis tersedu-sedu dalam hati.


Suasana didalam mobil tampak senyap hening dan sunyi. Tak ada suara apapun, hanya suara riuhnya jalanan kota yang menghiasi perjalanan mereka. Fani memang jarang bicara dengan kedua orang tuanya setelah berita pindahan dadakan ini. Entah kenapa hatinya masih belum terima untuk pergi, mungkin karena terlalu banyak kenangan dia dikota ini.  Fani meraih dan menyalakan ponsel yang sudah dua hari mati itu. tak tahan lagi ingin melihat seberapa banyak pesan Andry yang akan muncul dilayar ponslenya nanti.


“ seberapa banyak kah notif yang kau beri? Seberapa kuat kah usaha kau mencariku sayang?.” Gumam Fani saat melihat layar ponselnya yang terpampang nyata foto mesra mereka berdua.


“ Heheheh ternyata banya sekali ya.” Fani tersenyum saat mendapati banyak sekali notif  dari kekasihnya.


“ Aku kira kau tak akan mencariku seperti ini.” Terkekeh kecil saat membaca pesan-pesan Andry yang mengatakan kalau dia khawatir dengan keadaan Fani.


Fani ingin menghubungi Andry, namun dia sudah berjanji dengan dirinya akan memberitahu nanti ketika sudah sampai dikota Pontianak. Akhirnya Fani kembali mematikan ponselnya dan memilih tertidur untuk melupakan sedihnya.


Beberapa jam kemudian, Fani dan keluarganya sudah sampai diumah baru mereka. Rumah dengan ukuran yang hampir sama dengan rumah lama mereka. Bedanya disini mereka belum mengenal siapa-siapa. Mereka semua bergegas menurunkan barang-barang yang ada didalam mobil. Sebagian juga membersihkan bagian dalam rumah agar langsung bisa ditempati. Ibu dan Fani membersihkan rumah yang berukuran cukup luas ini, dengan sekeliling dipenuhi taman dan pepohonan. Cukup asri dibandning rumah lama mereka. Fani membersihkan kamar yang akan


ditempatinya, memasukkan semua barang-barang dan menyusunnya dengan rapi. Entah sampai kapan dia akan tinggal dikota ini, yang jelas dia sedang berusaha menerima keadaan yang menyedihkan ini.


“ sudah istirahat dulu sana. Kamu pasti capek.” Ucap ibu kepada Fani yang masih saja bersih-berish.


“ iya bu sebentar lagi, ini juga udah mau selesai.” Jawab Fani saMbil terus membersihkan kamarnya.


Sementara ayah dan Joo sibuk mengurus bagian luar rumah. Memotong rumput dan ranting kayu yang patah. Mereka bekerja keras hari ini, dengan semangat membersihkan rumah baru yang akan mereka tempati.

__ADS_1


“ sudah ayo makan dulu.” Suara ibu memanggil semua anggota keluarga agar mendekat dan segera makan. Ini adalah makan bersama pertama mereka dirumah barunya. Mereka tampak bahagia meski ini terkesan terpaksa. Tapi masih mencoba untuk menjalani dengan sepenuh hati, termasuk Fani. Sesekali mereka bersenda gurau seperti biasanya, saling mengejek dan menertawakan. Meski setengah tawa mereka tinggalkan dikota lama, namun setengahnya tetap mereka bawa.


__ADS_2